Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 39


__ADS_3

Dimas merasa badannya sungguh lelah, ketik mereka masih dalam perjalanan pulang ke kediaman Kalila. Namun pria itu menahannya dengan sangat baik, hingga mereka tiba di rumah dengan selamat. Tidak ada yang tau, baik Kalila maupun Kairav, jika Dimas tengah demam. Terlebih Kalila, gadis itu terus tertidur sepanjang perjalanan.


Pria itu turun dari mobil dan membuka gerbang rumah Kalila. Kembali lagi masuk ke mobil, dan memarkirkan kendaraannya di halaman rumah itu. Saat ini tepat pukul 21:00 WIB, Dimas membangunkan Kairav ketika mobil yang dikendarainya sudah terparkir dengan rapi.


“Wah, sudah sampai Dim?” tanya Kairav. Dimas mengangguk dan tersenyum, “sudah aman, Bang,” jawab Dimas. Mengucapkan terimakasih, Kairav membuka pintu mobil dan ingin keluar dari kendaraan itu.


“Aku boleh membangunkan Lila, Bang?”


“Ya, kau bangunkan lah dia itu,” ucap Kairav santai. Membawa tas miliknya, Kairav pun bergegas masuk ke rumah. Sementara Dimas, bergerak menuju tempat Kalila duduk. Alih-alih membangunkan Kalila, Dimas menatap lekat gadis itu.


“Nyenyak sekali tidurmu,” gumam Dimas pelan. Pria itu menyibak rambut yang menutupi wajah Kalila. Menyampirkan nya pada telinga gadis itu. Kemudian kembali menikmati pemandangan di hadapannya.


Dimas terus memandangi Kalila yang terlelap. Senyum tipis pun terukir di wajah pria itu. Rasa lelah yang hinggap di tubuhnya, tak lagi dirasa.


Suara pintu mobil terbuka, membuat Dimas terkejut dan menoleh. “Kau apakan adikku?” tanya Kairav dengan mata melebar. Dimas melambaikan kedua tangannya, “tidak aku apa-apakan, Bang. Hanya mengagumi keindahan ciptaan Tuhan,” jawab Dimas yang kini sudah kembali beralih menatap Kalila yang masih tertidur pulas.


“Dasar bucin!” pekik Kairav. Kairav menaiki mobil itu, “woi ... kuntet, bangun!” teriak Kairav. Kalila menggeliat, sementara Dimas berdecak kesal. Tindakan Kairav benar-benar mengganggu kesenangannya. Kalila pun akhirnya terbangun.


Kalila menguap sembari meregangkan otot-otot tubuhnya. Kairav yang kesal dengan tingkah adiknya, langsung naik ke mobil dan menempeleng kepala Kalila. “Kalau sedang menguap, mulutnya ditutup!” Dimas bahkan terperangah karena tiba-tiba Kairav ada di sampingnya.


“Iyaa .... Lila lupa Bang,” ucap Kalila dengan suara khas baru bangun tidur. Dimas tersenyum tipis menyaksikan tingkah Kalila. Gadis itu benar-benar tidak menjaga sikap di depannya. Benar-benar seperti apa adanya. Dimas pun semakin menyukainya.


Sementara itu, Kairav menoleh, menatap Dimas yang kini berada persis di sebelahnya. Badan mereka bahkan bergesekan, saking dekatnya.


“Kau demam?” tanya Kairav. Pasalnya hawa tubuh Dimas begitu terasa, karena tubuh mereka yang menempel. Dimas hanya menampilkan deretan gigi putihnya.


Kalila yang mendengar pertanyaan Kairav, langsung menempelkan telapak tangannya pada dahi Dimas. “Iya, badannya panas sekali, Bang,” ucap Kalila. Dimas mengambil telapak tangan Kalila dan menggenggamnya. Pria itu menatap lembut sang gadis pujaan.


“Aku hanya sedikit kelelahan. Besok pasti sudah membaik,” ucap Dimas.


“Ayo, turun. Kau harus makan dan minum obat. Tiga hari jadi supir, pasti sangat lelah,” ucap Kairav.


Dimas, Kalila dan Kairav melangkah turun dari mobil. Kairav membawakan barang-barang milik Dimas. “Sudahlah Bang, aku bisa membawa tas ku sendiri,” ungkap Dimas.

__ADS_1


“Kau sudah menjadi supir selama tiga hari. Biar aku jadi room boy sebentar saja. Toh hanya membawa tas dari teras ke kamar,” jawab Kairav.


Kalila mengangguk setuju, “iya Bang Dim. Biar saja Bang Rav yang membawakan. Biar dia ada gunanya. Bang Dim kan sudah capek tiga hari ini,” celoteh Kalila. Tentu saja ucapan Kalila, membuat gadis itu kembali mendapatkan umpatan dari Kairav.


“Kau yang tak ada gunanya. Sepanjang perjalanan tidur terus!”


“Bang Rav juga tidur!” balas Kalila tak mau kalah.


“Hei ... Ada apa ini? Pulang liburan kok malah bertengkar?!”


Kehadiran Bu Alinah mampu membuat pertengkaran antara Kalila dan Kairav berhenti. Ya ... walau hanya sejenak.


Dimas mengambil telapak tangan Bu Alinah dan menciumnya takzim. “Mamak belum tidur?” tanya Dimas. Bukannya menjawab pertanyaan Dimas, Bu Alinah malah balik bertanya kepada Dimas, “kau demam?” Lagi-lagi Dimas hanya menjawab dengan menunjukkan deretan gigi putihnya.


“Iya Mak. Ini semua karena Bang Rav tuh. Tidak ada membantu Bang Dim!” cebik Kalila.


“Enak sa—”


Sementara Kalila, gadis itu menyiapkan air hangat untuk Dimas. Mengetuk pintu, Kalila meminta izin kepada Dimas. “Lila masuk ya Bang Dim,” pintanya. Dimas melangkah gontai menuju pintu dan mempersilakan Kalila untuk masuk.


“Apa itu?”


“Bubur instan, Bang. Tadinya mau masakin mie instan, tapi takut kelamaan. Untung Lila ada persediaan bubur instan, hehehe ... Gak apa-apa kan?”


Dimas tersenyum lembut, menatap Kalila dengan tatapan yang sayu. Kepalanya tengah berdenyut sebenarnya. Tapi melihat Kalila membawakannya semangkuk bubur, walaupun hanya bubur instan, membuat hari Dimas menghangatkan. Setidaknya gadis itu memperhatikan dirinya. Mengkhawatirkan kondisi kesehatannya. Pusing yang di rasa pun diabaikan olehnya.


“Tidak apa-apa, asal kau mau menyuapiku,” ucap Dimas. Sebenarnya pria itu hanya bercanda. Namun Kalila menanggapinya dengan serius.


“Siaap!” Jawa Kalila. Gadis itu meminta Dimas untuk kembali duduk di kasur. Kalila pun duduk di samping Dimas dan mulai menyuapi pria itu.


“Aaak ...,” ucap Kalila, agar Dimas segera membuka mulutnya. Pria itu menikmati bubur sembari tersenyum sumringah. Disuapi oleh wanita yang selalu diharapkannya untuk menjadi pendamping hidup, Dimas teramat bahagia.


Dimas sengaja memperlambat tempo mengunyahnya, agar dia bisa berlama-lama disuapi oleh Kalila.

__ADS_1


Terimakasih tubuhku. Berkat kau sakit, aku bisa merasakan nikmatnya suapan tangan Kalila.


“Bang Dim kenapa sih? Dari tadi senyum-senyum tidak jelas begitu,” sungut Kalila. Bukannya menjawab, Dimas malah makin memperlebar senyumnya. Kalila malah menatap Dimas dengan tatapan heran.


“Merinding aku, lihat senyuman Abang!”


Kali ini Dimas tertawa geli. “Aku hanya terlalu senang malam ini,” jawab Dimas. Alis Kalila bertaut. Bagaimana bisa, Dimas begitu bahagia karena sakit?


“Sakit kok senang!”


“Kalau aku tidak sakit, tentu kau tidak akan menyuapi aku,” jawab Dimas. Kalila tertawa geli. “Nikmatilah, kalau begitu!” seru Kalila. Dimas mengangguk, “tentu saja aku sangat menikmati suapan dari calon makmum ku,” balas Dimas. Kalila kembali tertawa geli.


Saat Kalila memberikan suapan terakhir, Kairav masuk dengan membawa satu gelas bandrek dan sebungkus roti tawar. “Kau pasti tidak kenyang kan? Nih, aku bawakan roti dan bandrek.”


“Suapi lagi doong,” ucap Dimas manja. Kalila hampir menganggukkan kepalanya. Namun Kairav meminta adik perempuannya itu beranjak dari sana. Hingga kini, Kairav menggantikan posisi Kalila.


Membuka kemasan roti, Kairav menyelupkan roti tawar itu ke dalam gelas yang berisikan dengan minuman yang terbuat dari saripati jahe itu. “Jangan begitu dong Bang. Harus adil kalau jadi suami.” Alis Dimas bertaut. Menatap takut kepada pria yang kini duduk di hadapannya.


“Jangan sama istri muda terus dong, Bang. Sebagai istri pertama, aku juga ingin mengabdi padamu,” ucap Kairav manja. Kalila sudah terkekeh di sana.


“Aaak ...," ucap Kairav lembut. Dimas pun membuka mulutnya dan menerima suapan dari Kairav. Kairav mendekat dan memeluk Dimas, “cepat sembuh suamiku,” ucapnya manja. Kalila semakin terkekeh. Sementara Dimas, menerima Kairav dengan tangan terbuka. Dimas bahkan mengusap-usap punggung Kairav. Namun, matanya kini beralih pada Kalila yang tengah sibuk tertawa.


“Istri mudaku, kesini lah. Aku juga ingin memelukmu. Biar adil,” ucap Dimas. Kairav langsung melepaskan diri dari pelukan Dimas. “Mau ku hajar, kau?!” pekik Kairav.


Ledakan tawa pun menggema di sana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....

__ADS_1


__ADS_2