
Bibir Kalila merekah, matanya seolah memancarkan cahaya, ketika mereka tiba di sana. Sudah lama dia tidak mengunjungi tempat bermain ini. Mungkin sekitar empat atau lima tahun yang lalu, ketika dirinya masih menjadi seorang pelajar.
Taman hiburan itu berada di kawasan Berastagi, Sumatra Utara. Dibangun di kawasan dataran tinggi, udara di sana begitu menyegarkan. Selain itu pemandangan di sekitarnya juga sangat memanjakan mata.
Taman hiburan ini begitu menarik karena dibangun dengan konsep ala negeri dongeng. Di dalamnya terdapat lebih 40 wahana yang siap menghibur pengunjung dari segala macam lapisan usia. Kalila benar-benar antusias, gadis itu bersemangat sekali. Kalila bahkan sudah membuat daftar, wahana apa saja yang akan dinaikinya bersama Dimas.
Kalila merasa heran, saat Dimas tidak langsung memarkirkan kendaraannya di sana. Pria itu malah membawa kendaraan yang mereka tumpangi, berjalan masuk ke kawasan resort.
“Kita check-in dulu ya. Jadi nanti selesai bermain, bisa langsung berisitirahat.”
“Kita menginap di mana Bang Dim?”
“Ya di sini. Di Mikie Holiday Resort,” jawab Dimas santai. Kalila terbelalak, pasalnya gadis itu sudah menyarikan penginapan terdekat dengan taman bermain itu— yang lebih murah, tentu saja. Namun, Dimas malah memilih penginapan berbintang untuk mereka menginap malam ini.
“Di sini kan mahal, Bang. Lila kan sudah memberikan beberapa pilihan penginapan yang murah meriah yang ada di sekitar sini, tidak jauh kok” ucap Kalila sungguh-sungguh. Dimas tersenyum.
“Tidak apa-apa, begini lebih praktis,” ujar Dimas. Pria itu pun memarkirkan kendaraannya, membuka pintu bagasi, dan mengeluarkan barang-barang mereka dari sana.
Terlebih dulu memakai tas ransel miliknya, Dimas kemudian menyerahkan tas ransel milik Kalila, kepada empunya. Pria itu kemudian mengeluarkan satu kotak oleh-oleh yang dibawanya dari Jakarta. Sementara Bu Alinah, kekeuh menjinjing rantang tiga susun yang berisikan bekal makan siang mereka.
“Memang benar ya kabar itu,” ucap Dimas. Bu Alinah dan Kalila menoleh pada pria itu. Entah kabar tentang apa yang dimaksud oleh Dimas. Dimas pun membalas tatapan kedua wanita itu.
“Emak-emak takut banget baperwarenya hilang! Sampai-sampai mau memegang rantang itu saja tidak boleh,” ucap Dimas terkekeh-kekeh. Bu Alinah seketika mendaratkan telapak tangannya pada lengan pria itu. Wanita paruh baya itu pun ikut terkekeh bersama Dimas dan Kalila.
Melangkahkan kaki memasuki kawasan resort, Dimas yang tadinya akan memesan dua kamar untuk mereka bertiga, tapi, atas saran Bu Alinah, akhirnya pria itu hanya memesan satu kamar ditambah dengan satu kasur tambahan untuk Dimas.
Sehingga malam ini, dia akan tidur satu kamar dengan Kalila. Membayangkannya saja sudah membuat jantung Dimas berdetak kencang.
Menaiki lantai dua hotel, Dimas, Kalila, dan Bu Alinah, tiba di kamar tempat mereka akan menginap.
__ADS_1
“Waaah ... kamarnya bagus sekali.” Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Kalila, ketika memasuki kamar itu. Sengaja Dimas memesan kamar dengan tipe deluxe, agar Kalila dan Bu Alinah merasa nyaman menginap di sana.
Kalila sibuk mengitari kamar itu. Dekorasi kamar yang unik, dilengkapi dengan double bed, kamar mandi lengkap dengan shower, televisi dengan saluran domestik dan internasional, serta terdapat balkon pribadi, membuat Kalila amat menyukai kamar itu.
Suara ketukan pintu terdengar, ketika Kalila dan Dimas tengah menikmati pemandangan dari balkon kamar mereka. Terlihat dua orang pelayan hotel, membawakan kasur tambahan untuk Dimas. Mereka merapikan kasur itu, lalu berpamitan pergi. Dimas langsung merebahkan badannya, menggeliat, menghilangkan lelahnya sejenak.
“Ayo Bang, kita ke taman bermain,” ajak Kalila. Dimas hendak bangkit dari tidurnya. Namun, ucapan Bu Alinah membuatnya kembali merebahkan badan.
“Nanti saja bermainnya, setelah makan siang dan sholat Zuhur,” ucap wanita paruh baya itu. Kalila dan Dimas pun mengikuti saran dari Bu Alinah. Kalila bahkan ikut merebahkan diri di kasur yang bersebelahan dengan dengan kasur milik Dimas. Pria itu seketika menoleh, menatap Kalila.
Bibirnya merekah, tersenyum menatap gadis yang tengah berbaring di sampingnya. Tidak persis di sampingnya memang, karena mereka berada di kasur yang berbeda.
Mimpi apa aku kemarin. Nanti malam aku akan tidur sembari menatap wajah Kalila.
Bagaimana caranya tidur sambil menatap? Apakah kau tidur sambil membuka mata, Dim?
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 12:00 WIB. Bu Alinah mengajak kedua muda-mudi itu untuk santap siang bersama. Mereka memutuskan untuk makan di balkon sembari menikmati pemandangan. Rantang tiga susun yang dibawa oleh Bu Alinah tadi, berisi nasi, ikan asin goreng tepung, telur rebus yang sudah terbelah dua, serta sayur anyang. Kalian masih ingat anyang? Lauk yang terbuat dari tanaman pakis dengan bumbu kelapa sangrai?
Tidak lupa, Bu Alinah juga membuka sebuah kotak kecil berisikan sambel terasi.
Berbeda dengan Ibrahim yang tidak terlalu menyukai hidangan itu— tempo hari, Dimas malah menyantap semua hidangan itu dengan lahap. Begitu juga dengan Kalila. Semua makanan yang dibawa Bu Alinah, habis tak bersisa. Bu Alinah menatap Kalila dan Dimas bergantian. Rasanya senang sekali, jika melihat makanan yang kau masak dengan penuh cinta, dimakan dengan begitu lahap. Tidak ada penghargaan yang setimpal, selain melihat makanan yang kau sajikan, habis, ludes, tak bersisa.
Bu Alinah memutuskan untuk tidak ikut bersama Kalila dan Dimas ke taman bermain. Wanita paruh baya itu memutuskan untuk beristirahat di kamar hotel.
“Mamak gak apa-apa, tinggal di kamar sendirian?”
__ADS_1
“Iya, tidak apa-apa Dim. Mamak bisa menonton televisi. Lagian, mamak tidak mungkin bermain wahana-wahana seperti itu. Mamak sudah terlalu tua, tidak pantas,” ungkap Bu Alinah.
Kalila dan Dimas saling pandang. Sebenarnya mereka tidak mau meninggalkan Bu Alinah sendirian di kamar. Karena mereka pasti akan bermain hingga petang. Mungkin hingga malam dan taman bermain itu ditutup.
“Takutnya, kita nanti sampai malam, Mak.”
“Tidak apa-apa. Asal, bawakan mamak makam malam saat kalian kembali,” ucap Bu Alinah. Dimas menganggukkan kepalanya. Kalila dan Dimas pun bergegas ke taman bermain.
“Hubungi Dimas kalau ada apa-apa ya, Mak,” ucap pria itu. Senyum Bu Alinah, mengantarkan Kalila dan Dimas keluar dari kamar hotel.
“Kita tidak membeli tiket dulu, Bang?”
“Kalau kita menginap di hotel mereka, kita dapat dua tiket masuk gratis,” ungkap Dimas seraya menaik-turunkan alisnya.
“Wow ... mantap,” ujar Kalila riang.
Kini Kalila dan Dimas, mulai bereksplorasi di taman bermain itu.
Kalila menaiki hampir semua wahana di sana. Mulai dari yang menyenangkan hingga menantang adrenalin. Wahana-wahana ekstrim yang menantang adrenalin itu, memaksa Kalila dan Dimas untuk terus berteriak.
Seluruh penat dan stress, beban dan tekanan yang ada di dalam diri Kalila dan Dimas, seakan lepas, hilang bersama teriakan-teriakan itu. Kalila begitu menikmatinya. Begitupun dengan Dimas.
Azan Maghrib berkumandang, Kalila dan Dimas baru saja selesai menaiki wahana-wahana yang membuat baju mereka menjadi basah. Sepasang muda-mudi itu pun memutuskan untuk kembali ke kamar hotel. Berganti pakaian, melaksanakan ibadah sholat Maghrib dan beristirahat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
__ADS_1
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...