Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 130


__ADS_3

Hari begitu cepat berlalu.


Tapi tidak bagi sepasang muda-mudi yang menjalin hubungan jarak jauh. Waktu berjalan sangat lambat bagi dua orang yang tengah dimabuk cinta, namun terhalang oleh jarak. Bukannya mereka tidak bisa bertemu sesering mungkin, bahkan, jika saja mereka mau, mereka bisa saling mengunjungi setiap akhir pekan.


Tapi kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu, tidak memilih opsi seperti itu. Mereka tidak akan menghamburkan uang demi pertemuan sesaat. Terlebih Dimas, pria itu tidak bisa menjamin dapat menahan diri ketika berada di samping Kalila.


Ibu kandung Dimas juga memberikan saran, agar mereka menganggap masa-masa hubungan jarak jauh itu, sebagai masa pingitan.


“Pokoknya Bunda jamin, begitu kalian bertemu saat hari pernikahan, perasaan kalian pasti menggebu-gebu. Bunda jadi cepat dapat cucu deh,” celetuk Bu Ghita. Wajah Kalila seketika merah seperti kepiting rebus. Entah mengapa gadis itu kembali teringat saat dirinya dirawat di rumah sakit.


Gadis itu memberikan ciuman pertamanya begitu saja kepada Dimas, tanpa paksaan, karena rasa rindu yang begitu membuncah pada pria itu, setelah dua Minggu tak saling sapa.


Hanya dua Minggu saja tak bertemu, sudah membuat pria itu begitu beringas, bagaimana ketika mereka tidak bertemu selama dua bulan? Seketika Kalila meremang, membayangkannya. Apalagi, mereka belum pernah melakukan hal itu lagi sejak di rumah sakit. Gadis itu merasakan panas menghinggapi tubuhnya. Terlebih saat dirinya melirik Dimas, yang tengah menatapnya dengan senyum yang sulit untuk diartikan.


Kalila menggerakkan telapak tangan, mengipas wajahnya yang terasa panas.


Dan ....


Dua bulan berlalu, sejak pernikahan Ibrahim dengan Anneke. Dua bulan juga Kalila dan Dimas tak bertemu.


Hari ini adalah hari yang begitu dinanti oleh Kalila dan Dimas. Terlebih Dimas. Pria itu bahkan sudah membayangkan akan menikah dengan Kalila, sejak pertemuan pertama mereka. Impian Dimas itu, kini menjadi nyata.


Debar jantung sepasang muda-mudi itu semakin tak karuan. Terlebih dua Minggu belakangan mereka memutuskan untuk tidak melakukan panggilan video.


“Biar Bunda dan Mamak cepat dapat cucu.”


Itulah yang diucapkan oleh Dimas kala itu. Sudah pasti wajah Kalila berubah menjadi merah, saat Dimas mengatakan hal itu. Kalila hanya bisa menganggukkan kepalanya dan berucap kata terserah. Sejak itu, Dimas dan Kalila hanya saling berkirim pesan.


“SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA KALILA NASUTION BINTI ZAKARIA NASUTION, DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT DIBAYAR TUNAI!”


Suara lantang Dimas dalam satu kali helaan napas, membuat debaran jantung Kalila semakin menjadi. Rasa bahagia sekaligus haru, membuat gadis itu meneteskan air mata.


“Sudah, sudah, nanti make up kau luntur,” ucap Feni yang menemani Kalila di sebuah bilik yang memang disiapkan untuk mempelai wanita.

__ADS_1


Kalila masih menatap layar kaca yang menampilkan sosok Dimas yang terlihat menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari keberadaan seseorang.


“Hei, kau masih di sini saja menatap wajah Dimas!” hardik Kairav yang datang menjemput Kalila. Pria itu menggelengkan kepala menatap adik kesayangannya itu. Kairav pun melangkahkan kakinya meninggalkan Kalila dan Feni.


“Ayo, Bang Dimas sudah menunggu tuh,” ajak Feni. Kakak iparnya Kalila itu bahkan mengerlingkan sebelah matanya. Kalila mengangguk.


Kalila melangkahkan kakinya, menuju tempat di mana Dimas berada. Debaran jantung Kalila semakin bertalu, saat dirinya semakin dekat dengan pria yang kini mempunyai status sebagai suaminya itu.


Dimas tertegun. Pagi ini, Kalila benar-benar terlihat sangat cantik sekali dengan balutan kebaya khas Sunda.


Deg!


Pandangan mereka bertemu. Kalila bersemu.


Semakin Kalila melangkah mendekatinya, semakin sumringah dirinya. Dimas bahkan tidak sabar menunggu Kalila tiba di sisinya. Pria itu pun lebih dulu menghampiri Kalila, lalu mengulurkan tangan, “genggam tanganku, Kalila, istriku,” ucap Dimas dengan bibir yang terus mengulas senyuman.


Lagi, Kalila bersemu. Mendengar Dimas memanggilnya dengan sebutan istriku, gadis itu berbunga-bunga.


Kalila menyambut uluran tangan Dimas, dan pria itu langsung menggenggam jemari Kalila. Semua tamu undangan yang notabenenya adalah kerabat dekat serta sahabat, tersenyum sumringah menyaksikan adegan itu. Terlihat sekali jika sepasang muda-mudi yang baru saja mengikat janji suci itu, saling mencintai satu sama lain.


Pembawa acara pernikahan, meminta Kalila dan Dimas berdiri. Mereka pun dipotret sembari menunjukkan cincin pernikahan dan buku nikah.


“Mereka terlihat bahagia sekali ya, Kang,” ucap Anneke, saat melihat wajah sumringah Dimas dan Kalila.


Ibrahim hanya menjawab dengan berdehem sembari mengangguk. Dia sudah tau dengan pasti jika Dimas pasti akan sangat bahagia dengan pernikahan ini. Karena Ibrahim sangat mengetahui, sejak kapan Dimas menyukai Kalila.


Tapi Ibrahim tidak menyangka jika Kalila bisa menunjukkan ekspresi sesumringah ini. Padahal empat bulan lalu, gadis itu pingsan karena mendengar kabar jika dirinya bertunangan dengan Anneke.


Ibrahim lebih tidak menyangka lagi, karena resepsi pernikahan Dimas dan Kalila, lebih mewah dibandingkan dengan resepsi pernikahan dirinya dan Anneke.


Beruntungnya Dimas, karena resepsi pernikahan dirinya dengan Kalila, sepenuhnya adalah hadiah yang diberikan oleh Pak Sanjaya. Salah satu orang terkaya di Indonesia itu, bahkan menawarkan sejumlah modal kepada Dimas, untuk membuat perusahaannya sendiri.


Adi Putra—kakeknya Dimas— bahkan hadir di acara resepsi pernikahan cucu yang tak dianggapnya itu. Pria lanjut usia itu bukan datang karena sudah menganggap Dimas sebagi cucunya.

__ADS_1


Pria lanjut usia itu terpaksa datang kerena mendengar, jika resepsi pernikahan itu dihadiahi oleh Pak Sanjaya.


“Bapaknya pecundang, anaknya pengemis! Demi mengadakan resepsi pernikahan, sampai meminta-minta dengan Pak Sanjaya. Mau ditaruh di mana wajahku ini! Menyesal aku memerbolehkan anak haram itu memakai namaku di belakang namanya!” ucap Adi Putra, saat dirinya baru tiba di ballroom Yohan Corp.


Gilang hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar umpatan demi umpatan yang dilontarkan oleh ayah kandungnya itu.


Resepsi pernikahan yang mewah itu, berlangsung selama tiga jam. Kalila benar-benar seperti ratu malam ini. Duduk di singgasana dengan memakai gaun berwarna lavender, hasil rancangan Ghita Adi Putra, membuat Kalila tampak menawan.


Khalid yang berada di atas pelaminan mendampingi Kalila, merasa haru dengan suasana ini. Dirinya benar-benar bahagia. Lepas sudah tanggung jawabnya pada Kalila. Kini tongkat estafet itu dipegang oleh Dimas. Khalid berharap kebahagiaan ini hanya awal dari banyak kebahagiaan yang akan diberikan Dimas untuk Kalila— Adik kesayangannya.


***


Tepat pukul 22:00 WIB, Kalila dan Dimas tiba di hotel yang tidak jauh dari tempat resepsi pernikahan mereka. Kalila langsung membersihkan wajah dan tubuhnya yang penat.


Dimas yang sudah lebih dulu membersihkan tubuhnya, kini berbaring di ranjang, sembari menatap pintu kamar mandi. Pria itu berharap sang istri secepatnya keluar dari sana.


Dengan memakai gulungan handuk di kepala, Kalila akhirnya keluar dari kamar mandi, setelah hampir tiga puluh menit berada di sana.


Dimas seketika sumringah. Pria itu menepuk-nepuk ranjang, agar Kalila duduk di sampingnya. Kalila ... tentu saja gadis itu mengikuti instruksi suaminya.


Melangkah dengan jantung berdebar kencang, akhirnya Kalila berhasil naik ke ranjang dan duduk di samping Dimas.


Pria itu membuka handuk yang menggelung di atas kepala Kalila. Memainkan rambut basah Kalila sejenak, Dimas pun mencium aroma rambut gadis itu, kemudian beringsut dan membenamkan kepalanya pada ceruk leher Kalila.


Dimas menyesapi aroma segar tubuh Kalila, hingga membuat gadis itu meremang.


Dan mereka pun melakukannya ....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gitu aja ya, nanti puasnya pada batal 😂


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......

__ADS_1


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2