Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
BonChap-03


__ADS_3

Saat ini, Ibrahim hanya bisa berdiri mematung di depan pintu kamar tamu, apartemennya. Karena sejak pulang dari rumah sakit, Dhea terus menangis dan meraung di dalam sana.


Hingga tiga jam kemudian, Dhea keluar dari kamar dan menghampiri Ibrahim.


“Besok saya akan balik ke Tasik, Kang. Saya mau berhenti dari pekerjaan ini, dan melahirkan di Tasik.”


Masih terlihat jelas mata sembab Dhea. Ibrahim bersyukur, karena wanita kecil di hadapannya ini, masih ingin melahirkan bayi yang sebenarnya tak terlalu diharapkan itu. Sejak tadi, Ibrahim sangat khawatir, jika Dhea akan menggugurkan kandungannya.


“Kau boleh pulang kampung. Tapi tidak besok. Tunggu hingga kau benar-benar pulih. Kondisi kau sedang lemah, sekarang.”


“Sampai kapan Kang? Biasanya kondisi mual dan muntah seperti yang saya alami, berlangsung lama. Bahkan ada yang sepanjang kehamilan. Saya tidak mau, ketika saya kembali ke Tasik, perut saya sudah membesar!”


Ibrahim menarik napas. Pria itu pun membenarkan ucapan Dhea. Hingga akhirnya, dua hari kemudian, Ibrahim mengantarkan Dhea ke kampung halamannya di Tasikmalaya.


Sesampainya di sana, Ibrahim membantu Dhea untuk berbicara dengan ibunya. Dan tanpa di duga, ibunya Dhea mengalami serangan jantung, hingga tak lama setelah itu, kabar duka pun diterima oleh Ibrahim. Ibunya Dhea meninggal dunia.


Gegas, Ibrahim menuju Tasikmalaya, ketika mendengar kabar itu. Menatap Dhea yang tengah duduk meringkuk di salah satu sudut rumah, membuat Ibrahim iba.


“Dhe ....”


Mendengar suara yang tak asing, Dhea mengangkat wajahnya. Kantung mata wanita itu begitu besar. Karena beberapa hari ini, Dhea tak bisa terlelap. Dan, wanita itu juga tak bisa menangis.


Namun, begitu melihat Ibrahim, Dhea mencengkram erat lengan pria itu, kemudian meraung, menangisi nasibnya. Dhea benar-benar merasa bersalah dengan kematian sang ibu.


Ibrahim pun membawa Dhea ke dalam dekapannya. “Dhe, hidup dan mati seseorang itu sudah di atur. Jika bukan karena kejadian itu, ibu kamu juga akan berpulang. Jangan terus-terusan menyalahkan diri sendiri.”


Tangis Dhea semakin menjadi. Dhea pun berusaha menerima takdir. Hingga akhirnya, satu Minggu setelah sang ibunda berpulang, Dhea mendengar sesuatu yang membuatnya terbelalak.


“Menikahlah denganku, Dhe,” ungkap Ibrahim.


“Aku akan mengakui anak itu adalah anakku. Aku akan menyematkan namaku pada akta kelahirannya.”

__ADS_1


Tak henti-hentinya Dhea berterima kasih kepada Ibrahim, karena pria itu akan menyelamatkan wajahnya di hadapan keluarga dan penduduk kampung. Walaupun Dhea tau, jika Ibrahim hanya akan menikahinya sampai anak itu lahir, tapi Dhea sudah sangat senang karenanya.


Dan, empat puluh hari setelah ibunya Dhea berpulang, Dhea dan Ibrahim pun menikah. Karena masih dalam suasana duka, acara pernikahan itu hanya dilakukan secara sederhana di kampung halaman Dhea.


Ibrahim pun mengajak Dhea tinggal bersamanya di apartemen. Namun, mereka tak satu kamar. Semua kebutuhan Dhea dipenuhi oleh pria itu, kecuali menggaulinya. Dan rencananya, hal itu berlangsung hingga waktu kelahiran tiba. Tapi, Ibrahim kerap berbicara dengan perut Dhea yang membuncit. Mengelusnya, bahkan mencium perut itu.


Ada desir-desir halus yang dirasakan oleh Dhea setiap kali Ibrahim berbicara di depan perutnya, terlebih ketika pria itu menciumi perutnya yang membuncit. Tapi Dhea berusaha untuk untuk tidak terlarut dalam perasaan itu.


Namun ternyata, desir-desir halus itu tak hanya di rasakan oleh Dhea. Ibrahim juga merasakan hal yang sama. Pria itu bahkan sering menatap Dhea yang kini terlihat sintal. Saat pria itu mengecup mesra perut Dhea, matanya sering kali menatap paha Dhea yang sedikit tersingkap karena wanita itu tengah duduk. Ibrahim juga sering membayangkan bergumul dengan wanita hamil itu. Bahkan Dhea sering muncul dalam mimpi m*sum pria itu.


Padahal wanita itu halal baginya, tapi Ibrahim masih belum mau menyentuhnya. Pria itu takut menyakiti hati Dhea. Apalagi ketika Dhea tau, jika dirinya tak bisa memiliki keturunan. Masihkah wanita itu mau bertahan menjadi istrinya?


Dan sepertinya, hasrat Ibrahim didukung oleh semesta. Saat kandungan Dhea memasuki usia 28 Minggu, seperti biasa, Ibrahim mengantarkan wanita itu untuk kontrol kandungan.


“Saya keputihan, Dok,” ucap Dhea saat berkonsultasi dengan dokter kandungan. Dokter pun menuliskan resep untuk mengurangi keputihan yang dialami oleh Dhea.


“Bapak, nanti dibantu ibunya untuk memberikan obat ini ya,” ucap sang dokter. Ibrahim pun mengangguk. Memberikan obat saja, apa susahnya?


Namun, kini, Ibrahim menegang. Pria itu seolah kaku dan tak dapat menggerakkan anggota tubuhnya setelah membaca cara menggunakan obat itu.


“Ya sudah, Kang. Tidak usah dipakai saja obatnya. Paling, nanti juga sembuh sendiri,” ucap Dhea. Dirinya pun merasa sangat malu jika membayangkan, Ibrahim akan menatap bagian kewanitaannya.


Ibrahim mengangguk dan meninggalkan Dhea di kamar tidurnya. Namun, beberapa saat kemudian Ibrahim kembali masuk ke ruangan itu. “Aku takut itu akan berbahaya buat bayi kita, jika tidak diobati,” ucap Ibrahim. Dhea mematung sejenak.


Ucapan Ibrahim ada benarnya. Jika itu tidak bermanfaat, tidak mungkin dokter akan meresepkan obat untuknya. Akhirnya Dhea pun menyetujuinya. Wanita itu membuka pakaian dalamnya di hadapan Ibrahim. Hal itu membuat Ibrahim memalingkan wajahnya.


“Terus ... Ba-bagaimana Kang?”


“Kau berbaringlah,” ucap Ibrahim yang masih memalingkan wajahnya.


“Sudah Kang.”

__ADS_1


Ibrahim mengeluarkan obat itu dari bungkusnya, dan berjalan mendekati Dhea yang sedang berbaring.


“To - tolong kakinya di buka.”


Dhea menurutinya. Wanita itu melebarkan kakinya. Tapi Ibrahim menekuk kaki wanita itu hingga dasternya tersingkap.


“Di tekuk seperti ini,” ucap Ibrahim. Sepasang suami istri itu hanya bisa menelan saliva masing-masing. Menahan rasa bergemuruh di dada mereka. Terlebih Ibrahim. Sudah lama dia tidak melihat bagian itu. Bahkan bagian tubuh bawahnya mulai bergerak naik, saat matanya menangkap pemandangan indah milik Dhea.


“Bisa kau, mundur sedikit sampai tepi ranjang?”


Dhea pun beringsut, hingga panggulnya hampir ke tepi ranjang. Hal itu membuat daster yang dia gunakan semakin tersingkap. Ibrahim pun berjongkok di hadapannya. Kini bagian sensitif milik Dhea, terpampang nyata di hadapan Ibrahim. Bahkan jaraknya begitu dekat.


Sementara Dhea, tubuhnya seakan panas, bahkan hampir terbakar, saat jemari Ibrahim menyentuh miliknya. Bahkan pria itu kini telah melebarkan kedua sisi miliknya. Dhea masih belum merasakan ada sebuah benda masuk ke dalam tubuhnya. Karena Ibrahim memang masih terpaku menatap bagian sensitif Dhea.


Dhea merasakan bagian intinya mulai berkedut-kedut, terlebih hembusan napas Ibrahim mengenai bagian sensitifnya. Ibrahim pun tanpa sadar mengecup bagian itu, hingga membuat Dhea melenguh.


Lenguhan Dhea membuat Ibrahim sadar dan menghentikan perbuatannya itu. “Ma - maaf Dhe,” ucap Ibrahim. Dhea merasa kecewa dengan permintaan maaf Ibrahim. Sebenarnya wanita itu menginginkan Ibrahim melakukan lebih dari itu. Karena dia berharap, Ibrahim tak akan melepaskan dirinya, begitu anak yang dikandungnya terlahir ke dunia.


Ibrahim dengan segera melesakkan obat yang berbentuk seperti peluru itu ke dalam liang Dhea.


“Sudah Dhe ... Aku permisi dulu,” ujar Ibrahim. Pria itu gegas keluar dari kamar Dhea. Sementara wanita yang masih terbaring itu, mengusap lelehan air yang keluar dari matanya.


“Apakah tidak ada cinta sedikit pun untukku, Kang? Hingga menyentuhku saja membuat kau takut.


Aku tau, aku wanita hina. Aku wanita kotor yang kau selamatkan. Tapi, salah kah jika aku mengharapkan cinta itu darimu?”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...

__ADS_1


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2