
Perjalanan dari rumah sakit penuh kesunyian. Khalid, Kairav dan Kalila, sibuk dengan pikiran masing-masing. Setelah adu urat di kamar perawatan Kalila, ketiga anak Bu Alinah itu saling diam selama perjalanan. Membelah jalanan kota Bogor selama tiga puluh menit, akhirnya mereka tiba di rumah.
Bu Alinah membantu putri kesayangannya turun dari mobil dan berjalan masuk ke rumah. Namun, langkah Kalila terhenti. Begitu juga dengan Kairav. Ada dua sosok wanita yang kini duduk di teras rumah, bersama Feni dan kedua anaknya.
Anneke Baskoro dan ibunya.
Gadis cerdas nan anggun itu berdiri dan menghampiri Kalila. “Kau sudah sehat?” Kalila hanya menjawabnya dengan menganggukkan kepala dan tersenyum.
Bu Alinah mengajak Anneke dan ibunya untuk duduk di ruang tamu. Mereka semua pun berkumpul di sana.
Entah mengapa melihat Anneke dan ibunya, Khalid merasa senang. Sebuah ide muncul di kepalanya.
Mungkin Kalila tidak bisa membatalkan pertunangannya dengan Dimas. Tapi, jika pertunangan Ibrahim dengan Anneke batal, bisa saja Ibrahim akan meminta ayahnya untuk membatalkan lamaran Dimas kepada Kalila, kemudian meminta Kalila untuk menjadi istrinya.
Begitulah pikir Khalid.
“Kau sakit apa La, sampai harus di rawat inap?” tanya Anneke, setelah mereka semua—kecuali Kairav— duduk pada sofa yang ada di ruang tamu.
“Lila pingsan setelah mendengar kabar pertunangan Mba Anneke dengan Ibra.”
Anneke dan ibunya terkejut mendengar pernyataan Khalid. Ibu dan anak itu saling pandang. Berarti benar apa yang dipikirkan oleh Bu Baskoro saat itu, jika ada hubungan yang spesial antara Ibrahim dan Kalila.
Bukan hanya Anneke dan Bu Baskoro yang terkejut dengan pernyataan Khalid. Bu Alinah, Kalila dan Feni pun sama terkejutnya. Mereka tak habis pikir dengan Khalid, mengapa pria itu bisa mengungkapkan hal yang tak seharusnya. Apalagi acara pertunangan Ibrahim dengan Anneke hanya tinggal beberapa hari lagi.
“Apa kau sakit karena aku, La?”
Kalila menggelengkan kepalanya dengan cepat, “tidak Kak. Sama sekali tidak. Mungkin karena belakangan ini, jam makan Lila tidak teratur. Di kantor juga sering lembur,” jelas gadis itu.
Namun, penjelasan Kalila tidak membuat Anneke merasa lega. Ada rasa bersalah menelusup di hatinya. Apakah keputusannya menikah dengan Ibrahim, adalah hal yang benar?
“Ini tidak ada hubungannya dengan pertunangan kalian, Ne,” ungkap Kairav yang baru saja bergabung di sana.
“Bukankah bulan lalu sudah aku jelaskan mengenai hubungan antara Ibra, Lila dan Dimas? Aku tidak berbohong sedikit pun tentang masalah itu. Dan bulan depan, Kalila akan bertunangan dengan Dimas” ucap Kairav.
Kairav dan Anneke memang pernah bertemu satu bulan lalu, saat Kairav datang ke kota Bogor, untuk menghadiri acara aqiqah anak Khalid yang kedua.
...Flashback On...
Dua Minggu setelah pertemuan antara Anneke dengan Ibrahim, Kairav memberanikan diri menghubungi Anneke. Pria itu mengungkapkan isi hatinya, dan melamar Anneke.
__ADS_1
Anneke yang sudah tertarik dengan Ibrahim, tentu saja menolak lamaran yang disampaikan oleh Kairav. Pria itu pun menerimanya dengan lapang dada.
Dan ketika Bu Baskoro mengungkapkan rasa curiganya terhadap hubungan Ibrahim dengan Kalila, Anneke memberanikan diri untuk mengajak Kairav bertemu. Tentu saja hal itu disambut Kairav dengan sukacita. Kairav pikir, Anneke mulai menerimanya. Tapi nyatanya, Anneke hanya menanyakan perihal hubungan Kalila dengan Ibrahim. Di saat itulah Kairav baru tau, jika Ibrahim adalah sosok pria yang dicintai Anneke.
“Ibrahim pernah meminta Lila untuk menunggunya. Lila pun, sampai saat ini berpegang akan hal itu,” ucap Kairav. Namun, Anneke tidak terlalu memercayai ucapan Kairav.
“Pernyataan kau ini, tidak ada sentimen pribadi kan?” tanya Anneke. Gadis itu tidak suka jika Kairav menjelekkan pria yang dicintainya. Karena sepengetahuan Anneke, Ibrahim tidak mempunyai teman wanita.
Melihat keraguan Anneke, Kairav pun tersenyum. “Anne ... Aku memang menyukai kau. Aku memang menginginkan kau menjadi pendamping hidupku, bahkan hingga detik ini. Tapi, aku bukan orang yang akan melakukan hal-hal picik demi mencapai tujuanku. Semua yang aku ucapkan, itulah kebenarannya. Aku tidak bermaksud menjelekkan Ibra agar kau benci padanya dan lebih memilihku.”
Pria itu mengucapkannya dengan sangat lembut. Namun, justru kelembutan Kairav membuat Anneke menjadi tak enak hati, karena telah berprasangka buruk kepada pria yang kini duduk di hadapannya.
“Tapi satu hal yang pasti. Lila itu tidak mencintai Ibra. Dia hanya terobsesi akan cinta pertamanya itu. Lila masih belum menyadari perasaannya kepada Dimas,” jelas Kairav.
“Tapi kalau Ibra, aku tidak tau bagaimana perasaannya terhadap Kalila. Mungkin kau bisa bertanya secara langsung padanya. Tapi yang jelas, berdasarkan cerita Lila, belakangan ini Ibra sering mengajaknya makan siang bersama. Bahkan mengantarnya selepas pulang bekerja.”
Anneke hanya bisa diam dan pelan-pelan mencerna apa yang diungkapkan oleh Kairav.
“Kau tidak mau memesan makanan?” tanya Kairav, karena sedari tadi mereka hanya ditemani oleh dua gelas jus jeruk.
Anneke menggelengkan kepalanya, “aku ada janji dengan Kang Ibra, satu jam lagi di saung ini,” ungkap Anneke. Mendengar hal itu, Kairav pun berpamitan pada gadis itu.
...Flashback off...
Dan siapa sangka jika satu bulan kemudian, Kairav kembali bertemu dengan Anneke. Bahkan masih dengan persoalan yang sama.
Kairav tidak ingin Anneke berpikir, jika Kalila masih sangat mengharapkan Ibrahim. Karena pria yang sebenarnya dicintai oleh Kalila adalah Dimas.
Berbeda dengan Khalid. Kairav yang terang-terangan mengungkap jika Kalila akan segera bertunangan dengan Dimas, membuat usaha Khalid pupus sudah.
Kesempatan untuk Kalila menjalin hubungan serius dengan Ibrahim, sudah tidak ada jalan lagi.
Pupus.
Tak ada harapan.
Semakin bertambah kesal lah anak sulung Bu Alinah itu.
Sedangkan Feni, setelah Anneke dan ibunya meninggalkan kediamannya, wanita dua anak itu langsung mencecar Kalila dengan banyak pertanyaan.
__ADS_1
“Serius, kau akan bertunangan dengan Bang Dimas?”
“Keluarganya datang ke rumah sakit hanya untuk meminta kau menjadi istrinya Bang Dimas?”
“Terus ... Kapan pertunangan kalian diselenggarakan?”
“Itu artinya, Bang Dim adalah kekasih kau, saat ini?”
Kalila tidak tau bagaimana menjawab rentetan pertanyaan dari sahabatnya itu. Kalila hanya menggaruk-garuk kepalanya.
“Akhirnya kau menyadari perasaan kau yang sesungguhnya,” ucap Feni, yang kini sudah memeluk sahabat yang juga adik iparnya itu.
“Tapi ... aku belum sepenuhnya yakin,” ucap Kalila.
Feni melepaskan pelukannya dan menatap netra kehitaman milik Kalila. “Kau itu aneh sekali. Masa tidak yakin dengan perasaan kau sendiri!” ketus Feni.
Kalila pun menarik Feni ke kamarnya. Gadis itu bercerita mengenai kejadian malam tadi, antara dirinya dan Dimas di ranjang rumah sakit.
Mulut Feni menganga sempurna mendengar pengakuan Kalila. “Jadi kau melakukan gituan dengan Bang Dim!” Feni sangat kesal dengan apa yang diceritakan oleh adik iparnya itu.
“Gituan apa?! Kami hanya berciuman!”
Feni yang bertambah kesal, menyentil dahi Kalila. Hingga Kalila mengaduh dan mengusap-usap dahinya. “Berciuman itu bukan cuma 'hanya' seperti yang kau katakan itu! Harusnya kau menyerahkan pada pria yang menjadi suami kau!” dengus Feni.
“Terus, itu ... tangan Bang Dimas yang masuk ke baju kau, bergerak ke mana saja?!”
“Sepertinya hanya di perutku saja,” jawab gadis itu.
“Sepertinya??” tanya Feni heran. Kalila pun mengangguk. “Bang Dim sepertinya habis menyihirku, jadi aku terbuai dan tidak sadar.”
Sebuah bantal pun melayang dengan kencang ke wajah Kalila.
“Kalau begitu, tidak perlu bertunangan. Kau dan Bang Dimas langsung menikah saja!”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
__ADS_1
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...