Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 62


__ADS_3

Kini Kalila tengah duduk di sebuah ruangan. Setelah bertanya dengan salah satu pegawai yang ada di ruang tata usaha, Kalila pun ditunjukkan ruangan ini. Ruangan tempat dia duduk sekarang. Saat itu pukul 07:30 WIB.


Kalila terus menampilkan senyum sumringah. Hingga beberapa saat kemudian, seorang wanita paruh baya yang baru dikenalnya dua hari lalu, masuk ke ruangan itu bersama seorang gadis cantik nan anggun.


“Halo Kalila,” sapa Bu Baskoro. Kalila menoleh, dan beranjak dari duduknya. Mengulurkan tangannya, Kalila malah disambut dengan pelukan hangat. Bu Baskoro bahkan menempelkan pipinya ke pipi Kalila, bergantian kiri dan kanan.


“Kenalkan, ini anak bungsu saya. Dia kepala sekolah di sini,” jelas Bu Baskoro. Kalila pun mengulurkan tangannya. Gadis anggun itu menyambutnya dengan senyum yang sangat menawan— menurut Kalila. Kalila menyebutkan namanya kemudian.


“Anneke,” ucap gadis anggun itu sembari membalas uluran tangan Kalila. “Panggil saja, Ane,” lanjutnya. Kalila mengangguk, “iya, Bu Ane,” ucap Kalila.


“Jangan panggil Ibu. Panggil Ane, saja. Saya sudah melihat CV kau— Kalila. Bisa dikatakan kita seumuran,” jelas Ane.


“Usia Ane, dua tahun di atas kau,” sambung Bu Alinah. Kalila terlihat mengangguk-angguk.


“Kalau begitu, bagaimana kalau saya panggil Kak Ane saja?”


Ane mengangguk setuju. Mereka pun membahas mengenai pekerjaan yang akan digeluti oleh Kalila. Mengenai cita-cita Kalila menjadi seorang guru di taman kanak-kanak. Gadis Medan itu diperbolehkan ikut mengajar bersama Ane, satu kali dalam seminggu. Kalila benar-benar bahagia mendengarnya.


“Nanti, kalau kau sudah paham mengenai kurikulumnya, kau boleh mengajar, apabila ada guru yang tidak bisa hadir. Tentu saja bayarannya sesuai dengan seberapa banyak jam mengajar. Tapi untuk sementara, tidak ada bayaran jika kau ikut mengajar bersamaku. Bagaimana, apa kau setuju?”


Kalila mengangguk cepat. Tentu saja gadis itu setuju. Membantu Ane mengajar, walau tidak mendapatkan bayaran sebagai pengajar, itu tidak masalah buat Kalila. Toh gadis itu masih mendapatkan bayaran sebagai staff tata usaha.


Mendapatkan ilmu mengajar secara gratis, sekaligus bisa berkumpul dengan anak-anak, itu lebih dari cukup bagi Kalila. Mimpinya akan segera menjadi nyata.


Kalila memulai pekerjaannya hari ini. Anneke dan Bu Baskoro memperkenalkan Kalila dengan para staff lainnya. Ane bahkan mengenalkan Kalila sebagai adiknya. Kalila benar-benar tersanjung mendengarnya. Sejak lama dia ingin punya seorang kakak perempuan. Setelah Feni— sahabatnya, menjelma menjadi kakak iparnya, kini Anneke— anak dari pemilik yayasan tempat Kalila bekerja, telah berujar menjadi kakaknya.


“Kalau ada yang ingin kau tanyakan, kau tanyakan saja dengan yang lainnya. Atau, jika kau masih malu, kau bisa bertanya padaku. Aku ada di ruangan,” ujar Anneke ramah. Kalila menganggukkan kepala dan mengucapkan rasa terimakasihnya kepada Anneke.


***

__ADS_1


Pukul 14:00 WIB Kalila sudah tiba di rumah. Hari pertamanya bekerja berjalan lancar. Nissa berlari menyongsong Kalila yang baru saja memasuki halaman rumah itu. Melihat Nissa yang bersemangat mengejarnya, Kalila pun berlutut dan merentangkan tangannya, hingga gadis kecil itu masuk dalam dekapannya. Mereka berpelukan erat sekali, seakan tidak bertemu beberapa tahun lamanya.


Satu bulan menghabiskan waktu bersama, Nissa sangat menempel pada Kalila. Bahkan setiap siang, Nissa tidur bersama Kalila, di kamar gadis itu. Mereka hanya berpisah ketika malam hari, dan Nissa harus tidur bersama ayah dan ibunya.


Sehingga, tidak bertemu sejak pagi hari dengan Kalila, membuat Nissa begitu merindukan tantenya itu. Nissa pun terus menempel pada Kalila. Bahkan, gadis kecil itu, untuk pertama kalinya, tidur bersama Kalila, malam ini.


Kalila harus menunggu Nissa terlelap lebih dulu, sebelum melakukan panggilan video dengan Kairav dan Dimas sekaligus.


Kalila lebih dulu mengirimkan sebuah foto kepada Kairav sebelum melakukan panggilan video dengan kedua pria konyol itu. Kairav seketika menghubungi Kalila, ketika menerima sebuah foto yang baru saja dikirimkan oleh Kalila.


“Siapa itu?!” seru Kairav. Suara pria itu terdengar begitu bersemangat. Kalila hanya terkekeh mendengar pertanyaan Kairav.


Kalila langsung menyambungkan panggilan video itu kepada Dimas. Namun, hal itu membuat Kairav kesal. “Hei, Lila! Jangan kau hubungi Dimas. Jawab dulu pertanyaan Abang! Kau juga mengirimkan foto itu kepada Dimas?”


Belum sempat Kalila menjawab pertanyaan dari kakak lelakinya itu, Dimas sudah menyapa kedua adik beradik itu. “Cepat sekali kau menjawab panggilan video dari Kalila! Aku masih ada urusan dengan Kalila!” seru Kairav.


“Tidak Bang Dim. Jangan percaya, aku tidak ada urusan dengan Bang Kairav,” ucap Kalila terkekeh.


“Good. Jangan pernah kau berikan foto itu kepada Dimas,” ucap Kairav. Alis Kalila bertaut, tidak mengerti maksud Kairav, “memangnya kenapa?”


“Itu jatah Abang kau yang tampan ini! Jangan kau bagi-bagi dengan yang lain!” Kalila terkekeh mendengar penuturan Kairav. Sepertinya kakak lelakinya itu benar-benar terpikat dengan gadis yang ada di foto itu— foto yang tadi dikirimkan oleh Kalila, melalui pesan singkat.


Namun, semakin Kairav melarang, Kalila malah semakin ingin mengirimkan foto itu kepada Dimas. Dan akhirnya, Kalila mengirimkannya kepada Dimas.


“Bagaimana Bang?” tanya Kalila. Dimas hanya menjawabnya dengan satu kata. Cantik.


Tidak ada kata lain, hanya satu kata. Dimas bahkan terlihat tidak terlalu tertarik dengan gadis yang ada di foto itu. Kairav sendiri terheran melihat reaksi Dimas.


“Aku terbiasa melihat wanita cantik, Bang. Aku sukanya wanita yang berkilau seperti Kalila.” Kalila tentu saja terkekeh mendengar ucapan Dimas. Sedangkan Kairav menatap malas kepada kedua manusia yang tampil di layar ponselnya.

__ADS_1


“Siapa wanita itu?! Dari tadi Abang bertanya, tapi tidak juga kau jawab!”


“Itu anak pemilik yayasan yang Lila ceritakan kemarin. Namanya Anneke,” pekik Kalila. Gadis itu bahkan menyeritakan mengenai kebaikan hati Anneke. Kalila terus memuji gadis anggun itu.


“Dia bahkan mengakui dirinya sebagai kakaknya Lila,” ungkap gadis itu. Kairav langsung berbinar.


“Cocok itu!” pekik Kairav riang.


“Cocok apanya Bang?”


“Cocok menjadi kakak ipar Kalila,” ucap Kairav. Pria itu bahkan kini membayangkan dirinya tengah duduk berdampingan dengan seorang wanita, sembari menggenggam jemari seorang pria di hadapannya. Pria itu mengucapkan nama Anneke, kemudian.


Kalila dan Dimas menatap heran pada layar ponselnya. Sepasang sahabat itu, bahkan menggelengkan kepala mereka, melihat tingkah Kairav kini.


“Sudah gila Abang kau— Kalila,” ucap Dimas. Pasalnya, Kairav kini tengah menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong dan wajah yang menampilkan deretan gigi putihnya, bahkan sesekali pria itu tertawa kecil.


Teriakan Kalila dan Dimas, berhasil menyadarkan Kairav dari lamunannya.


“Kimb*ek lah, kalian! Ganggu kesenangan aku saja!” Kalila dan Dimas tertawa terbahak-bahak melihat Kairav yang tengah kesal.


“Sepertinya jodoh Abang sudah dekat. Kalian jangan lupa menyiapkan kado untuk Abang dan Anneke.”


Bersambung ....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...

__ADS_1


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2