Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 97


__ADS_3

Di hari yang sama, saat Dimas dan Bu Ghita mengunjungi kediaman keluarga Adi Putra, di saat itu pula, Kalila beserta Khalid, Feni dan Nissa, tengah bersiap-siap. Rencananya mereka akan pergi ke sebuah pusat perbelanjaan yang cukup jauh dari kediaman mereka. Sedari pagi Feni sudah berkutat di dapur, demi menyiapkan sarapan serta camilan berkalori tinggi untuk menemani mereka selama perjalanan.


“Ya ampuun ... Kau itu mau ke mall atau mu piknik ke kebun raya sih?!” cebik Kalila. Gadis yang kini tengah membantu kakak iparnya mencuci piring bekas sarapan mereka tadi.


“Kalau kau sudah selesai dengan piring-piring kotor itu, enyah kau dari dapur ini!”


Kalila tertawa terbahak-bahak mendengar umpatan kakak iparnya itu. “Tenang saja kisanak, aku juga tak berminat berlama-lama di dapur kau ini!” Gadis itu pun melangkahkan kaki menuju ruang tamu, meninggalkan Feni dengan bahan-bahan masakannya.


“Laginya kau juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantuku memasak!” ocehan Feni mengiringi langkah kaki Kalila. Sementara gadis itu tak memedulikan ucapan Feni, dan terus melangkahkan kakinya sambil tertawa.


***


Hari ini langit kota Bogor terlihat gelap. Bisa dipastikan jika hujan akan turun hari ini. Namun tentu saja hal itu tidak menghalangi Kalila dan keluarganya untuk pergi hari ini. Mau tidak mau, hari ini mereka harus berangkat ke mall tersebut. Karena barang yang mereka cari— tepatnya barang yang dicari oleh Kalila— akan digunakan gadis itu, pada hari Senin.


Tepat pukul sembilan pagi, Kalila dan keluarganya berangkat menuju mall tersebut. Ntah apa yang ada di benak Khalid, hingga pria itu memutuskan untuk mengunjungi mall yang cukup jauh dari kediamannya. Butuh waktu hampir satu jam untuk mereka tiba di sana. Terlebih di akhir pekan seperti ini, jalanan kota Bogor sudah pasti dipenuhi oleh kendaraan. Macet.


Feni mengeluarkan bekal yang tadi dibuatnya. Harum keju menyeruak begitu saja, memenuhi lingkup mobil. Khalid yang berada di balik kemudi, bahkan menoleh, menatap kotak makanan yang ada di pangkuan sang istri.


Nissa bahkan ikut berceloteh, “hmm ... hayumnyaa ...,” ucap gadis kecil itu.


Feni mengambil satu cup kentang panggang dan sendok yang memang sengaja dibawanya, lalu memberikannya pada Kalila yang duduk tepat di belakangnya. Wajah Kalila seketika berbinar, melihat kentang panggang yang berselimutkan keju lumer di atasnya. Gadis itu bahkan hampir meneteskan liurnya. Kentang panggang itu benar-benar menggiurkan. Visualnya begitu menggoda, bau masakan itu pun begitu menggugah selera. Perut yang kenyang, mendadak kembali lapar, ketika menatap kentang panggang buatan Feni.


Kalila tak sabar, gadis itu langsung menghujamkan sendok yang di pegangnya. Saat sendok itu hampir masuk ke rongga mulutnya, Feni berteriak.

__ADS_1


“Siapa yang suruh kau makan itu!”


Kalila menelan liurnya yang hampir menetes. Gadis itu pun menoleh, menatap kakak iparnya. “Bukannya kau, yang memberikan kentang panggang ini buat aku?” tanya Kalila bingung.


Padahal baru saja Feni memberikan kentang panggang itu kepadanya, mengapa kini Feni melarang dirinya untuk menikmati kudapan itu? Begitulah yang ada di benak Kalila.


“Kau suapi Nissa! Awas saja kalau kau ikut mencicipi makanan yang aku bawa!”


“Kenapa kau pelit begitu? Masa iya, aku hanya menyuapi Nissa tapi tidak ikut mencicipi kentang panggang ini?!” ucap Kalila. Gadis itu merasa kesal dengan sahabatnya kini. Baru kali ini Feni bersikap seperti itu kepada Kalila.


“Kalau Abang, pasti bolehkan, menyicipi makanan buatan istri Abang tercinta ini,” ucap khalid. Namun Feni juga tidak memerbolehkan Khalid untuk menyicipi bekal makanan yang dibawanya.


Sejak dulu, Feni terkenal dengan kedermawanannya, baru kali ini wanita yang tengah mengandung itu, bersikap pelit, tidak mau berbagi, padahal yang memintanya adalah suami dan juga sahabat sekaligus adik iparnya. Mungkinkah itu karena pengaruh bayi yang ada dalam kandungannya? Jika benar seperti itu, sungguh menyebalkan sekali.


“Bukan kah kalian menertawakan aku, ketika akan menyiapkan bekal makanan ini? Kenapa kalian sekarang ingin menyicipinya?! Sudah untung aku memerbolehkan kalian mencium aroma masakanku yang spektakuler ini!”


Kalila dan Khalid tidak bisa menjawab. Kini kedua kakak beradik itu, hanya bisa menelan liur yang terus memenuhi rongga mulut mereka. Kentang panggang buatan Feni, benar-benar menggiurkan. Dan sialnya, Feni benar-benar tidak memerbolehkan Khalid dan Kalila menyicipi masakan itu.


“Apa tadi yang kau katakan, Lila?” tanya Feni, tanpa mengalihkan tatapannya pada kentang panggang yang ada di hadapannya itu. “Tadi kau katakan, aku hendak ke mall, atau ke kebun raya? Hmmm ... Begitu?”


Kalila hanya diam menanggapi setiap ucapan yang keluar dari mulut wanita yang kini tengah mengandung itu. Kalila menyesal telah mengucapkan kalimat seperti itu. Dampaknya kini gadis itu tidak bisa menyicipi kentang panggang buatan Feni. Sebenarnya Kalila sudah ingin menyicipi kudapan itu diam-diam. Rencananya, saat Feni lengah, Kalila akan menyuapi mulutnya dengan satu sendok penuh, kentang panggang.


Namun, Feni terlalu memahami Kalila. “Kalila, aku haramkan kau, untuk menyicipi kentang panggang itu, walau hanya secuil,” ucap Feni santai.

__ADS_1


“Astaghfirullah ... Dasar bumil! Sampai segitunya kau. Dasar pelit!” sungut Kalila kesal. Namun, Feni terlihat cuek dan tidak menanggapi umpatan yang dilontarkan oleh Kalila. Istrinya Khalid itu, bahkan dengan santai, trus menyantap makanan yang ada di hadapannya.


Khalid tertawa terbahak-bahak melihat adegan demi adegan antara Feni, Kalila dan kentang panggang.


Sementara Kalila, dengan wajah ditekuk, gadis itu terus menyuapi Nissa, hingga kudapan itu habis tak bersisa. Kalila benar-benar tidak menyicipi kudapan itu secuil pun, seperti ultimatum Feni.


“Lagian, hanya mau membeli baju kerja saja, jauh sekali! Seperti di dekat rumah tidak ada mall saja!” ucap Feni kesal. Sebenarnya sejak Khalid mengungkapkan akan pergi ke Bogor Supermall— pusat perbelanjaan milik PT. Adi Putra Group— Feni sudah merasa kesal, namun wanita itu hanya diam saja.


“Dua hari lagi, Kalila resmi bekerja di Adi Putra Group. Dan Mall itu kan berada dalam naungan Adi Putra Group.”


“Terus ... Apa hubungannya dengan membeli baju kerja di sana. Barang-barang di sana itu mahal-mahal!” cebik Feni.


“Jika kita berbelanja di sana, itu artinya, kita sudah ikut membantu perputaran uang di Adi Putra Group. Buat gaji Kalila juga,” ucap Khalid bangga. Namun Feni hanya berdecak kesal.


“Justru yang lebih baik itu, berbelanja ke pasar. Membantu perputaran modal pedagang kecil!” sungut Feni. Bibir Khalid seketika terkatup mendengar ocehan istrinya.


Sementara Kalila, dirinya hanya terdiam dari tadi. Gadis itu masih merasa kesal, karena tidak bisa menyicipi kentang panggang buatan Feni.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...

__ADS_1


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2