
Dimas langsung memanggil Harry ke ruangannya. Sudah ada Kalila yang menunggu di sana. Dimas pun memberitahukan kepada Harry, mengenai tantangan proyek yang harus mereka terima.
Mata Harry menyala, saat mendengar bonus dengan besaran sepuluh kali dari gaji. Bahkan jika gagal, pria itu tidak kehilangan apapun, selain tidak mendapatkan bonus di akhir tahun nanti. Tantangan ini sama sekali tidak membawa kerugian besar untuknya, jika proyek itu gagal.
Harry pun sudah sangat bersemangat untuk memulai pekerjaan mereka. “Ayo ... semangat, semangat ... Demi enam puluh jutaaa!” teriak Harry. Dimas dan Kalila terkekeh melihat tingkah rekan satu tim mereka.
“Jadi sudah pada mengerti ya, projects kita berikutnya. Membuat resort bertema glamping di daerah dataran tinggi dengan luas hampir lima hektar. Besok pagi, kita diskusikan ide-ide kalian. Dan, bersiap untuk besok lusa, kita cek lokasi.”
Setelah arahan dari Dimas, Kalila dan Harry pun bersiap untuk mengemasi meja kerja mereka. Ketika Kalila dan Harry hendak melangkah keluar dari ruangan manager mereka, Dimas memanggil Kalila, “La ...,” ucapnya. Kalila menghentikan langkahnya dan menoleh, menatap Dimas. Namun, bukan hanya Kalila yang menghentikan langkahnya. Harry pun berhenti sejenak. Bahkan ikut mendengarkan apa yang akan diucapkan Dimas kepada Kalila, sembari melihat interaksi sepasang muda-mudi itu.
“Bunda mengajak kita makan malam di rumah. Bagaimana, kau mau?”
“Rumah? Bukannya ... Butik?”
Dimas menggelengkan kepalanya, “Bunda dan Ibu sudah memasak banyak makanan. Lagian, Ibu ingin berkenalan dengan kau. Bagaimana?”
Kalila menganggukkan kepalanya. Ada acara makan-makan, tentu saja gadis itu akan datang. Terlebih jika makan-makan dan tidak perlu membayar, Kalila pasti sangat antusias.
Sementara Harry, pria itu terus memerhatikan ekspresi Dimas saat berbicara dengan Kalila. Terlihat jelas dari sorot matanya, jika Dimas sangat menyayangi Kalila.
“Kalau begitu, cepatlah berkemas. Biar saat tiba di rumah, masih ada waktu Maghrib,” ucap Dimas.
“Aku tidak diajak Boss?” tanya Harry penuh harap. Dimas kemudian berjalan mendekati pria itu, lalu menepuk-nepuk pundak Harry. “Jangan menjadi orang ketiga, Bro. Orang ketiga itu syaiton,” ucap Dimas sembari terkekeh. Dimas pun kembali melangkah ke meja kerjanya.
Kalila yang juga terkekeh, bergegas melangkah keluar dari ruangan itu, diikuti oleh Harry yang tengah memasang wajah kesal.
“Kau dan si Boss, berkencan ya?” tanya Harry, begitu mereka keluar dari ruang kerja Dimas. Kalila menoleh dan tertawa mendengar pertanyaan Harry. “Aku bertanya serius!”
Kalila menghentikan langkah tepat di depan meja kerjanya. “Memangnya kau tidak mendengar sewaktu di ruangan Pak direktur? Aku dan Bang Dim itu bersahabat,” jawab Kalila.
__ADS_1
Harry mengangguk-angguk mendengarnya. Walau dalam hatinya tidak terlalu memercayai ucapan Kalila. Pasalnya interaksi Dimas dan Kalila, persis sepasang kekasih. Terlebih Dimas, terlihat sangat jelas jika pria itu menaruh rasa kepada Kalila.
Kalila langsung mengemasi barang-barang yang ada di meja kerjanya. Gadis itu lalu menyandang tas kerjanya.
“Sudah siap?” tanya Dimas yang kini sudah berada di depan meja kerja Kalila. Gadis itu dengan bersemangat menganggukkan kepalanya. Bersama-sama dengan staff lainnya, mereka melangkah menuju elevator.
Saat tiba di lantai dua, seorang wanita yang dikenal oleh seluruh staff divisi disain dan perencanaan, masuk ke elevator. “Sudah lama tidak bertemu ya Dimas,” sapa Mawar.
“Hush ... Dimas ... Dimas ... Dia itu manager divisi desain dan perencanaan!” ujar Angga. Namun Mawar terlihat cuek dengan temannya semasa sekolah itu. “Dimas kok, yang meminta aku tidak memanggilnya dengan embel-embel 'pak.' Ya kan, Dim?” tanya Mawar. Dimas mengangguk, membenarkan ucapan mawar. Pernah, satu kali Dimas berpapasan dengan Mawar. Saat itu Mawar sudah tau mengenai status Dimas yang ternyata seorang manajer dan cucu dari pemilik perusahaan. Mawar pun menyematkan panggilan 'pak' kepada Dimas saat itu. Namun Dimas sendiri yang meminta Mawar untuk memanggilnya dengan Dimas, tanpa embel-embel 'pak.'
“Biar lebih akrab,” jelas Dimas. Seketika Kalila melirik Dimas. Sejak kapan mereka begitu akrab? Padahal dirinya selalu bersama Dimas. Kalila menatap Dimas penuh tanda tanya. Tetapi yang ditatap malah sibuk meladeni Mawar berbicara. Sementara Harry menatap Kalila yang menatap sinis pada Dimas.
Ucapan kau memang tak bisa dipercaya, Kalila. Padahal jelas-jelas kau cemburu melihat si Boss bercengkrama dengan wanita lain.
“Boleh tidak kalau aku ikut bersama kalian?” tanya Mawar. Gadis itu tau, jika Dimas selalu pulang bersama Kalila.
“Aku hanya menumpang sampai depan mini market di sana!”
“Boleh, kalau hanya sampai mini market depan. Soalnya aku harus tiba di rumah sebelum isya,” ucap Dimas lembut, tidak lupa dengan senyum manisnya. Kalila semakin bertambah kesal melihat tingkah Dimas. Namun, Kalila tidak tau, jika tingkahnya juga diperhatikan oleh Harry.
Begitu pintu elevator terbuka, Kalila seketika melangkah dengan cepat, menuju mobil Dimas. Kalila memang sudah tau di mna Dimas memarkirkan kendaraannya. Karena setiap hari Dimas menjemput Kalila untuk pergi bekerja bersama. Begitu juga dengan saat pulang bekerja, Dimas selalu mengantarkan Kalila ke kediamannya.
Dimas tidak membuka kunci mobilnya. Kalila yang tadi berjalan cepat pun, akhirnya terpaksa menunggu di depan mobil milik Dimas. Pria itu hanya tersenyum melihat Kalila menunggu di depan kendaraan miliknya.
Sementara Kalila semakin bertambah geram melihat Dimas yang melangkah beriringan bersama Mawar.
'Bip.'
Dimas menekan tombol pada kunci mobilnya. Tanda bahwa mereka semua sudah bisa membuka pintu mobil dan masuk ke kendaraan itu.
__ADS_1
Kalila hendak membuka pintu mobil itu, namun Mawar menyenggol pundak Kalila, hingga Kalila berpindah tempat. Mawar pun segera masuk dan duduk di samping Dimas. Sebenarnya Dimas sedikit terkejut ketika Mawar yang duduk di sampingnya.
Kalila menghentak kakinya karena merasa sangat kesal dengan tindakan Mawar. Dengan kesal, Kalila membuka pintu dan membantingnya sekuat mungkin, hingga Dimas dan Mawar menoleh padanya.
Sesuai janjinya, Dimas mengantarkan Mawar sampai persimpangan dekat supermarket.
Mawar melambaikan tangan sebelum turun dari kendaraan itu. Dimas pun meminta Kalila untuk berpindah duduk ke depan, di samping dirinya, seperti biasa. Namun Kalila tidak menggubris permintaan Dimas itu. Kalila bahkan tidak mau menatap Dimas. Gadis itu sibuk memerhatikan jalan di sebelah kirinya melalui kaca mobil.
“Aku benar-benar seperti supir,” ucap Dimas, kemudian kembali melajukan kendaraannya. Dimas sesekali memerhatikan Kalila yang terus cemberut. Pria itu hanya menanggapinya dengan tersenyum.
Apakah kau sedang cemburu, Kalila?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...
Bagi pembaca yang sudah mendapat JULUKAN FANS baik SILVER, GOLD atau DIAMOND, kalau mau menjadi tim interaksi komentar, boleh ya ...
Caranya tinggal klik tim interaksi di sampul halaman depan 👇
Nanti kalian bebas menambahkan hastag (#) di tiap bab seperti ini 👇
__ADS_1