
Hari ini Dimas merasa bahagia. Karena untuk pertama kalinya, Kalila membuatkannya sarapan. Wanita itu bahkan menyajikan hidangan pembuka yang sangat nikmat. Hidangan pembuka paling menggairahkan yang pernah ada. Karena wanita itu menghidangkan dirinya sendiri di atas meja makan.
Kalila juga menyiapkan pakaian kerja untuk Dimas. Wanita itu juga membantu suaminya berpakaian. Mengancingkan kemeja yang akan dikenakan oleh Dimas. Kalila tidak menyangka, jika melayani suami bisa terasa begitu membahagiakan. Melihat senyum Dimas yang terus terkembang sejak pertarungan mereka di meja makan.
Dan ada satu hal lagi yang baru disadari oleh Kalila. Ternyata, mengancingkan kemeja suami, tidak semudah yang dibayangkan. Karena pria itu terus menerus menggodanya. Memeluk pinggangnya erat, mencumbui seluruh wajahnya, bahkan tangan pria itu berkelana ke sana ke sini, tak tentu arah.
Mengancingkan baju yang biasanya dikerjakan selama satu menit, kini membutuhkan waktu hingga lima belas menit. Bahkan adegan itu ditutup dengan ciuman panas keduanya.
Kalila bahkan hampir terlambat karenanya.
***
Langkah Kalila tiba-tiba terhenti, saat menyaksikan Ibrahim tengah duduk di sebuah sofa yang terdapat di lobby kantor. Selama ini Kalila tak pernah memerhatikan hal itu. Dirinya benar-benar mengira jika Ibrahim memang kebetulan datang di waktu yang bersamaan dengannya.
Wanita itu berbalik arah dan kembali menghampiri Dimas.
“Kenapa sayang? Apa ada yang ketinggalan?” tanya Dimas. Pria itu memang sengaja menunggu Kalila hingga masuk ke elevator, sebelum meninggalkannya.
“Temani Lila sampai ke ruangan, mau tidak?” ucap gadis itu manja. Bibir Dimas merekah, pria itu segera memarkirkan kendaraannya dan kembali menghampiri Kalila.
Dengan jemari yang saling menggenggam, sepasang suami-istri itu melangkah menuju elevator. Ibrahim menatapnya dengan geram. Tak mau bertambah kesal, pria itu memutuskan untuk tidak menaiki elevator bersama Kalila dan Dimas.
Ruangan team divisi desain dan perencanaan mendadak ricuh, saat melihat Dimas mengantarkan Kalila hingga duduk di meja kerjanya.
“Tidak ada yang mau menculik istri kau ini, Boss Dim. Makannya banyak! Rugi!”
Begitulah celetukan-celetukan rekan kerja Kalila, saat melihat Dimas mengantarnya. Ruangan itu mendadak heboh. Terlebih saat Dimas mengecup dahi Kalila, saat berpamitan dengan istrinya itu.
Kalila melambaikan tangannya, saat Dimas mengayun langkah menuju elevator.
Wanita itupun segera kembali ke meja kerjanya.
Kalila terlihat mengoperasikan komputer miliknya. Membuka situs employee connection (EC) Kalila mengunggah surat pengunduran diri.
Kalila mengembuskan napas berat. Dirinya tak pernah menyangka jika akan mengajukan surat pengunduran diri dan menjadi ibu rumah tangga. Padahal tidak ada satupun pekerjaan rumah tangga yang bisa dilakukannya.
__ADS_1
Cita-cita Kalila menjadi wanita karir seperti sang ibunda, pupus sudah.
Kalila menegakkan tubuhnya. Wanita itu melangkah menuju ruangan manajer. Mengetuk pintu, Kalila pun dipersilakan untuk masuk ke ruangan itu.
Pak Erwin, yang sudah mengabdi selama hampir lima belas tahun di PT. Adi Putra Group, kini menjadi manajer divisi desain dan perencanaan, menggantikan Dimas Adi Putra.
“Ada apa Nyonya Dimas,” ucap pria yang pernah menjadi rekan kerja Kalila itu. Kalila yang tengah berdiri di depan meja kerja atasannya itu pun mengulas sebuah senyuman.
“Lihat EC saya, Pak. Saya butuh approval di sana,” ucap Kalila masih dengan senyum terkembang.
Erwin mengangguk. Pria itu pun membuka situs employee connection. “Belum akhir bulan kenapa sudah mengirim absenan?”
“Bukan absenan Pak.”
Erwin seketika membelalak melihat ke Tika melihat ke layar komputer. Pria paruh baya itu lalu menatap Kalila.
“Kau mengundurkan diri?”
Masih dengan senyumannya, Kalila menganggukkan kepala. “Kau mau pindah bekerja ke perusahaan Boss Dim?”
“Tidak Pak. Laginya, saya di sana sebagai komisaris, tidak berhubungan dengan operasional perusahaan. Saya ingin menjadi ibu rumah tangga saja, mengurusi Bang Dim,” jelas Kalila.
Pria paruh baya itu menyadari, jika keputusan mengundurkan diri dari perusahaan dan menjadi ibu rumah tangga, pastilah keputusan Kalila sendiri. Terlebih, Dimas bukanlah seorang suami yang suka memaksakan kehendak.
“Sudah saya approv. Selamat jadi ibu rumah tangga, Kalila,” ucap Erwin, masih dengan senyum sumringahnya.
“Terima kasih, Pak. Tapi, apa boleh saya minta tolong satu kali lagi.”
“Apa itu? Kalau saya bisa, pasti akan saya bantu,” jawab Erwin.
“Bisakah Pak Erwin memberitahukan kepada Bang Ibra, emm... maksud saya, Pak Ibra. Biar beliau segera mengaprove surat pengunduran diri saya. Jadi, tepat bulan depan saya sudah tidak bekerja lagi.”
“Hahaha ... Kau sepertinya sudah tidak sabar untuk segera mengurus suami dan rumah. Baik ... baik, saya akan menghubungi Pak Indra agar beliau menyampaikan kepada Pak Ibrahim.”
Erwin pun segera menghubungi Indra, di depan Kalila. Setelah mengungkapkan rasa terima kasihnya pada Erwin. Kalila pun undur diri dan meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Tak lama setelahnya, Ibrahim menghubungi Kalila secara pribadi melalui ponsel wanita itu. Menghela napas berat, Kalila beringsut dari meja kerjanya dan melangkah menuju ruang kerja Ibrahim.
“Masuklah,” perintah Ibrahim, ketika Kalila mengetuk pintu ruangannya. Wanita itu pun melangkahkan kakinya hingga ke depan meja kerja Ibrahim.
“Apa ini?!” Ibrahim memutar layar komputernya yang menampilkan situs employee connection. “Kau mengundurkan diri?!”
Kalila mengangguk, “Iya Pak,” jawab wanita itu.
“Lila, kita hanya berdua di sini. Kau tidak perlu memanggilku dengan formal seperti itu. Lagian, kita kan keluarga,” ungkap Ibrahim. Kalila hanya tersenyum tipis menanggapinya.
“Pasti Dimas kan yang meminta kau mengajukan pengunduran diri dari perusahaan ini,” tuduh Ibrahim. “Dia pasti ingin kau mengurusi perusahaannya.”
“Itu keputusan saya sendiri, Pak. Walaupun awalnya itu permintaan suami saya. Tapi pada akhirnya saya sendiri yang membuat keputusan.”
Ibrahim menatap lekat wanita yang ada di hadapannya itu. Kalila berbicara dengan sangat formal padanya. “Kau tidak perlu menekankan jika Dimas itu suami kau. Aku juga tau akan hal itu!”
Entah mengapa Ibrahim merasa sangat kesal mendengar Kalila menyebut Dimas sebagai suaminya.
“Lila, perusahaan Dimas itu hanya sebuah perusahaan kecil. Karir kau tidak akan berkembang di perusahaan kecil seperti itu.”
“Saya tidak bermaksud untuk pindah kerja ke perusahaan milik suami saya, Pak. Saya berhenti bekerja agar bisa menjadi ibu rumah tangga. Fokus mengurusi suami saya,” jelas Kalila.
Ibrahim tersenyum sinis. “Kalila, aku kenal kau sudah lama. Aku bersahabat dengan Bang Alid juga sudah lama sekali. Aku kenal kau, aku kenal keluarga kau. Aku tau, kalau kau ingin mejadi wanita karir yang sukses. Tidak mungkin kau memilih keluar dari perusahaan ini hanya demi menjadi ibu rumah tangga. Pasti Dimas yang meminta kau untuk membantu di perusahaannya.
Kalila, kau tidak takut menyesal, meninggalkan perusahaan sebesar ini dan bergabung dengan perusahaan Dimas yang kecil itu? Atau kau sudah berencana, akan mencuri klien Adi Putra Group, seperti suami kau itu!”
Kalila tertegun. Tak pernah disangkanya jika pria yang dulu pernah sangat digilainya, mempunyai pikiran yang picik seperti itu. Tidak ada lagi kelembutan dalam diri pria itu.
“Maaf Pak, tolong jangan ikut campur dengan urusan pribadi saya. Setelah keluar dari perusahaan ini, saya akan bekerja di perusahaan suami saya, atau akan menjadi seorang ibu rumah tangga, itu adalah hak saya. Dan itu bukan urusan Pak Ibra.
Soal mencuri klien, Bapak tidak perlu khawatir, kami bukan pencuri. Tapi, jika klien lebih menyukai hasil rancangan suami saya dibandingkan hasil rancangan yang Bapak bikin, itu bukan salah suami saya. Dan itu bukan mencuri namanya. Hasil rancangan Bapak saja yang tidak sesuai dengan ekspektasi Pak Sanjaya!”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
__ADS_1
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...