Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 87


__ADS_3

Melihat Kalila menghampiri mobilnya, Ibrahim pun menurunkan kaca jendela mobilnya. “Hai, Bang Ibra,” sapa Kalila sembari melongok ke dalam mobil Ibrahim. Sementara Ibrahim celingak-celinguk mencari sosok yang di rindukannya.


“Ke mana kepala sekolah yang selalu bersama kau itu?” Mata Ibrahim masih terus mencari keberadaan Anneke. Berharap gadis cerdas nan anggun itu muncul di belakang Kalila.


“Kalau hari Jum'at begini, kak Anne langsung ke SMA Bang. Karena sehabis Zuhur langsung mengajar di sana,” jawab Kalila. Ibrahim melengos kecewa. Padahal dirinya sudah benar-benar bersiap untuk berkenalan dengan Anneke. Namun perkenalan itu tidak terjadi. Menempuh perjalanan selama hampir setengah jam, nyatanya hanya menjadi kesia-siaan. Tujuannya tidak tercapai.


“Lila boleh masuk kan, Bang?” Pertanyaan yang dilontarkan oleh Kalila, berhasil membuyarkan lamunan Ibrahim. Pria itu pun menganggukkan kepala. Ibrahim menekan sebuah tombol di sebelah kirinya hingga terdengar bunyi klik. Dengan penuh semangat, Kalila menaiki mobil itu.


Belum selesai Kalila memasang seat belt, Ibrahim sudah melajukan kendaraannya. Hanya butuh waktu sekitar lima belas menit, mereka pun tiba.


“Yuk Bang, mampir dulu,” ajak Kalila. Namun Ibrahim menggelengkan kepalanya, “lain kali saja La. Soalnya aku banyak pekerjaan. Tidak masalah kan?”


Kalila memasang senyum terindah, “iya, tidak apa-apa Bang. Lila mengerti kok, kalau Bang Ibra banyak pekerjaan,” ucap Kalila. Kali ini gadis itu berbicara dengan sangat lembut.


Kalila memang berusaha untuk mengerti kesibukan Ibrahim. Ibrahim membatalkan janji mereka secara sepihak, kemarin, pasti karena pria itu sedang sangat sibuk. Buktinya, kini Ibrahim rela meninggalkan sebentar pekerjaannya, hanya demi mengantarkan dirinya pulang. Begitulah yang ada di pikiran Kalila.


Ibrahim langsung melajukan kendaraannya, begitu Kalila turun dari kendaraan miliknya. Kalila belum sempat mengucapkan kata perpisahan atau sekedar melambaikan tangan. Mobil pria itu sudah melaju begitu saja.


“Pasti pekerjaan Bang Ibra sedang menumpuk, makanya terburu-buru seperti itu,” gumam Kalila. Kalila tersenyum sembari menatap kendaraan Ibrahim yang sudah menjauh. Kalila masih berdiri di sana, hingga kendaraan Ibrahim tak tampak lagi.


Dengan hati riang, Kalila melangkahkan kakinya, berjalan memasuki tempat tinggalnya kini. “Assalamualaikuuum ...,” ucap Kalila girang. Gadis itu melirik Feni yang tengah bermain bersama Nissa. Tatapan angkuh dari Kalila tidak digubris oleh Feni. Feni tau, jika Kalila hanya berusaha pamer karena Ibrahim mengantarnya pulang.


“Kau jangan pamer denganku, tidak pantas,” ujar Feni. Kalila hanya terkekeh menanggapinya.


“Aku tidak perlu dijemput seperti kau begitu. Yang pasti aku langsung dilamar ... Dinikahi! Tidak seperti kau yang sering diberikan janji-janji palsu! Baru diantar pulang satu kali saja, sudah senang sekali seperti itu. Padahal selama ini dicueki!”


Wajah sumringah Kalila mendadak sirna. Tidak disangkanya, jika sahabatnya itu bisa bertingkah sangat menyebalkan. Kalila pun berlalu. Tidak mau mendengarkan ocehan Feni yang lebih banyak kebenarannya itu, Kalila pun melangkahkan kaki dengan terburu-buru ke dalam kamarnya.

__ADS_1


“Mengapa kau begitu menyebalkan sekarang!” sungut Kalila sembari berlalu dari hadapan kakak iparnya. Namun Feni malah mengikuti gerak langkah Kalila.


“Bukan aku yang menyebalkan, tapi kau yang terlalu bucin, jadi tidak bisa menilai perilaku minus si Ibra itu. Lihat saja, dia bahkan tidak mampir sebentar setelah mengantarkan kau!”


Mendengar ejekan Feni, Kalila pun membalikkan badan, hingga kini dirinya berhadapan dengan kakak iparnya itu. “Fen, Bang Ibra itu sibuk banget. Pekerjaannya lagi banyak, tapi dia sempatkan menjemputku pulang bekerja, untuk menebus kesalahannya kemarin,” jelas Kalila. Feni hanya menatap malas kepada sahabat sekaligus adik iparnya itu.


“Terserah kau. Tapi yang aku lihat dari tingkah laku Bang Ibra kau itu, dia tidak tulus terhadap kau.”


Kalila menggelengkan kepalanya, lalu berbalik arah dan kembali melangkahkan kakinya menuju kamar. Gadis itu memutuskan untuk memejamkan matanya. Padahal Kalila sangat lapar saat ini, tapi dirinya malas jika harus mendengarkan ocehan Feni soal Ibrahim.


Akhirnya Kalila pun terlelap.


***


Keesokan harinya, Feni kembali memperolok Kalila.


“Om, Nissa mau boneka,” ungkap Nissa manja. Sebenarnya Kalila yang membisikkan kalimat itu kepada Nissa. Kalila pun terkekeh setelah Nissa mengikuti apa yang dibisikkan olehnya. Namun Dimas hanya menanggapinya dengan santai. Pria itu malah meninggalkan ponselnya dan mengambil sesuatu.


“Ini buat Nissa, boneka unicorn. Kata Tante Lila, Nissa suka unicorn kan?” Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya. Tangannya bahkan melebar seolah ingin memeluk boneka yang ditunjukkan Dimas pada layar ponselnya.


“Nanti ya ... Tunggu Om Dim pulang ke Indonesia,” jelas Kalila, sembari mengelus-elus rambut Nissa. Gadis kecil itu pun mengangguk.


“Boneka buat tantenya mana?!” cebik Kalila.


“Tante Lila sih tidak perlu boneka. Cukup dengan kehadiran Om Dim di sisinya, Tante Lila pasti sudah bahagia,” celetuk Dimas sembari terkekeh. Kalila pun ikut terkekeh mendengar celotehan sahabatnya itu.


Tak berapa lama, di saat Kalila dan Dimas tengah tertawa bersama, Feni mengetuk pintu kamar dan masuk ke kamar Kalila. Wanita yang tengah hamil itu, sebenarnya tengah menyari gadis kecilnya, karena sudah saatnya Nissa tidur.

__ADS_1


“Ngarepnya sama siapa, malam mingguannya sama siapa," celetuk Feni, ketika melihat Kalila tengah melakukan panggilan video. Apalagi Feni melihat wajah ceria Kalila saat melakukan panggilan video itu.


Dimas yang mendengar ocehan Feni, tertawa terbahak-bahak. “Kita kan sahabat selamanya Kakak Ipar,” ucap Dimas. Pria itu bahkan berteriak, agar Feni mendengar ucapannya.


Feni pun melangkah, mendekati Kalila, setelah sebelumnya menyambar jilbab milik Kalila dan memakainya. “Cari pacar saja Bang Dim, jadi tidak malam mingguan sama Kalila terus.”


“Kasihan nanti Kalila tidak ada yang menemani,” jawab Dimas.


“Biarkan saja dia. Sampai kapan mau menemani Kalila terus. Bang Dimas kan harus mencari pasangan juga. Jangan bergaul dengan Kalila saja. Tinggalkan saja gadis tidak peka ini.” Dimas hanya tertawa mendengar ucapan Feni.


Wanita hamil itu mengambil Nissa dari pangkuan Kalila, kemudian melangkah keluar dari kamar itu. Sementara Kalila terdiam di sana. Ucapan Feni membuat gadis itu memikirkan sesuatu. Dimas bahkan harus memanggil Kalila berulang kali, baru gadis itu tersadar dari lamunannya. Namun pertanyaan Kalila membuat Dimas terperangah.


“Kalau Bang Dim punya kekasih, apa Bang Dim akan melupakan Lila?” tanya Kalila. entah mengapa ucapan Feni tadi benar-benar membuatnya gusar.


Dimas tersenyum samar, “Aku akan mencari kekasih setelah kau menikah. Jadi akan aku biarkan kau yang meninggalkan aku, Kalila.”


Alis Kalila bertaut, gadis itu bahkan mengerucutkan bibirnya. “Lila tidak akan memutuskan hubungan persahabatan kita, walau Lila sudah menikah, Bang!” ujarnya kesal. Dimas pun tertawa mendengarnya ucapan Kalila.


“Kan tidak mungkin kita video call-an tapi suami kau sedang tertidur di samping.” Kalila terdiam. Dirinya sama sekali tidak terpikirkan hal itu. Membayangkan tidak lagi melakukan panggilan video dengan Dimas setiap malam, Kalila hanya bisa terdiam.


Pasti Lila akan merindukan saat-saat bersama Bang Dim, seperti ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...

__ADS_1


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2