
Setelah panggilan video dari Dimas, Kalila kembali ceria. Dengan langkah riang, gadis itu memasuki ruang kerjanya dengan penuh senyuman. Gadis itu kembali bekerja.
Tepat pukul sebelas, Ibrahim mengirimkan pesan kepada Kalila, jika dirinya sudah dalam perjalanan menuju yayasan tempat Kalila bekerja. Gadis itu pun bertambah sumringah.
“Bang Ibra nanti langsung masuk saja, Abang bisa tanya ruangan tata usaha.”
[Ibrahim : Nanti, aku langsung menuju masjid saja.]
Kalila membalas pesan itu sembari tersenyum sumringah. Panggilan video dari Dimas tadi, benar-benar membuat gadis itu bahagia. Wajah muram yang sedari pagi ditunjukkannya, kini berganti sumringah. Semua berkat Dimas yang sudah memaafkannya.
Jam kerja Kalila telah usai. Biasanya rekan-rekan kerja yang lain membeli camilan sembari menunggu waktu Zuhur. Namun Kalila tidak. Sembari menunggu waktu Zuhur, biasanya Kalila membaca buku yang memang dia bawa dari rumah. Ada novel, biografi, bahkan buku perkuliahannya. Pada dasarnya Kalila memang hobi membaca. Gadis itu akan melahap buku apa saja yang ada di depan matanya. Itulah salah satu yang membuat Andri tertarik padanya.
“Paling enak baca buku sambil ngemil, kau setuju?”
Kalila menoleh, sudah ada Andri di depan meja kerjanya sembari membawa dua bungkus makanan. “Batagor,” ucapnya. Andri pun meletakkan dua bungkus batagor itu di meja kerja Kalila. Pria itu lantas menarik kursi dan meletakkannya di depan meja kerja Kalila. Kini mereka duduk berhadapan. Andri juga membawa buku di tangan kanannya. Mereka berdua— Andri dan Kalila— menikmati sebungkus batagor sembari membaca buku masing-masing.
Hampir setiap hari, selama menanti waktu Zuhur, dihabiskan Andri dan Kalila dengan membaca bersama. Terkadang Kalila membawa camilan buatan Feni, ataupun membawa makanan ringan yang dia beli di minimarket.
***
Ibrahim Adi Putra Point of View
Hari ini aku akan menjemput Kalila di tempat kerjanya. Hal yang baru pertama kali aku lakukan kepada seorang gadis. Kalau dipikir-pikir Kalila memang gadis pertama yang membuatku melakukan hal yang tak biasa.
__ADS_1
Dulu aku rela memohon kepada kakek, untuk memundurkan jadwal keberangkatanku ke Singapura, hanya karena aku merindukan gadis Medan itu.
Tadi malam, aku bahkan menghubunginya dan berbincang hal-hal yang tidak penting selama tiga puluh menit.
Dan sekarang, aku akan menjemputnya sepulang bekerja.
Semua hal itu, baru pertama kali aku lakukan. Dan gadis yang membuatku rela melakukan semuanya, adalah Kalila Nasution. Walau hubungan kami sempat jauh, karena aku merasa kecewa terhadap gadis itu, tapi kini, saat wawancara di perusahaan yang aku pimpin, Kalila terlihat begitu cemerlang. Gadis itu berhasil menarik kembali atensiku.
Dan di sinilah aku sekarang. Lapangan parkir tempat gadis itu bekerja. Ku parkirkan mobilku, setelah menyebutkan tujuanku datang ke yayasan ini. Kalila juga sepertinya sudah memberitahukan kedatanganku kepada petugas keamanan di yayasan ini. Karena ketika aku menjelaskan maksud tujuanku ke tempat ini untuk menemui Kalila, kedua petugas keamanan menyebutkan namaku.
Setelah memarkirkan kendaraanku, aku bergegas menuju masjid yang terdapat di yayasan ini. Saat kakiku melangkah, telingaku sayup-sayup menedengar suara yang cukup riuh dari beberapa ruangan—aku tebak itu pasti ruang kelas. Aku yang rindu mengajar, memutuskan untuk mengubah tujuanku. Tidak lagi melangkah menuju masjid, kini ku langkahkan kaki ini, menghampiri murid-murid yang tengah belajar di kelas.
Berjalan menyusuri lorong yang penuh warna-warni, aku berhenti tepat di depan kelas pertama yang ku jumpai. Tak bisa ku tahan senyumku, saat menyaksikan kegiatan di kelas itu. Menyaksikan seorang wanita berhijab menyanyi sembari bertepuk tangan.
Sementara rekan guru yang dikelilingi oleh murid TK tadi, juga ikut bernyanyi di luar lingkaran. Guru berhijab yang berada di tengah lingkaran muridnya, perlahan membalikkan badannya. Bernyanyi dengan ceria.
“Gadis itu ....”
Ku tajamkan kembali penglihatanku, memastikan apakah aku salah mengenali orang atau tidak. Semakin aku memerhatikannya, semakin aku yakin, dia memang gadis itu. Wajahnya masih sama, tidak ada yang berubah sejak empat tahun lalu. Senyumnya juga masih sama.
Ku dengar suara bel berbunyi. Mungkin itu sebuah tanda, jika murid-murid itu harus meninggalkan sekolah dan kembali ke kediaman masing-masing. Sementara aku, masih terpaku di sana. Berdiri dengan senyum sumringahku, menatap gadis itu dari balik jendela.
Ku lihat dia sibuk sekali membantu anak-anak itu berbaris. Sepertinya mereka semua hendak keluar kelas. Aku berlari ke balik tembok kelas itu.
__ADS_1
Bukan hanya senyum gadis itu yang masih sama, namun ternyata, aku juga masih sama. Tidak berani menyapanya. Gadis itu berjalan beriringan bersama seorang rekan mengajar serta murid-muridnya. Mereka berjalan melewati ku yang berdiri di balik tembok.
Untung saja dia tidak menyadari kehadiranku di sana. Aku masih menatapnya— menatap punggungnya, kini. Aku sudah seperti penguntit, mengawasi gadis itu dari kejauhan.
Aku teringat saat pertama kali bertemu dengannya. Saat itu adalah tahun keduaku di Singapura. Seperti biasa, setiap tahun di kampusku akan ada seminar internasional, mengundang narasumber yang juga diakui dunia. Waktu itu kami membahas mengenai pendidikan. Dan gadis itu, terpilih sebagai moderatornya. Kalian harus tau, betapa susahnya menjadi moderator berkelas internasional seperti itu. Kalian tidak hanya dituntut harus pintar dan menguasai materi pembahasan, tapi juga harus bisa menguasai audiensi. Bisa membangun suasana di ruangan itu. Dan aku—Ibrahim Adi Putra— adalah salah satu mahasiswa yang dikalahkan oleh gadis itu.
Tutur katanya lembut, namun bahasanya lugas. Gadis itu benar-benar moderator yang baik. Sangat baik.
Aku masih menatap gadis itu dari kejauhan— sama seperti empat tahun lalu. Aku tak berani mendekatinya. Ada rasa rendah diri saat aku melangkah semakin dekat padanya. Mungkin karena gadis itu pernah mengalahkanku. Belum ada satu orangpun yang pernah mengalahkan prestasi Ibrahim Adi Putra. Gadis itu adalah yang pertama. Gadis itu bernama Anne.
Dan ternyata, kini gadis itu adalah salah satu guru di sini. Bukankah itu artinya Anne adalah rekan kerja Kalila? Sayang sekali kepintarannya hanya berakhir menjadi guru di sekolah ini. Kalila yang bukan lulusan pendidik saja, bisa menjadi guru di sekolah ini. Harusnya, wanita secerdas Anne bisa menjadi Menteri Pendidikan.
Bukan bermaksud membandingkan kedua gadis itu. Hanya saja, Anne memang lebih cerdas dibandingkan Kalila, yang bahkan tidak lulus dalam ujian masuk perguruan tinggi negeri.
Ku lihat gadis itu melangkah pergi. Entah dia mau ke mana. Aku tak lagi mengikuti, karena gadis itu pasti berjalan menuju ruangan guru.
Dan kini aku kembali ke tujuan awalku. Menunggu Kalila di masjid yayasan ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
__ADS_1
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...