
Hari-hari Kalila berjalan seperti biasa. Kegiatan gadis itu hanya berkutat pada sekolah dan tempat kursus, karena sebentar lagi, Kalila dan Feni akan menghadapi ujian akhir. Mereka akan segera melepaskan predikat sebagai anak sekolah.
Kalila begitu giat belajar, karena Khalid mengharapkan adiknya itu akan bisa berkuliah di tempat yang sama dengannya. Institut Pertanian Bogor. Mengambil jurusan yang sama pula. Agar Kalila dapat bekerja di perusahaan Adi putra. Itulah rencana Khalid.
Kalila pun menyanggupi permintaan kakak sulungnya itu. Begitu giat Kalila belajar. Sebenarnya ini bukan mimpi Kalila. Gadis itu sebenarnya ingin menjadi seorang guru taman kanak-kanak ataupun sekolah dasar. Sesederhana itu impian Kalila.
Namun Khalid berhasil membujuk gadis kecilnya itu. Ibrahim adalah alasan kuat buat Kalila belajar lebih keras. Tinggal di kota yang sama dan berkesempatan mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang sama dengan Ibrahim. Membayangkan akan bertemu sang pujaan hati setiap hari selama bekerja, sungguh membuat Kalila bersemangat. Terlebih, sahabatnya— Dimas Adi Putra, juga akan bekerja di kantor yang sama. Kalila mendapatkan dua semangat baru.
Kalila memang gadis yang cerdas. Sering mendapat peringkat pertama sejak sekolah dasar. Namun gadis itu tak secemerlang Khalid. Sekeras apapun Kalila belajar, namun takdir berkata lain. Kalila dinyatakan tidak lulus di Institut Pertanian Bogor. Sebenarnya, gadis itu tidak terlalu bersedih dengan hasil yang dia dapatkan. Tekanan yang diperolehnya dari Khalid lah yang membuatnya bersedih.
“Kau ini ternyata tidak belajar dengan sungguh-sungguh, La! Masa iya, satu pun tidak ada yang lulus! Bahkan di universitas negeri yang ada di Medan pun tidak!”
Kalila hanya terdiam. Dia tidak tau harus berkomentar apa. Dirinya merasa sudah belajar dengan giat. Dari pagi hingga malam, waktu yang dia miliki hanya dihabiskan untuk belajar. Satu-satunya hiburan untuk Kalila, adalah ketika dirinya melakukan panggilan video dengan Dimas sebelum tidur. Lima belas menit. Bahkan hanya lima belas menit.
Khalid menatap tajam Kalila yang tengah menunduk. Dirinya benar-benar merasa kecewa dengan adik kesayangannya itu. Rencana masa depan Kalila yang sudah dia susun dengan sempurna— menurutnya, kini harus diubah, karena Kalila telah gagal— lagi-lagi menurut Khalid.
“Sudah lah Bang, yang penting kan Lila sudah berusaha dengan maksimal,” ucap Kairav. Pria itu benar-benar tidak tahan dengan sikap Khalid yang memojokkan Kalila. Adiknya pasti kini tengah bersedih karena tidak lulus ujian masuk perguruan tinggi negeri, ditambah harus mendengar makian dari Khalid. Kalila pasti tengah sangat bersedih— menurut Kairav.
“Maksimal apanya! Kalau dia benar-benar usaha dengan maksimal, setidaknya dia bisa masuk perguruan tinggi negeri di kota Medan. Ini tidak sama sekali. Tiga jurusan yang diambilnya, ketiganya gagal total!”
“Maaf Bang,” ucap Kalila sendu. Khalid hanya berdecak kesal mendengar permintaan maaf Kalila. Pria itu pun beranjak. Khalid lalu melangkahkan kakinya, meninggalkan Kalila dan Kairav di sana.
“Gagal masuk perguruan tinggi negeri, bukan akhir dari masa depan kau,” ucap Kairav. Kalila menoleh, melemparkan sebuah senyuman untuk Kairav. Gadis itu mengangguk pelan, “aku tau, itu Bang. Aku akan berusaha lebih keras sekarang,” ucap Kalila, masih dengan senyumnya yang terkembang.
__ADS_1
Entah mengapa, melihat senyuman Kalila, sungguh membuat hati Kairav teriris. Dia tau, senyuman itu hanya upaya Kalila untuk menyembunyikan rasa sedihnya. Dan kemungkinan, rasa takutnya juga. Kairav mengambil adiknya itu, untuk masuk dalam pelukannya.
“Lila memang tidak sejenius Bang Alid dan Bang Rav. Lila payah,” ucap gadis yang masih berada dalam pelukan Kairav. Hati Kairav bergemuruh mendengarnya. Baru kali ini, dia mendengar Kalila tidak percaya diri seperti ini. Gadis yang selalu berlagak angkuh itu, kini merasa insecure. Sungguh, itu bukan karakter Kalila.
“Syukurlah kalau kau sadar,” ucap Kairav. Pria itu bahkan mengatakannya dengan sedikit tawa. Karena Kairav tidak ingin adiknya terus berlarut dalam rasa tak percaya diri. Kalila yang merasa kesal dengan ucapan Kairav, langsung mengigit dada pria itu, hingga Kairav berteriak dengan kencang.
Kalila pun terkekeh-kekeh setelahnya. Khalid yang mendengar suara tawa Kalila bergegas menghampiri kedua adiknya yang tengah bercanda itu. “Sudah mengecewakan masih bisa tertawa, kau,” ucap Khalid.
Kalila spontan terdiam. Sementara Kairav mengeram kesal. “Jadi Abang maunya Lila bersedih terus! Seperti itu!”
“Setidaknya dia merasa menyesal! Apa kau tidak menyesal telah mengecewakan semua orang, hmm... Kalila Nasution?!”
“Sudah, sudah ... cukup. Jangan bertengkar.” Bu Alinah dan Nek Laila datang menengahi. “Kau jangan terlalu keras dengan Kalila,” ucap Nek Laila.
“Bang, Lila juga pasti kecewa dengan dirinya. Jadi Abang harusnya menghibur Lila. Bukan menambah-nambah bebannya lagi. Jangan mentang-mentang Abang sudah sukses, jadi Abang bisa seenaknya menginjak-injak adik sendiri!” geram Kairav.
“Apa kau bilang?!”
“Sudah cukup!” bentak Bu Alinah.
Kalila tak dapat membendung air yang sudah ada di pelupuk matanya sedari tadi. Jika dia dibentak oleh Khalid dia masih bisa menahannya. Tapi jika kedua kakak lelakinya bertengkar karenanya, gadis itu sungguh merasa sedih.
Kalila mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja, lalu berlari ke kamar. Mengunci kamar itu dari dalam, dan tentu saja ... menangis.
__ADS_1
“Itu yang Abang mau kan? Kalila terus bersedih. Kalila terus menyesali perbuatannya hingga lupa cara tersenyum. Itu yang Abang mau?!” Kairav pun mengambil kunci sepeda motornya, lalu meninggalkan rumah, siang itu.
“Kenapa mereka berdua jadi pembangkang seperti ini?!”
“Kau terlalu keras Lid,” ucap Nek Laila sekali lagi. Nek Laila pun melangkah pergi, meninggalkan Khalid dan Bu Alinah.
“Khalid hanya ingin Lila dan Rav sukses, Mak. Khalid ingin mereka hidup bahagia. Apa Alid salah?”
Bu Alinah tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Tujuan kau benar, Lid. Tapi mungkin caranya yang salah. Tidak semua orang sehebat kau,” ujar Bu Alinah. Wanita paruh baya itu mengelus pundak sang anak kebanggaan.
“Kau harus banyak beristirahat. Jangan terlalu banyak pikiran. Baru juga sampai pagi tadi. Kau beristirahatlah,” ucap Bu Alinah. Khalid pun mengangguk dan memeluk ibunya.
Saat pengumuman penerimaan mahasiswa baru ini, Khalid memang tengah berada di kota Medan. Menaiki pesawat tengah malam, dirinya bahkan baru saja tiba subuh tadi di kediamannya.
Khalid kembali ke kota Medan bukan tanpa alasan. Karena dua hari lagi, dirinya akan melangsungkan pernikahan dengan Feni. Pernikahan Khalid dan Feni berlangsung, tepat enam bulan, setelah Khalid resmi berstatus sebagai Aparatur Sipil Negara, dan bekerja di Kementerian Lingkungan Hidup.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....
__ADS_1