Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 158


__ADS_3

Hampir dua tahun berlalu sejak kedatangan Ibrahim ke kediaman Anneke dan Kairav, untuk meminta pengampunan kepada mantan istrinya itu. Dan kini, mereka semua berkumpul di sebuah rumah mewah milik Kalila dan Dimas.


Bu Alinah, Khalid dan Feni beserta keempat anak mereka, Kairav dan Anneke dengan kedua anaknya, seluruh keluarga besar Adi Putra termasuk Adi Putra dan istrinya, Gilang, Aynoor dan Ibrahim.


Mereka tengah berkumpul untuk merayakan ulang tahun putri pertama Dimas dan Kalila.


“Aaaak ... terima kasih Paman Ibra,” teriak Khansa.


Gadis kecil yang kini berusia delapan tahun itu sangat senang dengan hadiah yang diberikan oleh Ibrahim.


Karena dirinya tidak bisa memiliki keturunan, sejak Ibrahim meminta maaf kepada Kalila dan Dimas, pria itu menganggap Khansa dan Khalil seperti anaknya sendiri.


Ibrahim kerap kali memanjakan Khansa dan Khalil dengan memberikan mereka mainan yang mahal. Khalil juga sering kali bepergian bersama Ibrahim dan Dimas untuk menghabiskan waktu antar sesama pria, dengan bermain sepuasnya di game center. Bahkan terkadang, Khansa juga ikut pergi bersama para pria itu.


Sementara Kalila, wanita itu masih enggan untuk pergi bersama Ibrahim. Walaupun suami dan anaknya ikut serta, jika Ibrahim belum menikah kembali, Kalila tidak mau terlalu dekat dengan pria itu.


Dan Ibrahim bisa menerima itu. Baginya, maaf dari Kalila saja sudah cukup. Terlebih wanita itu membiarkannya dekat dengan Khansa dan Khalil. Ibrahim sangat bahagia.


Pesta ulang tahun Khansa hari itu, pun berlangsung dengan cukup meriah walau hanya dihadiri oleh keluarga dekat saja.


Kalila Nasution Point of View


Jika kalian menganggap kalau sekarang hidupku bahagia, kalian salah.


KARENA HIDUP KU TERAMAT SANGAT BAHAGIA.


Memiliki suami yang begitu mencintaiku, dua orang anak yang begitu cerdas, cinta dari seluruh anggota keluarga. Lengkap sekali bukan?


Terlebih perusahaan milik Bang Dimas berkembang sangat pesat. Suamiku itu juga mendapatkan bagiannya di perusahaan Adi Putra. Pundi-pundi uang tentu saja terus mengalir ke rekening kami.


Memiliki rumah yang sangat luas, kami membawa Mami Ghita dan Bu Asih untuk tinggal bersama. Rumah tangga kami juga berjalan lancar. Walau berulang kali wanita menggoda bang Dim, namun suamiku itu masih terus setia padaku.


Sejak Khalil bersekolah, akupun kembali bekerja. Membantu suamiku mengurusi perusahaan, menjadi asisten pribadinya. Kami menghabiskan dua puluh empat jam bersama. Walau begitu, Bang Dim masih saja bersikap m*sum padaku. Seolah dirinya tak pernah merasa bosan melihatku 24 jam selama seminggu penuh.


Pria itu benar-benar tak mengenal tempat. Bang Dimas bahkan menyediakan ruangan kecil di kantor untuk kami saling memadu kasih. Ada ranjang, lemari dan kamar mandi di ruangan itu. Jadi dia bisa melampiaskan pikiran m*sumnya di ruangan itu bersamaku.

__ADS_1


Kalian tau, kenapa Bang Dim begitu m*sum sejak menikah?


Itu karena dia salah pergaulan! Junior Faresta, menantu Paman Yoo itu, telah mencekoki suamiku yang dulu begitu polos dengan kitab-kitab anehnya.


Jadilah yang ada di pikiran suamiku hanya hal-hal m*sum bersamaku!


Seperti saat ini, di tengah kumpul keluarga besar seperti ini, Bang Dim menarikku ke salah satu sudut rumah kami. Aku pun sudah tau maksudnya.


Kini kami berada di ruang ganti dan bilas yang ada di dekat kolam renang. Dengan cekatan dia melepaskan gamis dan hijabku, hingga kini hanya pakaian dalam saja yang menempel di tubuhku.


Baru saja aku hendak protes, karena pakaianku berserakan di lantai, jemari suamiku itu sudah menari indah di bawah sana. Jika sudah begitu, aku bisa apalagi selain pasrah dan mend*sah.


Sembari menciumi punggungku, jemarinya bergerak semakin cepat hingga membuatku limbung dan terkulai dalam pelukannya.


“Bang Dim, kenapa sih tidak pernah bosan?” lirihku saat suamiku menarik jarinya keluar dari sana. Tidak langsung menjawab, ayah dari kedua anakku itu, malah membalik tubuhku dan mengangkat ku hingga aku duduk di atas meja wastafel.


“Bagaimana aku bisa bosan, jika memiliki istri begitu menawan seperti ini?”


Ungkapanya membuatku merona. Sembilan tahun pernikahan kami, tak pernah sehari pun pria itu gagal membuatku merona. Ada saja kata-kata gombalan keluar dari bibirnya.


Ucapnya, saat tubuh kami menyatu. Kini, wastafel pun menjadi saksi pergulatan panas kami. Aku berharap, suara ricuh di luar sana, menyamarkan suara d*sahku yang menggema di ruangan ini.


Aku memakai pakaian dan kembali merapikan riasanku, setelah pertempuran panas itu. Aku juga membersihkan wajah Bang Dimas yang terdapat banyak bekas lipstik menempel di sana.


Aku dan Bang Dim pun keluar dari ruangan itu, seolah tak terjadi apa-apa di sana. Kembali bergabung bersama seluruh keluarga.


“Kalian dari mana saja?” tanya Bang Rav, saat kami baru saja kembali setelah lebih dari tiga puluh menit tak terlihat.


“Mau tau saja!” cebikku. Tak mungkin kan aku mengatakan yang sebenarnya? Mau berbohong pun, aku tak tau harus berbohong seperti apa agar mereka percaya. Pasalnya kami hilang bersama.


“Dimas dan Kalila ini memang tidak bisa ditinggalkan berdua. Sedetik saja kalian lepaskan pandangan dari mereka, dua orang ini akan langsung menghilang entah ke mana!” cebik mertuaku.


Ku lihat Bang Dim hanya menarik garis bibir hingga menampakkan deretan gigi putihnya. Sedangkan wajahku, ku rasa sudah mulai memanas, menahan malu.


“Coba saja kalian tinggal di sini beberapa hari, Rav. Kalian akan melihat rambut mereka yang tak pernah kering! Sepertinya mereka mandi sebanyak lima kali dalam sehari. Bisa juga lebih. Rambut Lila tak pernah kering, kalau hari libur!”

__ADS_1


Lagi-lagi ucapan mertuaku membuat wajahku tambah panas. Sepertinya wajah ini sudah merah seperti udang rebus!


Sementara suamiku, cih! Dia selalu senang kalau orang-orang membahas hal itu! Seolah-olah dia bangga dengan performanya!


“Astaga Lila,” lirih Bang Rav sembari menggelengkan kepalanya. Bang Dim tertawa terkekeh-kekeh mendengar ucapan Bang Rav.


“Ternyata ada yang lebih parah dari kita, yank!” Lagi, Bag Rav berceloteh.


“Kuat juga, kau, La.”


Kali ini, sahabat ku yang ikut berkomentar. Sementara suamiku sibuk terkekeh-kekeh. Menyebalkan sekali!


“Lila itu, kalau aku senggol sedikit, langsung minta lebih dia!”


Kali ini tawa Bang Dim begitu menggelegar, membuat semua orang dewasa di sana ikut tertawa sembari menggelengkan kepala. Untung saja anak-anak bermain di mini playground yang ada di rumah ini. Jadi tidak perlu mendengarkan ocehan-ocehan para orang tua mereka yang tidak ada akhlak!


Mataku seketika membulat. Awas saja Bang Dim, jika kau minta jatah lagi malam ini, aku tak akan memberikannya!


Begitulah umpatku dalam hati ini. Namun, itu hanya kata-kata yang di dalam hatiku saja. Nyatanya, saat malam menjelang, dan Bang Dim kembali menyentuhku, aku tak dapat menolaknya.


Aku benar-benar jatuh pada pesonanya. Pria yang kini ada di bawahku, pria yang tengah menikmati aku bergerak liar di atasnya, pria itu benar-benar membuatku bertekuk lutut.


Walupun pria itu bukan cinta pertamaku, tapi pria itu adalah pria yang pertama membuatku merasa nyaman bercerita apa saja. Pria itu adalah pria pertama yang menyambut uluran tanganku.


Pria itu adalah Dimas Adi Putra.


Dia memang bukan cinta pertama Kalila. Tapi, dia adalah pria yang aku harap akan bisa terus bersamanya hingga ke surga.


..._ CINTA PERTAMA KALILA, TAMAT _...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...

__ADS_1


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2