
“Apakah ada nepotisme di sini?” ucap Adi Putra sembari menatap sinis kepada Dimas. Namun, seketika Ibrahim beranjak dari duduknya.
“Tidak ada nepotisme, Kek. Ibra sendiri yang mewawancarai Kalila. Dan memang hasil wawancaranya bagus. Bahkan Kalila pelamar yang paling baik penjelasannya.”
Mendengar ucapan ibrahim yang menyanjung dirinya, Kalila berdebar. Dirinya merasa seperti melayang karena pujian Ibrahim. Gadis itu berusaha menahan senyum sumringahnya. Kalila berjanji pada dirinya sendiri, akan membuktikan bahwa penilaian Ibrahim terhadap dirinya tidak salah. Pemilik perusahaan itu harus melihat dan mengetahui, jika dirinya memang pelamar terbaik saat itu.
“Kalau begitu, buktikan!” Adi Putra masih tidak percaya dengan ucapan Ibrahim. “Ayo Lang,” ajaknya. Adi Putra dan anak sulungnya— Gilang Adi Putra— melangkahkan kakinya, meninggalkan ruangan itu. Kalila pun mengikuti kedua pria itu di belakang. Namun Dimas menahannya, hingga Kalila menghentikan langkahnya sejenak dan menatap Dimas. Pria itu menggenggam jemari Kalila. Dimas tidak tega bila Kalila dihina sang kakek. Dimas tidak mau Kalila direndahkan oleh kakeknya.
“Bang Dim tidak percaya dengan kemampuan Lila?” tanya gadis itu, sembari menatap dalam manik kecoklatan milik Dimas. Mendengar pertanyaan Kalila, Dimas menganggukkan kepalanya. Tentu saja dia percaya dengan kemampuan gadis itu. Sangat percaya malah. Namun, pria itu juga sangat mengenal sang kakek. Jika dia tidak menyukai seseorang, pria lanjut usia itu akan terus menerus mencari kesalahan sekecil apa pun. Dan dari tatapan sang kakek kepada Kalila, nampak jelas, jika pria lanjut usia itu tidak menyukai Kalila.
“Semangat ya,” ucap Dimas sembari mengeratkan genggaman tangannya. Senyum Kalila bertambah lebar, gadis itu pun menganggukkan kepalanya. Tidak ada lagi yang bisa Dimas lakukan, selain memberi semangat kepada gadis itu. Mau tak mau, Dimas pun melepaskan tangan Kalila.
Setelah tangannya terlepas dari genggaman dimas, mereka saling tatap dan tersenyum. Gadis itu pun bergegas menyusul kedua petinggi di perusahaan.
Adegan antara Dimas dan Kalila, tidak luput dari pantauan Ibrahim. Ada satu bagian di sudut hatinya, yang tidak rela melihat Dimas menggenggam jemari Kalila. Terlebih tatapan lembut Kalila terhadap Dimas. Harga diri Ibrahim tersakiti melihatnya. Harusnya Kalila hanya berlaku seperti itu terhadapnya. Bukankah Kalila begitu memuja dirinya?
***
Sementara itu, di meeting room, Kalila hendak memulai presentasinya. Adi Putra sejak tadi memerhatikan gadis itu tatapan meremehkan. Kalau hanya sekedar mendisain sebuah bangunan, Adi Putra masih bisa mempercayai jika gadis kecil di hadapannya bekerja dengan baik. Tapi ini mengenai konstruksi bangunan.
Gadis itu harus paham betul mengenai struktur bangunan. Bagaimana respon material bangunan terhadap beban yang diterimanya sehingga bangunan tersebut dapat berdiri tegak dan kokoh serta dapat meminimalkan kerusakan apabila terjadi gempa atau bencana. Dia harus mengerti mengenai mekanika struktur, struktur beton , struktur baja, struktur kayu beserta dinamikanya. Gadis itu juga harus paham struktur dan sifat berbagai macam tanah dan batuan dalam menopang suatu bangunan yang akan berdiri di atasnya.
Namun, tanpa di duga Adi Putra, Kalila menjelaskan semuanya dengan sangat detail, sangat baik. Bahkan Kalila juga menjelaskan mengenai penjadwalan pekerjaan, pengembalian modal, biaya proyek dengan sangat rinci.
__ADS_1
Adi Putra begitu terkagum dengan penjelasan lugas Kalila. Pertanyaan-pertanyaan Adi Putra dan Gilang, berhasil dijawab Kalila dengan sangat baik. Gadis kecil yang tadi dianggapnya remeh, ternyata begitu memukau. Begitu juga dengan Gilang, ayah kandung Ibrahim itu sangat menyukai Kalila. Bukan sekedar karena Kalila mempresentasikan proposal itu dengan sempurna, namun karena sorot mata Kalila. Sorot mata gadis itu penuh semangat dan keceriaan. Terlebih, senyuman tidak pernah luntur menghiasai wajah gadis itu.
Adi Putra seketika bertepuk tangan sembari tersenyum sumringah, saat Kalila menyelesaikan presentasinya. Begitu juga dengan Gilang. Terlebih, Gilang sudah mengetahui, latarbelakang pendidikan Kalila.
Gilang pun memberikan ponselnya kepada ayahnya, menunjukkan biodata Kalila yang didapatkannya dari Ibrahim. Adi Putra terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya.
Pantas saja jika dia mempresentasikan proposal itu dengan sempurna. Dia bahkan tau persis isi proposal itu. Bagaimana si anak haram itu bisa mempunyai teman wanita yang begitu cerdas?
“Ternyata ucapan Ibra benar. Kau luar biasa,” puji Adi Putra. Kalila bertambah sumringah mendengarnya. sambil bercerita mengenai pendidikan Kalila.
Adi Putra tambah kagum melihat Kalila, begitu juga dengan Gilang. Pembawaan Kalila yang begitu ceria, membuatnya cepat akrab dengan kedua pria dewasa itu. Rasa penasaran Adi Putra terhadap hubungan Kalila dengan Dimas, akhirnya membawa Adi Putra untuk melemparkan pertanyaan itu. Kalila pun menyeritakan pertemuan pertamanya dengan Ibrahim dan Dimas.
“Jadi Abang kamu itu teman Ibra?” tanya Adi Putra antusias. Kalila menganggukkan kepalanya.
Kalila kembali menyeritakan mengenai Dimas yang mengajaknya berlibur di Villa, Dimas yang selalu menghubunginya, bahkan mereka selalu melakukan panggilan video setiap hari. Kalila juga menyeritakan mengenai Dimas yang berkunjung ke Medan, sebagai hadiah untuk kelulusan Kalila.
Adi Putra menyimak cerita Kalila sembari mengangguk-anggukan kepalanya. Pria lanjut usia itu juga kagum dengan Kalila yang selalu bercerita dengan antusias. Seolah gadis itu tidak pernah kehabisan energi.
“Hati-hati dengan anak itu. Ayahnya bukan pria baik, bukan tidak mungkin jika dia memiliki bakat yang sama. Merusak masa depan anak gadis orang.”
Kalila terdiam. Wajah sumringah yang sedari tadi terpancar, tiba-tiba redup. Mendengar kata demi kata yang diucapkan oleh Adi Putra, membuat hati Kalila sakit.
Apakah Dimas selalu mendengar ucapan-ucapan seperti itu?
__ADS_1
Apakah Dimas mendapat perlakuan yang tidak baik dari keluarganya?
“Sudah ... sudah ... Ayo kita kembali ke ruangan Direktur Perencanaan,” ucap Gilang.
Kedua petinggi itu pun mengajak Kalila untuk kembali ke ruangan Ibrahim. Kali ini Kalila tidak berjalan di belakang kedua petinggi di PT. Adi Putra Group, melainkan berjalan beriringan.
Sesampainya di ruangan itu, hanya ada Ibrahim, Dimas dan Indra— asisten Ibrahim. Harry sendiri sudah kembali ke ruang kerjanya. Ketiga pria di ruangan itu hanya saling diam, dan sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Hanya Dimas yang terlihat resah memikirkan Kalila.
Harusnya Kalila tidak perlu mengakui jika mereka bersahabat. Sehingga gadis itu tidak perlu mendapat masalah dari kakeknya. Sang kakek juga tidak ada alasan buat membenci Kalila. Gadis itu sungguh sempurna. Kesalahannya hanya satu, yaitu menjadi sahabat Dimas. Seorang pria yang selalu di sapa dengan sebutan anak haram.
Begitulah isi benak Dimas. Pria itu terus memikirkan nasib Kalila.
Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka, semua mata tertuju ke sana. Dimas bahkan seketika berdiri dan hendak menghampiri Kalila. Namun dia ingat dengan sosok sang kakek yang juga berada di sana. Dimas urung melakukannya. Pria itu hanya berdiri sembari menatap Kalila.
Kenapa kau terlihat murung, Kalila? Apa yang diucapkan kakek?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...
__ADS_1