
“Abang mana?” tanya Kalila. Hanya Feni yang keluar dari kamar pengantin itu, membuat Kalila penasaran. Kenapa kakak sulungnya tidak keluar bersama dengan Feni— sahabatnya?
“Belum selesai urusannya,” jawab Feni ngasal. Dahi Kalila mengerut, “urusan? Masih sholat?” tanya Kalila. Tidak mau berbohong, Feni hanya tersenyum menjawabnya. Gadis yang baru saja menjadi seorang istri itu, menggandeng lengan Kalila, kemudian melangkah menghampiri keluarga mereka.
Sementara itu, di kamar pengantin, Khalid sedang sibuk menenangkan dirinya— bagian dari dirinya— lebih tepatnya. Pria itu bergegas keluar, ketika bagian dari dirinya itu sudah lebih kondusif. Beruntung bagian bawah, dari kemeja yang digunakannya, dapat sedikit menyamarkan area sensitifnya itu.
Kalila dan anggota keluarganya yang lain telah berada di mobil dan siap untuk kembali ke kediaman mereka, ketika Khalid keluar dari kamar pengantin itu.
Khalid dan Feni pun kembali melanjutkan aktivitas baru mereka, setelah situasi dirasa kondusif.
Saat itu tepat pukul 22:00 WIB. Feni yang memakai gaun malam berwarna peach dan berbahan satin, kini tengah berbaring di ranjang pengantin. Ranjang yang masih dihiasi dengan ornamen berwarna kuning emas. Mengikuti pergerakan suaminya, Feni dengan jelas melihat Khalid tengah melepas semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Walau wajahnya bersemu merah melihat tubuh polos Khalid, Feni tidak bisa melepaskan tatapannya dari pria itu. Merasa gugup menyaksikan pemandangan itu, jemari Feni meremas seprei yang ada di jangkauannya.
Ini yang pertama bagi Feni. Bukan hanya pertama kali melakukan hubungan sebagai suami-istri. Ini juga pertama bagi Feni, menunjukkan rambutnya kepada seorang pria. Jika tadi dia begitu gugup membuka jilbab yang dikenakannya, kini Feni teramat sangat gugup karena pakaian tipis dan minim bahan yang kini melekat di tubuhnya.
Khalid menaiki ranjang pengantin dengan tubuh polosnya. Tidak memulai dengan mengecup atau menatap mesra sang istri. Khalid justru memulainya dari bawah. Pria itu kini tengah membelai betis sang istri. Cengkraman jemari Feni pada sprei pun semakin erat, tatkala jemari Khalid bergerak semakin ke atas. Feni malah semakin merapatkan kedua kakinya, ketika jemari Khalid tiba di daerah sensitifnya. Hal itu membuat Khalid tersenyum geli. Dia mengerti jika sang istri merasa teramat malu sekarang.
Khalid menghentikan aksi jemarinya pada kaki mulus Feni. Perlahan, kedua kaki Feni mulai melonggar. Namun, bukan Khalid namanya bila cepat berputus asa. Pria itu malah menyingkap gaun malam yang Feni gunakan.
Feni reflek menyilangkan kedua tangan pada bagian tubuhnya yang terbuka. Sementara Khalid bersusah payah menelan salivanya, menyaksikan pemandangan yang baru pertama kali dilihatnya.
Pria itu pun langsung menaiki sang istri. Membenamkan kepalanya pada ceruk leher Feni, Khalid mulai memberikan kecupan-kecupan kecil di sana. Feni bergidik ketika sang suami menggigit kecil daun telinganya.
Kini, bibir Khalid perlahan menuruni leher jenjang Feni. Memberikan kecupan demi kecupan yang terasa panas di sana. Yang membuat Feni tanpa sadar melenguh pelan. Sentuhan demi sentuhan yang didaratkan Khalid pada kulitnya, sukses membuat Feni menggelinjang perlahan-lahan.
“Kau cantik sekali,” ungkap Khalid. Tangan pria itu kini menelusup ke balik punggung Feni, melepaskan pengait kain penutup dada gadis itu. Jemari Khalid pun menelusup ke dalamnya. Gerakan yang tentu saja membuat Feni tersentak kecil, ketika dia menyadari jemari suaminya sudah bermain di dalam sana.
Bernapas dengan susah payah dan manik yang sayu, Feni menatap pria yang kini berada di atasnya. Sementara Khalid memerhatikan bagaimana reaksi yang ditimbulkan perbuatan jemarinya pada buah ceri milik Feni.
__ADS_1
“Aku menginginkan mu sekarang,” ungkap Khalid. Pria itu langsung menyingkap secarik kain pembungkus dada, memerhatikan dengan lekat dua benda kembar itu. Khalid pun membenamkan kepalanya di sana. Mengulum buah ceri kemerahan itu. Bergantian kiri dan kanan. Khalid sangat bersemangat sekali bermain di sana.
Sentuhan demi sentuhan dari bibir Khalid pada dadanya, kembali membuat Feni menggelinjang. Gerakan kaki Khalid berhasil membuat kaki Feni yang tadi tertutup rapat, kini melebar. Gadis itu bahkan tanpa sadar semakin membuka lebar kakinya.
Masih ada secarik kain yang menghalangi jalan masuk Khalid. Namun gerakan indah pria itu, tetap mampu membuat Feni melenguh. “Aku sudah tidak bisa menahan lagi,” ungkap Khalid.
Tanpa meminta persetujuan Feni, Khalid langsung melepaskan secarik kain penghalang itu.
Dan Khalid mengambil posisi tepat di sana. Menatap lekat bagian paling sensitif milik istrinya. Napas Khalid tercekat. Gairahnya melesat hebat, saat mendapati tubuh Feni terbaring pasrah.
Feni yang merasa malu karena Khalid menatap lekat bagian intinya yang kini terbuka lebar, kini berupaya mengambil selimut untuk menutupinya, namun tentu saja Khalid dengan cepat menahan gerakan Feni.
“Aku malu,” ungkap Feni parau. Khalid menggeleng pelan. Pria itu ingin segara membawa sang istri terbang melayang, merengkuh kenikmatan. Jemari Khalid pun bermain di sana. Membuat Feni menggelinjang perlahan-lahan.
“Tubuhmu indah,” ucap Khalid sembari menatap lekat kedua netra gadis itu. Gerakan demi gerakan yang dibuat Khalid membuat Feni semakin melayang. Lenguhan demi lenguhan pun tercipta.
Ada bagian dari tubuh Khalid yang meronta naik, tidak bisa menunggu lagi, kecupan-kecupan pun semakin intens dilancarkan Khalid. Pria itu bahkan mengerang karena gesekan pada area 'itu' semakin menjadi.
Khalid mengangkat wajahnya, menatap lekat manik kehitaman milik Feni, “aku akan melakukannya sekarang,” bisik Khalid mendekat. Khalid mendaratkan bibirnya pada bibir sang istri dan melahapnya dengan rakus.
Khalid pun memasuki Feni dengan gerakan yang selembut mungkin. Namun satu hentakan kecil, berhasil membuat Feni menancapkan kukunya pada punggung Khalid. Khalid berhenti, menatap lebih dulu pada istrinya, memeriksa ekspresi istrinya. Memastikan, apakah Feni merasa nyaman dengan permainan pertama mereka.
Khalid kembali memagut bibir sang istri. Menembus pertahanan Feni dalam satu kali percobaan, sungguh membuat dirinya bangga. Kini dia sudah memiliki Feni seutuhnya. Gadis yang dikaguminya sejak enam tahun lalu. Gadis yang sudah tidak gadis lagi sekarang.
Khalid menggerakkan dirinya dengan perlahan, Feni dibuat mendesah karenanya. Merintih tanpa sadar, seiring dengan lenguhan yang terdengar semakin kencang. Kini Khalid berupaya untuk menyatu lebih dalam dalam diri Feni.
“Abang ....”
__ADS_1
Tubuh Feni menggelinjang hebat, hingga kini menegang. Khalid merenggut mahkotanya dengan gerakan paling indah. Feni kini kehabisan tenaga. Wanita itu masih melenguh dengan napasnya yang tersisa.
Sementara pria itu, memacu dirinya lebih cepat dan lebih cepat lagi. Khalid hampir mencapai titik batas, dengan mata yang hampir tertutup sempurna, Khalid memeluk erat istrinya. Pria itu bahkan mengeram.
Genjotan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh Khalid, membuat Feni kembali melayang, wanita itu menggelinjang hebat, tubuhnya kembali menegang, untuk yang kesekian kalinya. Feni pun ikut mengeratkan pelukannya, wanita itu bahkan menancapkan kukunya pada punggung Khalid.
“Abaaang ... A—” bisik Feni terbata, tubuhnya yang terus berguncang itu, kini melemas.
Menghentak-hentak dengan kencang, Khalid lantas menyemburkan ****** ***** yang sudah membuncah di sana— di liang penuh nikmat itu. Khalid pun ambruk di atas tubuh sang istri dengan lenguhan panjang.
“Oooh ... Feniii ....”
..._FLASHBACK OFF_...
Khalid tersenyum sumringah, sembari menatap atap kamar. Kairav dan Dimas menatapnya heran. Kairav bahkan melempar kakak sulungnya itu dengan bantal. “Dah gila kau, Bang!”
Khalid menatap sang adik sembari menaik-turunkan alisnya. “Pokoknya, menikah itu ... MANTAP KALI LAH!”
Khalid pun terkekeh-kekeh dan meninggalkan kedua pria jomblo itu di sana dengan wajah kesal mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....
__ADS_1