
(Masih) ... Dimas Adi Putra Point of View
Di sini lah kami sekarang. Di salah satu villa milik keluargaku. Aku mempersilakan mereka masuk. Mataku langsung tertuju pada kursi pijat. Aku menatap Nek Laila— neneknya Kalila. Nek Laila pasti lelah setelah diperjalanan selama hampir dua jam. Langsung saja aku meminta Nek Laila untuk naik ke kursi pijat itu.
Nek Laila tampak menyukainya. Dan, gadisku pun sepertinya menginginkannya.
Kau lihat saja Kalila ... aku akan belajar memijat. Agar kelak jika kau jadi makmum ku, kau tidak memerlukan kursi pijat itu. Kau hanya akan membutuhkan aku.
Mesin kursi pijat berhenti bekerja, hingga Nek Laila bangkit dari kursi itu. Wajah Kalila terlihat sumringah. Sepertinya dia sudah tidak sabar untuk merasakan pijatan dari kursi tersebut.
Kenapa kau selalu terlihat antusias Kalila? Bahkan untuk hal sekecil ini saja.
“Bang Dim! Bagaimana menyalakannya?” tanya Kalila antusias. Kau seperti magnet Kalila. Aku tak bisa melepaskan pandangan darimu.
Ku langkahkan kaki, menghampiri gadis itu. Gadis pertama yang ‘menarik’ perhatianku. Adzan Maghrib berkumandang saat aku hendak menyalakan mesin kursi pijat itu. Ajakan Bang Kairav untuk segera melaksanakan ibadah, membuat Kalila sedikit merasa kesal.
“Lila sholat setelah selesai dengan kursi pijat ini,” ucapnya. Kalila kini beralih menatapku, “hanya 15 menit kan, Bang?” Mata Kalila menatapku penuh harap. Sepertinya Kalila tengah mengiba, agar aku membiarkannya menikmati kursi pijat itu. Aku mengangguk. Membenarkan pernyataan gadis di depanku ini.
“Yasudah, biar saja kau sendirian di sini. Kamar di atas kan, Bro? Kita semua sholat berjamaah saja di lantai 2.” Air muka Kalila berubah mendengarnya pernyataan kakak lelakinya itu.
Aku menemukan fakta baru. Ternyata kau penakut, Kalila. Entah mengapa itu terlihat lucu. Gadis yang awalnya bersikap ketus di hadapanku ternyata penakut.
“Bang Dim, mau kan menemani Kalila?”
Pertanyaan macam apa itu, Kalila? Tentu saja! Tentu saja aku akan menemanimu. Apa kau tidak melihat senyum sumringah ku ini, Kalila?
“Nanti kita sholat berjamaah berdua saja, Bang. Abang jadi imam dan aku jadi makmumnya.”
Aku tersipu mendengar pernyataannya.
Hai, Kalila ... Kau sedang menggodaku sekarang, hmm?
Hampir saja aku mengangguk cepat. Namun ucapan Bang Rav ada benarnya.
“Imam yang baik, membawa makmumnya menuju kebaikan. Bukan membiarkannya berbuat dosa!”
“Lila akan sholat sebentar lagi. Hanya 15 menit dan waktu Maghrib juga masih ada!”
Bang Rav berjalan mendekatiku. Menepuk pundak ku beberapa kali. “Calon imam yang baik pasti tau apa yang harus diperbuat.”
Terus terang aku bukan manusia yang sangat taat dengan perintah agama. Tidak seperti Bang Ibra. Sholat ku sering sering terlewat. Ucapan yang Bang Rav padaku tadi, bagaikan cambuk. Aku bertekad akan memperbaiki diri. Memperbaiki ibadahku, agar kelak aku bisa membimbing Kalila.
__ADS_1
Oh God ... Usiaku baru 18 tahun, dan aku terus memikirkan perihal menikah sejak bertemu kau— Kalila. Aku benar-benar ingin menjadi imam yang baik buat mu— Kalila, calon makmum ku.
“Yuk, kita sholat dulu, Kalila.”
Aku tau, Kalila pasti tidak menyukai ajakan ku untuk segera menunaikan ibadah. Abangnya saja dia tentang. Dia pasti sangat kesal. Lihat saja dia langsung menghela napas seperti itu.
“Yasudah, kita sholat dulu.”
Terus terang aku terperangah. Tidak menyangka Kalila akan menuruti ajakan ku. Aku pastikan, kau yang akan menjadi pendampingku kelak— Kalila Nasution.
“Tapi sehabis sholat, Abang temani Kalila pakai kursi pijat ini, ya,” pintanya. Aku mengangguk dan tersenyum lembut padanya, “iya Kalila,” jawabku singkat.
“Janji?”
Aku tertegun. Gadis itu menyodorkan kelilingnya. Meminta ku berjanji akan satu hal. “Janji gak?” rengeknya lagi. Kali ini dia menggoyangkan kelingkingnya itu. Berharap aku segera mengucapkan janji seperti yang dia inginkan.
Aku langsung menautkan kelingkingku. “Abang janji, Kalila.” Kalila langsung tersenyum lebar. Gadis itu melangkah riang menyusul keluarganya yang sudah berjalan menaiki anak tangga.
Melihatnya tersenyum lebar seperti itu saja sudah membuatku bahagia. Dan saat itu kami langsung mendirikan sholat Maghrib berjamaah dengan Bang Rav sebagai imamnya.
Seusai sholat, Kalila langsung menarik lenganku. Menagih janjiku padanya tadi. Aku menurutinya. Kini aku tengah duduk di sebelah kursi pijat itu. Menyaksikan si gadis magnet yang tengah terpejam sembari menikmati pijatan dari kursi itu.
Bu Alinah menanyakan perihal makan malam kami.
Aku hampir saja terlupa agenda malam ini, mengajak Kalila dan keluarganya memanggang bersama.
“Kita barbeque-an malam ini, bagaimana? Semua bahan sudah siap kok. Kita hanya tinggal memasaknya saja.”
“Barbeque?”
“Iya Kalila. Kau mau? Ada daging sapi, jamur, paprika, sosis, asparagus dan terong. Bagaimana?”
Kalila mengangguk cepat. “Ayo Bang!” pekiknya. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa bahagiaku saat ini. Menyaksikan Kalila yang penuh energi dan ceria di depanku. Aku sungguh bahagia bisa menyenangkan hati gadis itu.
Ku ajak Kalila dan Bang Rav menyiapkan alat dan bahan untuk pesta barbeque kami malam ini. Bu Alinah dan Nek Laila mempersiapkan bahan makanan yang akan di masak. Memotong-motong dan mencuci bersih bahan makanan yang akan dimasak.
Malam itu kami pesta barbeque di halaman belakang dekat kolam renang. Kami semua kini sudah berganti pakaian dan siap memulai pesta keluarga kecil ini.
Kalila kini menggunakan piyama bergambar kelinci berwarna peach. Gadis itu sungguh antusias membantu kakak lelakinya mengipasi daging. Sungguh menggemaskan.
“Aku baru tau kalau terong juga ikut ngumpul saat barbeque-an begini, Bang.”
__ADS_1
“Terong itu sangat lezat kalau dibakar Kalila. Kau belum pernah mencobanya?”
Kalila menggelengkan kepalanya. Menggelengkan kepala saja kau terlihat mempesona, Kalila.
Aku mengambil seiris terong yang siap dibakar. Aku membakarnya dan meletakkan di piring kecil. Ku ambil garpu dan menusukkan terong bakar itu, lalu menyodorkan kepada Kalila, setelah aku meniup terong bakar itu sebentar. Aku tidak mau lidah Kalila terbakar karena terong bakar itu terlalu panas.
“Ayo cicipi.”
Kalila tersenyum dan mengangguk. Gadis itu membuka mulut dan menyantap terong itu. Matanya membulat. Sepertinya dia tidak menyangka dengan rasa yang tercipta di indra nya.
Aku menikmati wajah Kalila yang tengah menyantap terong bakar. Entah kenapa ada rasa hangat menelusup di dada, saat menyaksikan Kalila makan dari tanganku.
Ayo kita menikah muda Kalila. Setelah kau lulus SMA, ayo kita menikah. Aku janji akan membuatmu bahagia.
“Wow ... Enak, Bang!”
Pekikan suara Kalila menyadarkan aku dari lamunan. Aku tersenyum sumringah. “Syukurlah kalau kau suka.” Gadis itu lagi-lagi tersenyum padaku. Jantung ini, jika bukan ciptaan Tuhan, sudah pasti akan copot dari tempatnya.
Kau luar biasa— Kalila, calon makmum ku.
Aku terkejut ketika seseorang menepuk bahuku dengan kencang. Ternyata itu Bang Rav. Pria itu kini berdiri di sampingku.
“Abang ganteng ini, juga mau disuapi dong,” ucapnya.
Bang Rav bahkan sudah membuka mulutnya, minta disuapi oleh ku. Aku terkekeh, langsung saja aku menyuapinya dengan terong yang masih tersisa di piring yang ku pegang.
“Calon imam Kalila memang luar biasa.”
Kami semua yang mendengar pun terkekeh. Ku lihat wajah Kalila. Sepertinya dia tidak masalah dengan panggilan yang disematkan Bang Rav tadi.
Kini kami semua mulai memanggang semua bahan makanan yang telah disiapkan.
Bersambung ....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....
__ADS_1