
Kalila sudah bersiap dari pagi-pagi sekali. Khalid juga sangat bersemangat. Kakak sulung Kalila itu, bahkan mengajukan cuti hari ini. Dia ingin mengantarkan adik kesayangannya itu melakukan wawancara di PT. Adi Putra Group.
Memakai kemeja berwarna putih dan celana panjang berwarna hitam, Kalila kini memoles wajahnya dengan make-up tipis. Gadis itu terlihat begitu fresh.
“Kau harus pastikan, kau lolos tes wawancara ini. Abang akan sangat kecewa jika kau tidak lolos. Ibra juga pasti akan malu, kalau wawancara kau tidak berjalan baik!”
Kalila menghela napas panjang. Mendengar ocehan kakak sulungnya di pagi buta seperti ini, benar-benar membuat mood Kalila menjadi buruk. Wajah ceria yang sedari tadi ditampilkan oleh Kalila, mendadak sirna. Gadis itu terdiam. Bahkan tak berekspresi apa-apa.
Melangkahkan kaki menuju dapur, Kalila menarik kursi dan mendudukinya. Gadis itu memerhatikan kakak iparnya yang tengah memasak. Pagi ini, Feni sengaja membuatkan menu sarapan kesukaan Kalila sejak gadis itu tinggal di kota Bogor. Bubur ayam dengan kuah soto, buatan Feni.
“Sabar ya, sebentar lagi sotonya selesai di masak,” ujar Feni, saat tau, Kalila sudah menantinya di meja makan. Kalila tersenyum, “ini masih jam enam pagi, waktuku masih banyak,” jawab Kalila. “Aku hanya malas dekat-dekat suami kau itu. Berisik!” lanjut Kalila kemudian.
Feni terkekeh mendengar celotehan Kalila. “Bersama Bang Alid sejak lahir, aku pikir kau sudah kebal,” canda Feni. Kedua sahabat itu pun terkekeh bersama.
Suara tangisan anak kecil terdengar dari kamar tidur utama. Nissa, rupanya sudah bangun. Seperti biasa, balita itu akan menangis jika tidak mendapati Feni di sampingnya, ketika gadis kecil itu terbangun dari tidurnya.
“Sepuluh menit lagi sotonya matang. Kau langsung angkat dan sajikan ya. Princess Nissa sudah bangun,” ungkap Feni. Wanita itu pun bergegas menghampiri putri kecilnya. Sementara Kalila sibuk melihat jam, menghitung waktu.
Setelah sepuluh menit berlalu, Kalila pun menghidangkan soto yang tadi dimasak oleh Feni. Gadis itu melangkah menghampiri Khalid, dan mengajak kakak lelakinya itu untuk menyantap sarapan bersama. Sementara Feni, tengah sibuk memakaikan baju Nissa, karena gadis kecil itu baru saja selesai mandi.
Pagi itu, Kalila makan dengan lahap. Setidaknya bubur ayam buatan kakak iparnya itu, membuat mood Kalila sedikit membaik.
***
__ADS_1
Saat itu tepat pukul 07:00 WIB. Kalila berpamitan dengan Feni dan Nissa. Tidak lupa, gadis itu menghubungi ibunya, meminta do'a agar segala urusannya di mudahkan. Sebenarnya, Bu Alinah dan Kairav merasa kecewa karena Kalila memutuskan untuk berhenti bekerja di yayasan. Karena mereka tau, jika bekerja di taman kanak-kanak adalah impian Kalila sejak dulu.
Kairav lah yang paling kecewa dengan keputusan Kalila. Karena pria itu tidak lagi bisa, menitipkan salam untuk gadis pujaannya—Anneke. Namun, Kairav tetap mendukung apapun yang menjadi keputusan adiknya itu. Terlebih, ada Dimas yang akan menjaga Kalila di perusahaan itu.
Setelah melambaikan tangan kepada Feni dan Nissa yang berdiri di depan teras rumah, Kalila memasang seat belt. Sebenarnya Kalila tidak ingin diantar oleh kakak sulungnya itu, tapi Khalid memaksa. Pria itu ingin memastikan sang adik sampai dengan selamat, dan melakukan wawancara dengan lancar.
Khalid mengendarai mobilnya, melaju dengan kecepatan sedang. Hanya butuh waktu tiga puluh menit, hingga mereka tiba di PT. Adi Putra Group. Sudah ada beberapa pelamar, ketika Kalila tiba di sana. Padahal wawancara baru di mulai pada pukul 08:30 WIB.
“Kau sudah siap kan? Ingat, kau harus pastikan wawancara ini berjalan lancar. Mereka hanya menerima dua orang pelamar terbaik,” jelas Khalid. Kalila menatap malas pada kakak lelakinya itu.
“Abang tunggu di luar saja sana. Abang tuh mengganggu konsentrasi Lila!” cebik Kalila.
“Mengganggu apanya? Abang hanya duduk diam saja di sini,” ucap Khalid tak terima. Kalila menghela napas kasar, dan berjalan menjauhi Khalid. Gadis itu benar-benar tak mau moodnya rusak kembali, karena ucapan-ucapan yang dilontarkan oleh kakak lelakinya itu. Khalid menautkan kedua alisnya, menatap heran pada Kalila yang perlahan berjalan menjauhinya.
***
Para pelamar satu per satu dipanggil ke sebuah ruangan. Ada lima belas pelamar di sana. Dan Kalila, adalah salah satunya. Satu ... dua ... tiga ... empat pelamar sudah selesai melakukan wawancara.
“Kalila Nasution.”
Gadis itu menoleh, menatap pada wanita yang baru saja keluar dari ruang tempat wawancara. Kalila berdiri dari duduknya, “iya ... saya,” jawab gadis itu. Kalila pun berjalan menghampiri wanita yang memanggil namanya tadi.
“Silakan masuk, Mba.” Kalila menganggukkan kepalanya. Kaki Kalila hendak melangkah melewati pintu ruangan wawancara. Namun gadis itu menghentikan langkahnya. Kalila menoleh, menatap kakak lelakinya. Kalila tersenyum pada pria itu. Pria yang sudah menjaganya sejak dirinya lahir ke dunia ini. Pria itu, cinta pertamanya —Khalid Nasution.
__ADS_1
Khalid yang ikut berdiri dari duduknya, menatap adik kesayangannya itu dengan senyum sumringah. Pria itu berusaha mengalirkan semangat dari dalam dirinya, untuk Kalila. “Kau pasti bisa,” ucap Khalid. Kalila mengangguk dan tersenyum membaca gerak bibir Khalid.
Gadis itu pun melangkah, masuk ke ruangan wawancara itu. Langkah Kalila terhenti sejenak. Gadis itu sedikit terkejut, menatap seseorang yang teramat dikenalinya, duduk di sana.
“Silakan duduk di sebelah sana Mba,” ucap wanita yang tadi memanggil namanya itu. Kalila mengangguk dan kembali melanjutkan langkah kakinya. Gadis itu tidak menyangka, jika pria itu menjadi salah satu orang yang akan mewawancarainya.
Menarik napas panjang dan menghembusnya perlahan, Kalila bertambah grogi sekarang. Namun, wanita itu harus memastikan, dia bisa melalui wawancara itu dengan baik. Gadis itu harus bisa menjadi karyawan di sana. Di PT. Adi Putra Group. Bekerja bersama dengan sang pujaan hati dan juga sahabat yang sangat disayanginya.
“You can do this, Kalila. Hwaiting!”
Gadis itu mendudukkan dirinya pada tempat yang telah disediakan. Kalila tersenyum tipis, manik gadis itu memancarkan rasa percaya diri. Kalila sudah siap dengan semua pertanyaan yang akan dilontarkan ketiga pewawancara yang ada di hadapannya.
Sebelumnya, Kalila diminta untuk memperkenalkan dirinya. Gadis itu pun melakukannya dengan semangat dan percaya diri yang tinggi.
Para pewawancara hanya memberikan satu pertanyaan. Pertanyaan mengenai konstruksi bangunan. Kalila yang sudah mempersiapkan diri sehari semalam, tentu saja bisa menjawab dengan baik. Bukan hanya baik, tapi sangat baik.
Ketiga pewawancara itu tersenyum puas melihat penampilan Kalila. Termasuk pria itu. Pria yang sedari tadi menatap Kalila dengan sebuah senyuman.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
__ADS_1
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...