Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 58


__ADS_3

Dan, malam ini pun, Kalila tidak dapat tidur. Gadis itu terus memikirkan perkataan ibunya. Kalila menghela napas berat, gadis itu berguling ke kiri dan ke kanan, mencari posisi yang dirasa nyaman, agar segera terlelap. Tapi apapun usaha Kalila, gadis itu masih terjaga.


Benarkah bukan dirinya yang dimaksud Ibrahim, tempo hari?


Pertanyaan itu terus terngiang sepanjang malam. Hingga gadis itu kembali tidak bisa terlelap hingga menjelang azan subuh. Gadis itu terpaksa tidak kembali memejamkan matanya, seusai sholat subuh. Kalila tidak mau kembali menjadi bulan-bulanan sang kakak sulung.


Subuh itu, mereka menyantap roti panggang bersama-sama. “Bang Alid pagi sekali berangkat ke kantor,” ungkap Kalila, ketika melihat khalid sudah rapih dengan setelan kerjanya.


“Makanya Abang bilang, hidup itu keras, Kalila. Kau tidak bisa bersantai terus. Kantor Abang berjarak enam puluh kilometer, butuh waktu lebih dari satu jam untuk tiba di kantor, terlebih hari Senin seperti ini, jalanan menuju ibukota pasti macet sekali.”


Kalila mengangguk dan mengucapkan huruf O. “Kenapa Abang tidak tinggal di Jakarta saja? Jadi, perjalanan ke kantor tidak terlalu jauh,” tanya Kalila. Namun pertanyaan dari Kalila memancing emosi Khalid.


“Supaya nantinya kau dekat ke kantor! PT. Adi Putra Group, dekat dari sini. Kalau Abang tinggal di Jakarta, kau harus kost atau mengontrak rumah di sini, jika bekerja di Adi Putra Group. Semua Abang lakukan demi kau. Demi masa depan kau, asal kau tau itu!”


Lagi-lagi Kalila tak mampu berkata-kata. Sejak Kalila tidak lulus masuk ke perguruan tinggi negeri, gadis itu merasa, seolah-oleh dirinya tak pernah benar di mata Khalid. Setiap tindakan dan ucapannya selalu memancing emosi Khalid. Kalila menghela napas perlahan, membayangkan hari-harinya di kota Bogor, akan dipenuhi oleh ocehan emosional Khalid. Pastinya setiap malam, Kalila tidak akan bisa tidur dengan nyenyak.


“Lagian, tanah di Bogor jauh lebih murah, ketimbang Jakarta, La. Kau tau sendiri ibukota. Sudah padat sekali penduduk di sana. Bogor lebih nyaman. Udaranya lebih bersahabat,” jelas Feni lembut. Ibunya Nissa itu tidak mau Kalila merasa terbebani oleh ucapan sang suami. Feni tau tekanan-tekanan mental yang diberikan Khalid kepada Kalila. Berulang kali Feni menasehati, jawaban Khalid tetap sama. Semua demi masa depan Kalila. Dialah yang bertanggung jawab dengan masa depan adik bungsunya itu.


“Tidak juga. Abang masih mampu kok, kalau membeli rumah di pinggir kota Jakarta. Ini semua memang demi Lila. Kita pindah ke sini, agar nanti Lila bisa bekerja dengan nyaman. Tidak perlu naik kendaraan terlalu jauh, tidak perlu pergi bekerja terlalu pagi seperti Abang!”

__ADS_1


Brakk!


Bu Alinah, Feni dan Khalid seketika menatap Kalila. Gadis itu menghempaskan telapak tangannya ke meja, dan bergegas meninggalkan meja makan. Baru dua malam tinggal bersama Khalid, rasanya Kalila sudah muak dengan ucapan-ucapan yang keluar dari mulut lelaki itu. Rasa kantuk karena semalaman tidak tidur, membuat emosi Kalila tidak stabil pagi itu.


Melangkahkan kaki menuju kamar, Kalila menghempaskan tubuhnya ke kasur. Gadis itu memilih mengistirahatkan tubuhnya, ketimbang harus beradu argumen dengan Khalid.


Tak butuh waktu lama, gadis itu pun terlelap.


Sementara itu, Feni menatap suaminya dengan kesal. Begitu juga dengan Bu Alinah. Bu Alinah yang selama ini selalu menjadi penguat argumen Khalid, berubah haluan. Sejak berlibur bersama Dimas tempo hari, melihat perlakuan Dimas terhadap putri bungsunya, membuat pikiran Bu Alinah berubah sedikit demi sedikit.


Melihat kembali senyum sumringah Kalila kala itu, membuat Bu Alinah sadar, jika putrinya itu menanggung beban. Tuntutan yang Khalid berikan terlalu tinggi, hingga membuat gadis itu kelelahan— secara mental.


“Kalau kau tidak ikhlas membiayai Lila, Biar adik kau itu Mamak bawa pulang. Kau tidak perlu lagi membiayai Mamak dan adikmu itu. Sejak Rav bekerja, uang yang kau kirim itu, hanya Mamak tabung. Kalau kau minta ganti rugi atas semua biaya yang kau keluarkan untuk pendidikan adik-adik mu, biar Mamak ganti sekalian, karena semua yang itu memang mamak sisihkan sejak dulu. Tidak pernah Mamak pakai sedikit pun,” ungkap Bu Alinah.


Khalid terperangah. Baru kali ini dia mendengar sang ibunda mengucapkan kata-kata amarah seperti itu. Mata yang sejak dulu selalu menatapnya dengan bangga, kini menatap dirinya dengan penuh kecewa. Menatap sang ibunda dengan perasaan bersalah, Khalid pun menghampiri Bu Alinah. Duduk di samping wanita yang telah melahirkannya ke dunia.


“Alid ikhlas kok Mak,” ucapnya lembut. “Maaf kalau Alid membuat Mamak tersinggung. Bukan maksud Alid seperti itu, Alid hanya ingin Lila tau, jika Alid begitu menyayanginya.”


“Justru yang kau lakukan, tidak terlihat seperti itu. Yang kau lakukan ini, terlihat seperti kau meminta balas budi atas pengorbanan yang kau lakukan kepada adik-adikmu!”

__ADS_1


Khalid hanya terdiam. Dia sama sekali tidak setuju dengan ucapan ibunya. Jika dia meminta balas budi, harusnya, ketika Rav mulai bekerja dua tahun lalu, pria itu meminta imbalan. Tapi kenyataannya, Khalid tidak meminta apapun kepada Kairav. Begitu juga dengan Kalila.


Dulu ibu dan adik-adiknya, menatapnya dengan bangga. Kenapa semua berbalik menentangnya, kini? Apa karena Rav sudah bekerja dan bisa menafkahi ibu dan adiknya, seperti yang diucapkan oleh ibunya tadi?


Padahal semua yang dia lakukan untuk Kalila, semata-mata untuk kebahagian adiknya itu. Dia bahkan rela menempuh perjalanan Bogor-Jakarta-Bogor, hanya demi Kalila.


Itulah yang ada di benak Khalid.


Namun pria itu tidak mau membantah sang ibunda. Khalid hanya diam dan meminta maaf. Ibunya terlalu banyak berkorban untuk dirinya dan adik-adiknya. Khalid tidak berani membantah ibunya. Bukankah anak lelaki itu, selamanya milik ibunya?


“Mamak tidak mau lagi mendengar kau berucap seperti itu kepada Lila. Selama ini Lila itu selalu menuruti keinginan kau. Bahkan dia mengesampingkan keinginannya sendiri, demi menuruti mau kau,” ucap Bu Alinah. Khalid hanya menjawabnya dengan anggukan.


Justru Alid memudahkan jalan Lila, untuk mewujudkan keinginannya Mak. Keinginannya menjadi pendamping Ibrahim. Alid lah yang memuluskan jalan itu. Alid yang akan memastikan, impian Kalila pasti terwujud. Adik kesayangan Alid itu, akan menjadi pendamping Ibrahim. Akan menjadi bagian dari keluarga Adi Putra yang terpandang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...

__ADS_1


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2