Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 60


__ADS_3

Sudah satu bulan berlalu, sejak Khalid bertemu dengan Ibrahim. Namun, pria itu masih belum menghubungi Kalila. Bu Alinah bahkan sudah kembali ke Medan, sejak Minggu lalu.


“Ibrahim masih belum menghubungi kau?” tanya Khalid penasaran. “Ponsel kau selalu terdengar kan?”


“Lila selalu membawa ponsel ini ke mana pun, Bang. Bahkan ke toilet sekalipun, Lila membawanya. Jadi tidak ada satu panggilan telepon pun yang terlewat.”


Khalid hanya diam. Ingin rasanya Khalid kembali menghubungi Ibrahim, namun pria itu merasa tak pantas untuk kembali mengemis lowongan pekerjaan untuk Kalila. Kondisi ini, entah mengapa membuat Khalid merasa kesal kepada adik kesayangannya. Jika saja Kalila lulusan dari universitas yang sama dengan dirinya, tentu Ibrahim akan dengan mudah menyarikan lowongan yang pas buat adik perempuannya itu.


“Coba kau hubungi Ibrahim. Kau sudah satu bulan di sini dan menganggur. Bahkan berusaha menghubungi Ibrahim pun tidak. Kau sebenarnya masih mau tidak sih, menjadi pendamping Ibrahim?!”


“Bang ... Lila itu perempuan. Tidak pantas dia mengemis seperti itu. Jangan suruh adik Abang menghubungi pria lebih dulu!” Kali ini Feni yang tersulut emosi. Usia kandungan yang sudah memasuki 20 Minggu, membuat emosi Feni tidak terlalu stabil. Wanita yang tengah mengandung itu, lebih cepat tersulit emosi, kini.


“Kalau begitu lupakan saja mimpi kau itu! Lupakan Ibrahim!” pekik Khalid. Kalila hanya diam, tidak berusaha menjawab pernyataan maupun pertanyaan yang meluncur dari bibir kakak lelakinya itu. Beruntung Kalila mempunyai kakak ipar yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Wanita itu berdiri paling depan membela Kalila, kini.


“Pria di dunia ini bukan cuma Ibrahim, La. Masih banyak pria baik di luar sana. Kalau memang kau berjodoh dengan Ibrahim, pasti akan bersatu. Tidak harus masuk ke perusahaan keluarganya untuk berjodoh dengan Ibrahim!”


“Kau ini kenapa? Kenapa terus membela Lila dan menyalahkan Abang. Lila juga butuh pekerjaan, dia harus bekerja. Kau mau dia selamanya menganggur terus seperti ini!”


Kalila benar-benar tidak suka melihat Feni membelanya. Gadis itu merasa tak enak hati. Pertengkaran sepasang suami-isteri itu terjadi, semua karena dirinya. Ingin rasanya Kalila pergi dari sana. Namun, dirinya tak tega meninggal Feni yang tengah mengandung, dan harus beradu argumen dengan kakak lelakinya.

__ADS_1


Kalila mengusap-usap punggung Feni, “sudahlah Fen. Aku tak apa-apa,” ucap Kalila pelan.


“Kalila bisa bekerja di mana saja. Tidak harus di perusahaan Khalid itu.”


Kini Feni menarik tangan Kalila, dan membawa gadis itu masuk ke kamarnya— kamar Kalila. Feni terus meminta maaf atas ucapan suaminya. Dirinya benar-benar tidak habis pikir. Apa yang diperbuat Ibrahim, hingga suaminya itu, begitu memuja cucu pertama Adi Putra. Apa mungkin karena harta benda? Apa suaminya sekarang sudah menjadi budak dunia? Hanya memandang kebahagiaan dari banyaknya harta seseorang?


“Kau, sama sekali tidak pernah berkomunikasi dengan Ibra?”


Kalila menggelengkan kepalanya. Wajahnya tampak sendu. Padahal selama satu bulan ini, setiap hari, Kalila berharap Ibrahim menghubunginya. Dirinya tidak mau menghubungi Ibrahim lebih dulu. Kalila takut, jika Ibrahim menganggap dirinya, hanya memanfaatkan pria itu. Yang menghubungi hanya saat dibutuhkan saja.


“Lila, maaf sebelumnya. Tapi aku ragu, jika Ibra meminta kau menunggunya siap untuk melamar kau,” ucap Feni kemudian. Kalila bertambah sendu.


Hati Kalila selalu mencelos, saat mengetahui, Ibrahim telah melihat status di akun sosial medianya, namun pria itu sama sekali tak berkomentar. Bahkan sekedar berbasa-basi menanyakan mengenai kabar dirinya pun, tidak pernah. Kalila benar-benar tak tau, apakah dirinya masih ingin berkerja di perusahaan milik keluarga Adi Putra, ataukah tidak. Dia juga tidak tau harus bersikap seperti apa, jika bertemu Ibrahim.


Yang Kalila tau, perasaannya masih sama seperti enam tahun lalu. Kalila, masih mencintai pria itu. Pria yang begitu sempurna itu.


Melihat mimik wajah Kalila, Feni pun tau, jika sahabatnya itu pun merasa ragu dengan Ibrahim. “Maaf Lila. Aku hanya ingin kau membuka mata. Bahwa Ibrahim, sepertinya tidak menganggap kau sepenting itu,” ujar Feni. Kalila tersenyum getir. Kepalanya mengangguk, “aku tau,” ucapnya tercekat. Feni memeluk sahabatnya itu. Mengelus-elus punggung Kalila. Mereka saling berpelukan beberapa saat, hingga Feni mengeluh kalau dirinya terlalu pengap akibat pelukan itu.


“Kau masih ingin menjadi guru TK?” tanya Feni kemudian. Kalila menatap Feni bingung. Tentu saja dia ingin, menjadi guru dan dikelilingi oleh banyak anak-anak adalah impiannya sejak dulu. Kalila mengangguk pelan.

__ADS_1


“Ada lowongan pekerjaan di Taman Kanak-kanak,” ucap Feni. Wajah sendu Kalila mendadak sedikit memancarkan sinar, mendengar ucapan Feni. Sebuah lowongan pekerjaan di Taman Kanak-kanak.


“Tapi bukan sebagai guru. Salah satu staff tata usaha ada yang mengundurkan diri. Mereka membutuhkan seseorang segera. Bagaimana menurut kau?”


“Tidak apa-apa Fen. Setidaknya aku bisa melihat banyak anak-anak bermain setiap hari,” ucap Kalila antusias. Feni tersenyum, senang rasanya bisa melihat sahabatnya tampak antusias. Feni tau, jika suaminya sudah terlalu banyak memberikan tekanan pada gadis itu.


Kalila pasti lelah harus berkuliah di jurusan yang bukan menjadi minatnya. Terlebih harus mengambil dua jurusan sekaligus. Itu semua karena suaminya. Bahkan walau sahabatnya itu sudah menuruti keinginan suaminya, Khalid masih tidak puas dengan pencapaian Kalila. Dan sekarang, gadis itu masih dituntut untuk mengemis kepada seorang pria, agar dapat bekerja di perusahaan milik keluarga pria itu. Feni benar-benar tidak habis pikir dengan sikap pria yang dia cintai itu.


Kini, melihat Kalila tampak antusias, setidaknya sedikit mengurangi rasa bersalah Feni terhadap Kalila, atas sikap suaminya.


“Besok akan aku temani kau ke sana, kita langsung bertemu pemilik yayasan. Kau segera buat surat lamaran pekerjaannya, siapkan juga CV dan ijazahmu. Kirim saja filenya ke emailku, biar aku yang cetak, kalau-kalau kau malas keluar kamar dan melihat wajah Abang kau itu,” ucap Feni tersenyum geli.


“Biar aku saja yang print, tidak apa-apa,” ucap Kalila. Gadis itu memeluk sahabatnya, “terimakasih Fen.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...

__ADS_1


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2