
Insiden di kediaman Gilang Adi Putra, membuat Ghita dan kedua anaknya memutuskan untuk segera berpamitan. Padahal baru setengah jam mereka tiba di sana. Bahkan, makan siang yang baru saja disajikan di meja, tidak jadi mereka santap bersama.
“Kau ini kenapa Ibra?! Kenapa kau ingin mencium perut Kalila?! Dia itu istrinya Dimas! Terlebih dia itu bukan mahram, Kau! Papi benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan kau barusan. Seperti orang yang tidak beragama saja!”
Gilang benar-benar geram dengan anaknya itu. Begitupun dengan Aynoor—Ibu kandung Ibrahim. Sementara Anneke hanya tertunduk menahan rasa pedih di hati.
Padahal Anneke sudah berupaya untuk menjadi istri yang baik untuk Ibrahim. Anneke bahkan mengikuti Kalila dengan menjadi ibu rumah tangga dan hanya mengurusi Ibrahim. Tapi, tampaknya sang suami masih belum puas dengan semua yang sudah Anneke lakukan untuknya.
Sudah Lima belas bulan mereka menikah, dan ternyata sang suami masih mempunyai hasrat dengan cinta pertamanya.
“Itu semua salah Kakek! Kenapa kakek menjodohkan Ibra dengan Anne. Coba saja kalau kakek tidak menjodohkan Ibra dengan Anne, mungkin Ibra sudah menikah dengan Kalila. Dan anak yang ada dalam rahim Kalila saat ini, adalah anak Ibra, bukan anak Dimas!”
Semua orang terperangah mendengar penuturan Ibrahim. Terlebih Anneke, wanita itu sangat terluka.
“Ada hubungan apa antara kau dengan Lila?” tanya Gilang. Pria paruh baya itu tidak tau menahu mengenai kisah asmara sang putra. Anneke adalah wanita pertama dan satu-satunya yang dikenalkan oleh Ibrahim kepadanya.
“Lila itu cinta pertama Kang Ibra!” ketus Anneke. Ibrahim hanya menatap Anneke sekilas.
“Cinta pertama?”
Anneke mengangguk mendengar pertanyaan ibu mertuanya. “Kau sudah tau mengenai hal ini?” tanya Aynoor. Lagi, Anneke mengangguk.
“Kau sudah tau mengenai hal ini, tapi kau masih mau dijodohkan dengan Ibrahim?” tanya Gilang tak percaya.
“Karena waktu itu, Kang Ibra mengatakan, jika Kalila hanyalah masa lalunya. Dan aku memercayainya, Pi,” jawab Anneke. Kini wanita itu menangis sesenggukan.
“Itu karena kau tak kunjung hamil! Coba kalau kau cepat hamil, tentu aku tidak akan kembali memikirkan Kalila!”
“Bagaimana aku bisa hamil, jika saat berhubungan pun, nama dia yang kau sebut!”
Kedua orang tua Ibrahim tercengang. Sedangkan Anneke tak mampu lagi menahan rasa kecewanya.
Ibrahim melangkah mendekati Anneke yang kini ada di dalam dekapan Aynoor.
“Semua itu kesalahan kau, Anne. Kau tidak mampu membuatku berhasrat. Cobalah belajar memuaskan suami. Jangan hanya terlentang dan pasrah saja!”
'PLAKK!!'
Sebuah telapak tangan mendarat mulus di pipi kanan Ibrahim. Pria itu menahan amarah sembari mengusap-usap pipinya yang terasa sakit.
“Mami benar-benar tidak menyangka jika kau tumbuh menjadi seorang pecundang seperti ini!” teriak Aynoor. Wanita paruh baya itu merasa telah gagal menjadi seorang ibu.
__ADS_1
“Kau yang memilih Anne untuk jadi istri kau. Kau juga yang mengaku jika Lila hanyalah masa lalu kau. Tapi lihat sekarang, kau sibuk menyalahkan semua orang! Sebenarnya apa mau kau?!” ucap Aynoor berang.
Ibrahim tak menanggapi ucapan sang ibunda. Pria itu bergegas keluar, dan meninggalkan kediaman orang tuanya.
Sedangkan kedua orang tua Ibrahim, meminta maaf kepada Anneke. Meminta maaf karena selama satu tahun pernikahan itu, anak mereka hanya menorehkan luka di hati Anneke.
Rasanya Anneke ingin segera melarikan diri dari hidup Ibrahim. Wanita itu ingin sekali berpisah. Tapi dirinya takut hal tersebut akan membuat malu keluarga besarnya. Terlebih Ibrahim adalah pria pilihannya sendiri.
Anneke masih mencoba bersabar. Wanita itu bahkan mengesampingkan rasa malunya dan menghubungi Kalila. Anneke mengunjungi Kalila di kediamannya, wanita itu bahkan menanyakan perihal masalah ranjang kepada Kalila.
“Tolong La. Ini demi masa depan pernikahan aku dan Kang Ibra.” Anneke bahkan memohon dengan berurai air mata.
“Kak Anne, apa kakak yakin, jika hal ini dapat merubah sikap Bang Ibra?”
“Aku tidak yakin, tapi aku akan berusaha memenangkan hati suamiku. Aku akan berusaha mempertahankan rumah tangga kami.”
Karena merasa kasihan dengan Anneke, Kalila pun menyeritakan masalah ranjangnya.
Anneke bimbang. Dirinya merasa tidak sanggup menjadi wanita yang penuh ekspresif seperti Kalila. Tapi wanita itu benar-benar akan belajar melakukannya.
Anneke bahkan meminta Kalila untuk membantunya memilihkan gaun malam yang cukup seksi.
Ibrahim yang saat itu tengah bersiap tidur, seketika tercengang saat Anneke menghampiri dengan gaun malam seksinya.
Anneke merangkak naik.
Garis leher gaun malam yang sangat terbuka, membuat dua aset kembar Anneke hampir melompat keluar.
Menarik guling yang menutupi bagian sensitif Ibrahim. Seketika Anneke memberikan remasan-remasan dari balik celana piyama Ibrahim.
Pria itu mendesis.
Anneke terus melakukannya hingga area itu terlihat menggembung.
Melepaskan celana piyama yang dikenakan suaminya, Anneke langsung naik dan duduk di atasnya. Wanita itu pun melakukan aksinya.
Seiring gerakan panggul yang bertambah laju,
Anneke mengerang.
Wanita itu kemudian menegang.
__ADS_1
Inilah untuk pertama kalinya bagi Anneke merasakan puncak kenikmatan. Dan tak lama kemudian Ibrahim menyusul dan menyemburkan laharnya saat Anneke baru saja kembali menggerakkan panggulnya.
“Gitu dong, pintar menyenangkan suami,” ucap Ibrahim, kala Anneke sudah beringsut dari atas tubuhnya. Anneke tersenyum tipis.
Pria itu kemudian menangkap Anneke, saat istrinya itu hendak berlalu dan berganti pakaian.
“Kau pakai saja itu hingga pagi,” titah Ibrahim. Anneke pun menurutinya. Walau sebenarnya dia merasa risih. Namun, demi membuat suaminya senang, Anneke memaksakannya.
Anneke pun tertidur dalam dekapan Ibrahim. Hal yang sudah lama sekali tak dinikmatinya. Anneke kembali teringat satu bulan pertama pernikahan mereka. Ibrahim selalu membawanya tidur dalam dekapan pria itu.
Namun, sejak melihat Kalila bersanding di pelaminan dengan Dimas, disitulah perlahan pria itu berubah. Dan pria itu semakin menjadi, saat kunjungan mereka di kediaman Kalila dan Dimas.
Malam ini Anneke sungguh bahagia, karena bisa kembali tidur dalam dekapan suaminya. Selain itu, untuk pertama kalinya selama satu tahun pernikahan, Anneke merasakan puncak kenikmatan.
Anneke tidur dengan nyenyak malam ini. Pun dengan Ibrahim.
***
Saat Ibrahim terbangun dari tidurnya, dan melihat Anneke tertidur menggunakan busana seksi itu, jiwa kelakian Ibrahim bangkit.
Ibrahim menyeringai.
Tanpa memedulikan Anneke yang tengah tertidur lelap, Ibrahim mulai menempelkan aset mereka.
Melakukan penetrasi sebentar, Ibrahim melahap dua aset kembar milik Anneke.
Wanita itu terkejut saat seluruh daerah sensitifnya terjamah. Seulas senyuman terpatri di bibir Anneke, saat mendapati sang suami tengah bergerilya di atas tubuhnya. Hal ini bahkan belum pernah terjadi sebelumnya. Memakai pakaian seksi ini benar-benar cara yang sangat tepat. Begitulah pikir Anneke.
Tanpa Anneke tau, jika Ibrahim sedang membayangkan tengah bercengkrama dengan wanita lain.
Kungkungan Ibrahim membuatnya tak leluasa bergerak. Ibrahim seketika melesakkan senjatanya. Pria itu secepat kilat mengejar puncaknya. Bayangan Kalila tengah memakai gaun malam nan seksi, membuat Ibrahim semakin menggebu-gebu. Ibrahim memacu dirinya dengan cepat, hingga tak lama kemudian, pria itu menyemburkan laharnya dan tergeletak di atas tubuh Anneke.
Anneke kembali tersenyum. Walau dirinya tak sempat merasakan puncak kenikmatan, setidaknya Ibrahim tak menyebutkan nama wanita lain di permainan mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...
__ADS_1