
WARNING LAGI !!!
BACA PAS BUKA PUASA YA 😂
Sembari menopang tubuh Kalila yang limbung, Dimas membuka jubah mandi gadis itu, hingga kini Kalila tanpa busana.
Dimas menggendong Kalila. Tidak langsung merebahkan gadis itu, Dimas malah menatap lekat tubuh polos Kalila yang kini ada di gendongannya.
Cukup lama Dimas memandang tubuh Kalila, hingga gadis itu bersemu. Wajahnya Semerah tomat, kini. Terlebih gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Bahkan, bergerak pun Kalila tak mampu. Gadis itu hanya bisa melemparkan pandangannya agar tak beradu pandang dengan Dimas.
Kalila benar-benar merasa malu saat ini.
Setelah merasa cukup puas memandangi tubuh sang istri, Dimas merebahkan Kalila. Setelahnya, pria itu melepas seluruh pakaian yang menempel di tubuhnya.
Padahal suhu di ruangan saat itu cukup dingin, tapi Kalila mendadak merasa gerah saat ini. Menyaksikan pahatan indah tubuh polos Dimas, membuat gadis itu gelisah.
Dengan susah payah Kalila berhasil menelan salivanya. Baru disadarinya jika Dimas memiliki tubuh atletis. Dadanya yang bidang, otot perutnya yang sexy, serta otot tubuh lainnya yang berhasil membuat Kalila terbelalak. Kalila terus memerhatikan tubuh pria itu, hingga kedua netra mereka saling bertemu.
Kalila ketangkap basah!
Malu!
Lagi, Kalila merasa sangat malu. Gadis itu memalingkan wajahnya. Dimas tersenyum geli. Pria itu sudah tau sedari tadi, jika sang gadis memerhatikannya dengan lekat.
Dimas menaiki ranjang dan perlahan mendekat dengan bibir yang menyeringai. Tatapan pria itu langsung mengarah pada daerah kewanitaan istrinya. Seperti Kalila yang kesusahan menelan salivanya, Dimas pun demikian. Seketika pria itu membelai area paling sensitif milik Kalila. Senyum Dimas kembali terkembang kala mengingat jemarinya yang tadi menari-nari di sana.
Tak mau berlama-lama, Dimas melebarkan kaki Kalila, dan langsung mengambil posisi di sana. Pria itu mulai menggerakkan pinggulnya perlahan-lahan. Kalila menggigit bibirnya saat kembali merasakan gesekan, seperti yang dialaminya tadi. Bedanya, kali ini, gesekan itu terasa lebih mendalam.
Dimas memejamkan matanya sejenak, menikmati gesekan demi gesekan yang terjadi di sana.
Lembut ... Sungguh lembut. Berbeda sekali saat dia bersolo karir di kamar mandi.
Tak mau terlalu terhanyut dengan permainannya, Dimas kembali mengingat pelajaran yang didapatkannya dari kitab pemberian Junior.
Menatap Kalila sekilas, Dimas kini beralih pada dua bukit indah milik Kalila. Pria itu langsung mempraktekkan apa yang dipelajarinya.
Kini, tubuh Dimas tepat berada di atas Kalila.
Menatap kedua buah ceri yang yang berada di puncak bukit, Dimas lalu mulai membelai salah satu buah ceri itu dengan lidahnya.
Belaian demi belaian lidah Dimas pada salah satu puncak bukitnya membuat Kalila mendesis. Terlebih jemari Dimas juga ikut memilin pucuk bukit satunya.
__ADS_1
lambat laun, desisan Kalila berubah menjadi lenguhan. Bahkan sekali-kali, Kalila memanggil nama Dimas.
“Bang ... Bang Dim ... emhh ... Bang Dim.”
Permainan Dimas benar-benar membuat Kalila menggila. Kalila bahkan mulai menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan. Panggul gadis itu pun perlahan mulai mengikuti gerakan panggul Dimas. Bahkan, Kalila semakin mempercepat gerakan pinggulnya. Gadis itu berharap Dimas mempercepat gerakan panggulnya. Tapi Dimas tetap pada gerakan lembutnya.
“Bang Dim ... please ... please ...,” lirih Kalila. Gadis itu mengiba. Gerakan panggulnya bahkan semakin liar saja.
“Please ... sayang ... please ....” Kalila benar-benar memohon agar Dimas mengakhiri siksaannya. Gadis itu benar-benar menginginkan lebih dari ini.
Dimas menyeringai mendengar Kalila mengiba padanya. Rasa nikmat yang menjalar di sekujur tubuhnya, membuat gadis itu lupa akan rasa gengsi yang selalu dipertahankannya selama ini.
Tapi Dimas tak serta merta menuruti ingin gadisnya. Pria itu malah menghentikan gerakan panggulnya. Kalila menjadi semakin brutal, mencari rasa nikmat yang tiba-tiba saja hilang. Dimas menegakkan tubuhnya dan menahan kedua kaki gadis itu. Gerakan panggul gadis itu seketika tertahan, dan Dimas langsung melesakkan bagian tubuhnya agar menyatu dengan Kalila.
Mata Kalila membelalak ketika merasakan ada sesuatu yang robek di bawah sana.
Sementara Dimas, memandang takjub menatap senjatanya yang perlahan-lahan dilahap, hingga area gadis itu terlihat sedikit menggembung.
Dimas kembali berada di atas tubuh istrinya.
“Sakit?” tanya Dimas, seraya merapikan rambut Kalila yang berantakan. Kalila mengangguk samar. Pria itu kembali menggerakkan panggulnya perlahan, sembari memerhatikan ekspresi Kalila yang meringis.
“Mau lebih cepat gak?” goda Dimas. Kalila menggeleng lemah. Rasa nyeri saat penyatuan dirinya dengan Dimas, membuat Kalila tak lagi menginginkan Dimas memompa tubuhnya dengan cepat. Dimas pun mengerti akan hal itu. Pria itu kembali menggerakkan panggulnya perlahan-lahan.
Kalila merasakan ada sesuatu yang ingin mendobrak keluar, di bawah sana. Kalila melingkarkan kedua kakinya pada pinggang Dimas. Begitupun dengan kedua lengannya. Kalila memeluk erat tubuh Dimas. Kalila meminta pria itu, agar menghujamnya lebih dalam.
Kalila mengerang. Kuku-kukunya menancap pada punggung pria itu. Erangan Kalila bertambah kencang, kala nikmat melanda sekujur tubuhnya.
Setiap hentakan-hentakan Dimas pada tubuhnya, membuat rasa nikmat itu semakin bertambah.
Semakin lama semakin nikmat.
Gila ... Ini gila ...!
Rasa nikmat yang diterimanya bertubi-tubi hampir membuat Kalila berteriak.
Dimas menghujam semakin keras, membuat Kalila semakin mengerang.
Nikmat ... Sungguh Nikmat ...
Kalila dan Dimas sama-sama memacu diri, berlomba untuk mencapai puncak. Hingga akhirnya tubuh Kalila menegang, kuku-kukunya semakin menancap hingga menyisakan bekas luka di punggung Dimas.
__ADS_1
“Baaaang ....”
Seketika lutut gadis itu terasa sangat lemas. Kalila terkulai.
Namun Dimas masih mengejar puncaknya. Hingga pria itu memeluk Kalila sangat erat dan memuntahkan lahar sedalam-dalamnya.
“Kalila, kau sungguh nikmat.”
Itulah kalimat yang diucapkan Dimas dengan suara bergetar, ketika pria itu menyemburkan laharnya ke dalam tubuh Kalila. Ucapan Dimas itu, membuat Kalila sumringah.
Rasanya Dimas enggan turun dari tubuh Kalila. Pria itu pun berguling, hingga kini Kalila berada di atas tubuhnya. Dimas masih ingin tubuh mereka menempel erat.
Sementara Kalila, ingin cepat-cepat bersembunyi di bawah selimut, karena gadis itu sudah tersadar dengan tindakannya yang benar-benar tidak terkontrol, tadi.
Apalagi ketika Kalila teringat, saat dirinya memohon-mohon pada Dimas agar segera melakukan penyatuan. Kalila benar-benar merasa seperti wanita murahan.
“Bang, turunkan Lila!” ucap Kalila, yang kini tengah menyembunyikan wajah pada dada bidang milik suaminya. Dimas tentu saja tak mengindahkan permintaan wanitanya. Kalila terus merengek, meminta Dimas melepas pelukannya agar dia bisa turun dari atas tubuh pria itu.
“Yasudah kau turunlah. Tapi jangan langsung beringsut. Kau duduk dulu, dan keluarkan milikku yang ada dalam sarangmu itu.” Mata Kalila membelalak mendengar ocehan me*sum suaminya itu.
“Apa kau mau membiarkannya terus di dalam sarangmu? Sesuka itu kau dengan benda milikku itu?” lanjut Dimas.
Kalila sontak mengigit dada Dimas, hingga pria itu mengaduh kesakitan. Dimas pun memiringkan tubuhnya, hingga Kalila lepas dari pelukannya.
Wanita itu langsung beringsut dan menenggelamkan dirinya dalam selimut. Tawa Dimas meledak melihat tingkah istrinya. Tak lama, Dimas pun ikut masuk ke sana dan memeluk Kalila yang memunggunginya.
“I love you,” bisik Dimas. Kalila tidak menjawabnya, dia hanya tersenyum simpul.
“Kalau sudah di rumah, ******* kau tolong dikondisikan ya, sayang,” ucap Dimas. Kalila seketika membalik tubuhnya hingga kini berhadapan dengan Dimas.
“Apa maksud Bang Dim?!”
“Bukan apa-apa. Mungkin aku hanya perlu memasang peredam suara di kamar kita,” ucap Dimas. Mata Kalila membulat, dirinya sama sekali tidak merasa mengeluarkan suara yang kencang.
“Jika kau tidak percaya, nanti malam kita buktikan.”
Dimas mengerling pada wanitanya. Pria itu pun berlalu, meninggalkan Kalila yang masih cemberut, menuju kamar mandi. Olahraga yang dilakukannya bersama Kalila, benar-benar membuatnya bermandikan keringat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
__ADS_1
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...