
Suara kicauan burung saling sahut menyahut, menyambut Kalila pagi itu. Gadis yang tidak bisa memasak itu, kini harus ikut membantu Bu Asih membuatkan sarapan untuk mereka semua. Berulangkali Dimas mengabadikan moment kebersamaan Kalila, dengan kedua ibunya.
Tidak hanya Dimas. Ternyata, Harry juga sedari tadi terus memerhatikan Kalila. Entah apa yang ada di pikiran pemuda itu? Yang jelas, sejak Kalila memasak hingga gadis itu menghidangkan makanan di meja makan, Harry terus menatapnya.
Harry dikejutkan oleh tepukan pada bahunya. “Eh ... Tante ...,” ucap Harry sembari tersenyum sungkan.
“Jangan terus melihat Kalila. Dia itu calon menantu Tante!” seru Bu Ghita.
“Iya, iya Tante. Aku ini hanya memata-matai mereka berdua, asal Tante tau. Seluruh staff divisi kami, beranggapan jika Boss Dim dan Lila sedang berkencan. Tapi saya mendengar dengan sangat jelas, sewaktu Kalila mengatakan, jika dirinya dan Boss Dim hanya sebatas sahabat. Dan mereka sudah bersahabat selama tujuh tahun.” Bu Ghita hanya tersenyum menanggapi celoteh Harry. Tentu saja Bu Ghita sangat tau mengenai hubungan Dimas dengan Kalila. Mengenai perasaan anak semata wayangnya itu.
“Coba Tante perhatikan, mereka terlalu mesra kalau hanya sebatas sahabat,” lanjut Harry.
Bukan tanpa alasan Harry mengatakan hal itu. Pasalnya, Kalila kini tengah merengek manja kepada Dimas, karena aksi pria itu yang mencubit gemas hidungnya. Namun adegan seperti ini, bukan sekali dua kali terjadi. Harry sudah sering kali melihat adegan mesra antara Kalila dan Dimas.
“Yang jelas, Kalila calon menantu Tante. Jadi kau jangan macam-macam!”
“Iya ... Iya Tante ... Harry juga tau diri. Pasti kalah saing sama Boss Dim,” ucap Harry malas. Bu Ghita terkekeh mendengar ucapan Harry. Wanita paruh baya itu pun mengajak Harry ke meja makan.
Berulang kali Dimas memuji masakan itu, hingga Kalila merasa kesal. Pasalnya, Dimas selalu mengatakan jika masakan Kalila sangat lezat, seperti buatan kedua ibunya.
“Lila hanya memotong-motong buncis dan mengaduk-aduk masakan itu, Bang!”
“Justru karena kau yang mengaduknya, makanya makanan ini jadi tambah enak,” ucap Dimas. Kalila melirik kesal dan mengembuskan napas kasar.
“Dasar tukang gombal!”
Seluruh manusia yang berada di meja makan itu, terkekeh mendengar umpatan Kalila.
__ADS_1
***
Hari berganti hari ...
Dimas, Kalila dan Harry masih disibukkan dengan proyek glamping mereka. Ketiga muda-mudi itu, bahkan sudah beberapa kali mengunjungi lokasi proyek. Dan setiap berkunjung ke sana, Kalila selalu menginap di kediaman Dimas. Hal itu tentu saja membuat hubungan Kalila dengan Bu Ghita dan Bu Asih, semakin dekat, semakin akrab.
Sudah hampir satu bulan dari tenggat waktu mengajukan proposal proyek kepada calon klien. Proposal yang dirancang oleh Dimas, Kalila dan Harry, pun hampir rampung. Ketiga muda-mudi itu sangat yakin dengan hasil kerja keras mereka.
Beberapa hari sebelum penyerahan proposal, Ibrahim dan ayahnya—Gilang— datang ke ruang manager divisi desain dan perencanaan. Tentu saja ada Kalila dan Harry di ruangan itu. Sejak menerima proyek glamping itu, meja kerja Kalila dan Harry, berpindah ke ruangan Dimas. Selama hampir satu bulan ini, mereka bertiga bekerja dalam satu ruangan yang sama—ruang kerja Dimas.
“Bagaimana proposal kalian?” tanya Gilang, ketika pria paruh baya itu tiba di sana. Dimas, Kalila dan Harry seketika berdiri.
“Lancar Wa,” jawab Dimas. Gilang tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya. Pria paruh baya itu benar-benar berharap, jika Dimas dan rekan satu timnya, dapat memenangkan tender itu. Gilang tidak ingin melihat Dimas dipermalukan di depan umum oleh ayahnya. Cukuplah Dimas dipermalukan dan dihina di rumah ayahnya. Jangan sampai Dimas diperlakukan seperti itu di depan umum.
“Doakan kami ya, Wak,” lanjut Dimas.
“Uwa pasti mendoakan kalian.” Dimas, Kalila dan Harry, mengucapkan terima kasih atas hal itu. Gilang dan Ibrahim pun berpamitan dan beranjak dari sana.
Ketiga muda-mudi itu mengangguk setuju. Sekali lagi mereka mengucapkan terima kasih kepada kedua ayah dan anak itu.
Tidak hanya senang karena mendapatkan perhatian dari Gilang dan Ibrahim, selaku petinggi di perusahaan tempatnya bekerja. Kalila juga senang, karena akhirnya bisa menatap Ibrahim, setelah beberapa Minggu mereka tak bertemu.
Terlebih ketika sebuah pesan masuk ke ponsel milik Kalila, persis sebelum Ibrahim melangkah keluar dari ruangan itu.
[Semangat Lila]
Hanya dua kata itu, mampu membuat Kalila berbunga-bunga. Kalila semakin bersemangat karena kunjungan dan pesan yang dikirimkan oleh Ibrahim kepadanya.
__ADS_1
Entah apa maksud Ibrahim mengirimkan pesan itu kepada Kalila. Yang jelas, dirinya tidak suka melihat Kalila bekerja di ruang yang sama dengan Dimas. Ibrahim tidak suka melihat Dimas bertambah dekat dengan Kalila.
Sebenarnya pria itu tau, jika Kalila hanya menganggap Dimas sebagai sahabatnya. Tapi, melihat interaksi Dimas dan Kalila, dirinya seakan tak rela. Tak rela jika gadis yang selama ini memujanya, beralih kepada sepupunya itu.
Padahal hubungan Ibrahim sudah semakin dekat dengan Anneke. Namun, Ibrahim juga tidak mau kehilangan Kalila. Walau bagaimanapun, Kalila adalah gadis pertama yang berhasil mengukir nama di hatinya. Kalila punya tempat sendiri di hati Ibrahim. Ibrahim bahkan berencana kembali pada Kalila, jika hubungannya dengan Anneke tidak berhasil.
Ibrahim tidak ingin, jika hubungannya dengan Anneke tak berhasil, Kalila sudah berpaling pada Dimas.
Yang pasti, saat Kalila tersenyum sumringah ketika membaca pesan yang baru saja dikirimnya, Ibrahim merasa lega. Dari senyuman gadis itu, Ibrahim tau, jika Kalila masih menunggunya.
***
Hari yang ditunggu pun tiba. Dimas, Kalila dan Harry akan mempresentasikan proposal mereka. Pagi-pagi sekali, ketiga muda-mudi itu telah tiba di kantor. Tepat pukul 09:00 WIB, bersama Gilang, mereka kemudian berangkat, menuju kota Jakarta. Beruntung jalanan ibukota tidak terlalu sibuk saat itu. Hingga mereka bisa tiba tepat waktu. Bahkan mereka tiba, satu jam sebelum meeting dimulai.
Ruang pertemuan di Hotel Emerald, menjadi saksi, bagaimana Dimas, Kalila dan Harry, mempresentasikan proposal mereka dengan sangat baik. Calon klien mereka bahkan terpana dengan semua konsep yang mereka tawarkan.
Begitu juga dengan Gilang. Direktur Utama PT. Adi Putra Group itu, memang sengaja ikut serta, agar bisa menyaksikan penampilan keponakan satu-satunya itu. Gilang bahkan mendokumentasikannya, kemudian mengirimkan video itu kepada Ghita—adiknya.
[Kau membesarkan Dimas dengan sangat baik]
Ghita yang berada di Kota Bogor, tersenyum sumringah melihat penampilan Dimas. Wanita paruh baya itu tidak dapat menahan rasa harunya. Penampilan Dimas memang sangat memukau saat itu. Ghita terus berdoa, agar Dimas bisa memenangkan tender itu dan membungkam mulut sang ayah, yang selama ini selalu merendahkan putra semata wayangnya itu.
Namun, pengumuman pemenang tender, tak langsung mereka dapatkan hari itu. Mereka harus bersabar menunggu esok hari.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
__ADS_1
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...