
Kau indah sekali, Kalila. Entah mengapa rasanya aku ingin menikah muda setelah bertemu kau— Kalila Nasution. Menghabiskan waktu 24 jam bersama. Pasti begitu menyenangkan.
Dimas membalas senyum gadis itu. Pria itu kini beraksi. Meniup tongkat gelembung sembari memutar badannya. Anak-anak kecil yang ada di sekitar mereka menjadi riuh. Senyum Kalila semakin sumringah melihat anak-anak kecil di sekelilingnya.
“Tiup lah Lila,” ujar Dimas. Pria berusia 18 tahun itu menyodorkan tongkat gelembung itu ke hadapan Kalila. Kalila tersenyum dan meniupnya. Tanpa disadari, kini Kalila bermain bersama Dimas dan dikelilingi oleh beberapa anak kecil.
“Mak ... Rav merasa ada yang menggantikan sosok Rav dalam menjaga Kalila. Mamak lihat Dimas. Anak itu sepertinya tertarik dengan Kalila.”
Nek Laila mengangguk setuju dengan ucapan Kairav. Entah kenapa, Nek Laila juga menyukai Dimas. “Kau ini Rav, mereka masih kecil. Adikmu itu masih murid SMA.”
“Mamak yang berpikir terlalu jauh. Memangnya Rav bilang, kalau mereka mau menikah.”
Bu Alinah terkekeh. Pikirannya memang melayang terlalu jauh. Ini semua karena Dimas. Karena anak lelaki itu memanggilnya dengan sebutan calon mertua, hingga dia memikirkan pernikahan Kalila.
Kairav, Bu Alinah dan Nek Laila pun kembali menatap Kalila yang masih sibuk bermain gelembung sabun bersama Dimas.
“Kalila,” panggil Dimas. Gadis itu menoleh dengan senyuman yang masih terulas di bibirnya. Sungguh, jantung Dimas berdetak semakin kencang sejak melihat senyuman Kalila untuknya. “Kau mau melihat bunga bangkai raksasa?”
“Bunga bangkai raksasa?”
Dimas mengangguk cepat. Dia harus bisa meyakinkan Kalila untuk menyetujui ajakannya melihat bunga raksasa itu, agar mereka bisa jalan berdua. “Iya. Bunga bangkai raksasa. Kau tau kan?”
“Bunga Rafflesia Arnoldii, kan?”
Dimas tersenyum. Menatap lembut gadis itu. “Bunga bangkai raksasa itu berbeda dengan bunga Rafflesia Arnoldii. Ayo, aku tunjukkan perbedaannya. Kau mau?”
Kalila mengangguk cepat. Selama ini yang dia tau, jika Rafflesia Arnoldii itu adalah bunga bangkai. Tapi pria gila yang ada di hadapannya kini, menyatakan hal yang berbeda. Dimas adalah anak fakultas pertanian, sama seperti Khalid— kakak lelakinya, sudah pasti Dimas tau banyak mengenai tumbuhan. Kalila merasa penasaran mengenai perbedaan kedua bunga tersebut.
Dimas melangkah bersama Kalila, menghampiri Kairav, Bu Alinah dan Nek Laila. Dimas meminta izin untuk membawa Kalila melihat bunga bangkai raksasa. Tidak semudah yang dibayangkan oleh Dimas. Kairav, Bu Alinah dan Nek Laila, ternyata ingin ikut melihat bunga langka itu.
“Emm ... begini ... nanti takutnya Bang Ibra tiba di sini dan berselisih jalan. Jadi sepertinya harus ada yang menunggu di sini.”
__ADS_1
“Memangnya Bang Ibra sudah mau sampai? Atau kita tunggu Bang Ibra saja, kemudian melihat bunga bangkai bersama-sama!” ucap Kalila dengan sangat bersemangat. Menyaksikan bunga langka dengan pria yang dikaguminya, pasti akan sangat menyenangkan.
“Sepertinya Bang Ibra tidak terlalu menyukai bunga itu. Kita juga sudah sering melihatnya, kau tau?”
Kalila mengangguk. Kini gadis itu membenarkan ucapan yang terlontar dari bibir Dimas. Laginya, itu hanya bunga bangkai. Bunga dengan aroma bangkai. Tidak mungkin ada romantisme tercipta di dekat bunga bangkai itu.
“Kalau begitu, aku saja yang ikut. Nenek dan mamak menunggu di sini,” ujar Kairav. Dimas menghela napas. Pria berusia 18 tahun itu bahkan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Susah sekali mengatur siasat untuk bisa berduaan dengan kau— Kalila.
Menghembuskan napas berat. Dimas melangkah mendekati Kairav. Pria itu terlihat membisikkan sesuatu pada Kairav. Entah apa yang mereka bicarakan hingga Kairav menatap tajam Dimas.
“Ayolah Bang ... Mungkin hanya sekitar 30 sampai 40 menit,” ucap Dimas pelan. Pria itu membujuk Kairav. Berharap dia mendapat kesempatan untuk bisa jalan berdua dengan Kalila.
Sebenarnya Kairav tidak masalah jika Dimas dan Kalila pergi berdua untuk melihat bunga bangkai itu. Tapi dia mengenal Khalid. Dia juga tau maksud Khalid untuk mendekatkan Kalila dengan Ibrahim. Kakak sulungnya itu pasti tidak akan suka jika Dimas terlihat dekat dengan Kalila. Dia pasti akan disalahkan. Karena bagi Khalid, Ibrahim adalah sosok lelaki sempurna untuk Kalila.
“Yuk jalan,” ucap Kairav kemudian. Dimas melengos. Dia benar-benar merasa kecewa karena tidak bisa berduaan dengan sang pujaan hati.
Jika kemarin saat Khalid menyeritakan mengenai Ibrahim, Kairav mengingatkan Kalila mengenai sosok Dani— kekasih Kalila di Medan. Namun ketika melihat sikap Dimas terhadap Kalila saat ini, rasanya Kairav ingin sekali meminta Kalila untuk memutuskan saja hubungannya dengan Dani, dan menjalin hubungan dengan Dimas.
Kini kedua abang-beradik itu berseberangan. Khalid memilih Ibrahim, sedangkan Kairav memilih Dimas.
Namun mereka berdua terlupa, jika Kalila lah yang berhak menentukan garis hidupnya.
***
Kairav, Kalila dan Dimas, berjalan beriringan, setelah berpamitan dengan Bu Alinah dan Nek Laila. Pupus sudah semua rencana Dimas menyusuri Kebun botani itu bersama Kalila.
“Kampus kalian dekat dari sini, pasti sering ke sini dong, Bro?”
“Iya Bang.”
__ADS_1
“Kau memang tinggal di Bogor, Bro?”
“Iya Bang.”
Dimas terus menjawab dengan lesu hingga membuat Kairav terkikik dalam hati. Kairav sudah tau, Dimas tengah menahan kesal. Setelah berjalan selama sepuluh menit, Kairav pun menjalankan ide yang sudah dipikirkannya sejak tadi.
“Kalian berdua saja melihat bunga bangkai itu.”
Ucapan Kairav menghentikan langkah Kalila dan Dimas. Wajah Dimas kembali sumringah. Akhirnya dia mendapatkan apa yang diinginkan olehnya. Menyusuri taman botani itu berdua— bersama Kalila.
“Abang mau ke mana?”
“Perut Abang melilit, nih. Apa kau mau menunggu Abang setoran lebih dulu?” tanya Kairav sembari menyeringai. Kalila memutar bola matanya.
“Trus kita berdua harus berdiri di depan toilet, begitu? Ogah!”
Kairav dan Dimas terkikik mendengar ungkapan Kalila. Terlebih melihat ekspresi kesal gadis itu.
Kalila berbalik arah dan melangkahkan kakinya menjauh dari Kairav. Gadis itu benar-benar tidak mau terjebak di depan toilet bersama Dimas.
“Jangan macam-macam!” ucap Kairav memperingati. Bibir Dimas melengkung sempurna. Pria yang kini memakai jaket hoodie berwarna Navy itu mengangkat kedua jempolnya dan memamerkannya kepada Kairav.
“Kalau nyasar hubungin aku Bang,” pesannya pada Kairav. Dimas pun berlari kecil menghampiri Kalila. Kini lelaki itu bisa sepuas hati menatap wajah Kalila tanpa harus merasa canggung kepada pengawal gadis itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....
__ADS_1