Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 93


__ADS_3

“Bagaimana jika itu bukan sebuah candaan? Bagaimana jika itu adalah sebuah harapan?”


Kalila membalikkan badannya hingga kini berhadapan dengan Feni. “Maksud kau?”


“Bagaimana jika Bang Dimas dan ibunya, benar-benar mengharapkan kau menjadi istrinya Bang Dimas?” tanya Feni.


Dahi Kalila berkerut, “maksud kau, bunda Ghita benar-benar menginginkan aku menjadi calon menantunya?” tanya Kalila. Gadis itu kemudian terkekeh, “Fen ... Bunda Ghita itu baru bertemu denganku. Bagaimana mungkin Bunda langsung menginginkan aku menjadi menantunya. Bunda saja belum tau sifat dan tingkahku,” jelas Kalila masih sambil tertawa pelan.


“Apanya yang tidak mungkin. Bisa saja ibunya Bang Dimas menginginkan kau menjadi menantunya, karena dia melihat Bang Dimas begitu mencintai kau!”


Kali ini Kalila benar-benar tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataan Feni. “Ngawur!” pekik Kalila.


Gadis itu langsung meninggalkan Feni begitu saja. Kalila pun kembali melangkah menuju ruang tamu. Sementara Feni menggelengkan kepalanya, menatap punggung Kalila yang perlahan menjauh, meninggalkannya sendirian di dapur.


“Semua orang yang melihat, sudah pasti tau jika Bang Dimas mencintai kau, Lila. Kau saja yang terlalu bodoh untuk menyadarinya!”


Menghela napas kasar, Feni pun mengikuti langkah Kalila. Kembali ke ruang tamu dan bercengkrama dengan para tamunya.


***


“Ini kaos baru beli?” tanya Khalid. Feni menggelengkan kepalanya, “oleh-oleh dari Dimas. Tadi dia ke sini sama ibunya loh, Bang!” ucap Feni antusias. Sementara Khalid, terlihat malas menanggapi jika itu mengenai Dimas. Entah mengapa, melihat kedekatan antara Dimas dan Kalila, membuat pria itu hilang respek terhadap Dimas.


Khalid malah menganggap ketidakberhasilan Kalila masuk universitas negeri, gagalnya Kalila lulus kuliah tepat waktu, semuanya karena Dimas. Karena Dimas terlalu sering menghubungi Kalila, hingga jam belajar adik kesayangannya berkurang.


Padahal bagi Kalila, panggilan video yang dilakukannya setiap malam bersama Dimas, membuat gadis itu melupakan penatnya. Membuat Kalila selalu merasa terhibur, bahkan hanya dengan mendengar suara Dimas.


“Ayo pakai!” titah Feni. Sebenarnya Khalid malas memakai pakaian yang dibelikan oleh Dimas. Namun, pria itu terpaksa menyetujui keinginan istrinya.


Dan kini, Khalid, Feni dan Nissa sudah memakai kaos yang sama. Kaos yang bertuliskan Singapore, lengkap dengan gambar patung Merlion yang merupakan ikon negara singa tersebut.


Setelahnya, Feni meminta Kalila untuk memotret keluarga kecilnya— Khalid, Nissa dan dirinya— yang kini memakai kaos yang seragam.


Feni segera memasang potret keluarga kecilnya itu, di seluruh akun media sosialnya dengan caption 'Terima kasih Om Dimas.' Dimas yang melihat potret keluarga kecil itu, tersenyum sumringah.


Pria itu merasa sangat senang, karena pemberian darinya langsung dipakai. Terlebih oleh Khalid. Dimas sadar betul, jika kakak sulungnya Kalila itu tidak terlalu menyukai dirinya. Melihat Khalid tersenyum dan memakai kaos pemberiannya, tentu saja Dimas sangat senang.


***

__ADS_1


Tadi malam, Kalila dan Dimas tidak melakukan panggilan video seperti biasanya. Mungkin, kebiasaan itu akan mereka ubah. Karena sekarang, mereka sudah tinggal di kota yang sama. Apa lagi mereka akan bekerja di gedung yang sama, bahkan divisi yang sama.


Malam itu, sepulang dari kediaman Kalila, Dimas menghabiskan waktu hingga larut malam dengan ibu kandungnya dan juga wanita paruh baya yang sudah mengasuhnya sejak kecil. Wanita yang sudah menemani Bu Ghita dan juga Dimas, sejak ibunya Dimas keluar dari kediaman keluarga Adi Putra.


Dan pagi ini, sebagai ganti dari panggilan video tadi malam, Dimas menjemput Kalila dan mengantarkan gadis itu di hari terakhirnya bekerja di sekolah taman kanak-kanak itu. Dan lebih dari sekedar mengantar, Dimas akan menunggui gadis itu hingga jam kerjanya usai.


“Kau hari ini cantik sekali, calon makmumku,” ujar Dimas yang tengah duduk pada sofa yang terdapat di teras rumah Kalila. Di puji seperti itu, Kalila lantas menyibakkan rambutnya ke belakang dan mengangkat dagunya, seolah menunjukkan kesombongan karena dirinya teramat cantik.


“Sudah sarapan belum Bang Dim?”


“Sudah, yuk berangkat,” ajak Dimas. Kalila dan Dimas pun melangkah menuju mobil, setelah berpamitan kepada Feni dan Nissa yang sebenarnya ingin ikut dengan sepasang muda-mudi itu.


“Kapan-kapan kita harus mengajak Nissa berkeliling. Kasihan nangis begitu,” ucap Dimas yang kini sudah berada di balik kemudi. Kalila menganggukkan kepalanya. Rasa-rasanya akhir pekan ini, hal itu bisa diwujudkan.


Kini Dimas melajukan kendaraannya, membelah jalanan kota Bogor yang sedikit mendung pagi ini. Dimas menekan salah satu tombol di mobilnya, hingga kini terdengar sebuah lagu.


“Eh ... lagu ini!” pekik Kalila.


Dima mengangguk, “Lagu untuk persahabatan dari The Rain.”


Seketika gadis itu teringat perjalanannya berdua bersama Dimas, saat menyusuri kota Medan, sehabis mengantarkan Ibrahim ke Bandar Udara Internasional Kualanamu. Dimas tersenyum menatap gadis yang matanya tengah berbinar kini. Dimas memang sengaja memutar lagu ini, untuk mengenang hari pertama dirinya jalan berdua dengan Kalila. Kala itu Dimas benar-benar merasa bahagia. Bernyanyi bersama sembari duduk di mobil yang hanya ada mereka berdua, makan siang, nonton film ke bioskop, bermain di pusat permainan. Benar-benar satu harian bersama Kalila.


^^^Hidup tak lagi terasa sepi^^^


^^^Malam pun tak lagi terasa sunyi^^^


^^^Ketika ada teman yang peduli^^^


^^^Dan mau untuk berbagi^^^


^^^Kesedihan pun berganti tawa^^^


^^^Kebimbangan pun terhapus sirna, oh^^^


^^^Jikalau ada sahabat setia^^^


^^^Yang mampu sembuhkan luka^^^

__ADS_1


^^^Tiada yang abadi di dunia^^^


^^^Tiada yang kekal selamanya, wo-wo^^^


^^^Coba dengarkan petuah^^^


^^^Dari mereka semua^^^


^^^Kita hidup di dunia hanya sementara^^^


^^^Dan takkan ada yang sanggup^^^


^^^Untuk tetap bertahan^^^


^^^Kecuali cinta dan persahabatan^^^


^^^Let's go!^^^


Berulang-ulang lagu itu diputar, sejak kendaraan ini baru saja melaju hingga kini tiba di yayasan tempat Kalila bekerja.


“Bang Dim, benar-benar ingin menunggu hingga Lila selesai mengajar?” tanya gadis itu. Sebenarnya Kalila merasa terkejut, ketika tadi malam, Dimas mengirimkan pesan akan menunggu dirinya hingga selesai bekerja.


“Sejak kau diterima bekerja di yayasan ini, dan diperbolehkan mengajar sesekali, aku selalu ingin melihat kau mengajar,” ungkap Dimas.


“Aku akan merekam aksi kau saat mengajar selama tiga jam. Apa kau tidak ingin, melihat penampilan kau sendiri?” Kalila mendadak antusias. Sebenarnya dia juga ingin melihat aksinya, bahkan Kalila ingin memerlihatkan penampilannya saat mengajar, kepada Bu Alinah. Agar ibunya tau, jika Kalila bisa menjadi guru yang baik.


Dan hari itu, Dimas berada di kelas bersama Kalila dan juga para murid taman kanak-kanak. Pria itu benar-benar berada di sana dan merekam suasana kelas itu, hingga jam mengajar Kalila selesai.


Ketika Kalila selesai mengajar, gadis itu berjalan beriringan bersama Dimas, menuju ruang tata usaha. Dan ternyata teman-teman Kalila sudah berkumpul di meja gadis itu, sembari menyantap pizza. Bahkan di ruang guru juga telah tersedia tiga kota pizza.


“Kalila, terima kasih traktirannya,” ucap rekan-rekan kerja Kalila. Gadis itu menoleh ke samping, menatap Dimas yang sudah tersenyum lembut padanya.


“Terima kasih Bang Dim.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......

__ADS_1


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2