
DIMAS ADI PUTRA POINT OF VIEW
Malam ini aku akan menjaga Kalila, menginap di salah satu kamar VIP RS. Bogor Medical Center. Kalila terlihat sedikit lebih kurus dari terakhir kali kami bertemu. Aku memutuskan untuk duduk di tepi ranjang, duduk berhadapan dengan gadis itu, setelah selesai menyuapinya.
“Bang Dim tidak akan pergi lagi kan?” tanya gadis itu.
Sepertinya dia takut kehilanganku. Saat ku tanya padanya, dia pun mengangguk. Tentu saja aku sangat senang karenanya. Ku belai wajahnya. Ku rapikan beberapa helai rambutnya, dan ku sampirkan ke belakang telinganya. Dia sungguh cantik, wajah sendunya bahkan tidak dapat menutupi kecantikannya.
Kalila, andai kau tau, betapa aku ingin menghabiskan seluruh sisa hidupku bersamamu. Bersama anak cucu kita.
“Apa kau mau bersamaku selamanya?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Namun, memang itulah isi hatiku. Aku tak akan menutupinya lagi. Seharusnya dia juga sudah mengetahuinya. Karena aku pernah mengatakan, jika hubungannya dengan Ibrahim tak berjalan sesuai rencananya, aku akan datang dan melamar dirinya.
Namun, aku sungguh tak menyangka, jika gadis itu menganggukkan kepalanya. Itu artinya, dia bersedia bersamaku selamanya.
langsung saja ku daratkan bibirku pada bibirnya yang mungil.
Lembut.
Itu yang pertama kali ku rasa. Aku diamkan sejenak bibirku di sana. Aku ingin melihat reaksinya lebih dulu. Namun Kalila hanya diam membeku.
Tak ada penolakan.
Ku lanjutkan aksiku mengulum bibir ranumnya. ku berikan hisapan-hisapan kecil di sana, bergantian atas dan bawah. Ku cengkram tengkuknya agar gadis itu tak dapat berkutik. Aku lantas memperdalam ciumanku.
Ku rasakan tubuh Kalila tak lagi tegang seperti tadi. Sepertinya dia membiarkanku untuk menyesapi bibirnya. Kalila bahkan menutup matanya.
Walaupun Kalila sama sekali tak membalas ciumanku, tapi dia juga tak menolaknya. Mendapatkan lampu hijau dari Kalila, tentu saja aku semakin bersemangat. Sudah lama aku mendamba bibir gadis itu. Kali ini, tak akan ku biarkan kau lolos begitu saja, Kalila.
Ku gigit bibir mungil itu, hingga mulut Kalila sedikit terbuka. Ku lesakkan Lidahku melewati bibirnya yang terbuka, lalu ku sapu rongga mulut gadis itu.
Gadis itu terlihat membelalakkan mata, saat lidahku menari-nari di dalam rongga mulutnya.
Mungkin dia terkejut dengan aksi lidahku di dalam sana. Namun, aku tak akan menghentikan aksiku itu. Ku ajak lidahnya untuk turut menari bersama, tapi sepertinya Kalila kurang nyaman dengan hal itu. Aku pun hendak menghentikan aksiku itu.
Ku lahap kedua bibir Kalila, lalu menghisapnya kuat, kemudian baru ku lepaskan pagutanku walau dengan rasa tak rela.
Ku tatap wajahnya yang merah serta dirinya yang terengah-engah. Ah ... baru saja terlepas, namun aku menginginkannya lagi. Tapi ku urungkan dulu niat ku itu. aku tak mau gadis itu merasa tak nyaman. Walau bagaimanapun, ini pertemuan pertama kami setelah hampir tiga Minggu tak berkomunikasi.
Aku pun mengarahkan ibu jari, kemudian mengusap bibirnya yang terlihat membengkak karena perbuatanku.
“Your first kiss, right?”
Kalila sama sekali tidak bisa bersuara. Gadis itu hanya mengangguk pelan.
__ADS_1
Aku tentu saja sangat tau jika itu ciuman pertamanya. Dirinya pernah bercerita, jika ciuman pertamanya akan dia serahkan kepada pria yang menjadi suaminya kelak.
Dan kini, aku telah merebutnya. Tentu saja aku tidak merebutnya secara paksa.
Bukankah dia juga membiarkannya?
Kalila bahkan menutup matanya. Aku pikir, Gadis itu juga menikmatinya.
“Aku akan bertanggung jawab atas ciuman pertama kau itu.”
Kalila tertegun mendengar ucapanku, bahkan mulutnya sedikit menganga.
“Besok, aku akan mengajak keluargaku untuk melamar kau.”
Aku tau jika dia tak begitu memercayainya. Ya, biarkan saja. Besok dia akan menyaksikannya, kalau aku akan melamarnya. Aku sudah meminta Bang Rav untuk datang bersama Mamak dan Bang Alid besok pagi. Aku hanya memberitahukan kepada bang Rav mengenai hal itu. Dan ku harap, esok semuanya akan berjalan lancar.
***
Kalila Nasution Point of View
Aku sangat terkejut ketika Bang Dim mendaratkan bibirnya di atas bibirku. Tubuhku mendadak tegang. Jantungku bertalu-talu. Aku tak tau harus berbuat apa. Sebenarnya aku ingin mendorong tubuh Bang Dim, agar bibirnya tak lagi menempel pada bibirku.
Tapi aku takut. Aku takut jika Bang Dim kembali meninggalkanku. Ku biarkan saja bibir kami menempel. Toh itu hanya sekedar menempel.
Ah .. seperti ini rasa berciuman.
Lembut, berirama, membuat diri ini terasa berbunga. Sungguh memabukkan.
Lambat laun, hisapan itu semakin menuntut. Bahkan Bang Dim mengigit bibirku.
Dan hal yang tidak ku sangka adalah, lidah Bang Dim menerobos masuk, dan bergerilya di dalam rongga mulutku, bahkan membelit lidahku.
Sepertinya ada ratusan kupu-kupu di atas perutku saat itu. Rasanya aku ingin mendekap erat tubuh pria yang ku rindukan ini. Namun, tiba-tiba dia menghentikan aksinya. Lalu dia bertanya, apakah itu adalah ciuman pertamaku?
Ku rasa dia telah lupa dengan apa yang aku sampaikan padanya dulu. Jika aku tidak akan pernah berciuman dengan pria manapun, sebelum pria itu menjadi suamiku.
Tapi hal yang diucapkannya kemudian, membuatku sangat terkejut.
Aku terperangah.
Sedikit tidak percaya dengan ucapannya.
Apakah Bang Dimas benar-benar ingin menikah denganku?
Atau ini hanya leluconnya saja?
__ADS_1
Aku tak tau pasti.
Bang Dim lantas mengambil obat dan menyuruhku untuk meminumnya. Terbaru saja aku menurutinya.
Tiba-tiba lampu kamar padam, dan hanya menyisakan lampu tidur. “Kau istirahatlah. Besok, persiapkan dirimu. Keluargaku akan datang melamar,” bisiknya di telingaku.
Pria itu berbalik dan memunggungi ku. Namun, saat dia hendak melangkah, ku raih jemarinya dan menggenggamnya erat.
“Bang Dim tidak akan meninggalkan Lila kan?”
Dia tersenyum dan kembali mendekat padaku. “Aku akan tidur di sofa itu,” ucapnya sembari menunjuk sofa bed yang ada di ruangan itu.
“Aku tidak akan meninggalkan kau. Apa kau tidak percaya?”
Aku menggelengkan kepalaku. Bukannya tak percaya padanya. Tapi, aku benar-benar sangat takut, jika aku terlelap nanti, pria itu akan meninggalkan aku.
“Kau mau aku tidur di sini? Di ranjang yang sama dengan kau?”
Entah setan apa yang bersarang di kepalaku, aku pun mengangguk. Toh aku juga sedang sakit dan ada jarum infus yang tertancap di lenganku. Sudah pasti tidak akan terjadi apa-apa. Begitulah pikirku.
Bang Dimas pun beringsut naik. Dirinya duduk di sampingku dengan berselonjor kaki. Bang Dimas mengelus-elus puncak kepalaku, “kau tidurlah,” perintahnya.
Namun aku tidak akan bisa terlelap jika terus khawatir akan dirinya yang akan pergi.
“Bang Dim berbaring saja, tidak apa-apa kok.”
Lagi-lagi aku tak tau punya keberanian dari mana, hingga bisa meminta seorang pria tidur bersamaku.
Bang Dim membaringkan tubuhnya. Aku pun memejamkan mata dan menunggu diri ini terlelap.
Namun, sebelum aku sempat terlelap, hembusan napas pria itu pada leherku, membuatku bergidik. Bukan hanya hembusan napas saja, namun sapuan bibirnya di ceruk leherku, membuat tubuh ini meremang.
Bibir itu bahkan kini mendarat dengan mulus di bibirku. Tidak ada hisapan lembut lebih dulu, karena Bang Dim langsung meraup bibirku dengan rakus. Tangan pria itu bahkan sudah berada di balik kaosku dan mengusap lembut perutku.
Jika tadi perutku seperti dihinggapi ratusan kupu-kupu, kini rasanya ada jutaan kupu-kupu menari di atas perutku.
Ini gila. Benar-benar gila.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...
__ADS_1