Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 134


__ADS_3

Dimas mengambil hairdryer dari tangan Kalila yang tengah duduk di depan meja rias. Senyum Kalila terus terkembang, saat menatap Dimas, yang dengan telaten mengeringkan rambutnya.


Tak pernah disangkanya jika Dimas begitu romantis. Kalila berucap syukur karena persahabatan mereka berakhir di pelaminan. Kalila merasa beruntung menjadi istri seorang Dimas Adi Putra.


“Sudah kering, Nyonya,” ucap Dimas.


“Terima kasih, Bang,” ucap Kalila dengan senyum terkembang. Kedua pasang mata suami-istri itu kini saling menatap dari balik cermin. Dimas pun membalas senyuman yang dilemparkan oleh istrinya itu.


Kalila menengadahkan kepalanya menatap Dimas. “Bang ....”


“Iya sayang,” jawab Dimas.


Namun Kalila tidak meneruskan ucapannya, hingga Dimas sedikit membungkukkan badannya, lalu mengalungkan tangan melingkari leher Kalila.


“Kenapa hah? Kau mau lagi?” goda Dimas, seraya mendaratkan sebuah kecupan lembut pada pipi wanitanya.


Kesal dengan ucapan sang suami, Kalila melepaskan tangan Dimas dari lehernya. Wanita itu berjalan menjauh. Menghempaskan tubuhnya pada sofa, Kalila menyalakan televisi.


Dimas berlari kecil menghampiri istrinya. Duduk di samping Kalila, Dimas langsung merebahkan kepalanya di atas paha istrinya itu. Kalila tak memedulikan pria itu. Dirinya sibuk menekan-nekan tombol remote, mencari acara televisi yang mungkin akan disukainya.


Sementara Dimas, sibuk memandangi wajah Kalila dari bawah. Wajah pria itu sumringah. Tidur di pangkuan wanita yang sangat dicintainya, Dimas merasa nasibnya sangat mujur. Pria itu pikir, selamanya dia hanya akan menjadi sahabat Kalila. Dimas bahkan sempat berpikir untuk membantu Kalila agar kembali dekat dengan Ibrahim— sepupunya.


Sejak dulu, sejak dirinya mengenal Kalila, kebahagian wanita itu adalah prioritas bagi seorang Dimas Adi Putra. Jika kebahagiaan Kalila didapat dengan menjadi pasangan Ibrahim, Dimas pun rela mengorbankan perasaannya.


Tapi siapa yang menyangka, kini dirinya bisa berbaring di pangkuan wanita itu, bahkan mereka mereguk manisnya cinta bersama.


Hari ini benar-benar hari yang membahagiakan buat Dimas. Karena pria itu, sudah memiliki Kalila seutuhnya.


“Sayang ... Mau gak?”


Kalila berdecak kesal mendengar ucapan Dimas. Wanita itu tak menyangka jika Dimas selalu berpikiran mesum. Walau sebenarnya, dirinya juga menyukai aksi pria itu. Ralat. Bukan hanya menyukai, Kalila bahkan menggilai aksi Dimas. Pria itu benar-benar membuat Kalila dimabuk kepayang.


“Sayaaang ...,” rengek Dimas. Pria itu bahkan menggesek-gesek wajahnya di perut Kalila, hingga wanita itu merasa geli.


“Apa sih, Bang Dim?!” ketus Kalila, sembari mendorong wajah suaminya.


“Ini tuh masih perih, tau gak sih?! Lagian, Bang Dim memangnya tidak lelah apa?!”


Dimas menegakkan badannya. Pria itu bahkan mencubit gemas kedua pipi Kalila. “Kau ini, kenapa pikirannya ke situ terus sih?

__ADS_1


Jangan-jangan ... Kau yang menginginkannya ya?” goda Dimas.


Melihat wajah kesal Kalila, Dimas menahan tawanya. Pria itu menyeret langkahnya menjauh dari Kalila.


Tak berapa lama, pria itu pun kembali dengan membawa sesuatu di tangannya. Dimas lantas menyerahkan kotak persegi panjang yang dibawanya tadi, kepada Kalila.


Kalila menatap kotak itu dengan heran, “apa ini Bang?” tanya Kalila.


“Aku tadi mau memberikan ini untuk kau. Dari tadi aku tanya, kau mau atau tidak? Maksudnya ya tentang hadiah ini. Kau ini berpikirnya ke situuu terus,” ucap Dimas sambil menahan tawanya.


Kalila tak mengindahkan ucapan Dimas. Wanita itu berfokus pada kotak yang kini ada di hadapannya.


“Bukalah kalau kau begitu penasaran,” perintah Dimas. Gegas Kalila membuka kotak itu. Ada dua buah kartu berwarna hitam gold dan tumpukan kertas di bawah kedua kartu itu.


“Kartu kredit ya Bang atau kartu debit?!” tanya gadis itu antusias. Dimas mengerutkan dahinya.


“Kau lihat dulu kartu itu. Memangnya ada nama bank, tertera di sana?”


Sesuai instruksi Dimas, Kalila pun mengambil, lalu mengamati kartu itu. Wanita itu sama sekali tak mengerti walaupun sudah membolak-balik kartu itu berkali-kali.


“Kartu buat apa sih ini Bang?”


Tak mau menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Kalila, Dimas malah meminta wanita itu untuk membaca tumpukan kertas yang ada di sana.


“Bang Dim membeli sebuah kamar apartemen?!” Dimas mengangguk sembari tersenyum lembut pada wanita itu.


“Dan itu atas nama kau,” ucap Dimas kemudian. “Besok, sepulang dari sini, kita akan langsung ke sana dan menempatinya,” lanjut Dimas. Lagi-lagi Kalila membelalakkan matanya, bahkan kali ini mulutnya ikut menganga.


“Kita tidak tinggal bersama bunda dan ibu?”


Dimas menggelengkan kepalanya, “Kita akan hidup mandiri Kalila. Berdua saja. Hanya kau dan aku.”


Kalila tak menyangka. Dimas juga tidak pernah memberitahu padanya, jika sudah membeli sebuah ruang apartemen. Karena Kalila berpikir, jika mereka akan tinggal bersama kedua ibu Dimas— Bu Ghita dan Bu Asih.


“Apartemen itu dekat dengan butik bunda. Dekat juga dengan kantor kau. Jadi kau tidak terlalu lelah karena tinggal terlalu jauh dari kantor,” jelas Dimas.


Kalila mengangguk cepat. Dimas pun merentangkan tangan, Kalila dengan senang hati memeluk pria itu.


“Tapi, aku inginnya kau berhenti dari sana. Aku ingin kau membantuku mendirikan perusahaan mikikku sendiri.”

__ADS_1


“Lila tidak enak, Bang. Lila bahkan belum satu tahun bekerja di sana. Lila juga ingin mengembangkan karir Lila. Lila ingin seperti Mamak yang menjadi wanita karir,” jelas Kalila.


“Kau yakin, jika alasan kau hanya itu? Tidak ada alasan lain?”


“Alasan lain?“ Dimas menganggukkan kepalanya. “Siapa tau karena kau masih ingin melihat seseorang di sana?”


Dahi Kalila mengerut. Awalnya wanita itu tak mengerti apa yang dimaksud oleh suaminya. Tapi tiba-tiba Kalila mengerti. Dimas tengah cemburu sekarang. Wanita itu melepaskan dirinya dari dekapan Dimas.


“Maksud Bang Dim, Bang Ibra?” Tidak menjawab pertanyaan Kalila, pria itu hanya mengangkat kedua alisnya bersamaan, untuk menjelaskan bahwa yang dimaksud Kalila, benar adanya.


“Alasan Lila hanya itu Bang. Terserah Bang Dim mau percaya atau tidak.”


Dimas mengembuskan napas perlahan. Ada gejolak dalam dadanya. Pria itu tak sepenuhnya percaya jika Kalila benar-benar sudah melupakan Ibrahim.


“Baiklah kalau itu yang kau inginkan. Aku tidak bisa memaksa. Aku hanya ingin kau bahagia, Kalila. Apapun itu, akan aku lakukan.” Kalila yang tadi menekuk wajahnya, kini mendadak sumringah mendengar ucapan Dimas. Wanita itu pun menghambur ke pelukan suaminya.


“Terima kasih Bang Dim.”


“Jangan hanya berterima kasih melalui kata-kata saja. Mulai sekarang, kalau kau ingin berterima kasih, harus dengan perbuatan.”


Kalila menengadahkan kepalanya, menatap Dimas, “Berterima kasih dengan perbuatan?” Dimas mengangguk, pria itu kemudian menepuk-nepuk pelan bibinya dengan dua jari. Kalila pun mengerti maksud Dimas.


Gegas Kalila menarik kerah baju Dimas, dan menempelkan bibirnya ke bibir pria itu. Kalila langsung menyesapinya. Dimas tentu saja langsung melahapnya. Kecupan-kecupan kecil itu dengan cepat menjadi hisapan.


Saling memagut dengan penuh gai*rah, Kalila tanpa sadar sudah berpindah. Wanita itu kini duduk di atas pangkuan Dimas. Tangan pria itu bahkan sudah berada di balik piyama yang dikenakan Kalila.


Saling bertukar saliva, pertahanan Kalila hampir runtuh. Beruntung terdengar suara bel. Jika tidak, Kalila pasti menuntut Dimas untuk memuaskannya lagi.


“Sepertinya makanan pesanan kita sudah datang,” ucap Dimas dengan napas yang masih terengah-engah. Kalila hanya bisa mengangguk samar.


Dimas bergegas membuka pintu dan membawa masuk pesanan mereka.


Sepasang pengantin baru itupun menyantap makan siang mereka di sore hari. Karena pertarungan dua ronde itu, membuat mereka melupakan apapun, termasuk makan.


Siang itu, Kalila dan Dimas, makan dengan sangat lahap. Seolah mereka hendak mengumpulkan tenaga untuk pergumulan malam nanti.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......

__ADS_1


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2