
“Aku hanya ingin, Kalila mendapatkan yang terbaik. Bukannya aku tak merestui hubungan kalian. Aku sudah pasrah mengenai jodoh Lila. Aku juga lihat, jika Lila sudah mulai mencintai kau. Aku bisa apa selain merestuinya.
Aku hanya ingin ... calon suami Kalila kelak, menjadikannya bagai ratu. Lila tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Sejak kecil, dia hanya memiliki aku dan Rav. Aku ingin, calon suaminya kelak, benar-benar membuatnya seperti ratu. Aku ingin, di hari bahagianya, semua wanita iri padanya. Karena dia mendapatkan pangeran yang benar-benar memberikan dunianya untuk Kalila.”
Khalid mengusap sudut matanya. Pria itu sudah tak bisa menahan rasa haru yang menyeruak dalam dadanya.
Sementara Dimas, pria itu tertegun menyaksikan Khalid yang tengah menyeka air mata. Khalid yang selama ini terlihat arogan, kini meneteskan air mata hanya karena membicarakan Kalila.
“Aku tak peduli, jika semua orang membenciku. Aku hanya ingin memastikan, Kalila mendapatkan yang terbaik!” tegas Khalid.
“Dimas berjanji akan menjadi suami yang baik, Bang. Dimas akan meletakkan kebahagiaan Kalila di atas apapun.”
Khalid terlihat mengangguk-angguk kepala mendengar celoteh Dimas. Pria itu benar-benar berharap Kalila mendapatkan hidup yang sangat layak setelah lepas dari tangannya. Karena, setelah Dimas mengucapkan janji suci pernikahan kepada adik kesayangannya itu, lepas sudah tanggung jawab Khalid atas Kalila. Pria itu sama sekali tak berhak lagi atas hidup adiknya.
“Kau tau sendiri kan, jika kau bukanlah pria yang aku harapkan sebagai pendamping Kalila?”
Dimas menganggukkan kepalanya. Dia juga tau dengan pasti, siapa yang diharapkan oleh Khalid untuk menjadi pendamping Kalila. Pria itu adalah Ibrahim Adi Putra— sepupunya.
“Satu kali ...satu kali saja air mata Kalila jatuh karena perbuatan kau, akan aku bawa pulang adikku itu!” ancam Khalid.
“Iya Bang. Sejak dulu, senyum Kalila adalah prioritas buatku. Dan selamanya akan terus begitu,” janji Dimas.
“Aku pegang kata-kata kau! Aku akan berusaha percaya, jika kau akan menjadi suami yang baik untuk adikku.”
Bibir Dimas mengembang. “Abang bisa pegang ucapanku. Terima kasih karena Bang Alid telah memberikan restu.” Khalid menganggukkan kepalanya.
Sembari menikmati kopi pesanan mereka masing-masing, Khalid bercerita tentang masa kecil Kalila. Bagaimana semua orang begitu memanjakan Kalila, dan berharap Dimas akan memanjakan adiknya itu.
“Lila itu tidak bisa memasak. Tidak bisa semua pekerjaan rumah tangga, sebagaimana selayaknya wanita yang sudah menikah. Aku harap itu tidak akan menjadi masalah bagi hubungan kalian di kemudian hari.”
__ADS_1
“Aku tidak menuntut apapun dari Lila, Bang. Aku hanya ingin Kalila ada di sisiku, mendampingiku hingga tua,” ucap Dimas mantap.
Kembali Khalid menganggukkan kepalanya. Sekarang pria itu hanya bisa berdoa agar Dimas memegang setiap janji yang dilontarkannya. Hingga adiknya benar-benar memiliki keluarga kecil yang bahagia.
***
Hari-hari berlalu. Pekerjaan yang menumpuk, membawa Dimas kembali ke Pulau Dewata, dua hari setelah pertemuannya dengan Khalid. Pria itu terpaksa kembali menjalani hubungan jarak jauh dengan Kalila.
Panggilan video setiap malam lah yang menjadi obat rindu bagi dua sejoli itu.
Kalila juga menjalani hari-harinya seperti biasa. Senin hingga Jumat, pagi hingga petang, adalah waktu yang dihabiskan gadis itu untuk bekerja.
Sebenarnya, Dimas tidak ingin melihat Kalila masih bekerja di sana. Di perusahaan yang sama dengan Ibrahim. Karena Dimas merasa takut jika Kalila akan kembali terpikat pada Ibrahim. Dimas bahkan tidak ingin Ibrahim dan Kalila saling bertegur sapa. Dimas selalu merasa was-was setiap kali Kalila menyampaikan pesan, jika gadis itu sudah tiba di kantor.
Namun, Dimas berusaha menepis semua keraguannya terhadap Kalila. Dimas tidak mau menghambat karir gadis itu.
Dan kekhawatiran Dimas memang tidak pernah terbukti. Pasalnya, Kalila tidak pernah sekalipun bertemu dengan Ibrahim.
Padahal, sehari setelah pertunangan Ibrahim dengan Anneke, Kalila berkunjung ke ruangan pria itu untuk mengucapkan selamat secara langsung. Kalila juga meminta maaf, karena tidak bisa hadir di acara pertunangan Ibrahim dan Anneke.
Saat itu, Ibrahim hanya mengulas senyum tipis dan memandang Kalila dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
***
Ibrahim Adi Putra Point of View
Dua hari setelah acara pertunanganku dengan Anneke, Kalila datang menghampiri. Dengan tersenyum sumringah gadis itu memberikan ucapan selamat atas pertunanganku.
Aku bingung, mengapa Kalila bisa tersenyum seperti itu? Bukankah Kalila tidak sadarkan diri saat mendengar berita pertunangan antara aku dan Anneke? Apakah dia sudah bisa dengan ikhlas melepaskanku? Apa dia hanya berpura-pura merasa tegar? Ataukah ... Benar apa yang diucapkan oleh Papi, jika Kalila akan segera bertunangan dengan Dimas? Semudah itukah dia beralih?
__ADS_1
Aku hanya mengucapkan terima kasih dan tersenyum untuk membalas ucapan selamat yang dilontarkannya.
“Maaf ya Bang, Lila tidak bisa hadir di acara pertunangan kalian. Sebenarnya Lila ingin hadir, hanya saja situasi tidak memungkinkan,” ucap Kalila.
Lagi, aku hanya tersenyum dan mengangguk, “tidak masalah,” jawabku singkat. Gadis itu pun berlalu.
Dan beberapa Minggu setelahnya, Dimas benar-benar melamar Kalila. Entah mengapa aku tidak menyukai berita ini, ada bagian dari diri ini yang tak rela jika Kalila dimiliki oleh pria lain. Terlebih itu adalah Dimas.
Aku yakin, Kalila hanya menganggap Dimas sebagai pelarian cinta, karena diriku akan segera menikah dengan Anneke.
Hingga pada hari pernikahanku dengan Anneke, gadis itu berjalan beriringan bahkan dengan jari yang saling menggenggam.
Tapi biarlah, sekarang aku sudah didampingi oleh wanita yang lebih cantik dan lebih segala-galanya dari Kalila. Walau harus aku akui, ada sudut hati ini yang berdenyut ketika menyaksikan kemesraan Kalila dengan Dimas.
Sehari setelah resepsi pernikahan, aku dan Anneke bertolak ke Negeri Singa. Kami menikmati bulan madu, sembari berkumpul dengan beberapa teman yang ikut menjadi bagian dalam seminar internasional beberapa tahun lalu. Sebuah seminar yang membuatku bertemu dengan Anneke.
Banyak dari teman-temanku yang merasa iri karena aku berhasil menikah dengan Anneke. Anneke benar-benar primadona. Karena penampilannya saat seminar internasional, benar-benar memukau.
Tentu saja aku merasa bangga bisa mendapatkan Anneke. Tidak salah jika aku lebih memilih Anneke dibandingkan Kalila. Aku akan pastikan, rumah tangga kami akan berjalan mulus. Seperti yang dikatakan oleh semua orang. Jika aku dan Anneke benar-benar pasangan serasi. Aku pun menyadari hal itu sejak awal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maaf ya semalam tidak Up 🙏
Maaf jg kalau banyak yang typo 🤭
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
__ADS_1
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...