Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 101


__ADS_3

“Halah ... Baru menang proyek kecil saja sudah bangga!” Dimas seketika tertunduk. Sementara Kalila dan Harry tercengang mendengar penuturan dari pemilik PT. Adi Putra Group. Kepercayaan diri Harry yang tadi begitu tinggi, seketika tergelincir. Harry yang tadinya memikirkan mengenai mendapatkan penghargaan, bonus bahkan kenaikan gaji, pikiran-pikiran itu seketika berganti dengan pemutusan hubungan kerja. Harry sangat takut jika dia akan dipecat dari pekerjaan yang membuat keluarganya bangga itu.


“Di sekolahkan sampai lulus magister di universitas terbaik di Singapura, tapi hanya mampu mengerjakan proyek kecil!” Lagi, kakeknya Dimas dan Ibrahim, angkat suara.


“Mereka kan karyawan baru Pi. Wajarlah kalau diberikan proyek kecil lebih dulu,” ucap Gilang. Ibrahim pun membenarkan ucapan ayahnya itu. Namun, Adi Putra, menarik bibir atasnya, melihat Dimas dengan tatapan merendahkan.


Kalila menangkap dengan jelas, gelagat dari pemilik PT. Adi Putra Group yang tak lain adalah kakek dari Dimas. Gadis itu pun menoleh, menatap Dimas dengan iba.


Apakah ini yang kau maksudkan waktu itu, bang Dim. Cucu yang tak dianggap. Pak Adi Putra benar terlihat sangat membenci Bang Dim.


Adi Putra melihat tatapan Kalila kepada Dimas. Pria paruh baya itu, kini menatap Kalila dengan tajam. Terlebih Kalila adalah seorang perempuan. Baru kali ini, ada staff perempuan di divisi desain dan perencanaan. Sejak perusahaan nya terbentuk, Adi Putra sengaja tidak menerima staff wanita di divisi itu. Karena jika staff wanita itu menikah, hamil dan melahirkan, divisi desain dan perencanaan akan pincang. Dan alasan yang terpenting, Adi Putra belum pernah bertemu calon staff wanita yang kompeten untuk divisi desain dan perencanaan.


Ibrahim melihat sang kakek menatap tajam Kalila. Perasaan Ibrahim sedikit tidak menentu. Pasalnya Ibrahim yang menerima Kalila saat itu. Ibrahim juga pasti akan merasa tidak enak hati dengan Khalid, jika sang kakek mencaci maki Kalila, seperti yang dilakukan kakeknya terhadap Dimas.


“Mana proposal mereka?!” ucap Adi Putra. Netra pria lanjut usia itu masih tidak lepas dari Kalila. Mendengar ucapan pemilik perusahaan tempat mereka bekerja, seketika Kalila mengalihkan pandangannya kepada pria lanjut usia itu. Sementara Dimas, masih tetap menunduk.


Indra yang tengah berdiri di samping meja kerja Ibrahim, segera mengambilkan apa yang diminta oleh orang tertinggi di perusahaan itu.


Adi Putra berdiri dari duduknya. Masih menatap tajam kepada satu-satunya gadis yang berada di sana. Kalila membalas tatapan itu. Kalila bingung, gadis itu sama sekali tidak merasa melakukan kesalahan, mengapa pemilik perusahaan itu menatapnya begitu tajam?

__ADS_1


Sementara itu, sudut bibir Adi Putra tertarik ke atas. “Bisa-bisanya gadis kecil ini begitu berani membalas tatapanku! Apa dia merasa kalau dirinya sudah hebat, karena menjadi wanita pertama di divisi desain dan perencanaan?!” gumam Adi Putra dalam hati.


“Kau, gadis kecil,” ucap Adi Putra sembari menunjuk tepat di hadapan Kalila. Kalila tertegun sejenak, “saya Pak?” tanya Kalila dengan sopan.


“Siapa lagi wanita di ruangan ini selain kau!” jawab Adi Putra. Pria lanjut usia itu lalu beralih menatap Dimas. “Atau orang di sebelah kiri kau itu, juga seorang wanita?” sindir Adi Putra. Kalila menoleh menatap Dimas yang masih saja menundukkan kepalanya. Hati Kalila merasa sakit melihat reaksi Dimas saat ini. Ucapan-ucapan yang keluar dari mulut pemilik perusahaan itu, benar-benar kejam.


Kalila kembali menatap Adi Putra, “nama saya Kalila, Pak. Kalila Nasution,” tegas Kalila. Adi Putra yang tengah menatap sinis kepada Dimas, kini kembali beralih kepada Kalila. Begitu juga dengan Dimas. Pria itu tidak lagi menunduk. Pandangannya kini sudah beralih pada Kalila.


“Kau, ikut dengan saya ke ruangan meeting. Jelaskan isi proposal yang kalian buat!” Adi Putra hendak melangkahkan kakinya, keluar dari ruangan itu. Namun Dimas dengan berani melangkahkan kakinya mendekati kakeknya. Dimas tidak mau, jika Kalila mendapatkan masalah dengan pria lanjut usia itu. Dimas tidak mau kakeknya mencari-cari kesalahan Kalila. Cukup dirinya sendiri yang menjadi korban kakeknya. Jangan Kalila. Gadis itu sudah terlalu lelah dengan target-target yang diberikan oleh Khalid sejak dulu, dimas tidak mau, jika sang kakek menambah beban Kalila.


“Biar saya saja yang menjelaskannya, Kek. Dimas pimpinan proyek ini.”


“Saya yang bertanggung jawab dengan proyek itu,” ucap Dimas. Pria itu benar-benar tidak mau membuat Kalila terperangkap bersama kakeknya. Dimas tau betul, jika kakeknya itu tidak menyukai Kalila. Dari cara pria lanjut usia itu menatap Kalila, dari tatapan matanya kepada Kalila. Dimas hapal betul perlakuan itu.


“Jadi kau merasa paling hebat, begitukah?! Hanya karena kau mendapatkan tender kecil itu, kau sudah menjadi sombong, hah!!”


“Bukan begitu Kek. Saya hanya ingin bertanggung jawab atas segala hal yang berkaitan dengan proyek itu,” jawab Dimas.


“Saya pemilik perusahaan ini. Lebih dari itu, saya yang mendirikan perusahaan ini. Jika saya meminta gadis kecil itu yang mempresentasikan proposal kalian, itu artinya harus dia. Mengerti!’

__ADS_1


“Tapi Kek—”


Ucapan Dimas terhenti ketika Kalila memegang lembut lengannya. Dimas menoleh, menatap gadis yang kini tengah tersenyum lembut padanya. “Tidak masalah, Bang. Lila bisa kok,” ucap gadis itu. Ada sedikit rasa tenang ketika Kalila menyentuh lengannya, dan berkata seperti itu. Terlebih senyuman Kalila, benar-benar membuat Dimas tenang. Namun, tidak bisa dipungkiri, jika Dimas masih merasa takut. Bukan karena takut Kalila tidak bisa mempresentasikan dengan baik proposal mereka. Dimas takut akan ucapan kasar yang diterima Kalila dari kakeknya.


Sementara itu, Adi Putra terkejut dengan panggilan yang disematkan Kalila kepada Dimas. “Bang?” tanya Adi Putra. Pria lanjut usia itu bingung, kenapa Kalila memanggil Dimas dengan sebutan Abang.


“Kalian terlihat akrab padahal baru satu bulan bekerja,” ucap Adi Putra. Pria itu menatap Kalila dan Dimas bergantian. Menatap sepasang muda-mudi itu dengan penuh kecurigaan.


“Kita sudah bersahabat hampir tujuh tahun, Pak,” jawab Kalila bangga. Gadis itu bahkan mengucapkannya dengan bibir yang terkembang. Melihat wajah Kalila yang begitu bangga mengucapkan jika Dimas adalah sahabatnya, Adi Putra kembali menyunggingkan sebuah senyuman sinis. Adi Putra mengira, Kalila merasa begitu bangga menjadi sahabat Dimas, karena pria itu memiliki nama besar Adi Putra di belakang namanya.


“Apakah ada nepotisme di sini?”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...

__ADS_1


__ADS_2