Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 156


__ADS_3

Kalila masih ingat betul, saat Anneke bercerita mengenai Ibrahim yang selalu membayangkan dirinya saat sepasang suami-istri itu tengah bergumul.


Masih membekas dalam ingatan Kalila, saat Ibrahim menatap dadanya yang basah.


Wanita itu trauma. Tak berani walau hanya sekedar berada di satu ruangan yang sama dengannya.


“Tidak apa, jika kau tak mau pergi ke sana. Aku paham, dengan apa yang kau rasakan,” ucap Dimas. Kalila yang tengah menyusui anak keduanya yang kini berusia satu tahun, hanya bisa tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada sang suami.


Sebenarnya Kalila merasa tak enak, jika tidak menghadiri pertemuan keluarga besar Adi Putra. Karena, mereka semua kini telah begitu akrab. Adi Putra bahkan beberapa kali berkunjung ke kediaman Kalila dan Dimas. Pria lanjut usia itu bahkan membelikan beberapa mainan untuk kedua anak Kalila.


Namun, rasa trauma itu sungguh mengganggunya. Terlebih saat ini Kalila masih menyusui. Dirinya tak mau, jika Ibrahim kembali menatap dadanya dengan mata nyalang.


Tapi, Kalila tidak bisa menolak, ketika Adi Putra secara langsung menghubunginya. Kalila pun bersiap diri.


“Sayang ... Kau tidak perlu memaksakan diri. Aku akan mencari alasan untuk kakek. Aku tak mau kalau kau merasa tak nyaman.”


Kalila menghela napas panjang, “aku tidak akan kalah dengan rasa takut ini, Bang. Aku harus mengatasinya. Tapi, nanti, jika orang itu menatap nakal padaku ... tolong bawa Lila keluar dari sana, ya Bang.”


Bukan hanya Kalila. Dimas pun sebenarnya merasa tak nyaman jika sang istri bertemu dengan sepupunya itu. Dimas menatap lekat Kalila. Pria itu pun mengangguk.


“Aku tidak akan biarkan siapapun menyakiti atau melecehkan istriku,” ucap Dimas.


Dan ... setelah berkendara selama lebih dari tiga puluh menit, Kalila dan Dimas akhirnya tiba di rumah besar Adi Putra. Semua anggota keluarga sudah berkumpul di sana. Adi Putra dan istrinya, Gilang dan istri beserta Ibrahim— anak mereka— serta Ghita Adi Putra.


Sembari menggendong Khalil Adila— anak keduanya bersama Kalila— Dimas menggenggam erat jemari istrinya itu. Dimas dan Kalila saling bertatapan, sebelum melangkah masuk ke istana milik Adi Putra.


Tubuh Kalila mendadak kaku, saat Ibrahim berdiri menyambut kedatangan mereka. Genggaman Kalila pada jemari Dimas semakin erat. Wanita itu takut. Terlebih saat Ibrahim melangkahkan kakinya menghampiri mereka. Semakin Ibrahim mendekat, semakin takut juga Kalila.


Kalila dan Dimas tercengang. Ibrahim kini berlutut sambil menundukkan wajahnya.


“Aku tau kesalahanku sudah terlalu banyak kepada kalian. Aku bahkan merasa sangat malu berdiri di hadapan kalian. Aku juga tau, jika aku tak pantas untuk di maafkan. Tapi, aku mohon belas kasih kalian. Dimas ... Lila ... Aku mohon ampun kepada kalian. Ampuni semua salahku.”

__ADS_1


Kedua pundak Ibrahim berguncang. Air mata pun tak mampu untuk dibendungnya. Rasa bersalah Ibrahim kepada Dimas dan Kalila sungguh besar. Pria itu benar-benar meminta pengampunan kepada sepasang suami-istri itu.


Semua yang menyaksikan pun tak dapat menahan rasa haru itu. Dimas menatap wajah sang istri yang masih tercengang atas kejadian di hadapannya.


“La,” panggil Dimas. Namun wanita itu tetap bergeming. Entah apa yang ada di pikiran wanita itu, saat menatap cinta pertamanya menangis sesenggukan sembari berlutut di hadapannya. Cinta pertama yang begitu banyak menorehkan luka padanya. Bahkan membuat wanita itu trauma.


“Sayang...,” panggil Dimas sekali lagi. Kini Kalila menoleh, menatap sang suami dengan wajah bingung. Dimas lantas mengecup lembut puncak kepala wanita itu. Seolah mengisyaratkan, tak mengapa, jika wanita itu masih belum bisa memaafkan Ibrahim.


Dan kini, setelah mengecup puncak kepala sang istri, Dimas ikut berlutut bersama pria itu. Memeluknya, dan mengajak pria itu untuk bangkit. Namun, Ibrahim menolak. Dia ingin terus berlutut hingga Dimas dan Kalila mengeluarkan kata maaf untuknya.


“A' ... Sudahlah, ayo berdiri. Aku sudah memaafkan A' Ibra,” ucap Dimas. Kali ini Ibrahim mengangkat wajahnya, menatap Dimas dengan lelehan air mata. Bahkan pria itu kini memeluk Dimas dengan erat. Isak tangis pun semakin terdengar. Ibrahim Adi Putra meraung-raung menyesali perbuatannya pada Dimas.


Padahal dirinya sudah begitu jahat pada sepupunya itu, tapi dengan mudah, Dimas memaafkan kesalahannya. Berkali-kali ucapan terima kasih terlempar keluar dari mulut Ibrahim. Mereka masih berpelukan erat.


“Ayo A' berdiri,” ajak Dimas sekali lagi.


Ibrahim kali ini menurut. Dengan dibantu oleh Dimas, Ibrahim pun berdiri. Kini dirinya berhadapan dengan wajah tegang Kalila. Tapi, Ibrahim tak berani memandang wanita itu. Wanita yang dulu begitu dipujanya itu.


”Lila,” ucap Ibrahim dengan suara parau. Pria itu masih belum berani menegakkan wajahnya. Nyalinya ciut.


“Maaf, Bang. Lila masih belum bisa memaafkan Bang Ibra.”


Ucapan Kalila membuat Ibrahim bagai tersambar petir. Wanita yang dulu sangat mencintai dirinya itu, bahkan tak sanggup memberikan kata maaf untuknya. Pastilah Kalila terlalu sakit hingga bisa berbuat seperti itu.


Dengan lelehan air mata, Ibrahim mengangguk pelan.


“Tapi, Lila akan berusaha untuk membuka pintu maaf itu. Tapi maaf ... untuk sekarang, Lila masih belum mampu memberikan maaf itu.”


Ada sedikit kelegaan di hati Ibrahim, saat mendengar Kalila mengatakan akan berusaha untuk memaafkan dirinya. Ucapan seperti itu saja sudah berhasil membuat Ibrahim bahagia. Dirinya hanya tinggal memohon pada sang pencipta, agar pintu hari Kalila bisa terketuk untuk memaafkan dirinya.


Kini, keluarga besar itu berkumpul bersama di ruang keluarga. Berkumpul sembari bercerita dan memerhatikan Khansa dan Khalil yang sibuk bermain.

__ADS_1


“Pasti menyenangkan sekali, mempunyai anak yang lucu-lucu seperti Khansa dan Khalil,” ucap Ibrahim.


“A' Ibra kan, masih muda, menikah lagi saja.”


“Walaupun menikah, tetap saja aku tak bisa mempunyai anak, Dim.”


“Teknologi kedokteran sekarang sudah canggih A'. Pasti ada jalan agar A' Ibra bisa memperoleh keturunan.”


Ucapan Dimas membuat Ibrahim tersenyum getir. Pria itu menggelengkan kepalanya. “Aku sudah berkonsultasi hingga ke dokter terbaik di luar negeri. Tapi, memang tidak bisa,” jawab Ibrahim tercekat.


Kalila menatap iba pada pria itu. Kasihan. Itulah yang dirasakan Kalila terhadap Ibrahim.


“Nanti, jika ada wanita yang bisa menerima kekuranganku ini, mungkin aku akan mengadopsi satu atau dua orang anak,” lanjut Ibrahim. Kali ini tak ada raut kesedihan di wajahnya. Pria itu benar-benar sudah ikhlas atas takdirnya.


Dan, keinginan Ibrahim saat ini tinggal satu. Meminta maaf kepada Anneke. Dialah orang yang paling tersakiti oleh Ibrahim. Berjuta kali Ibrahim menyakiti, berulangkali pula wanita itu memaafkan. Sampai akhirnya Anneke tidak sanggup lagi untuk bertahan dan memilih pergi dari sisi Ibrahim.


Namun, Ibrahim sama sekali tak mempunyai keberanian, bahkan hanya untuk menatap mantan istrinya itu. Hingga tahun berganti, tapi Ibrahim masih belum berani menghampiri.


Dan kini, tepat dua tahun sejak Ibrahim meminta maaf kepada Dimas dan Kalila, pria itu pun membulatkan tekad untuk menghampiri wanita yang sudah sangat disakitinya.


Ibrahim tak mengharapkan Anneke untuk kembali menjadi pasangannya. Hanya kata maaf yang terucap dari bibir wanita itu. Dan itu sudah lebih dari cukup baginya.


Dan kini, setelah lima tahun sejak terakhir mereka bertemu, Ibrahim berdiri di hadapan Anneke yang kini berbadan dua.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...

__ADS_1


__ADS_2