Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 28


__ADS_3

Siang itu, mobil berwarna silver metalic kembali terparkir di depan sekolah Kalila. Khalid memang sudah memberitahukan kepada Kalila sebelumnya, jika dia akan kembali menjemput adik kesayangannya itu sepulang sekolah. Kalila yang berjalan beriringan bersama Feni, langsung menghampiri Khalid yang berdiri di depan mobil dengan tersenyum sumringah.


“Yuk langsung masuk,” ucap Khalid. Kalila dan Feni mengangguk setuju. Begitu Kalila menaiki mobil, gadis itu terperanjat. Pasalnya, ada Bu Alinah dan juga Nek Laila. Bahkan Ibu dan neneknya terlihat duduk dengan beberapa bingkisan di pangkuan mereka.


Feni melangkah naik setelah Kalila. Seolah sudah mengetahui jika ada ibu dan neneknya Kalila, Feni langsung mencium dengan takzim tangan kedua wanita itu. Bu Alinah dan Nek Laila tersenyum lembut kepada Feni. Begitu pun dengan Khalid yang menatap gadis itu dari kaca spion dengan senyum terkembang.


“Kita mau ke mana ramai-ramai begini?” tanya Kalila penasaran. Terlebih Feni juga ada di antara mereka. Bukan kah seharusnya mereka mengantarkan Feni terlebih dahulu?


“Mau ke rumah Feni,” tegas Khalid.


“Iya ... Maksud Lila, setelah mengantar Feni, kita mau pergi ke mana?”


“Kita semua hanya mau ke rumah Feni, Lila ...,” jawab Bu Alinah. Kalila kembali terperanjat. Gadis itu menoleh ke belakang, menatap ibu dan neneknya.


Ke rumah Feni dengan membawa itu semua? Ada acara apa? Silaturahmi?


Lagi-lagi Kalila dipenuhi dengan banyak pertanyaan. Padahal dirinya masih penasaran dengan ucapan Feni di sekolah tadi. Dia juga belum sempat menanyakan hubungan sang kakak sulung dengan sahabatnya, kini Kalila malah semakin penasaran dengan situasi yang kini dihadapinya.


Sementara Khalid tidak dapat menahan senyum. Pria yang kini berada di balik kemudi, terus menampilkan senyum terkembang, walau siang itu jalanan terlihat cukup padat.


Setelah hampir satu jam berkendara, mereka pun tiba di kediaman Feni.


Kedua orang tua Feni menyambut Kalila dan keluarganya. Dan tak lama setelah mereka tiba, Kairav juga turut hadir di sana.


Selepas makan siang bersama, kedua keluarga itu pun membicarakan suatu hal yang membuat Kalila kembali tercengang. Acara pertunangan Khalid dan Feni.


Kalila terdiam. Entah mengapa dia merasa dihianati. Bukan karena dia tak menyukai kenyataan yang ada— sahabatnya akan menjadi kakak iparnya kelak. Menjadi satu-satunya orang yang tidak mengetahui mengenai hal ini, membuat gadis itu kecewa.


Ketika semua orang asyik berbincang, Kalila hanya diam. Bahkan, ketika Kairav bercanda dengan tingkah nyelenehnya, Kalila tidak bereaksi apa-apa. Bahkan gadis itu tidak berusaha untuk berpura-pura tersenyum bahagia.


Di acara pertunangan cinta pertamanya, gadis itu bahkan memakai seragam sekolah. Acara pertunangan sore itu, hanya dihadiri oleh keluarga kecil mereka— Nek Laila, Bu Alinah, Kairav, Kalila dan Khalid tentu saja. Begitu juga dengan keluarga Feni. Dihadiri tidak sampai 20 orang, acara pertunangan antara Khalid dan Feni berjalan lancar. Mereka bahkan berencana segera menikah, setelah Feni lulus sekolah.

__ADS_1


***


Sebelum matahari terbenam, Kalila dan keluarganya berpamitan. Dan, di sepanjang perjalanan menuju kediamannya, Kalila hanya diam. Hal itu membuat seluruh keluarganya merasa heran. Pasalnya sejak di kediaman Feni, gadis itu hanya mematung.


“Kau kenapa, Dek?” tanya Khalid penasaran. Namun Kalila tidak menjawabnya. Gadis itu bahkan memejamkan matanya. Berpura-pura tertidur.


“Mungkin Lila kelelahan Bang,” ucap Ibrahim yang juga turut memerhatikan Kalila.


“Abang tadi sampai tidak enak hati dengan keluarga Feni, loh. Wajah kau ditekuk terus sedari tadi!”


Namun Kalila tidak bereaksi. Gadis itu tetap diam dan masih berpura-pura tertidur.


Kalila tetap diam, bahkan ketika keesokan harinya mereka sekeluarga melakukan perjalanan menuju Danau Toba. Kalila terlalu kecewa dengan seluruh keluarganya.


Menjemput Feni sehabis subuh, mereka pun menempuh perjalanan selama 4 jam, hingga akhirnya mereka tiba di Parapat, Kabupaten Simalungun - Sumatera Utara.



Parapat Adalah kota wisata ditepi Danau Toba dan sejak lama menjadi gerbang utama memasuki kawasan wisata danau toba serta Pulau Samosir.


Feni terus menatap Kalila yang sedari tadi tidak menyapanya. Mereka semua merasa khawatir dengan gadis itu. Gadis yang biasanya tidak bisa diam itu, kini malah tidak bersuara sama sekali sejak keberangkatan mereka. Bahkan sejak kemarin.


Padahal jika melakukan perjalanan wisata, Kalila selalu antusias. Tapi tidak kali ini.


“Nanti habis makan, on lagi dia pasti,” ujar Kairav sembari menyikut Kalila. Gadis itu tetep bergeming. Diam. Tak bereaksi apa-apa.


Apa yang diucapkan Kairav tidak menjadi kenyataan. Kalila masih tetap diam, walau kini dirinya sudah merasa kenyang. Terlalu kenyang malah. Menyantap gulai kepala ikan Mas di rumah makan masakan Padang, setelah menempuh empat jam perjalan, sungguh membuat Kalila teramat lapar. Gadis itu bahkan menyantap dua porsi nasi.


Kau juga butuh banyak asupan ketika sedang kesal. Bukan begitu?


Menaiki kapal penyeberangan, mereka tiba di Pulau Samosir. Bergantian dengan Khalid, kini Ibrahim menyusuri jalan Lingkar Tuk-tuk Siadong. Mengikuti peta digital, mencari penginapan yang sudah dipesan oleh Khalid sebelumnya.

__ADS_1


Sesampainya di penginapan, Kalila langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya yang terasa sangat pekat setelah lebih dari enam jam di perjalanan. Terlebih gadis itu memang tidak mandi subuh tadi ketika berangkat. Sementara Bu Alinah, Nek Laila dan Feni yang juga menginap di kamar yang sama dengan Kalila, membereskan barang bawaan mereka.


Menginap dua malam di sana, Bu Alinah membawa cukup banyak camilan untuk mereka santap selama berlibur.


“Sudah selesai mandi, La,” tegur Feni, ketika Kalila baru saja keluar dari kamar mandi. Gadis itu hanya mengangguk sambil berdehem. Bu Alinah dan Nek Laila hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Kalila. Bu Alinah bahkan menasehati anaknya, agar menjaga sopan santunnya.


“Feni itu sebentar lagi akan jadi kakak ipar mu loh,” ucap Bu Alinah. Kalila langsung menatap tajam Feni, “sorry ca-lon ka-kak i-par,” ucap Kalila mengeja. Gadis itu bahkan langsung merebahkan badannya dan memutuskan untuk tidur.


Keesokan harinya, Kalila bahkan rela tidak ikut pergi berjalan-jalan mengunjungi wisata sejarah di pulau Samosir itu.


“Tidak biasanya kau menolak diajak melihat si gale-gale. Biasanya kau paling suka ke sana,” ucap Kairav heran. Namun Kalila hanya diam. Gadis itu langsung berjalan meninggalkan restoran hotel. Melangkahkan kakinya kembali ke kamar tempatnya menginap. Gadis itu sendirian kini.


“Saya berkeliling sendiri di sini juga tidak apa-apa, Bang,” ucap Ibrahim. Pria itu merasa tak enak hati karena mereka akan meninggalkan Kalila sendirian di penginapan.


“Biar nenek saja yang menemani Lila. Kalian bersenang-senang sana. Sudah sampai di sini, sayang sekali kalau hanya berdiam di hotel,” ucap Nek Laila. Namun Kairav melarangnya. Pria itu ingin sang nenek ikut berkeliling bersama mereka.


“Kalila sudah besar. Dia pasti bisa jaga diri Nek. paling dia hanya menonton televisi di kamar. Biarkan saja dia.”


Dan akhirnya mereka memutuskan meninggalkan Kalila seorang diri di kamarnya. Padahal Kalila menunggu siapa saja untuk membujuknya ikut serta. Tapi sepertinya keinginan gadis itu tidak terwujud. Karena setelah 30 menit menunggu di kamar, tidak ada satu orang pun dari keluarganya yang menghampiri.


“Mereka benar-benar tidak menganggap aku! Setelah aku tidak diberitahu perihal pertunangan Bang Alid dan Feni ... sekarang mereka bahkan tega meninggalkan aku sendirian di sini. Sepertinya mereka lebih menyayangi Feni dibandingkan aku!”


Gadis itu terus mengungkapkan rasa kesalnya. Kalila mengambil ponselnya mengirimkan pesan kepada sahabatnya.


“Bang Dim, sibuk gak? Lila lagi sedih.”


Bersambung ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......

__ADS_1


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....


__ADS_2