
Memasuki gerbang utama pemandian air hangat, kawasan itu terlihat tenang dan sunyi. Namun, ketika sampai di area parkir, ternyata tempat ini begitu ramai. Parkiran mobil cukup penuh. Padahal sekarang, waktu menunjukkan hampir pukul 19:00 WIB.
Malam ini mereka menginap di salah satu villa yang terdapat di area pemandian air belerang itu. Tiba di saat waktu Maghrib, Kalila, Dimas dan Bu Alinah menyantap makan malam setelahnya.
Dimas sengaja berhenti di warung masakan Padang, dan membeli makanan, ketika masih dalam perjalanan menuju tempat pemandian air hangat itu. Pria itu bahkan meng-upgrade camilan mereka. Membeli beberapa makanan instan untuk mengisi perut kosong mereka tengah malam nanti. Karena rencananya, mereka akan berendam di air belerang itu, setelah lewat tengah malam.
Entah apa yang ada di benak Kalila, saat mengajak Dimas dan ibunya berendam air hangat saat malam hari. Padahal udara di kawasan itu cukup dingin, terlebih saat tengah malam nanti.
Yang jelas, pemandian air hangat belerang yang buka 24 jam ini, memang selalu ramai ketika malam hari. Banyak para wisatawan datang di tengah malam, untuk berendam di sana. Berendam air hangat yang mengandung belerang itu saat tengah malam, memang sudah menjadi trend di sana.
Kalila, Dimas dan Bu Alinah, memutuskan untuk beristirahat sejenak, sebelum beranjak ke kolam pemandian air hangat. Bukan hanya sekedar beristirahat, Kalila, Dimas dan Bu Alinah, memutuskan untuk tidur lebih dulu.
Menginap di villa yang berada di areal pemandian air hangat, memang pilihan yang tepat. Hingga mereka tinggal berjalan kaki selama lima menit, untuk tiba di sana.
Tepat pukul 01:00 dini hari, mereka beranjak menuju kolam air hangat. Berjalan tanpa menggunakan alas kaki. Udara malam itu benar-benar dingin. Kalila merapatkan kedua tangannya di atas dada, memeluk tubuhnya sendiri.
“Baru keluar villa saja, kau sudah kedinginan seperti itu. Bagaimana nanti, jika berendam di air?” ucap Bu Alinah. Wanita paruh baya ini, sebenarnya tidak setuju dengan ide Kalila, untuk berendam air hangat tengah malam seperti ini. Selain mengantuk, udara di pegunungan pasti sangat dingin di jam-jam seperti ini.
Namun, Bu Alinah terpaksa mengikuti keinginan anak bungsunya itu, karena tidak bisa membiarkan Kalila hanya pergi berdua dengan Dimas, tengah malam seperti ini.
“Kalau tidak ada orang di sana, kita kembali saja ke villa. Mamak tidak mau hanya kita bertiga yang berada di kolam itu!”
Kalila pun mengangguk dan berjanji pada sang ibunda. Bu Alinah langsung tenang seketika. Di pegunungan yang dingin ini, terlebih di jam seperti ini, siapa lagi manusia yang mau berendam, selain anaknya. Begitulah pikir Bu Alinah.
__ADS_1
Namun, tampaknya Bu Alinah harus menyimpan argumennya. Karena saat itu, masih banyak orang berkumpul di kolam. Berendam, menikmati kolam air belerang. Dari kejauhan, bahkan sudah jelas terlihat orang-orang berkumpul di beberapa titik kolam. Kalila semakin mempercepat langkahnya, Dimas dan Bu Alinah mengikuti gadis yang begitu antusias itu.
Ini yang pertama buat Kalila. Bukan pengalaman pertamanya berendam di kolam air belerang. Sejak kecil, Bu Alinah sudah beberapa kali membawa anak-anaknya berwisata ke sana. Namun, untuk berendam di waktu malam, baru kali ini Kalila merasakannya. Walaupun dingin menyabet kulitnya, Kalila terus melangkah menuju kolam pemandian.
Memasuki areal pemandian, aroma belerang begitu kental terasa. Inilah khas dari pemandian alam yang berada di bawah kaki Gunung Sibayak ini.
Tak cuma satu atau dua kolam yang ada di sana. Terdapat sekitar lebih dari lima kolam air belerang. Untuk tingkat panasnya juga berbeda, mulai dari yang hangat sampai cukup panas.
Kalila lebih dulu mencelupkan kakinya, untuk mengetahui tingkat panas air di kolam itu. Dan gadis itu perlahan turun ke kolam dengan suhu yang pas, menurutnya. Bu Alinah dan Dimas mengikuti. Kini Kalila, Dimas dan Bu Alinah tengah berendam dan mengobrol santai, sembari menikmati pemandangan malam di kaki gunung.
Hampir dua jam mereka di sana. Kalila memutuskan untuk kembali ke villa. Mereka pun membilas tubuh dan berganti pakaian terlebih dulu, sebelum kembali ke villa.
Udara dingin yang menusuk, terlebih mereka baru saja mandi, membuat perut Kalila, Dimas dan Bu Alinah memberontak.
Kalila dan Dimas bahkan kembali menyantap roti sisir mentega, karena masih merasa lapar. Udara dingin di pegunungan memang selalu membuat kita merasa lapar.
***
Rambut basah dan perut yang terlalu kenyang, membuat tubuh Kalila dan Dimas kembali segar, hingga mereka tidak bisa memejamkan mata. Sepasang muda-mudi itu memutuskan untuk bermain game sembari menunggu waktu subuh. Mereka memilih untuk duduk di atas kasur tambahan yang ditempati oleh Dimas.
Bermain ludo, menjadi pilihan kedua muda-mudi itu. Sementara Bu Alinah, sudah terlelap di sana.
Dimas dan Kalila duduk berdampingan, tubuh mereka berdekatan. Andai saja mereka tidak habis berendam di air belerang, bisa dipastikan, ada yang bergejolak dalam diri Dimas. Namun bau belerang yang kini menempel di tubuh mereka, membuat Dimas terus mengusap-usap hidungnya.
__ADS_1
Dimas mengendus rambut Kalila. Gadis itu bergidik, karena Dimas mengendus tepat di dekat cuping telinganya. “Kau bau, Kalila," bisik Dimas, kemudian terkekeh pelan. Dimas tidak mau, jika suaranya mengganggu tidur Bu Alinah. Terlebih, pria itu sedang menikmati masa-masa berduaan dengan Kalila.
Kalila menatap sinis pada pria itu, “bukan hanya Lila! Kita bertiga memang bau belerang!” cebik Kalila kesal. Dimas terkekeh mendengar ucapan Kalila. Pria itu bahkan mengacak kecil rambut Kalila yang kini bau belerang.
Bermain hingga subuh, membuat Kalila dan Dimas sangar mengantuk. Mereka pun terlelap setelah menunaikan kewajibannya. Kalila, Dimas dan Bu Alinah, memutuskan untuk bersantai hingga siang hari, selanjutnya berkemas dan bergegas untuk pulang ke Kota Medan kembali.
Sebelum meluncur ke Kota Medan, Dimas membawa kendaraan memasuki kawasan Tongkoh— masih di wilayah Berastagi. Kali ini mereka mengunjungi kebun buah. Ada tiga jenis buah yang ditanam di sana— Stroberi, jeruk dan markisa.
Kalila, Dimas dan Bu Alinah, bersama-sama memanen hasil perkebunan buah itu. Memetik buah-buahan itu sungguh menyenangkan.
Hasil buah yang mereka petik, kemudian di timbang. Dan Dimas membayar seluruh buah yang mereka petik.
Mereka pun kembali ke kota Medan, setelah urusan dengan ketiga buah itu, selesai.
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...
__ADS_1