Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 70


__ADS_3

Andri menatap Kalila yang membisu. Pria itu menatap heran pada wanita pujaannya. Pasalnya, mata Kalila tak lepas dari layar ponselnya. Meskipun, dering ponselnya telah berhenti kini.


Kalila masih terus menatap lekat ponselnya. Dan tak berapa lama, ponsel itu kembali berdering, dan menampilkan nama yang sama.


Ibrahim kembali menghubunginya.


“Lila,” panggil Andri. Namun wanita itu, sama sekali tak mendengar panggilan yang dilontarkan oleh Andri.


Rekan kerja Kalila itu, kembali memanggil gadis itu. Kali ini, Andri memanggil sembari mengguncang lengan Kalila yang bertumpu di atas meja.


Kalila tersadar. Gadis itu menoleh pada Andri. Sorot matanya memancarkan kebimbangan. “Kau tidak mau menjawab panggilan telepon itu?” tanya Andri. Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Andri, Kalila pun tersadar, sudah dua kali, pria itu menghubunginya.


Pria sempurna itu,


pria yang masih dia cintai itu,


pria yang ingin dilupakannya, kini menghubungi dirinya.


Kenapa Bang Ibra, tiba-tiba menghubungi?


Dengan ragu, Kalila mengangkat panggilan telepon itu. “Aku jawab telepon ini sebentar ya, Ndri,” ucap Kalila. Dengan tersenyum, pria itu menganggukkan kepalanya.


Andri tau, jika dirinya tidak akan pernah bisa mengungkapkan perasaannya pada Kalila. Karena Andri sempat melihat, nama yang tertera pada layar telepon Kalila, tadi.


[Bang Ibra] dilengkapi dengan emoticon hati.


***


Setelah menjawab salam yang diucapkan Kalila, Ibrahim berbasa-basi menanyakan kabar gadis itu. Setelah sepuluh Minggu tinggal di kota Bogor, ini yang pertama kali Ibrahim menanyakan kabar dirinya. Kalila sedikit kesal karenanya.


“Bang Ibra menghubungiku ada apa?” tanya Kalila to the point. Ada rasa kesal tapi bahagia dari getaran suara Kalila. Tak bisa dipungkiri, gadis itu merasa bahagia mendengar suara sang pujaan hati.


“Aku ingin bertemu, hari Sabtu besok, apakah bisa?”

__ADS_1


Kalila kembali mematung. Berusaha untuk mencerna apa yang didengarnya.


“Halo, Kalila ... Kau masih mendengarkan?”


“Iya, Bang,” jawab Kalila pelan.


“Apa besok kita bisa bertemu? Ada hal yang ingin aku bicarakan,” ucap Ibrahim sekali lagi.


Kenapa Ibrahim menghubunginya sekarang? Disaat dirinya sudah memutuskan untuk belajar melupakan pria itu. Disaat dirinya memutuskan untuk membuka hati untuk pria lain.


Setelah menghela napas panjang, Kalila menjawab pertanyaan Ibrahim. Tentu saja gadis itu tak bisa menolaknya. Mereka pun membuat janji temu. Kalila masih berdiam di tempatnya. Terpaku, menatap layar ponselnya. Banyak pertanyaan di benaknya kini.


Apa yang akan dibicarakan oleh Ibrahim?


Apakah pria itu akan membicarakan mengenai pekerjaan di perusahaannya? Bukankah ini terlalu lama, jika membicarakan mengenai pekerjaan?


Atau ... Apakah pria itu akan membicarakan mengenai kesiapannya untuk melamar wanita pujaannya?


Haruskah dia kembali menutup pintu hatinya untuk pria lain?


Apakah ini yang dinamakan jodoh? Ibrahim kembali menghubungi Kalila, di saat gadis itu ingin membuka hati untuk pria lain. Seolah semesta tau, bahwa perbuatan Kalila itu salah. Semesta ingin kembali mengarahkan Kalila pada cinta sejatinya. Ingin Kalila tetap setia menunggu Ibrahim menunaikan janjinya. Janji untuk melamar wanita yang dikaguminya.


Mungkinkah Ibrahim sudah merasa siap, hingga dia berani menghubungi Kalila? Entahlah ....


Yang jelas, Kalila masih berdiam di sana. Hingga Andri memutuskan untuk mendekati gadis itu. Melangkahkan kaki menghampiri Kalila, Andri menatap heran, ketika pria itu tepat berada di samping Kalila. Andri melongok, ikut menyaksikan apa yang ditatap oleh Kalila.


Layar ponselnya bahkan tidak menyala.


Andri merasa heran, mengapa gadis itu terus menatap layar ponselnya. Padahal ponsel milik Kalila tidak menyala. Layar ponsel itu gelap. Andri menunduk, menatap manik kehitaman Kalila. Pandangan gadis itu kosong.


Siapa Ibra? Mengapa kau mendadak membisu, Kalila? Apa dia pria yang kau cintai? Atau mungkin, dia kekasihkau?


Andri menghela napas panjang. Pria itu memutuskan untuk menunda keinginannya. Keinginannya untuk mengungkapkan perasaan kepada Kalila. Keinginannya untuk menjadikan Kalila kekasih hatinya.

__ADS_1


Andri mengguncang pelan pundak Kalila. Gadis itu tersentak, menoleh kepada seseorang yang menyadarkannya.


Andri.


Seketika, Kalila merasa bersalah. Menatap dalam pada manik kehitaman pria itu. Kalila mengucapkan kata maaf di dalam hatinya. Maaf karena sudah memberikan harapan palsu kepada pria itu. Bahkan sejak awal, Kalila sudah mempunyai niat tidak baik terhadap Andri. Niat untuk menjadikan pria itu pelarian cinta semata. Dan kini, Kalila kembali menutup pintu hatinya.


Andri tersenyum lembut, ketika melihat Kalila yang menatapnya sendu. “Kita pulang sekarang?” tanya Andri kemudian. Kalila pun mengangguk pelan.


“Besok ... Kau sudah punya janji, atau belum?” tanya Andri, ketika Kalila baru saja turun dari sepeda motor milik Andri, karena mereka baru saja tiba di kediaman Kalila. Kalila tambah tidak enak hati mendengar pertanyaan yang dilontarkan Andri. Namun, dia harus menjawabnya segera, agar pria itu tidak terlalu menaruh harap padanya.


“Maaf, aku sudah ada janji besok.”


“Dengan pria yang menghubungi kau, tadi?” Kalila terhenyak, tidak menyangka jika Andri mengetahui hal itu. Apakah pria itu tadi menguping pembicaraannya dengan Ibrahim?


Andri tersenyum tipis, menatap Kalila yang memandangnya penuh tanda tanya. “Kau heran ya, kenapa aku bisa tau?” Kalila hanya diam, tak menjawab pertanyaan Andri. Namun pria itu tetap menjawab pertanyaannya sendiri.


“Tadi aku melihat nama orang yang menghubungi kau tadi. Ada emoticon hati di sana. Dia kekasih kau?” tanya Andri. Kalila benar-benar tidak tau harus menjawab apa. Dia takut Andri merasa sakit hati, takut Andri merasa dipermainkan. Tapi, yang lebih membuat Kalila bingung adalah, dia sendiri pun tidak tau posisi Ibrahim. Jelas, pria itu bukan kekasihnya. Tapi jika Kalila mengatakan jika Ibrahim bukan kekasihnya, Andri pasti akan tetap mendekatinya..


Terlebih dahulu menarik napas panjang dan membuangnya perlahan, Kalila pun menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Andri. “Dia ... Pria yang aku sukai,” jawab Kalila datar. Andri terdiam sejenak, sebelum menampilkan sebuah senyuman tipis, menatap manik kehitaman Kalila. Pupus sudah harapannya untuk menjadikan Kalila kekasih hatinya. Beruntung, dia belum sempat menyatakan cinta. Jika tidak, penolakan dari Kalila, akan terasa lebih menyakitkan.


“Kalau begitu, aku pamit pulang ya. Sampaikan salam aku untuk Kak Feni dan Nissa.” Kalila menganggukkan kepalanya. Kini gadis itu menatap kepergian Andri.


Kalila melangkah dengan gontai, membuka pagar rumah dan melangkah melewati halaman. Terus berjalan menuju kamarnya. Kalila pun langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur. Berulang kali terlihat gadis itu menghela napas.


Aku memutuskan untuk kembali menunggumu, bang Ibra. Apapun yang ingin kau sampaikan besok, aku akan mencoba bertahan, dan menunggumu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...

__ADS_1


__ADS_2