Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 6


__ADS_3

“Jaga Lila baik-baik Rav,” bisik Khalid ketika mereka saling berangkulan. Kairav pun mengangguk dengan yakin. Dia benar-benar tak mau menambah beban pikiran sang kakak, dengan menyeritakan ketidaksiapan dirinya menanggung beban ini. Pria yang berusia 16 tahun itu, akan berusaha menjalankan kewajibannya dengan baik.


Sementara Kalila, Air mata gadis remaja itu sudah menetes melihat Khalid dan Kairav berpelukan. Kairav pun melepaskan rangkulan Khalid, “Adik kesayangan Abang yang satu itu ... sudah banjir dia,” ucap Kairav santai. Khalid menoleh ke belakang, menyaksikan Kalila yang tengah menatapnya dengan wajah sayu.


Dengan senyum terkembang Khalid menghampiri Kalila dan langsung membawa gadis remaja itu ke dalam pelukannya. Tangis Kalila langsung pecah.


Gadis remaja itu— Kalila Nasution, terus menangis di pelukan Khalid. Khalid bukan hanya sekedar kakak lelaki buatnya. Bukan hanya sekedar manusia yang berasal dari rahim yang sama dengannya. Khalid lebih dari itu.


Jika cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya, berbeda dengan Kalila. Cinta pertamanya adalah kakak lelakinya— Khalid Nasution. Hingga usianya menginjak 13 tahun, Kalila tidak pernah sekalipun bertemu dengan ayahnya. Khalid lah yang selalu ada di sisinya sejak dia dilahirkan ke dunia hingga sekarang. Bahkan gadis itu tidak pernah sekalipun mendengar suara sang ayah. Khalid yang melantunkan azan di telinganya ketika Kalila dilahirkan. Dan hingga detik ini, ayah mereka tak pernah sekalipun berusaha menghubungi dan berbicara dengan Kalila. Hingga Kalila benar-benar seperti telah menjadi yatim sejak dia dilahirkan.


Teringat Khalid tidak akan ada di sampingnya lagi, tangis Kalila pun semakin menjadi. Isak tangis gadis remaja itu bahkan terdengar oleh beberapa orang yang lalu lalang di sekitar mereka.


“Ampun deh anak ini buat malu saja,” ucap Kairav. Kairav berjalan mendekati Kalila yang masih berada di dekapan Khalid. Sebenarnya Kairav bukan merasa malu. Pria itu justru merasa pilu mendengar tangisan Kalila. Kairav pun kini membelai rambut Kalila. Terlihat sekali kedua pria itu sangat menyayangi adik mereka.


“Jaga pergaulan mu ya Dek.”


Hanya kalimat itu yang terucap oleh Khalid. Padahal Khalid mempunyai segudang pesan yang ingin disampaikannya kepada Kalila. Tapi entah kenapa, hanya kalimat itu yang meluncur dari bibirnya. Saat ini, Khalid hanya ingin memeluk Kalila. Memeluknya dengan erat.


Kalila mengangguk pelan di dalam dekapan Khalid. Gadis remaja itu masih terisak. Khalid menggerakkan jari, meminta Kairav ikut masuk dalam pelukannya. Kairav pun lebih mendekat, hingga kini Kalila dan Kairav berada dalam dekapan Khalid. Khalid menepuk-nepuk pelan kedua punggung adiknya.


“Baik-baik kalian berdua ya, Dek. Jangan terus merepotkan mamak dan nenek.” Kedua adik Khalid mengangguk bersamaan.


“Abang juga jaga kesehatan di sana. Jangan terlalu memikirkan kami. Insyaallah semuanya baik-baik saja,” ucap Kairav. Khalid pun mengangguk pelan, berusaha memercayai ucapan Kairav. Apalagi yang bisa dia lakukan sekarang, selain memercayai ucapan Kairav, dan terus berdo'a untuk keselamatan dan kebahagiaan keluarganya.


“Iya ... Abang percayakan semua sama kau—Rav.”


Bu Alinah meneteskan air mata menyaksikan potong adegan itu. Ada rasa syukur dalam hatinya melihat kedekatan ketiga anaknya itu.


Tidak ingin mengganggu, Bu Alinah pun memberikan ruang untuk mereka bertiga saling berangkulan. Membiarkan mereka membuat kenangan manis, sebelum terpisah selama berbulan-bulan.


Tidak seperti hubungan persaudaraan kebanyakan orang. Sejak kecil, Khalid, Kairav dan Kalila, tidak pernah bertengkar. Mereka benar-benar saling sayang. Khalid benar-benar menjadi seorang kakak lelaki yang baik. Yang sangat mengayomi kedua adiknya.


Dan kini ... ketiga anaknya harus terpisah jarak, dan itu membuat Bu Alinah bersedih. Namun ini semua demi masa depan Khalid. Beasiswa dari Institut Pertanian Bogor, tidak boleh dilewatkan begitu saja. Apalagi IPB termasuk dalam jajaran universitas terbaik di Indonesia.

__ADS_1


Bu Alinah masih terus memandangi ketiga putra-putrinya yang berangkulan. Wajah harunya kini berganti dengan sebuah tawa yang tertahan. Kairav Nasution— anaknya yang nomor dua, kelakuan pria remaja itu selalu saja bisa merusak suasana.


Tampak kini Kairav yang tengah berusaha melepaskan diri dari dekapan Khalid.


“Sudah Bang, jangan peluk-peluk terus. Geli aku Bang!”


Celotehan Kairav tidak hanya membuat Bu Alinah tertawa, Khalid pun ikut terkekeh mendengarnya. Sementara Kalila menatap Kairav dengan tatapan tidak suka.


“Dasar perusak moment!” sungut Kalila. Melihat tatapan kesal Kalila, Kairav malah menjadi gemas. Pria itu pun mencubit pipi Kalila yang masih berada dalam dekapan Khalid, hingga Kalila lepas dari pelukan cinta pertamanya itu. Gadis remaja itu langsung melayangkan sebuah tinju ke perut Kairav. Bukannya meringis, Kairav terlihat memasang ekspresi kebingungan.


“Itu tadi apa ya? kok geli?”


Mendengar penuturan Kairav, Kalila pun bertambah kesal. Pasalnya Kairav hanya menganggap pukulan yang dilayangkannya tadi, sebagai sebuah kelitikan hingga pria itu merasa geli di area perut yang di pukul oleh Kalila tadi.


“Itu memukul atau menggelitik?”


Kalila langsung menghampiri Kairav yang hanya berjarak satu meter dengannya. Rasanya Kalila ingin sekali mencubit perut Kairav.


Dan sekarang, Kalila berlari kecil mengejar Kairav. Keinginannya untuk mencubit Kairav harus terlaksana, karena gadis itu benar-benar merasa kesal sekarang.


Kairav dan Kalila pun berkejar-kejaran mengelilingi Khalid. “Bang Raaaaav!” teriak Kalila. Gadis remaja itu terus mengejar Kairav. Namun, Kalila yang lambat, mana bisa mengejar seorang Kairav sang kapten Basket di sekolah.


Mereka berkejaran. Kairav sesekali berhenti dan bersembunyi di balik punggung Khalid, hingga membuat putra sulung Bu Alinah itu tertawa geli.


Memang begitulah mereka sedari dulu. Menggoda Kalila adalah hal wajib buat Khalid dan Kairav. Bu Alinah menggelengkan kepala seraya menyunggingkan sebuah senyuman, menyaksikan tingkah anak-anaknya.


Kairav dan Kalila masih berkejaran. Kini kedua adik Khalid itu berlari menjauh darinya. Tawa yang tergambar di wajah Khalid perlahan luntur.


Kini, Khalid memandangi kedua adiknya itu dengan wajah sendu. Tampak pria itu tengah menghela napas berat. Kapan lagi dia bisa menyaksikan secara langsung kehebohan ini?


“Bang Aliiid ... Tangkap Bang Rav!” teriak Kalila. Kedua adiknya kini tengah berlari ke arahnya. Khalid pun menangkap Rav, seperti permintaan Kalila. Kairav meronta sambil tertawa terkekeh-kekeh dalam kungkungan tangan Khalid. Kalila pun langsung menghujam tubuh Kairav dengan kepalan tangannya bertubi-tubi. Kairav semakin terbahak dibuatnya.


Sementara Khalid, pria itu terus memandangi Kalila dan Kairav bergantian. “Abang gak selamanya bisa membantu kau, Dek. Ada saatnya, kau harus berjuang sendiri. Tanpa Abang ... tanpa Rav juga.”

__ADS_1


Ucapan yang keluar dari mulut Khalid, berhasil menghentikan serangan Kalila pada Kairav. Gadis remaja itu pun menatap Khalid dengan seksama. Dia tertegun. selama ini dia memang selalu mengandalkan Khalid dan juga Kairav, pikirnya. Mungkin dirinya memang harus belajar lebih mandiri mulai sekarang.


“Kalila Nasution harus jadi wanita yang kuat, okey,” pinta Khalid. Kalila terdiam beberapa saat, kemudian memandangi wajah Khalid yang dihiasi oleh senyuman tipis.


Kalila kuat, Bang. Kalian saja yang menganggap aku lemah. Menganggap aku tidak mampu melakukan segalanya sendiri.


Kalila tak mampu mengungkapkan isi pikirannya kepada Khalid. Gadis remaja itu hanya memberi anggukan kecil kepada Khalid.


Khalid pun kembali membawa adik kesayangannya itu ke dalam pelukannya.


Dan di sinilah mereka berpisah.


Entah sampai kapan, mereka bisa kembali berkumpul, bercanda bersama, makan bersama dan menggila bersama.


***


Hari itu, setelah mengambil cuti selama tiga hari, Bu Alinah pun mengantarkan Khalid ke tempatnya nanti bernaung selama menempuh pendidikan strata satunya. Di sebuah tempat yang terkenal sebagai kota Hujan.


Kairav dan Kalila melambaikan tangan mereka. Menatap pesawat yang kini tengah bergerak naik dan bersiap membelah langit. Pesawat yang mengangkut ibu dan kakak lelaki mereka.


Kedua remaja itu terlihat muram di sana. Terlebih Kalila, pikiran gadis itu terus terngiang dengan ucapan Khalid yang memintanya menjadi gadis yang kuat. Dengan terus menatap pesawat itu, Kalila pun bertanya kepada Kairav.


“Apa Bang Rav pikir, aku sangat lemah, hingga tidak bisa mengerjakan segala sesuatunya sendiri?”


Bersambung ....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....

__ADS_1


__ADS_2