Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 32


__ADS_3

Satu Minggu sudah Khalid dan Ibrahim berada di kota Medan. Waktu cuti bekerja Khalid telah habis. Begitu juga dengan Ibrahim. Sudah saatnya dia berangkat ke Singapura, melanjutkan pendidikannya.


Kini saatnya Khalid dan Ibrahim kembali ke kota Bogor. Mereka berangkat pagi-pagi sekali ke Bandara. Hanya Kalila dan Feni yang memang menginap di kediaman Kalila, yang mengantarkan kedua pria itu ke bandara. Setelah berpamitan dengan Bu Alinah, Nek Laila dan Kairav, dengan menggunakan taksi online, Mereka berangkat ke Bandar Udara Internasional Kualanamu.


***


Saling mengucapkan perpisahan dengan pria yang mereka cintai, Kalila dan Feni pun merasa sedikit tak rela jika harus berpisah.


Khalid sedikit mencondongkan badannya, lebih mendekat ke telinga Feni, “sampai ketemu di hari pernikahan kita, calon istriku,” bisik nya pelan.


Wajah Feni seketika bersemu merah. Gadis itu merasa udara di sekitarnya terasa lebih panas. Bisikan Khalid bahkan membuat gadis itu meremang. Membuatnya tidak sabar menantikan hari pernikahan mereka. Gadis itu tersipu, hingga membuat Khalid gemas dan mengusap pelan pucuk kepala Feni yang tertutupi oleh hijab. Andai saja mereka sudah resmi menjadi suami istri, Khalid pasti mencium gemas pipi kemerahan, gadis yang kini ada di hadapannya itu.


Sementara itu, tak jauh dari tempat Khalid dan Feni berdiri, Ibrahim tengah memandang Kalila dengan senyuman yang sangat menawan— setidaknya itu yang dilihat oleh Kalila.


“Sampai bertemu lagi, Kalila. Aku berharap kita bisa bertemu kembali dengan segera.”


Kalila menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Lila akan menunggu Bang Ibra!” ucap gadis itu. Senyuman Kalila juga tidak kalah menawan kala itu. Bahkan matanya ikut berbinar. Sangat berbinar. Senyum Ibrahim juga semakin terkembang melihat binar mata Kalila. Gadis itu memang bercahaya.


Beberapa detik mereka saling pandang dengan senyum merekah, hingga suara announcer terdengar. Mau tidak mau, Khalid dan Ibrahim harus segera meninggalkan kedua gadis itu.


Tidak ada pelukan perpisahan apalagi kecupan mesra, selain pelukan Khalid kepada adik kandungnya— Kalila. Kedua pasang manusia yang saling mencintai itu, hanya saling menatap sambil melambaikan tangan.


Kedua gadis itu saling berangkulan, seolah mereka saling menguatkan satu sama lain. Menatap kedua pria itu. Pria yang mereka cintai. Pria yang mereka harapkan akan menjadi calon pendamping mereka kelak. Mereka terus menatap kedua punggung pria itu, hingga mereka menghilang dari pandangan Kalila dan Feni.


Kedua gadis yang saling berangkulan itu, langsung menghembuskan napas kasar, ketika tak lagi dapat menangkap sosok Khalid dan Ibrahim.

__ADS_1


***


Berjalan menyusuri Bandar Udara Internasional Kualanamu, Kalila dan Feni memutuskan untuk langsung kembali ke kediaman masing-masing, setelah pesawat yang ditumpangi Khalid dan Ibrahim berhasil mengudara dengan mulus.


Memesan taksi online, mereka duduk sambil menatap jalanan dari balik jendela mobil. Tidak ada obrolan yang terjadi. Karena kedua gadis itu tengah sibuk dengan lamunan mereka masing-masing. Mengenang masa-masa kebersamaan mereka dengan para pria itu. Para pria yang berhasil mencuri atensi mereka selama satu Minggu ini.


“Kita masuk tol gak kak?”


Pertanyaan dari pengemudi taksi online itu, berhasil membangunkan kedua gadis itu dari lamunan mereka. Kedua gadis itu kompak menganggukkan kepala mereka. “Iya Bang,” jawab mereka serempak. Saling pandang, kemudian melemparkan senyuman, kedua gadis itu pun akhirnya berbincang.


Hampir 60 menit, akhirnya tujuan pertama mereka telah sampai. Feni memeluk Kalila sekejap dan berpamitan, karena mereka kini telah tiba di kediaman keluarga Feni.


“Kabari kalau kau sudah sampai ya,” ucap Feni. Kalila tersenyum dan menganggukkan kepalanya, “siaaap ... Calon kakak ipar,” jawab Kalila. Kedua gadis itu pun terkekeh-kekeh, sebelum akhirnya saling melambaikan tangan.


Taksi online itu pun kembali bergerak. Kali ini menuju kediaman Kalila.


***


“Ketika aku merasa sudah siap, aku akan segera melamar gadis pujaan ku. Karena aku juga sama, memutuskan untuk tidak berpacaran.”


“Aku berharap, gadis pujaan ku itu, mau menunggu hingga aku siap.”


Kalila tersenyum sumringah jika mengingat ucapan Ibrahim. Masih terbayang di benaknya, ekspresi Ibrahim kala itu. Wajah teduh dengan senyum tipisnya yang menawan. Terlebih semilir angin di tepi Danau Toba, membuat suasana itu semakin syahdu. Jantung Kalila kembali berdebar cepat. Gadis itu bahkan langsung memutuskan hubungan dengan kekasihnya.


Gadis itu juga memutuskan untuk tidak lagi menjalin hubungan dengan pria manapun yang mendekatinya. Kalila kini hanya menunggu Ibrahim. Menunggu Ibrahim memenuhi janji, untuk melamarnya, di saat pria itu telah siap.

__ADS_1


Kalau Kalila? Gadis itu bahkan sudah siap lahir batin jika dilamar oleh Ibrahim. Kalila memujanya. Wajah tampan, suara merdu, sholeh dan kaya raya. Siapa yang tak terpikat dengan Ibrahim Adi Putra.


[Author pun mau, pesan buat Azzahra, satu 😂]


Hal itu juga Kalila ceritakan kepada Dimas— sahabatnya, yang tak lain adalah sepupu dari Ibrahim. Menyeritakan tentang keputusannya untuk menunggu Ibrahim. Menyeritakan tentang betapa Kalila begitu memuja Ibrahim.


Sakit.


Itu yang dirasakan oleh Dimas, ketika mendengar gadis impiannya begitu mengagumi Ibrahim. Ibrahim ... lagi-lagi Ibrahim. Sejak kecil ... tidak, tidak .... Sejak Dimas dilahirkan ke dunia, bahkan sejak dia masih di dalam kandungan, Ibrahim selalu mendapatkan apapun, apapun yang Dimas inginkan. Kasih sayang lengkap dari ayah dan ibunya. Pelukan hangat dari kakek dan neneknya. Pujian untuk semua prestasinya. Dimas tidak pernah mendapatkan itu semua.


Dan sekarang ... Kalila.


Gadis yang berhasil mencuri atensinya. Gadis yang begitu dipujanya. Gadis itu juga lebih memilih Ibrahim. Gadis itu, bahkan begitu tergila-gila kepada Ibrahim— sepupunya.


Namun, Dimas terbiasa memendam rasa. Pria itu terbiasa menahan setiap rasa inginnya. Terbiasa memendam setiap rasa kecewanya.


Karena dia tau, harusnya dia selalu bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk bernapas hingga sekarang. Karena Dimas memang harus bersyukur. Sebab sang ibu mempertahankan janinnya, ketika seluruh dunia memintanya untuk menggugurkan Dimas, kala itu.


Dimas terus berupaya menjadi sahabat yang baik untuk Kalila. Bisa dekat dengan Kalila, adalah salah satu hal yang membuatnya selalu berucap syukur. Pria itu selalu memberikan saran yang baik untuk gadis pujaannya. Dia mengesampingkan ego dan perasaannya, demi melihat senyum Kalila setiap hari. Walau hanya melalui layar ponsel. Karena setiap hari, sebelum beristirahat, Kalila dan Dimas selalu melakukan panggilan video. Mereka memang sedekat itu. Bahkan Kalila menyimpan nomor ponsel Dimas, dengan nama ‘sahabat selamanya.’


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...

__ADS_1


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....


__ADS_2