
“Dasar kau laki-laki tidak berguna. Saat aku hamil saja, kau tidak bisa memberikan kepuasan untukku, dasar pria lemah!! Jangan-jangan, benar apa kata mantan istri kau itu, kalau sebenarnya kau itu mandul!”
Kalimat yang dilontarkan oleh Tania, begitu membekas di pikiran Ibrahim. Pria itu memutuskan untuk memeriksa kesuburannya. Semua itu dilakukannya bukan karena dia merasa tidak subur, melainkan untuk membuktikan bahwa ucapan kedua mantan istrinya itu tidaklah benar.
Menurut Ibrahim, itu sudah pasti tidak benar. Karena dirinya adalah pria yang sempurna dari segi apapun.
“Baiklah, hal pertama yang harus kita lakukan adalah menganalisis sp*rma, Bapak” ucap dokter, ketika mendengar permintaan Ibrahim untuk melakukan tes kesuburan.
Ibrahim mengangguk. Dia akan menuruti setiap ucapan sang dokter, karena dirinya sangat yakin bahwa ucapan Anneke dan Tania hanyalah bentuk kekesalan kedua wanita itu.
Bagaimana kedua wanita itu tidak kesal, jika diceraikan oleh pria sesempurna dirinya? Begitulah pikir Ibrahim.
Dokter meminta seorang perawat untuk mengantarkan Ibrahim ke satu ruangan. Tersemat tulisan mens room di pintu itu. Tempat di mana Ibrahim mengumpulkan sp*rma untuk nantinya akan dianalisis.
Ibrahim diminta kembali esok hari, untuk mengambil hasil pemeriksaannya. Pria itu pun kembali ke rumah mewahnya.
Rumah mewah seharga miliaran rupiah ini, dibelikan oleh sang kakek untuknya, sebagai hadiah pernikahan dirinya dengan Tania.
Dan dengan bodohnya, Ibrahim membalik nama sertifikat rumah itu, menjadi nama Tania. Tentu saja sertifikat rumah mewah itu sudah diberikannya kepada Tania, dan wanita itu menyimpannya dengan sangat baik.
Ibrahim bahkan tidak tau di mana Tania menyimpan sertifikat rumah mewah itu.
Seluruh penjuru rumah sudah digeledahnya, namun Ibrahim masih tak dapat menemukan sertifikat rumah mewah itu.
“Brengs*k!!” teriak Ibrahim.
Akhirnya pria itu pun menyerah.
Terpaksa dirinya membiarkan Tania yang menguasai rumah mewah pemberian kakeknya itu. Ibrahim pun mengemasi beberapa barang, dan kembali ke apartemen miliknya. Kamar apartemen yang menjadi saksi masa-masa pernikahannya bersama Anneke.
Terbersit sedikit rasa sesal di hati pria itu, karena telah menalak Anneke. Setidaknya, Anneke tidak berhianat padanya seperti Tania. Wanita itu benar-benar telah membodohinya sejak awal.
Ibrahim merebahkan dirinya di atas ranjang. Beristirahat, sebelum besok mengambil hasil pemeriksaan dirinya.
***
Pagi-pagi sekali, Ibrahim sudah kedatangan tamu penting. Seorang pengacara handal datang ke kediamannya. Mereka membicarakan mengenai perceraian. Ibrahim memberikan kuasa penuh kepada pengacara itu, untuk mengurusi perceraiannya dengan Tania.
__ADS_1
Ibrahim memberikan semua berkas untuk mendukung rencana perceraian itu.
“Saya berharap cepat mendapatkan putusan sidang. Jangan seperti Anneke kemarin, entah bagaimana dia mengurusnya. Kami baru resmi bercerai setelah tiga bulan. Kalau bisa, dalam waktu satu bulan, semuanya sudah beres!” perintah Ibrahim.
Pengacara kondang itu tentu saja menyetujuinya. Bayaran dua kali lebih mahal dibandingkan dengan klien lain, membuatnya harus bekerja dengan baik, tanpa ada kesalahan.
Setelah urusannya dengan pengacara selesai, Ibrahim lantas bergegas ke rumah sakit. Berkonsultasi sekaligus melihat hasil tes kesuburannya.
Namun, panggilan telepon dari sang kakek, membuat Ibrahim berbalik arah dan melajukan kendaraannya ke kediaman sang kakek.
Sudah ada kedua orang tuanya saat Ibrahim tiba di sana. Kakek, nenek, ayah dan ibunya meminta penjelasan mengenai kabar perceraiannya dengan Tania. Ibrahim tentu saja membeberkan rahasia Tania yang mengandung benih pria lain. Seluruh anggota keluarganya terperangah.
“Ibra sudah bertemu Pak Rio tadi pagi, beliau akan mengurus perceraian ini dengan cepat.” Semua orang mengangguk setuju. Rio adalah pengacara andalan keluarga besar Adi Putra. Mereka yakin, pria paruh baya itu dapat mengurus perceraian Ibrahim dan Tania dengan cepat dan lancar.
“Ibra ... Mami dengar, Anneke masih sendiri. Apa kau tidak mau rujuk dengannya? Anneke wanita yang sangat baik. Mami sangat menyukainya. Kau hanya perlu meminta maaf padanya, dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama,” ucap Aynoor.
Ibrahim terdiam mendengar saran sang Ibu. Tampaknya, sang ayah juga menyetujui saran itu.
Kembali pada Anneke?
Kedengarannya cukup menarik. Karena di bulan-bulan terakhir pernikahannya, Anneke sudah mulai bisa menggoda dan membuatnya berhasrat.
“Jangan sekali-kali, kau memungut kembali sampah yang sudah kau buang. Kau cari saja wanita lain. Kau itu Ibrahim Adi Putra, cucu kakek yang paling sempurna. Tampan, baik dan kaya raya. Pasti sangat mudah untuk mencari wanita yang jauh lebih baik dari si Anne itu, apalagi dia wanita mandul!”
Mendengar kata mandul, seketika Ibrahim setuju dengan pendapat kakeknya. Aynoor dan Gilang hanya bisa diam, dan mendoakan agar anaknya itu segera menemukan kebahagiaannya.
“Ibra pamit dulu, sudah ada janji dengan dokter.”
“Kau sakit apa?” tanya Adi Putra. Pria lanjut usia itu cukup panik saat mendengar Ibrahim ada janji temu dengan dokter.
“Ibra tidak sakit, Kek,” jawab Ibrahim. Pria itu pun memberitahukan perihal dirinya yang memeriksa kesuburan.
“Kenapa kau memeriksakan kesuburan? Kakek sangat yakin kalau kau itu subur. Jangan kau dengarkan ocehan mantan-mantan istri kau itu!”
“Justru Ibra sengaja memeriksakan kesuburan, agar Anne dan Tania tau jika tuduhan mereka itu salah," balas Ibrahim.
Pria itu kemudian meninggalkan rumah besar Adi Putra dan gegas menuju rumah sakit.
__ADS_1
***
Ibrahim bergeming. Wajahnya pucat pasi. Pria itu tak tau harus bereaksi seperti apa, saat dokter menjelaskan mengenai masalah kesuburannya.
“Jumlah sp*rma anda, sangat jauh dari batas normal. Selain itu, jika dilihat dari morfologinya, sp*rma anda banyak memiliki bentuk yang tidak normal. Ada yang ekornya bercabang atau kepala sp*rma tidak berbentuk oval,” jelas dokter.
Pria itu sudah tak lagi mendengar penjelasan sang dokter. Saat dirinya membaca vonis 'tidak subur' yang ada di hasil pemeriksaan, Ibrahim seolah tak lagi sepenuhnya sadar. Pria itu hanya duduk diam. Pandangan matanya bahkan terlihat kosong.
Penjelasan panjang lebar dari sang dokter, sama sekali tak terekam di ingatanya. Namun, indranya samar-samar mendengar, jika sangat kecil kemungkinan bagi dirinya untuk bisa membuahi.
Ibrahim bagai tersambar petir mendengar kenyataan ini.
Pria itu bahkan dengan terburu-buru meninggalkan ruangan sang dokter yang masih berusaha memberikan penjelasan. Ibrahim tidak bisa terima vonis dari sang dokter
Langkah terburu-buru Ibrahim membuat pria itu tanpa sadar menabrak seseorang wanita yang perutnya sedikit membuncit. Wanita itu sepertinya tengah hamil empat atau lima bulan.
Namun, betapa terkejutnya Ibrahim saat melihat siapa wanita itu.
Dia adalah cinta pertamanya.
“Kalila...,” lirih Ibrahim.
Wanita itu sedang mengandung anak keduanya.
Dimas dan Kalila tentu saja terkejut saat melihat Ibrahim. Dimas yang tengah menggendong putri pertamanya, seketika merangkul pinggang Kalila. Pria itu langsung membawa Kalila pergi dari hadapan Ibrahim secepatnya.
“Apa salahku ya Allah! Aku yang dulu selalu taat padamu, kenapa kau siksa aku di dunia ini! Sedangkan si anak haram itu, kau buat begitu bahagia dengan wanita yang aku cintai!”
Ibrahim terus menyalahkan sang pencipta atas takdir yang diterimanya.
“Aku akan buat hidup kau juga hancur, Dimas, si anak haram!”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
__ADS_1
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...