
Sudah dua hari Dimas meninggalkan perusahaan, sudah dua hari juga Ibrahim menjemput Kalila setiap pagi dan berangkat kerja bersama. Begitu juga ketika pulang bekerja. Ibrahim yang mengantarkan Kalila, selama dua hari ini.
Dua hari tanpa Dimas, benar-benar membuat Kalila sedih. Gadis itu seolah kehilangan separuh jiwanya. Pasalnya, sejak hari itu, Dimas tidak pernah menghubunginya. Bahkan hanya sekedar untuk berkirim pesan.
Dan Kalila pun tidak bisa menghubungi pria itu. Sepertinya Dimas mengganti nomor ponselnya atau mungkin memblokir nomor Kalila. Ingin sekali Kalila menghampiri Dimas. Tapi dirinya tidak mungkin meminta Ibrahim untuk mengantarkannya. Terpaksa Kalila harus menunggu hingga akhir pekan tiba. Rasanya tak sabar Kalila untuk menunggu hari esok. Dirinya sudah sangat merindukan Dimas.
Sejak dulu, Dimas selalu muncul setiap hari. Sebelum mereka bekerja di kantor yang sama, bahkan sebelum mereka tinggal di kota yang sama, Dimas pun selalu bertemu dengan Kalila setiap hari, walau hanya secara virtual. Namun kini, pria itu sama sekali tak tampak.
Berulangkali Kalila menghubungi Kairav dan bertanya perihal Dimas. Namun Kairav seolah tidak tau mengenai nomor ponsel terbaru milik Dimas. Jalan satu-satunya bagi Kalila adalah menemui pria yang sangat dirindukan olehnya itu, di kediamannya.
Bu Alinah yang masih menginap di sana pun, tau dengan jelas jika sang anak tengah gundah. Walau Kalila tak pernah bercerita.
“Menghubungi Dimas?” tanya Bu Alinah. Kalila yang menyangka jika sang ibu telah tidur, terperanjat mendengar pertanyaan itu.
“Iya, Mak. Sudah dua hari Bang Dim tidak bisa dihubungi.”
“Bukannya kalian satu kantor?”
Pertanyaan dari ibunya, membuat Kalila terpaksa menyeritakan mengenai Dimas yang telah keluar dari kantor. “Sepertinya Bang Dim tidak mau lagi berhubungan dengan Lila, Mak,” ucap gadis itu sedih. “Bang Dim sudah melupakan janji kami, untuk menjadi sahabat selamanya. Lila tau, Lila salah karena tidak memberitahu ketika Bang Ibra mengajak Lila pergi kerja bersama. Tapi, apa Bang Dim harus semarah itu. Bang Dim sampai memblokir nomor Lila. Lila sama sekali tidak bisa menghubunginya. Bahkan nomor mamak juga di blokirnya.”
Kalila mengeluarkan semua isi pikirannya sambil menangis. Gadis itu benar-benar merindukan Dimas. Kalila benar-benar merasa kehilangan sosok yang selalu ada untuknya selama ini. “Bang Dim jahat!” Gadis itu tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihannya.
Wanita paruh baya itu pun membawa Kalila ke dalam pelukannya. Bu Alinah pun mengelus lembut rambut anaknya. Hingga Kalila menjadi tenang. “Apa kau mencintai Dimas?”
Kalila terdiam sejenak.
“Jawab pertanyaan mamak.”
“Mamak kan tau, siapa yang Lila cintai sejak dulu,” jawabnya.
“Jika Ibra pergi tanpa kabar, apa kau akan merasa sedih seperti ini?”
__ADS_1
Lagi, Kalila terdiam. Dia sangat tau jawaban atas pertanyaan sang ibu kali ini. Sudah pasti dirinya tidak akan merasa hampa dan sedih seperti ini, jika Ibrahim yang hilang kabar. Namun, Kalila berusaha menemukan alasan, mengapa hal itu terjadi.
Cinta?
Tidak mungkin itu cinta!
“Kila tidak setiap hari berkomunikasi dengan Bang Ibra. Tidak seperti Bang Dim. Dari dulu, sampai Bang Dim mengundurkan diri dari perusahaan, setiap hari Lila berkomunikasi dengan Bang Dim, Mak. Lila hanya sangat kehilangan masa-masa itu.”
Bu Alinah tersenyum. “Coba kau tanyakan lagi pada hati kau. Ini baru dua hari, dan kau sudah menangis seperti ini. Apa kau yakin, ini bukan cinta?”
Kalila benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaan Bu Alinah kali ini. Benarkah dirinya mencintai Dimas?
“Sudah pukul sebelas. Kau tidurlah. Sudah dua hari tidur kau itu tak lelap. Besok mamak temani kau ke rumah Dimas. Dia pasti ada di rumahnya.”
Kalila menganggukkan kepalanya. “Rencananya memang begitu Mak. Lila memang mau ke rumah Bang Dim, besok."
“Iya ... Nanti, mamak temani.”
Dan pagi ini, Kalila dan Bu Alinah berangkat menuju kediaman Dimas, dengan menggunakan jasa taksi online. Sebenarnya Khalid tidak memberikan izin kepada ibu dan adiknya untuk berkunjung ke kediaman Dimas. Tapi Kalila tak mempedulikannya. Gadis itu tetap mengajak sang ibunda untuk menemaninya.
“Bang, Lila itu sudah dewasa. Dia bisa menentukan sendiri jalan hidupnya!” tegas Feni. Wanita yang kini mempunyai dua orang putri itu, memang selalu kesal dengan sikap suaminya terhadap Dimas. Ibrahim tetaplah pria terbaik untuk Kalila—menurut Khalid.
“Sudah dua hari ini Ibra mengantar dan menjemput Lila. Hubungan mereka sudah ada kemajuan! Coba saja seandainya Dimas tidak hadir di antara Ibra dan Lila, mungkin Lila sudah menjadi istri pria hebat seperti Ibrahim Adi Putra.”
Tak memedulikan ucapan sang suami, Feni pun memejamkan matanya. Lebih baik dia mengistirahatkan tubuhnya setelah tadi malam tidak bisa tidur terlalu nyenyak, karena sang bayi harus menyusui setiap dua jam sekali.
***
“Lila!” pekik Bu Ghita, ketika melihat Lila berada di teras rumahnya. “Eh ... ada Bu Alinah juga,” lanjutnya. Bu Ghita pun memersilakan kedua wanita itu untuk masuk dan duduk di ruang tamu rumah itu. Kalila dan Bu Alinah pun menurutinya.
“Bang Dimas, ada Bun?”
__ADS_1
Bu Ghita terdiam sejenak mendengar pertanyaan Kalila. “Dimas sudah tidak tinggal di sini lagi,” akhirnya hanya itu diucapkan oleh ibu kandungnya Dimas itu.
“Tidak tinggal di sini lagi?!”
Bu Ghita menganggukkan kepalanya, “Dimas sekarang tinggal di Bali. Dia ada projects di sana. Daripada harus bolak-balik Bogor-Bali, lebih baik dia tinggal di sana.”
Kalila tercenung. Gadis itu tidak tau harus berbuat apa. Padahal tujuannya datang ke kediaman Dimas, adalah untuk menemui pria itu. Tapi ternyata, pria itu bahkan sudah tinggal lagi di rumah milik ibunya itu.
Kalila merengek pada Bu Ghita. Gadis itu meminta agar Bu Ghita menghubungi Dimas. Karena Kalila sama sekali tidak bisa berkomunikasi dengan pria itu.
Bu Ghita sebelumnya telah berjanji pada Dimas, untuk tidak membantu Kalila, jika gadis itu datang dan meminta menghubungi anaknya itu. Namun, Bu Ghita yang sudah terlanjur sayang dengan Kalila, tidak tahan mendengar rengekan gadis itu. Kalila terlihat begitu sedih dan putus asa.
Bu Ghita pun memberikan ponselnya pada Kalila. Gadis yang menyimpan berjuta rasa rindu itu, segera melakukan panggilan video kepada Dimas.
Sementara itu, Dimas yang kini tinggal di Pulau Bali, tersenyum sumringah, ketika mendapati nama dan foto sang ibu, muncul di layar ponselnya.
Dimas menjawab panggilan video itu.
Namun, bukan wajah sang ibunda yang didapatnya. Kalila tampil dengan wajah sendunya. Dimas seketika menyudahi panggilan video itu. Kalila terhenyak.
Seketika hati Kalila remuk redam. Dimas benar-benar tidak ingin berkomunikasi dengannya. Bahkan menatap wajah Kalila pun, Dimas seperti tak sudi.
Kalila menangis sesenggukan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...
__ADS_1