Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 49


__ADS_3

Dimas mengajak Kalila dan Bu Alinah untuk mencicipi masakan khas Thailand, yang ada di restoran hotel. Restoran ini menyediakan masakan Chinese, Thai & Indonesian food yang konon terbaik di antara hotel-hotel lain di Brastagi.


Bu Alinah dan Kalila yang tidak pernah mencicipi masakan khas dari Negeri Gajah Putih, merasa penasaran. Terlebih Dimas mengatakan jika masakan Thailand, cocok untuk lidah orang Indonesia. Kalila dan Bu Alinah menatap buku menu restoran, langsung menuju ke bagian Thailand food, Kalila menelan ludah berkali-kali, menatap jajaran menu makanan lengkap dengan gambarnya. Dan pilihan Kalila jatuh pada Mee Tom Yum. Mie yang disajikan dengan kuah tom yum merah. Tidak hanya mie dengan kuahnya, ada juga udang dan jamur sebagai isian tom yam itu.



Nasi?


Tentu saja gadis itu juga memesan seporsi nasi putih, untuk disantapnya bersama dengan hidangan yang tadi dipesannya.


Sementara Dimas, pria itu memesan salah satu masakan Thailand yang belum pernah dicobanya, Kwaytiaw Rad Na. Kwetiau yang disajikan dengan kuah serta isian udang, ayam dan sayuran.



Dan, Bu Alinah memesan nasi dengan ayam panggang saus Thailand. Bu Alinah tidak berani memesan makanan yang dianggapnya aneh.



Ayam panggang adalah pilihan yang paling pas, menurutnya. Bukan kah rasa ayam panggang sama saja, di belahan bumi manapun? Begitulah pikir Bu Alinah.


Sambil menunggu makanan tersaji, Kalila dan Dimas berkeliling restoran, memperhatikan interior restoran yang mewah dan cozy, tidak terlalu formal, namun tetap berkelas.


Beberapa saat kemudian, pesanan datang bersamaan. Aroma makanan pun tercium sedap, terutama dari kuah Tom Yum yang dipesan oleh Kalila.


Tanpa pikir panjang Kalila, Dimas dan Bu Alinah, langsung menyantap makanan masing-masing. Mereka juga saling mencicipi. Dan semua terasa sangat lezat.


Namun di antara ketiga hidangan itu, Kalila, Dimas dan Bu Alinah, sepakat, memilih Mee Tom Yum sebagai yang terlezat di antara ketiganya. Tom yam dengan kuah asam pedas yang bikin segar. Terlebih di cuaca dingin kota Brastagi.


Dimas bahkan memesan kembali mee tom yam, setelah menyantap habis hidangannya. Kali ini dia makan satu mangkuk berdua dengan Kalila. Menyantap mee tom yam tanpa nasi, kali ini.


Puas dengan makan malam mereka. Kalila, Dimas dan Bu Alinah melangkah kembali ke kamar. Memutuskan untuk beristirahat, sebelum pagi nanti, kembali bereksplorasi di tanah Karo.

__ADS_1


Setelah menyantap sarapan di restoran hotel, Kalila Dimas dan Bu Alinah, kembali melanjutkan perjalanan mereka. Kali ini, Kalila mengajak Dimas mengunjungi sebuah desa di kawasan Berastagi. Desa Peceren, namanya. Jika di provinsi Banten terdapat wisata budaya, suku Baduy, di Provinsi Sumatera Utara juga ada. Salah satunya terdapat di desa Peceren.


Hampir sama dengan suku Baduy yang masih memegang kokoh adat istiadat mereka, begitu juga dengan masyarakat di Desa Peceren. Desa ini merupakan salah satu desa yang masih memegang teguh tradisi dan budaya suku Karo— salah satu suku yang terdapat di Sumatera Utara. Desa ini dihuni oleh 700 keluarga.


Kalila mengajak Dimas dan ibunya, mengunjungi rumah adat Karo. Ada enam buah rumah adat yang bisa mereka masuki. Konon katanya, rumah adat tersebut berusia 120 tahun. Mengambil banyak sekali potret di sana, Dimas benar dibuat takjub oleh pemandangan dan bangunan bersejarah itu. Penduduk lokal pun terlihat sangat ramah.


Hanya satu jam mereka berada di sana.


Kalila kemudian mengarahkan Dimas menuju sebuah tempat agrowisata terpadu. Azan Zuhur baru saja berkumandang, ketika mereka tiba di sana. Bu Alinah mengajak sepasang muda-mudi yang katanya bersahabat itu, menunaikan ibadah terlebih dulu.


Memasuki kawasan agrowisata itu, mereka langsung melangkah menuju restoran. Setelah memesan menu khas Thailand pada malam kemarin, kali ini Dimas ingin mencicipi kuliner khas tanah Karo. Pilihannya pun jatuh pada menu arsik ikan.


“Di tanah Karo, ada yang lebih khas dibandingkan arsik, Bang!” seru Kalila. Dimas menatap gadis itu penasaran. Kalila pun melanjutkan kalimatnya, “makanan itu bernama B-P-K,” ucap Kalila. Sengaja dia mengucapkan rangkaian huruf BPK itu, satu per satu.


“BPK?”


Kalila mengangguk, sementara Bu Alinah hanya tersenyum. “Iya Bang. Babi Panggang Karo!” Dimas tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Sebagai seorang muslim, walaupun tidak terlalu rajin beribadah, Dimas tidak pernah mengonsumsi makanan maupun minuman yang tidak halal. Sehingga ucapan Kalila, baginya hanya sebuah candaan. Padahal Kalila sedang tidak bercanda kali ini. Terlebih gadis itu memesan menu BPK saat ini.


“Kau tidak salah, Kalila?”


Kalila menggelengkan kepalanya. Bu Alinah bahkan menepuk lengan Kalila. “Kau ini, ada-ada saja!” pekik Bu Alinah. “Bukannya restoran ini hanya menyediakan makanan halal?” Bu Alinah berpaling menatap sang pramusaji.


“Benar Bu. Kami hanya menyediakan makanan halal.”


“Tapi BPK tersedia kan, Kak?” tanya Kalila dengan tersenyum lebar. Pramusaji itu pun mengangguk. Bu Alinah menatap gadis pramusaji itu dengan heran. Ditatap sedemikian rupa, membuat gadis itu menjelaskan perihal menu yang dipesan oleh Kalila.



“Kami hanya menyediakan makanan halal, Bu. Dan BPK yang dimaksud dengan kakak ini, bukan babi panggang Karo. Melainkan beef panggang Karo, atau sapi panggang Karo,” jelasnya. Kalila pun terkekeh-kekeh. Sementara Bu Alinah langsung mendaratkan dua jarinya dan memutar telinga anak bungsunya itu.


Hampir dua jam mereka berada di restoran. Kini mereka memutuskan untuk berkeliling kawasan agrowisata terpadu itu. Kalila terus saja berceloteh, hingga tiba-tiba ada seorang pria paruh baya ikut mengobrol bersama mereka.

__ADS_1


“Kawasan ini disebut juga dengan agrowisata terpadu Farm to table. Sebuah konsep terpadu yang meliputi bidang pertanian, peternakan dan kuliner. Dimana semua proses dari menanam hingga panen, dan memelihara sapi sampai mengolah produk turunan susu menjadi hidangan yang segar dan sehat. Konsep ini memberikan nilai tambah, bukan hanya dari sisi bisnis, tapi juga menjadikan sajian lebih sehat dan menjaga ekosistem,” ucap Pak Andreas, salah satu pemilik agrowisata itu, yang kebetulan mencuri dengar obrolan kalian dengan Dimas tadi— obrolan mereka mengenai Cimory.


“Warga Sumatera Utara, sekarang tidak perlu jauh-jauh lagi ke Jawa Barat. Di sini juga ada, bukan begitu, Kalila?” tanya Pak Andreas. Kalila mengangguk antusias.


Bagai memiliki private tour guide, Pak Andreas mengajak Kalila, Dimas dan Bu Alinah berkeliling. Mereka kini berada di balik kaca dan melihat proses produksi susu secara langsung. Mulai dari memerah sapi hingga melihat proses produksi turunan susu— seperti keju dan es krim.


“Kalian tau, kenapa kami memasang musik di kandang sapi ini?” tanya pak Andreas, saat Kalila tengah menikmati susu sapi segar yang diberikan salah satu karyawan di sana— atas permintaan Pak Andreas, tentu saja.


“Biar pemerah sapi gak stress, Pak. Setiap hari hanya bertemu sapi!” cebik Kalila. Pak Andreas dan beberapa karyawan yang bertugas memerah sapi, terkekeh mendengar pernyataan Kalila.


“Bukan hanya petugas pemerah sapi yang stress. Asal kau tau, Kalila, sapi-sapi itu juga stress melihat wajah-wajah petugas itu,” bisik Pak Andreas. Kalila dan Dimas terkekeh-kekeh mendengarnya. Tapi ucapan Pak Andreas benar adanya, musik yang mereka putar itu, memang bertujuan untuk mengurangi stress, saat proses memerah susu, agar sapi dan pengunjung pun senang.


Terdengar azan Ashar berkumandang, Kalila, Dimas dan Bu Alinah pun berpamitan kepada Pak Andreas.


“Kalian tau, seluruh menu yang tersaji di restoran kami, terbuat bahan-bahan yang diambil langsung dari perkebunan dan peternakan kami sendiri,” ujar Pak Andreas saat Kalila, Bu Alinah dan Dimas berpamitan.


“Sehabis sholat, kalian kembali lah ke restoran. Saya akan memesankan pizza buat kalian. Nama menunya, Pepperonni and Cheese, the classic way to eat a Pizza. Semua bahannya langsung dari “farm”-nya, sejauh ini hanya bisa ditemui di Gundaling Farm!”


Kalila berseru riang. Sehabis beribadah, Kalila, Dimas dan Bu Alinah, benar-benar kembali ke restoran dan menemui pak Andreas di sana. Mereka berbincang sembari menikmati pizza.


Sampai pukul 18:00 WIB mereka berada di sana, sebelum akhirnya kembali menempuh perjalanan wisata. Kali ini menuju pemandian air hangat. Bukan hanya sekedar air hangat, tapi air hangat mengandung belerang.


Lu si debuk-debuk. Menjadi tujuan mereka, malam ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...

__ADS_1


__ADS_2