
Ibrahim Adi Putra Point of View
Hari ini kakek memintaku untuk menemaninya hadir dalam acara pernikahan anak dari kolega bisnisnya. Aku sebenarnya malas sekali pergi ke acara seperti itu. Namun, tentu saja titah Kakek tidak bisa dibantah. Mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menuruti keinginan kakek.
Hampir satu jam perjalanan kami tempuh, demi mencapai kota Jakarta. Beruntung setiap akhir pekan, tidak banyak kendaraan dari Bogor menuju Jakarta. Namun sebaliknya, jalan tol dari Jakarta menuju Bogor, terlihat sangat padat, terlebih hari Senin juga merupakan hari libur nasional. Biasanya, warga Jakarta akan berbondong-bondong menuju daerah puncak ataupun Bandung.
Akhirnya kami pun tiba di sini, di Ballroom Yohan Corp. Aku dan kakek turun dari mobil, lalu melangkahkan kaki, memasuki ballroom itu.
“Pak Abdul, ponsel stand by terus ya,” pesan kakek pada supirnya. Kami pun melanjutkan langkah menuju tempat pernikahan dilangsungkan.
Memasuki ballroom Yohan Corp, aku dan kakek terpukau dengan resepsi pernikahan yang sangat mewah itu. Tapi kalau dipikir-pikir, wajar saja resepsi pernikahan itu begitu mewah, karena aku dan kakek tengah menghadiri resepsi pernikahan anak bungsu Yohan Erlangga— salah satu pengusaha sukses di Indonesia.
Kakek yang dihampiri oleh salah satu kolega bisnisnya, meninggalkan aku begitu saja.
Bu Lunara— kakaknya sang mempelai pria menghampiri ku. Sedangkan kakek sudah bergabung bersama rekan-rekannya. Beberapa kali bertemu karena hubungan bisnis, membuat diriku tak lagi canggung dengan pewaris Yohan Corp itu. Namun, suaminya yang posesif, menatapku dengan tajam, karena melihat aku berbincang akrab dengan istrinya.
Pak Junior— suaminya Bu Lunara, mendekap erat istrinya itu. Bahkan tanpa malu membenamkan kepalanya di leher Bu Lunara. Berulangkali Bu Lunara mendorong kasar wajah sang suami, namun Pak Junior tetap bertahan pada posisinya.
“Bang! Ingat tempat dong!”
Begitulah gumaman Bu Lunara yang terdengar, namun aku berpura-pura tak mendengarnya. Pandanganku pun aku arahkan ke tempat lain. Mungkin, karena merasa tak enak hati denganku, Bu Lunara berpamitan.
“Abang cari kamu kemana-mana taunya sedang bersama berondong!” Ku lihat Bu Lunara menggelengkan kepala mendengar ocehan suaminya.
“Tidak biasanya Abang cemburu buta seperti ini, selain sama Kak Rein?” Entah siapa Rein itu. Aku tidak tau dan tak mau tau perihal rumah tangga orang. Yang jelas, sejak saat itu aku tau, jika suami Bu Lunara itu, sangat cemburuan.
__ADS_1
“Dia terlalu tampan. Abang takut kalah saing, apalagi dia berondong!” Aku yang masih mendengar obrolan sepasang suami istri itu, menoleh dan menatap ke arah mereka. Ternyata, suaminya Bu Lunara itu, juga tengah menatapku. Melihat aku yang menatap ke arah mereka, Pak Junior langsung melotot ke arahku. Aku pun jadi salah tingkah dibuatnya. Ku putuskan untuk segera berlalu dari sana, ketimbang dituduh sebagai penggoda istri orang.
Aku pun menikmati pesta itu seorang diri, menyicipi satu-dua kuliner yang tersedia. Kesendirianku di pesta itu berakhir ketika kakek menghubungi dan memintaku untuk bergabung di meja yang sama dengannya. Tentu saja aku menuruti keinginan kakek.
Ku edarkan pandanganku ke kiri dan ke kanan, mencari keberadaan kakek, hingga akhirnya aku menemukannya. Aku pun bergegas mengantungkan langkah, menghampiri kakek.
Namun, langkah kakiku terhenti, kala menyaksikan sosok gadis yang juga ada di meja itu.
“Kenapa kau bengong saja di sana. Cepat ke sini!” perintah kakek. Aku kembali mengayunkan langkahku, menghampiri kakek, menghampiri gadis itu juga. Semakin dekat dengan gadis itu, aku merasa detak jantungku semakin tak beraturan. Kebetulan macam apa ini, mengapa dari ratusan orang yang ada di gedung ini, aku bisa bertemu dengan gadis cerdas itu. Bahkan, kakek yang menjembatani pertemuan ini.
Apa kakek mengenal gadis itu?
“Kenalkan ini Ibra, cucu kebanggaan saya,” ucap kakek, ketika aku sudah duduk di sampingnya. Ku edarkan pandanganku kepada tiga orang yang duduk satu meja dengan kami. Aku pun tersenyum seramah mungkin ke hadapan mereka yang aku tidak tau siapa— kecuali gadis cerdas itu tentunya.
“Saya sebenarnya sudah mengenal Anne, sejak empat tahun yang lalu.”
Ucapanku membuat semua orang yang ada di meja ini, terkejut. Bahkan si gadis cerdas itu juga memerlihatkan keterkejutannya. “Saya yang mengenal Anne, tapi Anne bisa dipastikan tidak mengenal saya.”
Gadis cerdas itu terlihat mengangguk, membenarkan apa yang aku ucapkan.Tentu saja dia tak mengenalku, karena kami tidak pernah berkenalan sebelumnya. Kedua orang tua Anne dan juga kakek semakin bertambah bingung dengan ucapanku.
“Sewaktu di Singapore, ada seminar internasional mengenai pendidikan, dan Anne sebagai moderator di sana,” ucapku sembari menatap satu per satu orang yang berada di meja yang sama denganku. Lalu, aku menoleh pada kakek, “Kakek ingat, saat aku mengatakan akan mengikuti audisi sebagai moderator untuk sebuah seminar internasional?” Kakek pun menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan yang aku lontarkan.
“Kakek tau kan, saat itu, untuk pertama kalinya aku gagal?” Lagi-lagi kakek menjawab pertanyaan yang aku ajukan dengan menganggukkan kepalanya. “Anne yang mengalahkan aku saat itu, Kek. Pertama kalinya, prestasiku dikalahkan, oleh seorang gadis pula,” ucapku kemudian. Aku beralih menatap Anne sembari tersenyum lembut, dan gadis cerdas itu membalas senyumanku. Aku sengaja melakukan itu, agar kedua orang tua Anne mengetahui, jika aku tertarik dengan putri mereka.
Namun ternyata bukan hanya kedua orang tua Anne yang memerhatikan tingkahku. Kakek juga memerhatikannya.
__ADS_1
“Kelihatannya, sudah cucu saya tertarik dengan putri Pak Baskoro,” ucap kakek tanpa basa-basi. Aku hanya bisa tersenyum malu dan menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
Ku lirik Anne, aku hanya ingin menyaksikan reaksi gadis itu atas ucapan kakek. Ternyata dia tengah mengamati ku sembari tersenyum manis. Manis sekali.
“Sejak empat tahun yang lalu, saya sudah mengagumi Anne,” ucapku jujur. Aku sengaja memberanikan diri berbicara di depan kedua orang tua gadis itu. Aku tidak mau, ada pria lain yang mendahuluiku untuk melamarnya.
Kedua orang tua Anne tertawa mendengar pengakuanku. Begitu juga dengan kakek. Kakek bahkan menepuk-nepuk punggungku, “Kakek pikir kau tak tertarik pada seorang gadis. Makanya kakek menyarikan kau gadis yang sesempurna Anne. Ternyata kau menanti Anne, selama ini!”
Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum malu. Mungkin tingkahku terlihat lucu di mata gadis itu. Karena dia tengah tersenyum geli sembari menatapku.
“Wah, bagus kalau begitu. Proses pengenalan mereka bisa berjalan lancar,” ucap pak Baskoro.
Dan lagi-lagi kakek menjodohkan aku. Namun, kali ini aku tidak akan menolaknya. Kalau bisa, malam ini juga akan aku ucapkan ijab qabul sembari menggenggam tangan pak Baskoro!
Waktu tiga jam, kami habiskan untuk berbincang. Waktu tiga jam pun serasa hanya tiga menit. Cepat sekali waktu berlalu. Aku masih belum puas berbincang dengannya. Aku masih ingin berlama-lama menatapnya. Namun, acara resepsi pernikahan putra Yohan Erlangga itu telah usai. Mau tidak mau, kami harus meninggalkan tempat itu.
Namun, aku tidak terlalu risau harus berpisah dengan gadis itu. Karena kami sudah bertukar nomor ponsel. Pak Baskoro mengundangku, untuk makan malam di kediamannya, esok hari.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...
__ADS_1