
“Kak, apa boleh di dua hati terakhir ku bekerja, aku masuk kelas dan mengajar anak-anak itu?”
Pertanyaan itu sudah dilontarkan oleh Kalila, ketika gadis itu menerima telepon dari HRD PT. Adi Putra Group, yang memintanya kehadirannya untuk penandatanganan surat perjanjian kerja. Saat itu mereka sedang duduk santai di teras masjid, dan Anneke tengah menemani Kalila yang sedang menunggu Ibrahim menjemputnya. Namun sayang, Ibrahim tidak menepati janjinya kala itu.
Anneke pun mengabulkan permintaan gadis yang sudah dia anggap sebagai saudaranya sendiri itu.
Kalila memberikan penampilan terbaiknya hari ini. Dua hari terakhirnya bekerja di yayasan, haruslah menjadi dua hari yang tak terlupakan—baginya dan bagi murid-muridnya. Kalila mengajar dengan sangat bersemangat. Para murid pun semakin antusias.
Hingga akhir pertemuan di kelas itu, Kalila masih terlihat bersemangat. Gadis itu bahkan melambaikan tangan dengan riang, ketika murid-murid yang sudah duduk rapi di dalam bus, yang segera melaju meninggalkan sekolah.
“See you tomorrow, Miss Lila,” ucap para murid sembari melambaikan tangan dengan riang juga.
“See you tomorrow kiddos,” jawab Kalila sumringah.
Menatap lekat bus yang baru saja berlalu dari hadapannya, Kalila tersenyum, “besok hari terakhirku mengajar mereka,” gumamnya. Kalila masih berdiri di sana hingga bus sekolah itu tak lagi tampak.
Kalila kemudian bergegas menuju ruang tata usaha. Gadis itu menyelesaikan tugas-tugasnya di ruangan itu. Sebenarnya, Anneke sudah meminta Kalila untuk melakukan serah terima jabatan kepada staff tata, sehingga dia tidak perlu mengerjakan tugasnya lagi sebagai staff tata usaha dan hanya fokus mengajar di dua hari terakhirnya. Namun, Kalila menolaknya.
Gadis itu ingin bertanggung jawab sampai akhir dengan tugasnya. Kalila menyadari, jika dirinya diterima bekerja sebagai staff tata usaha. Sudah seharusnya dia mengerjakan tugas utamanya di yayasan ini sebagai staff tata usaha. Sedangkan mengajar adalah pekerjaan tambahan yang di tawarkan oleh pemilik yayasan, dan Kalila menyanggupinya.
“Ada yang bisa aku bantu, Kalila?” tanya Andri yang baru saja menghampiri meja kerja Kalila. Namun gadis itu menggelengkan kepalanya, “tidak perlu Ndri. Ini sudah mau selesai kok.” Andri hanya mengangguk kemudian berjalan meninggalkan meja kerja Kalila.
Kalila pun dengan cepat melanjutkan pekerjaan yang telah dikerjakannya pagi tadi. Saat azan Zuhur berkumandang, Kalila masih melanjutkan pekerjaannya yang sedikit lagi selesai. Kebetulan Kalila sedang dalam masa menstruasi, hingga dirinya bisa mengerjakan semua pekerjaan hingga selesai.
__ADS_1
Kalila sudah menyelesaikan semua pekerjaannya hari ini. Besok dia akan datang pagi-pagi sekali—seperti hari ini— dan membuat laporan serah terima berkas kepada kepala tata usaha.
Kalila merapikan meja kerjanya, lalu beranjak dari ruangan itu setelah sebelumnya memesan jasa ojek online terlebih dulu.
“Aku antar pulang ya?” tanya Andri yang setengah berlari menghampiri Kalila. Namun gadis itu sudah menetapkan batasan, dirinya tidak mau memberikan harapan kepada Andri, karena Kalila sudah memutuskan untuk kembali menutup pintu hati kepada pria yang mendekatinya. Kalila hanya akan menanti Ibrahim datang melamarnya.
“Aku sudah pesan ojek online, abangnya juga sudah menunggu di luar,” ucap Kalila. Andri hanya bisa mengangguk dan tersenyum. “Kalau begitu, izinkan aku untuk mengantarkan kau ke depan gerbang.”
Kalila tersenyum dan memperbolehkan pria itu mengantarnya hingga ke depan gerbang sekolah. Setidaknya hanya itu yang bisa dilakukan Kalila untuk mengurangi rasa bersalahnya pada Andri.
Tidak ada pembicaraan sama sekali antara Kalila dan Andri. Mereka hanya berjalan beriringan hingga ke gerbang sekolah. Namun, ketika mereka hampir tiba di gerbang sekolah, Andri kembali mengingatkan tentang janji Kalila yang akan datang pada acara kelulusan yang berlangsung empat bulan lagi.
Kalila tertawa kecil, “aku pasti tidak akan lupa. Apalagi kau selalu mengingatkan aku setiap hari,” ucap gadis itu. Andri pun tersenyum. Pria itu memang setiap hari mengatakan hal yang sama kepada Kalila. Sejujurnya pria itu hanya ingin melihat wajah Kalila.
Andri menatap heran kepada Kalila yang tiba-tiba mematung. Netranya mengikuti arah pandang Kalila, hingga kini dia menyaksikan hal yang sama dengan apa yang ditatap oleh gadis itu. Seorang pemuda yang cukup tampan tengah berdiri santai di depan mobil berwarna putih sambil memeluk boneka beruang besar. Pria itu bahkan tersenyum lebar ke arah mereka.
“Kau mengenalnya?” tanya Andri. Kalila mengangguk pelan, seketika wajah gadis itu terlihat berbinar. Kalila melangkahkan kakinya dengan laju, senyum sumringah juga terlihat di wajah gadis itu. Kalila menghampiri pria itu. Netranya hanya menatap satu tujuan, gadis itu hanya menatap lurus pada pria yang tengah memeluk boneka beruang besar.
Kalila yang hanya berfokus pada pria itu, terus melangkah laju. Gadis itu sama sekali tidak memerhatikan sekitarnya. Hingga akhirnya ada seorang pengemudi motor, tanpa sengaja menyenggol Kalila. Gadis itu tersungkur.
“Kalila!”
Andri berlari menghampiri Kalila yang terjerembab ke aspal. Begitu juga dengan pria yang memeluk boneka itu. Sembari menggendong boneka beruang besar, pria itu berlari menghampiri Kalila. Bahkan dirinya lebih dulu berada di hadapan Kalila, dibandingkan Andri.
__ADS_1
“Kau tidak apa-apa?” tanya pria itu. Kalila malah menjawabnya dengan tersenyum sumringah. Gadis itu terlihat bahagia. Kalila lalu mengambil boneka beruang besar dari tangan pria itu.
“Ini buatku kan?” tanyanya riang. Pria itu menganggukkan kepalanya. Tentu saja boneka itu buat Kalila. Untuk apa dia menggendong boneka itu sedari tadi, jika bukan untuk gadis yang ingin ditemuinya ini.
Beberapa murid taman kanak-kanak di sana, bahkan ada yang histeris melihat boneka beruang yang besarnya hampir menyerupai orang dewasa.
Setelah melihat anggukan dari pria itu, Kalila memeluk erat boneka beruang itu sembari menatap sang pemberi boneka dengan tersenyum lebar.
“Terima kasih Bang Dim” ucapnya. Pria itu pun membalas senyum lebar Kalila sembari mengacak kecil rambut gadis itu. Sementara Andri hanya bisa menatap adegan itu.
“Kau tidak apa-apa Kalila?” tanya Andri yang sedari tadi hanya diam. Kalila menoleh dan tersenyum kepada pria yang baru dikenalnya selama dua bulan itu. “Tidak apa-apa Ndri,” jawabnya. Andri mengulurkan tangan, karena sedari tadi Kalila masih duduk di jalan sembari memeluk boneka beruang. Kalila pun menyambut uluran tangan Andri. “Terima kasih Ndri.”
Seorang pengemudi ojek online tiba-tiba menghampiri, “Bu Kalila ya?” Kalila pun menganggukkan kepala, “iya Bang,” jawab gadis itu. Namun Dimas meminta Kalila untuk membatalkan pesanan jasa ojek online yang dipesannya. Kalila pun menuruti permintaan Dimas. Setelah memberikan ganti rugi pembatalan, Dimas mengajak Kalila menaiki mobilnya.
Namun dari mobil itu keluar seorang wanita yang sangat anggun. “Sayang ... masih lama tidak?” ucapnya pada Dimas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...
__ADS_1