Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 21


__ADS_3

Makan malam syahdu itu berlangsung dengan penuh gelak tawa. Dimas, Kalila dan Kairav, bahkan masih berbincang hingga pukul sebelas malam, di gazebo tempat mereka menyantap makan malam tadi.


Sementara Bu Alinah dan Nek Laila sudah beristirahat di kamar.


Jika Bu Alinah tidak menghubungi ponsel Kairav, dan mengingatkan mereka untuk beristirahat, tentu saja ketiga anak muda itu akan terus berbincang hingga waktu subuh tiba.


Anak muda memang kerap seperti itu, bukan? Terlebih jika hubungan mereka sangat dekat.


Dimas, memang baru masuk ke kehidupan Kalila dan Kairav tiga hari belakang. Akan tetapi entah mengapa, baik Kalila maupun Kairav, cepat sekali akrab dengan pria itu. Mereka bertiga mengobrol dengan seru. Suara tawa Dimas, Kalila dan Kairav bahkan terus menggema. Bu Alinah bahkan menghubungi Kairav hingga tiga kali, barulah ketiga anak muda itu bergegas naik ke lantai dua villa itu.


“Yasudah, kita lanjutkan mengobrolnya besok saja. Jika tidak, bisa-bisa kita bertiga mendapatkan hadiah piring cantik dari mamak. Sudah tiga kali mamak menyuruh kita tidur,” ujar Kairav yang mendapat anggukan kepala dari Dimas dan Kalila.


Dimas, Kalila dan Kairav pun meninggalkan gazebo itu, dan melangkah menuju lantai dua villa.


Kalila membuka jaket Dimas yang sedari tadi dipakainya, lalu menyerahkannya kepada pria itu, sebelum memutuskan untuk masuk ke kamarnya. Dengan tersenyum sumringah, Dimas menerima kembali jaketnya. “Good night, Kalila. Sleep well and nice dream,” ucap Dimas, saat Kalila hendak masuk ke kamar tempatnya beristirahat malam ini.


“Good night juga, Bang Dim,” ucap Kalila riang. Gadis itu bahkan melambaikan tangan dengan kencang.


“Apa pula itu. Good night kok pakai juga,” sanggah Kairav. Kalila hanya menjulurkan lidahnya kepada Kairav dan bergegas menutup pintu. Begitu juga dengan Dimas dan Kairav yang kemudian berjalan ke kamar mereka. Kamar yang berada tepat di samping kamar yang ditempati Kalila, Bu Alinah dan Nek Laila.


Malam itu, Dimas tidur sembari mendekap jaket miliknya. “Bau parfum Kalila,” ucapnya sumringah. Dimas makin merapatkan jaket itu ke wajahnya. Menghirup dalam-dalam aroma parfum yang ditinggalkan Kalila pada jaketnya.


Dan mereka semua beristirahat hingga waktu subuh tiba.


***


Hari ini, rencananya Dimas akan mengajak Kalila dan keluarganya untuk mengunjungi Kebun Raya Cibodas. Menghabiskan waktu hingga sore hari di sana. Mengelilingi Kebun Raya, menikmati keindahan taman bunga Sakura, seperti janji Dimas kepada Kalila.

__ADS_1


Bu Alinah dan Nek Laila, tengah menyiapkan bekal makanan untuk mereka santap saat makan siang nanti, di Kebun Raya Cibodas. Dengan bahan masakan yang disiapkan oleh Pak Parman, ibu dan nenek Kalila menyiapkan menu ayam goreng lengkuas beserta lalapan dan sambal terasi untuk melengkapi hidangan mereka nanti.


Sejak subuh, Bu Alinah dan Nek Laila sudah sibuk memasak di dapur. Sementara Dimas, mengajak Kairav dan Kalila berjalan pagi menyusuri daerah sekitar villa.


*


Pagi ini Dimas merasa bahagia sekali. Bisa berjalan pagi bersama Kalila. Sebuah senyuman terus terkembang di wajahnya sedari tadi. Terlebih wajah Kalila lah yang pertama kali dia lihat, ketika membuka matanya pagi ini. Sepanjang perjalanan, Dimas berkali-kali mencuri pandang kepada Kalila. Mengingat kejadian subuh tadi, di depan kamarnya.


Subuh itu, Dimas terbangun dari tidurnya ketika Kalila menggedor pintu kamar yang ditempatinya bersama Kairav. Dimas yang tadinya masih sangat mengantuk, mendadak segar karena ada Kalila di hadapannya. Subuh itu ... Dimas tertegun, menatap wajah segar Kalila yang baru saja selesai berwudhu dan sudah memakai mukena.


Pasti akan menyenangkan sekali, bila kejadian subuh tadi terulang setiap hari. Begitulah pikir Dimas.


Lamunan Dimas buyar, ketika mendengar rengekan Kalila yang merasa lelah. “Udahan yuk ... Lila, capek nih. Kita pulang saja.”


Dimas seketika berjongkok dan meminta Kalila untuk naik ke punggungnya. Kalila pasti akan memeluknya erat. Dan udara pagi yang dingin ini pasti akan terasa lebih hangat. Ah ... romantis sekali.


Tentu saja itu hanya ada dalam angan Dimas. Karena kenyataannya sekarang, Kairav yang beranjak mendekati punggung pria itu. Kairav memeluk erat punggung Dimas, “jalan, Bang.”


Sementara Kalila tertawa terbahak-bahak menyaksikan dua pria itu— Kairav dan Dimas. Gadis itu bahkan berjongkok karena tidak sanggup menahan rasa menggelitik di perutnya, menyaksikan Kairav dan Dimas terjungkal.


“Jangan macam-macam, Bro!” pekik Kairav.


“Aku hanya menawarkan untuk menggendong Kalila, Bang. Kasihan dia kelelahan.”


“Halah ... Si kuntet ini, kau beri makan saja dia. Pasti diam muncungnya itu.”


Kairav melirik Kalila yang sekarang tengah menganggukkan kepalanya. “Tuh ... kau lihat, mendengar kata makan saja dia langsung manggut-manggut.” Kalila spontan terkekeh mendengar ucapan kakak lelakinya itu.

__ADS_1


Pagi itu, Dimas pun mengajak Kalila dan Kairav ke pedagang kaki lima yang ada di luar komplek villa. “Kalian harus mencoba makanan ini. Aku jamin di kota Medan tidak ada,” ujar Dimas. Mendengar hal itu, Kalila dan Kairav pun menjadi bersemangat.


Dimas menunjuk sebuah gerobak penjual makanan yang ada di sebrang jalan. “Soto mie Bogor!” pekik Kalila. Dimas tersenyum, menatap gadis yang selalu terlihat antusias itu. Mereka pun bergegas. Pasti nikmat sekali, menikmati soto mie Bogor yang hangat, di tengah udara pagi kawasan Cisarua yang cukup dingin.


Dimas memesan tiga mangkok soto mie Bogor komplit, beserta tiga gelas teh tawar hangat, sebagai menu sarapan untuk mereka bertiga. Dimas menghampiri Kalila dan Kairav. Mengambil posisi duduk persis di samping kanan Kalila. Hingga kini, Kalila berada di antara Dimas dan Kairav.


Beberapa saat kemudian, soto mie Bogor pun tersaji di hadapan mereka. Mata Kalila spontan berbinar menyaksikan satu mangkuk soto mie yang tersaji itu. Ada mie berwarna kuning, bihun, potongan tomat segar, urat dan kaki sapi serta babat, risoles yang sudah dipotong-potong. Semua isian itu disajikan dalam kuah kaldu dan ditaburi bawang goreng.



Kalila langsung mencicipi kuah kaldu itu. Sepertinya gadis itu menyukai cita rasanya. Kalila menoleh, menatap Dimas yang tengah mencampurkan kecap manis dan sambal ke dalam mangkok soto mie Bogor miliknya.


“Bang,” panggil Kalila. Dimas menoleh, balas menatap manik gadis itu, “bagaimana? kau suka?”


“Nasinya tidak ada Bang?”


Dimas spontan tergelak mendengar pertanyaan Kalila. Benar-benar ciri orang Indonesia sejati. Yang tidak akan kenyang jika tidak makan dengan nasi. Dimas pun memesan dua porsi nasi putih untuk santapan mereka bertiga. Mereka pun makan dengan lahap. Terlebih Kalila, rasa lelah dan lapar yang bercampur menjadi satu, dan rasa soto mie Bogor yang benar-benar menggugah selera, membuat gadis itu makan dengan sangat lahap.


Hampir satu jam mereka meninggalkan Bu Alinah dan Nek Laila di villa. Kini Dimas, Kalila dan Kairav bergegas kembali ke villa dengan membawa dua bungkus soto mie Bogor, untuk sarapan kedua wanita di villa itu.


***


“Sekarang kita akan ke Kebun Raya Cibodas. Kau siap Kalila?”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......

__ADS_1


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....


__ADS_2