
Matahari bersinar begitu cerah. Kota Bogor yang biasa sejuk, kini terlihat terik. Namun, tentu saja udara terik itu tidak memengaruhi orang-orang yang berada di gedung perkantoran itu. Air conditioner yang terpasang di setiap ruang, membuat udara di sekitarnya tetap terasa sejuk.
Sama seperti Kalila yang masih berada pada salah satu ruangan di PT. Adi Putra Group. Hampir dua puluh menit Kalila berada di ruangan wawancara itu. Gadis itu baru saja menyelesaikan tes wawancaranya. Dari ekspresi ketiga pewawancara, sepertinya mereka puas dengan penjelasan-penjelasan yang dilontarkan oleh Kalila.
Bahkan pria yang begitu dikenal oleh Kalila itu, terus mengembangkan senyuman. Manik kecoklatan miliknya, begitu berbinar menatap Kalila.
Terpesona.
Mungkin itu kata yang tepat untuk pria itu, saat ini. Dirinya tidak menyangka, jika Kalila ternyata secemerlang ini. Kalila pun menyadari itu. Menyadari bahwa pria itu terus menatap kagum padanya. Bukannya gede rasa, tapi pria itu benar-benar tidak menutupi ekspresi kagumnya pada Kalila.
Dengan tersenyum sumringah, Kalila melangkahkan kaki menuju pintu. Maniknya menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari keberadaan Khalid. Setelah manik kehitaman kedua kakak beradik itu saling beradu, Kalila makin melebarkan senyumnya.
Khalid bergegas, melangkah laju menghampiri Kalila, “bagaimana Dek?” tanyanya penasaran.
“Sepertinya Kalila bisa menyelesaikannya dengan baik, Bang!” jawab gadis itu antusias. Khalid pun mengulas sebuah senyuman, sembari menepuk-nepuk pundak adik kesayangannya itu.
“Sangat baik malah,” ucap seorang pria yang baru saja keluar dari ruangan yang sama dengan Kalila.
“Eh ... Kau rupanya Ba,” ucap Khalid. Terus terang pria itu terkejut dengan kehadiran Ibrahim di sana. Terlebih Ibrahim keluar dari ruangan yang sama dengan Kalila.
“Adiknya Abang ini, cemerlang sekali tadi. Penampilannya luar biasa,” lanjut Ibrahim. Pria itu terus menatap Kalila sembari tersenyum. Beruntung para peserta yang lain sudah tidak ada di sana, karena sejak sepuluh menit yang lalu, mereka semua dipersilakan untuk beristirahat.
Khalid menatap bangga pada adik perempuannya itu. Senyum pria itu semakin merekah, apalagi saat ini, Khalid melihat tatapan Ibrahim pada adik perempuannya.
“Ayo Bang, aku traktir makan siang,” ucap Ibrahim kemudian. Setelah mendapat anggukan dari Khalid, mereka pun melangkah bersama menuju elevator. Namun, Ibrahim melupakan sesuatu. Ada satu pekerjaan yang harus diselesaikannya segera.
“Bang Alid tau restoran mengapung itu kan?” tanya Ibrahim, ketika mereka bertiga sudah berada di sana elevator. Khalid menganggukkan kepalanya.
“Ada berkas-berkas yang harus Ibra tanda tangani segera. Kalau Bang Alid lebih dulu ke sana, bagaimana? Ibra akan menyusul setelah pekerjaan itu selesai.”
Khalid mengangguk setuju. Dan mereka berpisah di lantai tiga gedung itu, karena ruang kerja Ibrahim berada di sana.
Sementara itu, Khalid dan Kalila memutuskan untuk menunaikan ibadah sholat Zuhur terlebih dahulu, agar mereka tidak terlalu lama menunggu Ibrahim di sana. Beruntung di perusahaan itu, dibangun sebuah mesjid yang cukup besar, hingga Khalid dan Kalila bisa sholat, sekaligus beristirahat sejenak.
Hampir pukul satu siang, saat itu. Khalid dan Kalila sudah tiba di restoran yang dimaksud oleh Ibrahim, tadi. Khalid dan Kalila pun menatap buku menu, memilah milih menu mana yang akan mereka pesan. Tak berselang lama, setelah Khalid dan Kalila selesai memilih menu santap siangnya, ponsel Kalila berdering.
__ADS_1
“Siapa?” tanya Khalid, saat melihat Kalila terpaku menatap layar ponselnya. Kalila menoleh, “Bang Ibra,” jawab gadis itu singkat. Khalid pun menyuruh adiknya, untuk segera menjawab panggilan telepon dari Ibrahim.
“Apakah aku mengganggu santap makan siang kalian, Kalila?” tanya Ibrahim. Pria itu tengah berada di balik kemudi sekarang. Membelah jalanan dengan laju, untuk menghampiri Khalid dan Kalila di sebuah restoran—tempat janji temu mereka.
“Kita baru saja memesan makanan kok, Bang. Waitersnya bahkan masih di depan meja kita,” jawab Kalila.
“Kalau begitu, bisakah kau pesankan makanan buatku? Aku akan tiba di sana dalam lima belas menit.”
Kalila terdiam, gadis itu tidak menyangka, jika Ibrahim menghubungi hanya untuk memintanya memesan menu santap siang pria itu.
“Halo Kalila, kau masih mendengarkan?” tanya Ibrahim. Kalila memang cukup lama terdiam. “Kalila,” panggil Ibrahim satu kali lagi.
“I-iya Bang,” jawab Kalila gugup. Padahal saat wawancara tadi, gadis itu begitu lancar berbicara. Ibrahim bahkan terpesona dengan gadis itu. Tapi saat ini, saat dirinya diminta oleh Ibrahim memesankan menu santap siang untuk pria itu, Kalila tercengang.
“Pesankan aku, satu porsi iga taliwang dan jus jeruk hangat, boleh?”
Kalila pun menjawab dengan gugup.
Sementara Khalid, tersenyum penuh arti, menatap adik kesayangannya itu. Ibrahim terlebih dulu menghubungi Kalila, adalah suatu kemajuan dalam hubungan sepasang muda-mudi itu.
“Kau harus terus seperti itu La,” ucap Khalid, begitu adiknya itu selesai dengan kegiatannya. Dahi Kalila mengerut. Gadis itu benar-benar tidak mengerti maksud dari ucapan yang dilontarkan oleh Khalid.
“Abang yakin, seribu persen kalau kau diterima di perusahaan itu!” ucap Khalid senang. Kalila hanya mengaminkan ucapan sang kakak. “Kau lihat ekspresi Ibra ketika keluar dari ruang wawancara itu? Wajahnya sumringah, La. Sumringah!” pekiknya.
“Ibra bahkan terus menerus menatap kau, tadi!” lanjutnya lagi. Mendengar ucapan Khalid, Kalila pun tersipu. Gadis itu juga menyadarinya, saat Ibrahim menatapnya lekat.
“Kalau kau bekerja sebaik tadi, seperti wawancara yang kau lakukan tadi, Abang yakin, Ibra hanya akan menatap kau saja. Dia akan segera melamar kau!”
Mendengar hal itu, tentu saja Kalila menjadi bersemangat. Gadis itu berjanji dengan dirinya sendiri, kalau dia akan memberikan yang terbaik buat PT. Adi Putra Group. Dia akan membuat Ibrahim terus menatapnya kagum.
Ponsel Kalila kembali berdering. Gadis itu kembali menatap ponsel miliknya. Ada sebuah pesan teks. Gadis itu membacanya dengan wajah sumringah. Senyum Kalila terus terkembang saat berbalas pesan.
Khalid pun menatap adik kesayangannya itu dengan senyum terkembang. Terlebih wajah Kalila terlihat begitu senang ketika berbalas pesan. Hampir lima menit, Kalila sibuk dengan ponselnya. Khalid pun membiarkan aktivitas adiknya itu.
“Apa kata Ibra? Kau berbalas pesan lama sekali? Ibra masih di kantor?”
__ADS_1
“Bang Ibra sudah di jalan kok. Bahkan sebentar lagi tiba di sini,” jawab Kalila. Khalid mengangguk, “tumben Ibra pakai supir,” ucap Khalid. Kalila pun mengangkat kedua pundaknya, pasalnya, gadis itu pun tidak tau menahu mengenai hal itu.
“Kalian membicarakan apa saja?”
“Hanya membicarakan tentang memesan makan siang saja,” jawab Kalila santai. Alis Khalid bertaut mendengar penjelasan Kalila.
“Membicarakan makanan saja lama sekali. Hampir lima menit loh, kau sibuk berbalas pesan.”
“Oh ... Itu tadi pesan dari Bang Dim,” ucap Kalila. Gadis itu bahkan mengucapkannya dengan riang. Seakan dia begitu senang karena pesan yang dikirim oleh Dimas.
Anak itu lagi!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hi readers,
Sepertinya saya belum bisa triple Up lagi seperti biasa.
Qadarullah, lagi gak enak body 🤭
Minta doanya ya, biar cepat sembuh dan bisa triple Up lagi 🤗
Saya juga gak bisa janji, akan bisa up walau cuma 1 episode 😁
Harap maklum ya 🤗
Sekali lagi mohon doanya ya 🙏
***
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...
__ADS_1