
“Kebun Raya Bogooorrr ... we’re comiiing...!!”
Pekik Kalila, ketika baru saja mobil yang dikendarai oleh Dimas masuk ke area Kebun Raya terluas dan tertua di Asia Tenggara itu. Dimas yang berada di balik kemudi, melirik kaca spion, menyaksikan Kalila yang tampak ceria. Padahal sebelumnya gadis itu terlihat sangat kesal. Bahkan di sepanjang jalan, Kalila terus menatap keluar jendela dengan wajah datar.
Tapi duduk gadis itu mendadak tegak, ketika mobil yang dikendarai Dimas itu, mulai memasuki gerbang Kebun Raya Bogor.
Wajah Kalila menjadi ceria hingga gadis itu berteriak riang ketika Dimas mulai membawa mereka masuk ke kawasan Kebun Raya.
Sebuah senyuman terulas di wajah Dimas. Rasanya dia tak pernah bosan memandangi Kalila. Sejak mereka memulai perjalanan, Dimas bahkan sering melirik spion, menatap gadis yang begitu memesona menurutnya. Terlebih sekarang, ketika Kalila berteriak girang. Gadis itu terlihat sangat bersinar. Kalila bagaikan magnet yang selalu bisa menarik perhatiannya.
Gelagat Dimas, tentu saja tidak luput dari perhatian Kairav. “Dia memang terlahir sepaket dengan sikap noraknya, Bro,” ucap Kairav sembari menepuk pundak Dimas. Ucapan Kairav tentu saja terdengar di indra Kalila. Karena gadis itu duduk persis di belakang Kairav. Bahkan sebuah kepalan tangan mendarat di lengan Kairav.
“Siapa yang norak!”
Kairav hanya terkekeh dan tidak menjawab pertanyaan Kalila. Sementara Dimas, wajahnya terus mengulas senyuman. “Justru itu yang membuat Lila bersinar.” Dimas menoleh dan mengedipkan sebelah matanya hingga membuat Kalila bergidik.
Dasar pria gila! Bisa-bisanya makhluk seperti ini tidak musnah dari peradaban.
Wajah Kalila langsung memberengut. Padahal dia sangat bersemangat sekali mengelilingi Kebun botani itu. Namun ucapan Dimas membuatnya sedikit tak berselera.
“Kau tau tidak Bro, kenapa seorang Kalila bisa bersinar?”
Semua mata kini menatap Kairav, terlebih Kalila. Dimas bahkan menepikan kendaraannya dan bertanya alasan yang bisa membuat Kalila begitu bersinar. Pria itu begitu antusias. Bahkan dia mengubah posisi duduknya hingga menghadap Kairav yang berada di sebelahnya.
Sementara Kalila menajamkan pendengarannya. Ucapan gila apa lagi yang kali ini diucapkan Kairav? Tapi dia sungguh tidak mau ambil pusing. Kalila sudah bersiaga. Jawaban apapun yang dilontarkan Kairav, Kalila akan langsung mengigit lengannya kakak lelakinya itu.
“Karena dia rajin minum sun*light. Hahaha aaawww ....”
__ADS_1
Tawa menggema Kairav langsung berubah menjadi teriakan ketika Kalila menggigit lengan pria itu. Sedangkan Dimas terkekeh di balik kemudi. Kini kendaraan itu sangat riuh. Penuh dengan suara tawa dan teriakan, sampai akhirnya Bu Alinah melerai kedua anaknya.
“Kalian berdua ini, tidak bisakah akur sehari saja?!”
“Bang Rav tuh Mak!”
“Abang kan hanya bercanda. Kau saja ambekan!”
“Lagian Aba—”
Belum selesai Kalila berucap, Bu Alinah menutup mulut gadis itu dengan telapak tangannya. “Sudah ... Lila.” Kalila terdengar menghela napas. Gadis yang katanya ‘bersinar’ itu mengangguk, menuruti permintaan sang ibu. Senyum Dimas semakin terkembang melihat sikap Kalila yang penurut.
Pesona apalagi yang akan kau hadirkan, Kalila. Aku tidak tau, aku yang tidak terlalu banyak mengenal wanita, atau memang kau yang berbeda dari semua wanita yang ku kenal. Kau sangat menarik.
“Tapi Nah ....” Kali ini Nek Laila yang ikut berbicara. “Sewaktu kau hamil Kalila, kau kan memang gemar sekali mencium aroma sabun pencuci piring itu,” lanjut Nek Laila.
Dimas pun terkekeh. Kalila menatap geram pada pria itu. Bisa-bisanya dia ikut menertawakan dirinya. Sepertinya, gadis itu tidak akan menjalani hari ini dengan tenang. Karena kini, Kairav menemukan komplotannya. Kedua pria itu terlihat kompak sekali dalam hal menggoda Kalila. Membuat gadis berusia 17 tahun itu terus menekuk wajahnya.
Tapi sepertinya tidak hanya Dimas ... Bu Alinah dan Nek Laila— yang senantiasa membela Kalila, bahkan kini ikut tertawa bersama.
Kalila berusaha membuka pintu mobil. Rasanya udara di dalam kendaraan itu membuatnya sesak. Semua orang kini membuatnya kesal. Bahkan, nenek kesayangannya pun ikut tertawa kali ini.
“Buka dong kunci mobilnya! Biar Lila jalan kaki saja mengitari kebun ini. Kalian terus saja tertawa di sini!”
HA HA HA HA HA HA . . . . .
Suara tawa di dalam kendaraan itu semakin riuh. Kalila pun semakin merasa kesal. Bu Alinah menarik Kalila ke dalam pelukannya. Mendekap erat. Mengecup pucuk kepala sembari mengelus-elus punggung anak bungsunya itu.
__ADS_1
“Ayo Dimas, kita lanjutkan perjalanannya,” ucap Bu Alinah. Dimas mengangguk. Pria itu perlahan menginjak pedal gas. “Siaap ... calon mertuaku!” pekik Dimas. Sudah pasti Kalila berdecak kesal mendengar ucapan Dimas. Sementara Bu Alinah hanya tersenyum menatap Dimas. Wanita paruh baya itu merasa geli. Karena untuk pertama kalinya, seseorang memanggilnya dengan sebutan mertua.
Setelah hampir 45 menit berkendara, akhirnya Dimas memarkirkan kendaraannya miliknya. Mata Kalila kembali berbinar melihat hamparan Padang rumput yang luas. Dimas lagi-lagi tersenyum. Tidak salah pilihannya untuk parkir di sekitar taman ini. Dimas menekan salah satu tombol di mobilnya, hingga terdengar bunyi klik di empat sisi pintu mobil.
Kalila yang menyadari pintu mobil sudah tidak terkunci, langsung membukanya. Matanya menyala. Kini dia tidak hanya bisa melihat hamparan Padang rumput dengan beberapa orang yang berada di atasnya. Gadis itu kini bisa mendengar suara tawa anak-anak yang sibuk berlarian.
Ketika semua orang di dalam mobil telah turun, Kalila bahkan sudah bergabung bersama beberapa anak kecil yang tengah mengelilingi penjual gelembung sabun.
“Bang, beli satu yang besar,” ujar Dimas seraya memberi satu lembar uang pecahan dua puluh ribu rupiah. Sekarang Dimas memegang tongkat gelembung, dan mencelupkannya ke dalam wadah yang berisikan air sabun. Pria itu kemudian meniupkannya.
Blub, blub, blub ...
gelembung sabun pun tercipta. Angin membuat gelembung-gelembung sabun itu berpencar ke sana dan ke mari. Anak kecil di sekitar mereka pun sibuk mengejar gelembung-gelembung yang bertebaran itu. Kalila yang masih berdiri di sana, ikut menengadahkan telapak tangannya menunggu gelembung menghampiri.
Pop!
Gelembung itu pecah, persis di depan wajah Kalila. Senyum gadis itu terulas. Dimas pun bertambah gencar menciptakan gelembung-gelembung lainnya. Hingga kini, dirinya dan Kalila saling berhadapan dengan gelembung-gelembung itu sebagai pembatas di atara mereka. Bibir berwarna pink alami itu merekah. Dimas terkesima.
Untuk pertama kali, Kalila tersenyum padanya. Bahkan tersenyum lebar. Mata gadis itu berkilauan— setidaknya itu yang dilihat oleh Dimas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
__ADS_1
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....