Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 99


__ADS_3

“Punya kakak ipar yang juga sahabat sendiri saja, sudah seru. Bagaimana kalau mempunyai suami, yang juga sahabat sendiri?” ucap Dimas. Mendengar pertanyaan Dimas, Kalila tak jadi keluar dari kendaraan itu. Kalila menoleh. Kini gadis itu menatap Dimas yang tengah tersenyum lembut padanya.


“Maksud Bang Dim?” tanya Kalila.


“Kalau A' Ibra tidak juga melamar kau dalam tahun ini, aku yang akan melamar kau. Pasti rumah tangga kita akan seru sekali. Bagaimana menurut kau?” tanya Dimas. Bibir pria itu semakin tertarik ke atas. Sumringah, bahkan terlalu sumringah. Dimas bahkan menaik-turunkan alisnya.


Kalila terdiam. Tatapan yang tadinya diperuntukkan kepada Dimas, kini beralih menatap pemandangan di depannya. Entah apa yang dipikirkan oleh gadis itu. Senyum Dimas bahkan hampir luntur melihat diamnya Kalila. Bahkan jantung pria itu berdetak lebih kencang. Dimas takut jika Kalila akan marah. Takut jika Kalila tak mau lagi dekat dengannya. Atau gadis itu akan mengabaikannya, menganggapnya tidak ada di dunia ini. Namun, sebelum senyum Dimas luntur, Kalila mengatakan hal yang membuat Dimas menundukkan kepala.


“Pasti seru banget Bang Dim. Kita bisa video call-an setiap hari, walau tinggal satu atap. Kalau lagi bertengkar, kita video call-an saja. Jadi barang pecah belah di rumah, aman, tidak ada yang terbang!” ucap Kalila. Gadis itu terkekeh setelahnya. Kalila benar-benar menganggap setiap ucapan Dimas adalah gurauan, seperti biasanya. Karena pria itu memang tidak pernah membicarakan hal-hal yang serius dengannya.


Seperti hari ini. Dimas menanyakan tentang pernikahan dengan nada dan ekspresi sedang bergurau. Maka, Kalila pun menanggapinya dengan gurauan juga.


Sementara Dimas, pria itu seketika menunduk, karena mendengar jawaban Kalila. Tak lama, Dimas kembali menatap Kalila dengan tersenyum tipis.


“Semangat kerja di hari pertama Kalila,” ucap Dimas.


“Semangat!!” teriak gadis itu.


Sepasang muda-mudi itu pun beranjak dari sana. Melangkah dengan beriringan, menuju elevator.


“Abang tau, di mana divisi kita berada?” Dimas menggelengkan kepalanya. Dimas dan Kalila pun memutuskan untuk bertanya kepada penerima tamu di perusahaan itu.


“Bagaimana sih, masa cucu pemilik perusahaan tidak tau. Memangnya tidak diberitahu kemarin?” tanya Kalila.


Lagi-lagi Dimas menggelengkan kepalanya. “Bukankah Bang Dim berkunjung ke rumah beliau, kemarin?”


“Aku cuma disuruh kerja yang baik. Kakek, Uwa Gilang, bahkan pria pujaan kau itu, tidak ada yang memberi tau.”


Walaupun itu perusahaan milik sang kakek, Dimas sama sekali tidak tau apa pun mengenai gedung perkantoran itu. Tidak seperti Ibrahim yang terbiasa mengunjungi gedung itu sedari kecil, Dimas sama sekali belum pernah mengunjungi gedung itu. Bahkan, hanya menginjakkan kakinya di halaman gedung itu, Dimas tak pernah. Dimas hanya menatap gedung itu dari jalan raya, setiap melewatinya.

__ADS_1


“Lantai tiga, Pak, Bu,” jawab seorang penerima tamu yang bernama Yeni. Kalila dan Dimas kembali melangkahkan kaki mereka menuju elevator. Kali ini Kalila dan Dimas sudah tau, lantai berapa yang menjadi tujuan mereka.


***


“Karyawan baru ya?” tanya seorang gadis yang penasaran dengan Kalila dan Dimas. Sepasang muda-mudi itu kompak menganggukkan kepala mereka. Gadis itu terlihat mengulurkan tangan kepada Dimas. Dimas pun menyambut uluran tangan gadis itu.


“Mawar,” ucap gadis itu memperkenalkan diri. Gadis yang bernama Mawar itu memberikan senyum terbaiknya kepada Dimas.


“Dimas,” jawabnya. Dimas pun membalas senyum gadis itu. “Pantas saja, sewaktu masuk, ruangan ini harum sekali. Ternyata karena di sini ada kembang.”


Kalila seketika menoleh, mendengar Dimas mengucapkan kata-kata rayuan untuk Mawar. Entah kenapa, rasanya Kalila tidak menyukai jika Dimas merayu wanita lain. Terlebih wanita itu terlihat begitu genit. Terlihat dari tatapan dan senyumannya kepada Dimas. Gadis itu bahkan tidak mengulurkan tangan dan berkenalan dengan Kalila. Mawar benar-benar hanya mengajak Dimas untuk berkenalan.


Mawar tersipu, mendengar kalimat rayuan dari Dimas. Gadis itu bahkan berani memukul manja lengan Dimas. Kalila semakin tidak suka melihatnya.


Sementara Dimas, terus tersenyum dan tertawa kecil mendapat pukulan manja dari Mawar.


“Pokoknya, nanti, kalau tidak mengerti mengenai pekerjaan atau apapun mengenai perusahaan, tanya saja sama aku,” ucap Mawar. Dimas pun mengangguk-angguk sembari tersenyum.


“Dasar playboy!” gumam Kalila pelan.


“Kau bilang, apa?” tanya Dimas yang berpura-pura tidak mendengar ucapan Kalila. Padahal pria itu mendengar kalimat yang diucapkan oleh Kalila, walaupun samar.


Melihat Dimas hendak berbincang dengan Kalila, Mawar kembali mengajak Dimas berbincang.


“Kalau mau menanyakan hal pribadi, juga boleh kok,” ucap Mawar. Dimas semakin melebarkan senyumnya dan mengangguk. Kalila terus menoleh dan menatap tajam Dimas. Gadis itu benar-benar tidak suka dengan cara Dimas memperlakukan Mawar. Gadis itu lebih tidak suka kepada Mawar.


Beberapa saat kemudian, seorang pria masuk. “Astaga Mawar ... Kau masih di sini, sedari tadi?!” tanya pria yang baru saja tiba di ruangan ini. Pria itu kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Angga.


“Iya ... Iya ... Aku pergi sekarang!”

__ADS_1


Mawar pun hendak melangkah pergi dari ruangan divisi desain dan perencanaan itu. “Nanti kita berbincang lagi ya, Dimas,” ucap gadis itu, sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu.


“Maaf ya ... Mawar memang begitu kelakuannya. Dia menunggu dari pagi di sini, hanya demi melihat manajer baru kita. Sebenarnya dia dari divisi pemasaran,” ungkap Angga. Dimas dan Kalila hanya tersenyum menanggapinya.


Angga menunjukkan meja kerja Kalila dan Dimas, hingga pria yang usianya sama dengan Khalid itu, merasa bingung.


“Loh, bukannya karyawan baru hanya ada dua ya?” tanya Angga kepada salah satu karyawan yang sedari tadi hanya diam di meja kerjanya.


“Entahlah,” jawab pria itu cuek.


Beberapa saat kemudian, ke empat karyawan divisi desain dan perencanaan berkumpul. Kini ada tujuh orang di ruangan itu. Enam orang staff lama, dua orang staff baru, serta satu orang manajer baru, yang berpura-pura sebagi staff biasa.


Dimas sejujurnya tidak berbohong, dirinya memang karyawan baru di perusahaan milik kakeknya itu. Dimas bahkan tidak tau di mana ruang kerjanya.


Indra, asisten Ibrahim, berjalan memasuki ruang para staff divisi desain dan perencanaan. “Pak Dimas, kenapa di ruangan ini? Bapak langsung saja ke ruangan Direktur,” ucap pria itu.


“Saya tidak tau di mana ruangannya. Lagian A' Ibra tidak memberitahukan kalau saya di suruh langsung ke ruangannya,” ucap Dimas. Enam orang staff di sana saling pandang, ketika Indra— asisten Ibrahim— meminta Dimas ke ruangan Direktur. Mereka bertambah terkejut, ketika mendengar Dimas memanggil direktur mereka dengan sebutan AA.'


Indra pun meminta Dimas menunggunya sebentar. Pria itu memberi perintah kepada Kalila dan Harry— yang juga karyawan baru— untuk melewati masa OJT (Orientation Job Training) selama dua Minggu, dibawah pengasuhan langsung dirinya.


“Kalian berdua silakan bertanya kepada para senior, jika ada latihan pekerjaan yang kalian tidak mengerti,” ucap Indra sebelum pergi mengantarkan Dimas ke ruang direktur.


“Sampai bertemu lagi, teman-teman,” ucap Dimas sembari melambaikan tangan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...**MAAF YA BELUM BISA UP LEBIH DARI 1 BAB 🙏**...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......

__ADS_1


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2