Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 115


__ADS_3

Satu bulan berlalu sejak makan siang Ibrahim dengan Kalila. Selama satu bulan itu, beberapa kali Ibrahim mengajak Kalila makan siang bersama. Dimas pun sudah menyiapkan hatinya, melihat Kalila bersanding dengan Ibrahim— sepupunya.


Ibrahim juga sudah menyelesaikan proposal untuk proyek yang diberikan oleh Pak Sanjaya. Pria itu juga sudah mengirimkan data-data terkait proposal itu, ke email pribadi milik Pak Sanjaya.


Namun, berselang satu Minggu, proposal itu ditolak. Bukan karena Pak Sanjaya mengetahui jika Ibrahim yang mengerjakan proposal itu. Tapi karena Pak Sanjaya kurang menyukai ide-ide yang dituangkan oleh Ibrahim di sana.


Adi Putra meradang. Bagaimana mungkin, desain dari cucu kesayangannya yang jenius itu, ditolak oleh Pak Sanjaya. Padahal, menurut Adi Putra, rancangan yang dibuat Ibrahim, lebih baik dan lebih mewah dibandingkan rancangan yang dibuat oleh Dimas dan tim-nya.


“Sudahlah, Pi. Kita serahkan saja dengan Dimas. Mungkin ada detail rancangan dari Dimas yang begitu disukai Pak Sanjaya,” ucap Gilang.


“Papi lebih baik kehilangan proyek itu. Batalkan saja proyek dengan Pak Sanjaya. Lebih baik kita fokus dengan proyek yang sudah ada!”


Ibrahim yang mendengar percakapan sang ayah dan kakeknya, mendadak kesal. Satu bulan dirinya mengerjakan rancangan untuk proyek tersebut, tapi hasilnya tak sesuai dengan yang diharapkannya. Padahal hampir setiap Minggu Ibrahim bolak-balik mengunjungi pulau Dewata, untuk memastikan bahwa rancangannya sangat cocok dengan lokasi proyek tersebut. Namun, hasilnya tetap nihil.


***


Sementara itu, satu bulan setelah Pak Sanjaya menolak proposal yang diajukan PT. Adi Putra Group, pria lanjut usia itu menghubungi Dimas. Menanyakan tentang perkembangan rancangan untuk lahannnya di Bali.


“Saya pikir, proyek itu sudah dibatalkan, Pak,” ucap Dimas. Pria itu memang tidak tau menahu mengenai proposal yang dibuat oleh Ibrahim. Namun, Pak Sanjaya bersikeras jika PT Adi Putra Group, mengajukan rancangan glamping untuk lahannya di pulau Dewata itu.


“Karena ada bagian-bagian yang saya kurang suka, jadi saya menolaknya, dan meminta kau merevisinya kembali.”


“Saya tidak pernah mengerjakan rancangan itu, Pak,” ucap Dimas. “Seperti yang saya katakan tadi, saya pikir perusahaan kami, tidak menerima proyek itu.”


Dari ucapan Pak Sanjaya, Dimas pun bisa menebak, siapa orang yang mengerjakan proposal untuk proyek itu, Dan siapa yang dalang di baliknya.


“Apa kau tidak mau mengambil proyek ini sendiri?”


Dimas terdiam. Sebenarnya dia ingin mengambil proyek ini untuknya sendiri. Namun Dimas sadar akan kemampuannya secara materi. Proyek sebesar ini, tidak mungkin dikerjakan secara mandiri, tanpa adanya perusahaan yang mendanai.


“Kau bisa mengajukan sebagai reimbursement kepada saya, setiap biaya yang telah kau keluarkan. Jadi, proyek ini pribadi antara kita berdua.”


Lagi, Dimas terdiam. Tawaran dari Pak Sanjaya benar-benar menggiurkan. Dirinya bisa mendapat keuntungan miliaran rupiah dari proyek ini. Namun, Dimas terhalang oleh sebuah etika yang ia jaga.

__ADS_1


“Kalau seperti itu, saya jadi menghianati perusahaan, Pak,” ujar Dimas. Bukan karena itu perusahaan milik kakeknya. Tapi dirinya memang tidak mau bersikap curang. Jika Dimas ingin mengambil proyek itu secara mandiri, dirinya harus keluar dari perusahaan terlebih dulu.


“Kalau kau berubah pikiran, bisa hubungi saya. Saya tidak akan memberikan proyek itu kepada orang lain.”


Setelah sambungan teleponnya dengan Pak Sanjaya terputus, Dimas berkonsultasi dengan ibu kandungnya. Bu Ghita lebih setuju jika Dimas mengambil proyek itu secara mandiri. Dan lagi, Dimas tidak perlu terus menerus direndahkan oleh Adi Putra.


“Tapi, apa itu tidak kurang ajar namanya, Bun. Dimas sudah disekolahkan hingga meraih gelar master. Dan sekarang, Dimas merebut klien perusahaan.”


Bu Ghita menghela napas berat. Apa yang diucapkan oleh Dimas ada benarnya. Dimas yang sudah dipandang buruk, pasti akan bertambah hina di mata pemilik PT Adi Putra Group itu.


“Kalau begitu, kau katakan saja sejujurnya. Pak Sanjaya menghubungi dan meminta kau untuk menggarap lahannya.”


Dimas menganggukkan kepalanya. Pria itu menyetujui gagasan sang ibu. Dimas bahkan ingin mendatangi kediaman kakeknya, saat itu juga. Karena Dimas sudah bisa menebak, tindakan apa yang akan diambil kakeknya itu.


Namun, saat Dimas baru saja mengambil kunci mobilnya, ponselnya berdering. Nama Kalila tertera di sana. Dengan sigap, Dimas pun menjawabnya.


“Adiknya Nisa sudah lahir Bang!”


Kalila memekik begitu saja, saat panggilan teleponnya, dijawab oleh Dimas.


Gegas, Bu Ghita dan Dimas melangkah menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Ibu dan anak itu terburu-buru bukan karena ingin menemui Feni dan anaknya yang baru saja lahir. Sepasang ibu dan anak itu, tergesa-gesa karena ingin menemui Kalila.


“Bang Dim, tolong jagain Nissa. Anak kecil tidak boleh masuk ke kamar rawat inap,” ucap Kalila, ketika Dimas dan Bu Ghita menghampirinya.


Dimas menganggukkan kepalanya, pria itu memang tidak pernah menolak ingin Kalila. Namun, Bu Ghita mengalah. Wanita paruh baya itu berinisiatif untuk menjaga Nissa, membiarkan Kalila dan Dimas yang lebih dulu menjenguk Feni dan bayi kecilnya yang lagi-lagi berjenis kelamin perempuan.


Kalila langsung membawa keponakannya yang masih merah itu, ke dalam dekapannya. Dimas tersenyum lembut menyaksikan gadis itu. Mungkin seperti inilah pemandangan yang akan dia saksikan nanti, kala Kalila sudah menjadi istrinya.


“Lila sudah cocok menjadi ibu, Bang Dim,” goda Feni. Dimas tertawa kecil sembari mengangguk-anggukan kepalanya.


Gadis itu memang terlihat sekali mahir dalam menggendong bayi. Bayi mungil yang tadinya menangis pun, seketika terdiam ketika sudah masuk dalam dekapan Kalila.


Mungkin pelukan kau, terlalu nyaman Lila. Aku jadi ingin berada di sana. Aku sungguh iri terhadap bayi itu.

__ADS_1


“Abang kenapa? Kok senyum-senyum tidak jelas seperti itu?”


Dimas hanya menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil.


***


Satu Minggu berlalu sejak kelahiran anak kedua dari pasangan Feni dan Khalid. Hari ini, Khalid dan Feni mengadakan acara tasyakuran sekaligus aqiqah seorang bayi kecil yang memiliki nama, Khairunnisa Nasution.


Dimas dan ibunya datang dengan membawa kado untuk Feni dan bayinya. Kalila dan Feni menatap antusias ketika melihat kedatangan Bu Ghita dan Dimas. Kalila bahkan mengenalkan ibunya Dimas kepada Bu Alinah— ibu kandungnya.


Bu Ghita dan Bu Alinah dengan cepat menjadi akrab. Bahkan, kedua wanita lanjut usia itu seperti sahabat yang terpisah lama. Padahal saat itu adalah hari pertama pertemuan mereka.


Saat kedua ibu mereka saling berbagi cerita. Dimas, Kalila dan Kairav yang juga ada di sana, sibuk bermain bersama Nissa. Tawa riang Nissa senantiasa menggema.


Dan beberapa saat kemudian, Ibrahim pun datang ke sana. Kalila berlari kecil, menyambut kedatangan pria pujaan hatinya.


“Sabar Bro,” ucap Kairav sembari menepuk-nepuk pundak Dimas. Pria itu hanya tersenyum tipis, menanggapi tindakan Kairav.


Kalila membawa Ibrahim pada Feni dan Khalid. Ternyata sepasang suami istri yang baru saja dikaruniai anak kedua itu, tengah berbincang dengan wanita paruh baya.


Manik kecoklatan Ibrahim melebar. Menatap tak percaya pada apa yang dilihatnya.


“Loh, Ibrahim?!” pekik wanita paruh baya itu. Ibrahim menelan salivanya. “Kau mengenal tuan rumah juga? Atau .... Temannya Kalila,” ucap wanita paruh itu.


“Iya Bu. Bang Khalid adalah sahabatku di ITB. Sedangkan Lila, dia adalah salah satu staff terbaik saya,” terang Ibrahim.


Bu Baskoro— ibunya Anneke—hanya bisa tersenyum tipis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...

__ADS_1


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2