
“Dimas sangat merindukan ikan patin bakar ini,” gumam pria itu sembari makan dengan lahap.
“Lagian kau, selama dua tahun kuliah, tidak pernah sekalipun ingin pulang. Malah lebih memilih ke Medan, menghampiri Kalila!” ucap Bu Ghita sembari menatap Kalila dengan tajam. Hal itu membuat Kalila menjadi tak enak hati.
Sebenarnya Kalila juga mengetahui, jika dimas tidak pernah pulang ke Bogor, selama masa perkuliahannya di Singapura. Bu Ghita yang tidak bisa meninggalkan butiknya terlalu lama, biasanya hanya mengunjungi Dimas tiga bulan sekali, itupun hanya satu malam. Biasanya Bu Ghita akan tiba di Singapura pada malam hari dan kembali ke Indonesia keesokan sorenya.
Sedangkan Dimas menghabiskan waktu beberapa hari di kota Medan. Berlibur bersama Kalila dan Bu Alinah. Kalila sungguh merasa tidak enak hati.
“Maaf Bunda, padahal Lila tau kalau Bang Dim hanya ketemu bunda tiga bulan sekali. Tapi Lila malah meminta Bang Dim ke Medan sebagai hadiah kelulusan Lila,” ucap Kalila.
Bu Ghita kini menoleh, menatap Kalila. “Lila tau kalau Bunda jenguk Dimas tiga bulan sekali?” Gadis itu menganggukkan kepalanya.
“Tau Bun. Lila dan Bang Dim, selalu video call-an setiap malam. Jadi sewaktu Bunda ke Singapore, Bang Dim pasti menghubungi Lila dari bandara,” jelas Kalila. Bu Ghita mengucapkan huruf O sembari mengangguk-anggukan kepalanya.
“Maaf ya Bun, karena Lila sudah egois dan meminta Bang Dim untuk ke Medan,” jelas gadis itu.
“Bunda akan memaafkan kau, Lila. Tapi, tentu saja dengan satu syarat.” Kini perhatian Dimas dan Kalila tertuju pada wanita paruh baya itu. Sepasang muda-mudi itu penasaran mengenai syarat apa yang akan diberikan oleh Bu Ghita.
“Lila harus sering-sering menemani Bunda.”
“Menemani Bunda?” Kalila dan Dimas saling bertatapan, Karana mereka serempak menanyakan hal yang sama. Apa maksud Bu Ghita dengan menemani?
Bu Ghita menganggukkan kepalanya, “Bunda dengar Lila bekerja di perusahaannya kakek Dimas. Benar begitu?” Kalila menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
“Jarak butik milk bunda dan perusahaan kakeknya Dimas, dekat sekali. Jadi, Lila harus janji akan sering menemui Bunda. Kita bisa makan siang bersama saat jam istirahat, atau makan malam bersama setelah kalian pulang bekerja. Bagaimana?”
Senyum Kalila merekah. Gadis itu lagi-lagi Kalila menganggukkan kepalanya. Tentu saja Kalila menyambut baik syarat yang diajukan oleh ibunya Dimas itu. Setidaknya gadis itu bisa sedikit mengurangi kerinduannya akan kasih sayang seorang ibu. Terlebih Bu Ghita terlihat sangat perhatian kepadanya.
__ADS_1
Setelah selesai makan siang bersama, Dimas dan Bu Ghita mengantarkan Kalila kembali ke kediamannya. Lagi-lagi Dimas menghela napas kasar, ketika mendapati dua wanita yang dicintainya duduk di belakang dan seolah menjadikan Dimas seorang supir pribadi.
Dimas berlari membukakan pintu buat Bu Ghita, ketika mereka sudah tiba di kediaman Kalila. “Silakan Nyonya besar dan Nona muda,”. ucap Dimas memersilakan kedua wanita itu untuk turun dari mobil. Bu Ghita dan Kalila tertawa dengan tingkah Dimas.
Kalila pun mengajak Bu Ghita dan Dimas untuk masuk ke kediamannya. Feni yang sudah diberitahu oleh Kalila, langsung menyambut mereka.
Nissa seketika berlari menghampiri Kalila yang tengah memeluk boneka beruang yang besar, bahkan tinggi boneka itu melebihi tinggi Nissa. “Ih ... ini punya Tante!” pekik Kalila, ketika Nissa hendak merebut boneka hadiah dari Dimas itu. Dimas terkekeh, kemudian menghampiri Kalila dan Nissa.
Pria itu memberikan Nissa boneka yang memang sengaja disembunyikan oleh Dimas, dibalik badannya. Nissa langsung berteriak senang. Gadis kecil itu pun segera memeluk boneka yang diberikan Dimas.
“Nikon ... Nikon ...,” ucap gadis kecil yang belum bisa mengucapkan kata unicorn dengan benar. Melihat Nissa yang begitu senang mendapatkan hadiah darinya, Dimas pun tersenyum lebar melihatnya. Bu Ghita juga menyerahkan beragam oleh-oleh yang dibawa oleh Dimas.
“Wah ... Apa ini Bang?” tanya Kalila antusias, ketika melihat paper bag yang diberi oleh Dimas.
“Ada coklat Merlion, gantungan kunci, teh TWG dan kaos untuk Bang Alid, Feni dan Nissa.” Kalila menatap tajam Dimas. Pria itu hanya tersenyum geli melihat ekspresi marah Kalila, seolah tau yang ada di benak Kalila.
“Kok aku tidak dibelikan kaos!” Dimas sontak terkekeh ketik Kalila menanyakan hal itu. Tebakannya benar. Kalila pasti akan menanyakan mengapa dirinya tidak dibawakan kaos sebagai oleh-oleh.
...Melihat interaksi Kalila dan Dimas, Bu Ghita tersenyum lembut....
Kalian terlihat saling menyayangi. Bunda harap kalian bisa bersatu dan bahagia selamanya.
“Ayo silakan duduk Bu ... Bang Dimas. Dari tadi tamu malah berdiri terus,” ucap Feni tak enak hati. Dimas dan Bu Ghita pun duduk di sofa yang terdapat di ruang tamu rumah itu. Kalila juga berpamitan sebentar untuk menyimpan boneka dan juga tas kerjanya.
Feni yang sudah tau sebelumnya, jika Dimas dan ibunya akan datang ke kediaman mereka, sudah menyiapkan beberapa camilan. Feni pun meminta Kalila untuk membantunya, membawakan dua gelas minuman dan juga camilan ke hadapan Dimas dan Bu Ghita.
“Duh ... Calon mantu Bunda rajin sekali,” ucap Bu Ghita, saat Kalila menyajikan minuman dan juga camilan ke hadapannya. Feni terperangah mendengar ucapan dari ibunya Dimas itu. Feni sudah terbiasa jika Dimas yang mengatakan Kalila adalah calon makmumnya. Hal itu bisa dianggapnya sebagai candaan pria itu semata.
__ADS_1
Tapi, kali ini Bu Ghita—ibunya Dimas— yang mengucapkan kalau Kalila adalah calon menantunya, dan Kalila terlihat biasa saja dengan penuturan wanita paruh baya itu.
Apakah Bu Ghita sudah meminta Kalila secara langsung, untuk menjadi menantunya?
Apakah Kalila juga sudah menyetujui hal itu?
Apa Kalila sudah tidak lagi mengharapkan Ibrahim?
Apa Kalila sudah menyadari, jika Dimas lah pria yang bisa membahagiakannya?
Banyak sekali pertanyaan di benak Feni, ketika mendengar Bu Ghita memanggil Kalila dengan sebutan 'calon mantu.' Setelah Kalila menghidangkan minuman dan makanan di meja, Feni seketika menarik lengan Kalila, dan menyeret gadis itu ke dapur.
“Bang Dimas dan ibunya ke sini, mau melamar kau, ya?” Mata Kalila melebar mendengar pertanyaan yang terlontar dari wanita yang sedang mengandung itu. Tidak mau menjawab pertanyaan Feni, Kalila bergegas menuju ruang tamu. Namun, Feni dengan cepat menahan langkah gadis itu.
“Kenapa ibunya Bang Dimas mengatakan kau calon mantunya?” Kalila menatap malas sang kakak ipar, lalu menghembuskan napas kasar.
“Sama seperti Bang Dimas yang selalu memanggilku dengan sebutan calon makmum, Bunda memanggilku calon mantu, itu juga bercanda!”
“Bercanda?!”
Kalila mengangguk malas, “iya ... Hanya bercanda.” Setelah menjawab rasa penasaran Feni, Kalila pun melangkahkan kembali kakinya menuju ruang tamu. Namun pertanyaan Feni selanjutnya, membuat gadis itu menghentikan langkahnya.
“Bagaimana jika itu bukan sebuah candaan? Bagaimana jika itu adalah sebuah harapan?”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
__ADS_1
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...