
“Apa kau lupa dengan perjanjian kita? Jika kau membuat air mata Kalila menetes, maka akan ku bawa pulang adikku!”
Netra menyala milik Khalid, terus menatap tajam netra kecoklatan milik Dimas. Rasanya pria itu ingin kembali melayangkan kepalan tangannya pada Dimas, pria yang telah membuat adiknya menangis hingga matanya membengkak seperti itu.
Khalid kembali menarik lengan Kalila. Namun Dimas mencekalnya. Pria itu ikut menarik lengan sang istri.
“Aku tidak mengizinkan Kalila pergi!”
Khalid semakin berang karena Dimas mulai melawan dirinya. Pria itu melepaskan tangan Kalila dan menarik kerah baju Dimas. Kalila panik. Wanita itu menarik lengan Khalid, agar pria itu tidak bertindak gegabah dan menghajar suaminya.
“Bang ... Bang Alid jangan Bang,” ucap Kalila panik.
“Sayang, kau masuklah ke kamar,” perintah Dimas.
“Tapi Bang ....”
“Masuklah sayang, aku tidak apa-apa,” ucap Dimas. Pria itu mengerti apa yang dirasakan oleh Kalila. Dua orang yang disayanginya sedang bertengkar, pastilah Kalila merasa dilema.
Walau sedikit ragu, Kalila tetap mengikuti perintah suaminya. Kalila berbalik arah dan hendak melangkahkan kakinya menuju kamar tidur.
“Stop Kalila!” teriak Khalid. Pria itu sudah melepaskan cengkraman jemarinya pada kerah baju milik Dimas. Khalid kembali memegang lengan Kalila.
“Kau harus ikut pulang bersama Abang!” perintah Khalid.
“Lila tidak mau, Bang! Suami Lila juga sudah melarang Lila pergi.”
Khalid menyeringai, pria itu menarik salah satu sudut bibirnya. “Suami? Suami yang sudah membuat mata kau sembab seperti ini?! Itu yang kau sebut suami? Baru tiga bulan kalian menikah, tapi kau sudah berderai air mata seperti itu!”
Kembali Khalid menyeret Kalila. Dimas pun kembali menghalangi. Dipeluknya tubuh Kalila.
“Tolong jangan ikut campur masalah rumah tangga kami, Bang!” sergah Dimas. Kembali Khalid menyeringai.
“Aku tidak akan ikut campur, jika saja adikku tidak mengadu sambil menangis sesenggukan!”
Dimas menatap Kalila. Dimas mengerti dengan apa yang dilakukan Kalila. Karena dirinya juga menyeritakan masalah mereka ini, dengan Ghita—ibu kandungannya.
Kalila melepaskan diri dari pelukan sang suami, kini wanita itu memeluk Khalid.
“Bang ... Lila menangis dan mengadu ke Bang Alid, karena Lila takut Bang Dim akan meninggalkan Lila. Lila mau Bang Alid membawa Bang Dim kembali ke sisi Lila, bukannya malah memisahkan Lila dengan Bang Dim!
__ADS_1
Lila sudah ditinggal ayah sejak dalam kandungan, Lila tidak mau jika sekarang harus ditinggal suami.” Kalila kembali terisak. Kini wanita itu tengah menangis dalam pelukan Khalid.
Melihat Kalila menangis sesenggukan, netra Dimas pun mengembun.
“Maafkan aku, Sayang. Maaf....”
Dimas berupaya melepaskan pelukan Kalila terhadap Khalid, dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya.
“Aku tidak akan pernah meninggalkan kau. Kau juga harus berjanji, agar tak meninggalkan aku.” Kalila mengangguk cepat.
“Maafkan aku yang sudah cemburu buta. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku janji.” Dimas pun melepaskan pelukannya. Pria itu menghapus air mata yang masih menetes di wajah sang istri.
“Kau mau memaafkan aku, kan?” tanya Dimas. Kalila tentu saja mengangguk. Wanita itu juga meminta maaf karena belum bisa menjadi istri yang baik. Kalila juga berterima kasih karena Dimas selalu melayaninya seperti putri raja.
“Lila berjanji akan menjadi istri yang baik. Lila akan melayani Bang Dim dengan baik, mulai sekarang. Lila tidak akan membangkang dan keras kepala.”
Bibir Dimas merekah. Kembali pria itu mengusap lembut air mata Kalila yang kembali menetes.
“Kau hanya perlu untuk tinggal di sisiku Kalila. Kau tidak perlu melakukan yang lain. Biar aku saja yang mengurus semuanya. Aku sangat mencintai kau, Kalila.”
Seketika Dimas menempelkan bibirnya pada bibir Kalila. Memberikan wanitanya *******-******* lembut, Kalila pun langsung mengalungkan lengannya pada leher Dimas.
Kalila membalas ******* itu dengan antusias, Dimas bahkan semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Kalila. Pria itu ingin memperdalam ciumannya. Tangannya pun sudah berpindah pada tengkuk wanita itu.
“Kalian pikir, Abang itu patung atau tembok?!”
Saling menggenggam erat, Dimas dan Kalila seketika kesulitan menelan salivanya. Padahal, tadi, dengan mudahnya mereka saling bertukar saliva.
“Abang pamit!”
Dimas dan Kalila saling lirik. Mereka benar-benar merasa tak enak hati dengan Khalid. Sementara Khalid, pria itu merasa senang karena Dimas sudah bisa membuat adiknya kembali bahagia. Khalid akhirnya menyadari, jika Kalila teramat mencintai Dimas, begitupun sebaliknya. Pria itu kini yakin, jika adiknya pasti akan bahagia bersama Dimas.
“Kalian lanjutkan saja yang tadi biar Abang cepat dapat keponakan!”
Gegas pria itu keluar dari bilik itu. Dimas pun hendak mengantarkan Khalid hingga ke elevator. Namun, seketika Khalid menghentikan langkahnya.
“Aku tidak akan bisa terima, jika kali kembali menangis!”
“Itu tidak akan pernah terjadi lagi, Bang,” janji Dimas. Khalid mengangguk.
__ADS_1
“Terima kasih karena sudah membuat Kalila bahagia.”
Gegas Khalid masuk ke elevator, meninggalkan Dimas dengan senyum sumringahnya.
Dimas kembali menemui istrinya. Emosi yang meluap-luap membuat sepasang suami-istri itu lelah. Mereka pun memutuskan untuk beristirahat.
Kini, Kalila dan Dimas terlelap sambil berpelukan erat, seolah raga mereka tak ingin berpisah, walau hanya sekejap saja.
***
Hari ini Kalila bangun cukup pagi. Bahkan, sebelum adzan subuh berkumandang, wanita itu sudah terlihat sibuk di dapur. Mengeluarkan bumbu halus yang sudah dibuat oleh Dimas dua hari lalu, Kalila pun memasak nasi goreng.
Sejak menikah, ini lah pertama kalinya Kalila memasak untuk Dimas. Wanita itu tersenyum puas, saat nasi goreng buatannya telah selesai dimasak.
Saat Kalila hendak berbalik arah dan mengambil piring, Kalila dikejutan dengan dua buah lengan yang secara tiba-tiba memeluknya dari belakang.
“Bang Dim mengejutkan saja!” pekik Kalila. Dimas tak menggubrisnya, pria itu malah mengendus ceruk leher Kalila.
“Kenapa cepat sekali kau bangun?”
Kalila berbalik badan, hingga kini menatap sang suami.
“Mulai sekarang, biar Lila yang menyiapkan sarapan untuk Bang Dim. Lila mau belajar jadi istri yang baik.”
Dimas tersenyum dan memegang kedua pipi Kalila, “kau istri yang baik. Tidak perlu untuk jadi lebih baik lagi.” Dimas segera menyesapi bibir istrinya. Pertukaran Saliva kembali terjadi, tapi kali ini, mereka melakukannya di dapur, dan tak ada Khalid yang mengganggu di sana.
Dengan bibir masih saling menempel, Dimas menggiring Kalila hingga ke meja makan. Serta merta pria itu mengangkat Kalila dan mendudukkan wanita itu di atas meja.
Kalila tentu saja terkejut dengan perbuatan Dimas.
“Kita belum pernah mencoba di meja makan kan?”
Dimas mengerlingkan sebelah matanya.
“Aku akan menikmati kau terlebih dulu di meja makan ini.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
__ADS_1
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...