
“Loh, Dim, kau yang datang?”
“Yoi Bang. Kebetulan pagi ini, Bang Ibra ada urusan mendesak. Mengenai sidang meja hijaunya bulan depan. Jadi, dia tidak bisa menemani keluarga Abang pagi ini.”
Terdengar suara decak kesal dari bibir mungil Kalila. Pandangan Dimas segera beralih, menatap gadis yang terlihat sangat kesal dengan ucapannya. Bahkan gadis itu sudah sangat kesal dengan kehadiran Dimas di sana.
“Nanti Bang Ibra akan menyusul kok. Tapi agak siang. Mungkin setelah Zuhur,” ucap Dimas.
Senyum di wajah pria itu sama sekali tidak luntur. Padahal dia tau betul, jika Ibrahim— sepupunya itu, adalah sosok pria yang dikagumi oleh Kalila. Bahkan Dimas mengucapkan hal itu seraya menatap Kalila dengan lembut. Dan kini, Kalila mulai tersenyum tipis. Senyum yang dia hadirkan, karena mendengar kabar sang pujaan hati akan segera menyusulnya.
“Bukannya Bang Ibra sudah mengabari Abang, ya?” tanya Dimas.
“Oh ya?”
Kini Kalila langsung menatap tajam Khalid. Bagaimana bisa Khalid tidak memberi tahukan hal ini padanya? Jelas-jelas Khalid— abangnya, yang paling mengetahui jika Kalila sangat menantikan kedatangan Ibrahim Adi Putra. Bahkan gadis itu tidak membiarkan seorangpun membukakan pintu tadi. Karena dia ingin menjadi orang pertama yang dilihat oleh Ibrahim.
“Ponsel Abang mati, Dek. Kau kan tau, ponsel Abang sedang di-charge sejak tadi malam. Belum Abang nyalakan,” ucap Khalid membela diri. Padahal Kalila tidak mengatakan sepatah katapun, tapi tatapan matanya itu seolah mengintimidasi Khalid.
“Sudah pada siap belum?”
Pertanyaan Dimas, membuat Khalid dan Kalila beralih menatap pria itu. “Kalau belum pada siap, gue cari sarapan di depan bentar Bang,” ucap Dimas.
“Makan di sini saja Nak,” ucap Nek Laila, yang baru saja tiba di sana. “Masih ada nasi goreng kari— makanan kesukaan Kalila.”
“Nasi goreng buatan Kalila?!” tanya Dimas antusias. Bahkan pekikan suara pria itu terdengar nyaring.
“Itu namanya kau sedang bermimpi, Bro. Kalila Nasution mana bisa memasak nasi goreng. Masak air saja gosong!” celetuk Kairav, yang usianya terpaut satu tahun di atas Dimas.
“Bodo!” sungut Kalila kesal.
Entah mengapa, melihat wajah kesal Kalila, membuat Dimas bertambah gemas pada gadis itu. Wajah gadis itu bertambah kesal, ketika mendengar ucapan Nek Laila kemudian. “Ayo, Lila, siapkan sarapan untuk Dimas.”
“Kok Lila sih, Nek!”
“Ya harus kau. Masa nenek atau mamak yang siapkan!” celetuk Kairav.
__ADS_1
“Kenapa tidak Bang Rav saja?!” tanya gadis itu. Pandangan Kalila kini beralih pada Khalid. “Atau Bang Alid saja. Kan dia temannya Bang Alid!”
“Karena kau itu perempuan. Sudah seharusnya kau yang mengerjakan,” celetuk Kairav.
Kalila berdecak kesal, “sejak kapan di keluarga ini membedakan antara laki-laki dan perempuan?!” Kairav, Dimas, Khalid dan Nek Laila terkekeh mendengar ocehan Kalila. Gadis itu pun berbalik badan dan terpaksa melangkah menuju dapur untuk mengambilkan sarapan buat Dimas. Sungguh, saat itu Kalila merasa kesal sekali.
Sejak subuh tadi Kalila sudah bersemangat sekali akan bertemu Ibrahim pagi ini. Dia sudah menyiapkan senyum termanisnya pagi itu. Namun, yang mendapatkan senyumnya itu, malah pria yang tidak disukainya. Dan sekarang, dia harus menyajikan sarapan untuk pria itu. Pria yang sudah membuatnya kesal sejak pertama kali mereka bertemu.
Sebelum berbelok menuju dapur, Kalila menyempatkan diri untuk menoleh dan menatap Dimas dengan tajam. Seolah mengatakan bahwa kedatangan Dimas sungguh sangat merepotkan. Tentu saja Dimas langsung sumringah melihat tatapan gadis kecil itu.
Sungguh menggemaskan sekali. Kau menoleh padaku, Lila. Bukankah itu artinya aku sudah ada di pikiranmu? Walaupun itu karena kau kesal. Setidaknya kau memikirkan aku sekarang.
“Ayo Dim, masuk.”
Ucapan Khalid menyadarkan Dimas dari lamunannya tentang Kalila. Pria itu pun melepas alas kaki dan melangkah masuk.
“Maaf ya berantakan. Tadi malam Abang dan Rav, tidur di ruang tamu. Maklumlah, kamar di sini hanya ada satu dan kecil pula,” ucap Khalid.
“Tidak masalah Bang,” jawab Dimas santai. Ketiga pria itu berbincang sebentar sebelum akhirnya Kalila datang dengan membawa nampan yang berisikan sepiring nasi goreng kari dan segelas air putih. Dimas terus menatap Kalila yang menyuguhkan makanan itu tepat di hadapannya.
Kalila kembali menatap tajam pria itu. Rasanya dia mual setiap mendengar Dimas memanggilnya dengan sebutan ‘calon makmum.’ Andai saja Ibrahim yang mengatakannya, dia pasti akan tersanjung. Tapi sayangnya, kata-kata itu terlontar dari bibir Dimas— si pria gila.
Kairav terkekeh-kekeh mendengar panggilan yang disematkan Dimas kepada adik kesayangannya. Terlebih melihat wajah kesal Kalila. Wajah yang selalu diperlihatkan Kalila padanya sejak kecil. Karena memang sedari dulu, Kairav senang sekali menggoda adik kecilnya itu.
Sementara Khalid hanya tersenyum tipis. Karena ini semua tidak sesuai dengan rencananya. Dia ingin mendekatkan Kalila dengan Ibrahim, namun sepertinya Ibrahim tidak terlalu tertarik dengan adik bungsunya.
Dimas memang bukan pria yang buruk. Dimas juga seorang pria yang baik, cerdas dan lumayan tampan. Namun tentunya tidak sesempurna Ibrahim. Tutur bahasanya tidak selembut Ibrahim. Dimas juga tak secerdas Ibrahim. Bahkan dia tidak sepekerja keras Ibrahim.
“Loh, kok pergi? Harusnya temani calon imamnya makan dulu dong,” ledek Kairav.
Kalila yang baru saja hendak beranjak dari sana, kembali duduk di antara Kairav dan Dimas yang baru saja mengisi mulutnya dengan sesuap nasi goreng.
“Bilang apa Abang tadi?” ketus Kalila.
Kairav terus terkekeh tanpa menghiraukan pertanyaan Kalila. Kalila pun bertambah kesal dibuatnya. Tanpa menyia-nyiakan kelengahan Kairav, gadis itu segera mencengkram dan mengigit lengan atas kakak lelakinya yang paling menyebalkan itu.
__ADS_1
“Aaarrgghhhh....!”
Tindakan Kalila membuat mata Dimas membesar. Pria itu bahkan tersedak dan hampir menyemburkan nasi goreng yang ada di rongga mulutnya. Sementara Khalid hanya terkekeh melihat sekelilingnya.
Kalila masih belum melepaskan gigitannya. Hal itu membuat Kairav terus berteriak kesakitan. Pria itu bahkan mendorong kasar wajah Kalila, agar gigitan gadis itu terlepas. Namun usaha Kairav tidak membuahkan hasil.
“Coba pikir-pikir lagi Bro, kalau mau jadi calon imamnya ikan piranha ini. Siap-siap saja kau digigitnya seperti ini.”
Tanpa diduga Kairav. Ucapannya berhasil membuat Kalila melepaskan gigitannya pada lengan pria itu. Kairav langsung beringsut mundur sembari mengusap lengannya yang masih terasa sakit akibat gigitan Kalila.
“Bang Rav mau nambah gigitan di tangan sebelah kanan juga?!”
Kairav menggeleng dengan cepat. “Tuh Dimas aja yang belum pernah,” seru Kairav sembari menunjuk Dimas, hingga pria itu terbatuk-batuk karena tersedak sekali lagi. Hal itu membuat Khalid semakin terkekeh. Bu Alinah dan Nek Laila hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari tersenyum melihat kelakuan empat manusia itu.
“Ayo, Bro ... mau gak digigit Kalila?”
“Sebagai calon imam yang baik, Abang rela, kalau Dik Lila mau mengigit Abang,” ucap Dimas. Pria itu bahkan menyodorkan lengannya. Kalila spontan menjauhkan tubuhnya. “Nih gigit. Abang ikhlas.” Kali ini Dimas bahkan mengedipkan sebelah matanya hingga Kalila bergidik ngeri.
“Ogah!”
Kalila langsung berjalan meninggalkan Dimas. Mengembalikan nampan ke dapur dan memutuskan untuk tidak kembali ke ruangan itu. Gadis itu memilih bersembunyi di kamar karena tidak mau diolok-olok oleh Kairav dan Dimas. Kairav benar-benar merasa menemukan rekan setimnya. Tim penggoda Kalila.
Kalila terus berada di kamar, hingga Bu Alinah menghampiri gadis itu dan mengajaknya untuk bersiap. Karena mereka akan segera berangkat.
Kalila menghembuskan napas kasar. Rasanya dia malas sekali berlibur dengan pria gila itu. Namun rasa penasarannya akan Kebun Raya Bogor, ternyata lebih mendominasi. Terlebih siang nanti, Ibrahim juga akan bergabung bersama mereka.
Akhirnya Kairav, Kalila, Bu Alinah dan Nek Laila, berangkat menuju kebun raya Bogor, bersama Dimas.
Bersambung ....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
__ADS_1
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....