Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 43


__ADS_3

Siang itu, Dimas kembali berada di balik kemudi. Karena hari ini, dia bertugas untuk menemani Kalila dan keluarganya, mengantarkan Khalid dan juga Feni ke bandara. Karena sore ini, Khalid, Feni dan kedua orang tua Feni, akan bertolak ke Jakarta.


Feni menangis haru, ketika mengucapkan kata perpisahan pada Kalila. Untuk pertama kalinya, setelah enam tahun bersahabat, mereka berpisah. Kedua sahabat itu berpelukan lama sekali. Kalila dan Feni, bahkan tak dapat menyembunyikan air mata mereka. Tumpah ruah. Kedua sahabat itu saling melambaikan tangan dengan haru, di sana. Di Bandar Udara Internasional Kualanamu.


Dan dua hari setelahnya ...


Giliran Dimas yang harus bertolak ke kota kelahirannya. Kalila kembali berpisah dengan sahabatnya.


Pagi itu, dengan ditemani oleh Kairav, Kalila mengantarkan Dimas ke bandara.


“Kita kembali berjauhan, Kalila.”


Senyuman tipis terukir di wajah Dimas, sembari menatap manik Kalila yang redup. Gadis itu sungguh merasa kehilangan. Sepuluh hari menghabiskan waktu dengan Dimas secara intens, sungguh teramat menyenangkan. Hal-hal yang biasa mereka lakukan secara virtual, selama sepuluh hari itu, mereka lakukan secara langsung. Saling ejek, saling curhat, traveling bersama, menyantap ragam kuliner tanpa perlu menjaga sikap. Aahh ... Gadis itu semakin menyayangi Dimas— sahabatnya.


Dimas mengacak gemas rambut Kalila. “Hei ... ke mana perginya sinar Kalila?”


“Kau harusnya membelikan sabun cuci piring itu, sebelum meninggalkan Kota Medan. Jadi calon makmum kau ini, tetap bersinar!” cebik Kairav.


Tak menanggapi ocehan Dimas dan Kairav, wajah gadis itu masih sendu. Kairav pun mengetahui hal itu.


Benarkah yang Kairav ungkap sebelumnya? Jika perlahan, nama Dimas mulai menelusup di hati gadis itu.


Ah ... Entahlah, mungkin itu hanya keinginan Kairav yang menjelma menjadi dugaan. Yang jelas, Kalila masih menganggap Dimas sahabat selama lama lamanya.


“Come on Kalila. Ini pertemuan terakhir kita. Aku tidak tau kapan kita bisa bertemu lagi. Aku ingin melihat Kalila yang bersinar, sebelum kembali ke Bogor. Aku ingin merekam senyum sumringah Kalila, dalam memoryku.”


Kalila menghembuskan napas berat. Seulas senyum pun menghias wajah Kalila. Senyum hangat dipaksakan olehnya. “Lila sebel, Bang. Semua sahabat Lila sudah pergi meninggalkan Lila. Kemarin Feni, sekarang Bang Dim,” ungkap gadis itu.

__ADS_1


Dimas tersenyum lembut, “aku juga sebel, karena harus berpisah dengan kau— Kalila. Sini aku peluk,” ucap Dimas. Pria itu bahkan melebarkan kedua tangannya, bersiap menyambut Kalila ke dalam pelukannya. Namun tentu saja hal itu membuat Kairav berang.


“Hei!” pekik Kairav dengan mata melebar. Kairav bahkan langsung berdiri di depan Kalila, menghalangi gadis itu untuk masuk ke pelukan Dimas. Padahal Kalila juga tidak punya keinginan untuk memeluk sahabatnya yang berbeda gender itu.


Walaupun sudah berkencan dengan beberapa pria, Kalila selalu on track. Gadis itu tidak pernah memeluk kekasihnya. Interaksi paling jauh antara Kalila dan mantan-mantan kekasihnya, hanyalah saling berpegangan dan bergandengan tangan. Tidak pernah lebih dari itu.


Dimas terkekeh melihat reaksi Kairav. Sikap jahil Kalila pun muncul. Gadis itu malah ikut melebarkan tangannya, “sini Bang Dim, Lila peluk,” ucap Kalila. Kairav menoleh tajam, menatap pada adiknya yang kini siap menerima Dimas dalam pelukannya.


Dimas pun berusaha menghampiri Kalila, ingin masuk ke dalam pelukan gadis pujaannya. Walau dia tau, jika gadis itu hanya menggoda kakak lelakinya. Tapi jika benar-benar bisa memeluk Kalila, bukan kah itu suatu kebetulan yang menyenangkan?


Kairav menempelkan dengan kasar, telapak tangannya pada wajah Dimas dan Kalila. Sehingga dua muda mudi itu terhalang oleh Kairav dan tak bisa saling mendekat.


“Bang ... Di ... massss,” ucap Kalila yang tetap melebarkan tangannya. Begitu juga dengan Dimas, pria itu juga masih melebarkan tangannya, dan berusaha semakin mendekati Kalila.


“Calon makmum ku ... sini masuk ke pelukan kuu,” teriak Dimas. Adegan cinta tak sampai antara Dimas, Kalila dan Kairav, menjadi tontonan orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mereka.


“Abaaang ....,” teriak Kalila. Melihat tingkah keduanya, Kairav pun sadar jika dirinya tengah dipermainkan. Walau tau akan menguntungkan buat Dimas, namun Kairav tetap menjalankan rencananya. Dia mau memberi pelajaran terhadap adik perempuannya.


“Ayo, pelukan dong! Tadi mau berpelukan. Silakan, silakan,” ejek Kairav terkekeh-kekeh. Wajah Kalila bersemu merah. Untuk pertama kalinya dia begitu dekat hinggap menempel pada tubuh lawan jenis.


“Maaf Bang,” ucap Kalila. Gadis itu merasa malu, bahkan tidak berani menatap manik kecoklatan milik Dimas. Dimas tersenyum lembut, menatap gadis pujaannya yang tengah menunduk malu. Sementara Kairav terus terkekeh sedari tadi. Terlebih melihat Kalila tertunduk seperti itu.


“Tidak apa-apa, Kalila. Kau dengar suara Bang Rav? Dia mengerjai kita!” bisik Dimas. Kalila mempertegas pendengarannya. Jelas sekali terdengar ledakan suara tawa Kairav. Kalila menoleh, menyipitkan matanya dan menatap tajam Kairav.


“Belum puas tertawanya!” pekik Kalila. Kairav semakin terkekeh-kekeh mendengar pekikan Kalila. Sementara Dimas terus tersenyum sumringah, menatap Kalila yang tengah marah. Masih terekam di ingatannya tubuh Kalila yang mendempet padanya tadi. Dimas menatap tangan kanannya, tangan yang sukses melingkar pada pinggang ramping gadis itu.


Ah ... bau parfum Kalila, bahkan terasa masih menempel di indranya.

__ADS_1


Kesadaran Dimas tidak lagi penuh. Pria itu tidak begitu memerhatikan Kalila yang sudah menggapai lengan Kairav dengan taringnya. Bahkan teriakan Kairav seperti senandung buat Dimas. Pria itu masih terus mengingat-ingat pelukan lima detiknya bersama Kalila.


“Ampuun ... Ampun ...!” pekik Kairav. Kalila yang masih merasa kesal, melepaskan lengan Kairav, dan mendorong kencang kakak lelakinya itu hingga hampir terjungkal.


“Rasakan!” pekik Kalila dengan tangan berkacak pada pinggang. Rasanya hukuman yang dia berikan pada Kairav belum setimpal, dengan malu yang dia rasakan. Pelukan lengan Dimas, bahkan masih terasa melingkar di pinggangnya.


“Kenapa jadi marah pada Abang?! Abang kan hanya menuruti keinginan kalian untuk berpelukan. Sepertinya kalian ingin sekali melakukan pelukan perpisahan!” Kalila tidak bisa menjawab celotehan yang dilontarkan oleh Kairav. Karena memang dirinya dan Dimas memang bertingkah seolah-olah ingin berpelukan.


Kalila mendengus kesal. “Lihat tuh,” ucap Kairav. Kalila mengikuti ujung jemari Kairav yang mengarah pada Dimas. “Dimas hampir gila karena kalian tadi berpelukan! Cengegesan tidak jelas!” ungkap Kairav. Kembali pria itu terkekeh.


“Kairav bahkan berjalan menghampiri Dimas. Pria itu menepuk pundak Dimas, “sadsr kau, woi!” Dimas sedikit terperanjat, namun pria itu bisa mengendalikan situasi.


Dimas menoleh pelan, seolah tidak terjadi apa-apa pada dirinya. “Melamunkan apa kau?!”


“Siapa yang melamun?” tanya Dimas. Pria itu menoleh pada Kalila yang tengah menatapnya dengan tatapan penuh selidik. Pasti Kalila akan marah sekali, jika tau dirinya tengah membayangkan adegan berpelukan mereka tadi.


“Kau pasti membayangkan tengah berpelukan dengan Kalila, kan? Hayo ngaku?!”


“Jangan mengarang bebas, Bang. Aku sedang membayangkan masa-masa indah yang ku lalui di kota Medan.” Kalila tersenyum mendengar jawaban Dimas.


“Sudah Bang, abaikan saja Bang Rav. Dia kan memang gila!” cebik Kalila. Dimas menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Sementara Kairav menatap sinis pada Dimas dan Kalila yang kini berjalan menjauh darinya.


“Tidak aku restui, kau! Woi ... Dimas ... awas saja kau! Akan aku adukan pada Bang Alid, kalau kau sudah memeluk Lila!” umpat Kairav.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......

__ADS_1


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....


__ADS_2