
“Apa Lila bukan anak kandung mamak? Apa Lila bukan adik kandung Bang Rav dan Bang Alid?!”
Kairav seketika mendongakkan kepalanya, menatap sang adik dengan ekspresi terkejut.
“Bagaimana kau bisa mengatakan hal itu?”
“Lantas, bang Rav mau mengatakan apa? Hal yang sejak dulu ingin Bang Rav katakan itu, apa?!”
Lagi-lagi Kairav menundukkan pandangannya. Kalila kini sudah menggeser duduknya. Gadis itu mengguncang-guncang lengan Kairav. Meminta Kairav segera menjelaskan padanya.
Menghela napas berat, Kairav menggeser duduknya, pria itu juga meminta Kalila untuk menggeser duduknya, hingga kini mereka saling berhadapan.
“Kalila ...,” ucap Kairav. Pria itu menatap dalam manik kehitaman Kalila. “Iya apa?” ucap Kalila resah. Gadis itu benar-benar resah. Entah apa yang ingin diucapkan oleh Kairav. Kalila pun menjadi gelisah.
“Sebenarnya ....”
“Sebenarnya apa Bang?! Jangan buat Lila resah!” Gadis itu benar-benar tidak bisa menahan diri sekarang. Resah dan rasa penasaran berkumpul jadi satu. Kalila kembali mengguncang lengan Kairav.
“Ayo katakan Bang!”
“Kau sudah siap mendengar paa yang akan Abang ucapkan?” tanya Kairav. Pria itu tidak mau, jika sang adik terguncang setelah mendengar ucapannya. Dia harus memastikan Kalila bisa menerima kenyataan yang akan di ungkapkan olehnya.
Kalila terlihat menghela napas panjang dan berat. Menelan salivanya berulang, Kalila sudah menyiapkan hatinya. Menguatkan dirinya.
“Lila siap Bang. Lila siap dengan apapun yang akan Abang ungkapkan. Walaupun itu hal yang paling menyakitkan sekalipun,” jawab Kalila mantap.
Kairav menganggukkan kepalanya pelan. Pria itu memegang kedua pundak sang adik. Menatap dalam-dalam manik kehitaman itu. Manik yang selalu bersinar itu, kini terlihat resah.
“Kalila ... Sebenarnya .... Sebenarnya .... Aku menyesal menjadi Abang kau.”
Dahi Kalila berkerut. Gadis itu bertambah bingung dengan pernyataan Kairav. Menyesal? Apa maksudnya dengan menyesal?
__ADS_1
“Kalau bisa memilih, aku tidak mau punya adik seperti kau ini. Sudah kuntet, hidung lebar, banyak tingkah pula!”
“Haaah ... Kenapa Tuhan mengirimkan adik seperti ini kepadaku ... Kesalahan apa yang aku perbuat di kehidupan sebelumnya. Hingga aku harus di hukum, memiliki adik seperti ini, Ohh God!”
Wajah Kalila seketika memberengut. Gadis itu kini menatap tajam Kairav. Mempersiapkan taringnya, Kalila kini memburu Kairav yang lebih dulu berlari keluar kamar Kalila.
Dengan langkah seribu, Kairav melangkah menuju ruang keluarga, menghampiri Bu Alinah yang masih menyaksikan Mas Al dan Andin yang tengah pusing memikirkan ibu mereka yang kini berada dalam penjara.
“DASAR BANG RAV GAK ADA AKHLAK!”
Mungkin teriakan Kalila itu terdengar hingga ke rumah-rumah sekitar. Karena gadis itu meneriaki Kairav dengan sekuat tenaganya.
Kejar mengejar pun tak terelakkan lagi. Mengelilingi ruang keluarga, tentu saja Kalila dan Kairav mengganggu kegiatan ibu mereka. “Kalian ini sudah dewasa loh! Masih saja seperti anak kecil!”
Kairav dan Kalila tak memedulikan teriakan sang ibunda. Mereka masih berkejaran. Kalila tentu saja tidak akan berputus asa. Malam ini, Kairav harus merasakan taringnya. Setidaknya bekas gigitannya bisa menjadi kenangan buat Kairav. Karena Kalila berencana akan mengigit kakak lelakinya itu sekuat tenaga, agar bekas gigitannya biasa terus terpampang selama satu Minggu di lengan Kairav.
“Jangan ganggu Mamak menonton televisi! Kejar-kejaran di ruang tamu sana! Atau di halaman depan!” pekik Bu Alinah. Bu Alinah bahkan melempar sebuah bantal kepada Kairav, hingga pria itu sedikit teralihkan.
Gadis itu menggedor pintu kamar Kairav sembari berteriak memanggil sang kakak. Namun Kairav hanya terkekeh di kamar itu. “Kau pikir semudah itu menggigit Abang. Hahaha,” ucap Kairav sembari terbahak-bahak. Pria itu kembali mengingat wajah resah Kalila. Terlebih pertanyaan Kalila mengenai hubungan mereka. Gadis itu bahkan sampai meragukan hubungan darah di antara mereka. Kembali Kairav terkekeh-kekeh mengingat hal itu. Kalila bahkan sudah berlalu meninggalkan Kairav yang terus terkekeh di kamarnya. Puas sekali rasanya menggoda Kalila malam ini.
Kembali mengingat jika Kalila akan segera meninggalkan rumah, Kairav menghentikan tawanya. Bersandar pada pintu, sembari menatap langit-langit kamarnya, Kairav menghela napas panjang.
“Abang benar-benar berharap kau hidup tanpa tekanan, La. Menjalani hidup sesuai keinginan kau sendiri.”
***
Tepat pukul 07:00 WIB, Kalila, Bu Alinah dan Kairav, tiba di Bandar Udara Internasional Kualanamu. Berpamitan. Kairav memeluk kedua wanita yang amat dia sayangi itu, bergantian.
“Jaga rumah yang baik ya,” ucap Bu Alinah yang akan meninggalkan Kairav selama satu bulan. Wanita paruh baya yang baru saja pensiun dari pekerjaannya itu, untuk pertama kali meninggalkan rumah dengan waktu selama itu. Sebenarnya Khalid juga meminta sang ibunda tinggal di rumahnya. Namun, Bu Alinah tidak mau meninggalkan Kairav seorang diri. Terlebih rumah yang hasil kerja kerasnya.
“Rumah aman, Mak. Mamak tenang saja. Bersenang-senang di sana. Puas-puas lah bermain dengan cucu Mamak,” ujar Kairav yang masih memeluk erat sang ibunda.
__ADS_1
“Jangan makan mie instan terus, kau. Beli lauk saja di warung Bu Amai.” Kairav pun mengangguk dan berjanji pada ibunya.
“Baik-baik di kota orang ya, Dek.”
Kini giliran Kalila yang masuk dalam pelukannya. Kairav memeluk gadis itu erat, erat sekali. Pria itu bahkan masih berharap sang adik membatalkan keberangkatannya. Kairav takut, semakin dekat Kalila dengan Khalid, semakin banyak tekanan yang didapat Kalila dari sang kakak sulung.
Bu Alinah dan Kalila melambaikan tangan, melangkah menjauh dari Kairav. Berjalan menuju boarding gate sembari mendorong troli yang berisi koper pakaian dan oleh-oleh.
Kalila tiba-tiba menghentikan langkahnya, meminta Bu Alinah menunggunya sebentar. Gadis itu kembali berlari ke arah Kairav dan memeluk pria itu. Dengan senyuman yang merekah, Kairav pun membalas pelukan Kalila. Melonggarkan dekapannya, kini Kalila mendongak, menatap wajah Kairav sembari tersenyum.
“Jangan terlalu rindu dengan Lila, Bang. Rindu itu berat, biar Dylan saja,” ucap Kalila. Kairav menjentikkan jarinya pada dahi Kalila. Gadis itu melepas pelukan dan mengusap dahinya. Kini mereka terkekeh bersama, setelah saling melepaskan pelukan.
Melihat Kairav yang lengah, gadis itu menangkap lengan Kairav dan mengigitnya. Kairav berteriak. Pria itu berusaha menyingkirkan bawah Kalila dari lengannya. Namun usahanya sia-sia. Gadis itu mencengkram lengan Kairav sangat erat dengan taringnya.
“Lilaaaa ... Stoooppp! Lengan Abang bisa putus karena gigitanmu!”
Kalila tak memedulikan teriakan Kairav. Gadis itu bahkan tidak peduli dengan tatapan heran dari orang yang berlalu lalang di sana. Hampir 30 detik Kalila mengigit lengan Kairav.
Gadis itu mengambil ancang-ancang sebelum melepaskan gigitannya. Kalila bergegas menjauh, setelah melepaskan gigitannya. Melangkahkan kakinya dengan laju, menuju boarding gate.
“RASAKAN, PEMBALASAN TADI MALAM! SEMOGA BERBEKAS HINGGA BULAN DEPAN!” teriak Kalila. Gadis itu benar-benar berteriak kencang saat mengucapkannya.
“SEE YOU, ABANGKU YANG PALING PENGERTIAN. I LOVE YOU TO YHE MOON AND BACK!!”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...
__ADS_1