Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 23


__ADS_3

Sudah enam bulan berlalu, sejak kepulangan Kalila dari kota Bogor. Kalila dan Dimas masih berkomunikasi dengan intens. Pria itu tidak pernah absen untuk mengomentari setiap kiriman di laman sosial media, milik Kalila.


Dimas bahkan sesekali melakukan panggilan video dengan Kalila. Dimas juga sering mengobrol dengan Kairav, Bu Alinah maupun Nek Laila. Silaturahmi mereka berjalan dengan sangat lancar. Persahabatan Kalila dan Dimas pun semakin erat. Mereka semakin dekat. Bahkan Kalila sudah merasa nyaman bercerita apa saja terhadap Dimas.


Kalau perihal Dimas, jangan ditanya. Tentu saja pria itu sangat bahagia, karena bisa semakin dekat dengan sang calon makmum impiannya. Walaupun Kalila saat ini tengah memiliki seorang kekasih. Namun Dimas tidak mau ambil pusing. Karena dia sangat yakin— atau mungkin meyakinkan dirinya sendiri, jika Kalila adalah wanita yang ditakdirkan untuknya.


Akankah keyakinan Dimas terwujud?


***


Sementara itu, Khalid baru saja memulai pendidikan strata-2 nya di universitas yang sama, ketika dia menempuh pendidikan strata-1nya tempo hari— Institut Pertanian Bogor. Pria itu bahkan kini mendaftar untuk mengikuti tes penerimaan calon pegawai Aparatur Sipil Negara.


Sebelum mengikuti tes penerimaan calon pegawai itu, Khalid memutuskan kembali ke kota Medan, untuk meminta do'a secara langsung kepada ibunya, serta mengurus berkas-berkas yang dia butuhkan untuk mengikuti tes tersebut.


Bu Alinah senang sekali mendengar kabar kepulangan Khalid. Wanita paruh baya itu bahkan berencana menggelar syukuran, karena Khalid sudah berhasil menjadi seorang sarjana. Bahkan kini sudah terdaftar sebagai mahasiswa Pascasarjana dengan program beasiswa jalur prestasi. Terlebih, setelah satu tahun berkuliah, anak tertua Bu Alinah itu, sudah bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.


Orang tua mana yang tidak bangga?


“Pokoknya Abang ada kejutan buat kau, Dek,” ucap Khalid melalui panggilan video. Pria itu kini sudah berada di Bandar udara internasional Soekarno-Hatta, bersiap untuk bertolak ke kota kelahirannya— Kota Medan.


Kalila sungguh dibuat penasaran oleh Khalid. Gadis remaja itu sudah tidak konsentrasi di jam-jam pelajaran terakhir. Kepulangan kakak lelaki tertuanya, sungguh sangat dia nanti. Walau kepulangan Khalid ke kota Medan, harus membuatnya menjalani hubungan diam-diam dengan kekasihnya. Bagi Kalila, itu tidak menjadi masalah. Karena Khalid lah yang lebih dia dahulukan. Family come first. Bukan begitu?


Khalid memang belum memperbolehkan Kalila berkencan dengan pria manapun, walau kini gadis itu sudah hampir menginjak usia 17 tahun.


Namun sebenarnya sejak dulu Khalid tau betul, siapa saja kekasih Kalila selama ini. Asal itu tidak terlihat langsung oleh matanya sendiri, asal adiknya tidak tersakiti, Khalid membiarkannya.


Siang itu langit bersinar sangat cerah. Burung besi yang ditumpangi Khalid, membelah angkasa dengan mulus. Hingga dalam waktu kurang lebih dua jam, pria itu tiba di kota kelahirannya.

__ADS_1


Entah ada peristiwa penting apa di hari itu. Yang jelas, ketika Khalid baru saja selesai dengan bagasinya, terdengar suara musik yang sangat familiar di telinganya.


Pria yang kini memakai jaket almamater Institut Pertanian Bogor itu, melangkahkan kakinya menuju asal suara. Ternyata tengah ada empat pasang muda mudi berbusana adat melayu warna merah muda. Mereka tengah menari.


“Tarian Melayu Deli, Serampang 12. Ah ... sudah lama sekali aku tak melihatnya secara langsung.”


Khalid mengambil ponsel, dan merekam tari-tarian yang sedang berlangsung di depannya. Tarian pembuka, Serampang 12, memang sontak mengundang perhatian pengunjung yang tadinya menyebar. Kini mereka semua berkumpul di satu titik. Menyaksikan dan mengambil dokumentasi atraksi para penari tarian daerah tersebut.


Setelah tarian itu selesai, Khalid kembali menyimpan ponselnya. Pria itu sudah tidak sabar untuk tiba di kediamannya. Sudah hampir tiga tahun Khalid tak melihat istana keluarganya. Pria itu pun meninggalkan kerumunan tadi.


“Kau tau, tarian tadi menceritakan kisah pasangan muda-mudi yang bertemu pada pandangan pertama dan berakhir dengan pernikahan, tarian yang menampilkan kisah asmara muda-mudi yang romantis,” ujar Khalid. Pria yang kini berjalan sejajar dengan Khalid tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Khalid membawa langkahnya menuju stasiun kereta. Sengaja dia menaiki kereta, hanya untuk menunjukkan bahwa kota Medan tak kalah canggih dengan ibukota. Dan hanya dalam waktu 30 menit, Khalid dan pria yang tadi berjalan sejajar dengannya, tiba di Stasiun Medan.


Berjalan perlahan keluar dari gerbong kereta cepat itu, Khalid menarik napas panjang. Menghirup udara kota kelahirannya. “Selamat datang di Kota Medan,” ucapnya.


Seolah tau pikiran rekannya, Khalid tersenyum, “Bandar Udara Kualanamu terletak di Kabupaten Deli Serdang. Bukan Kota Medan. Sama halnya dengan Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, yang terletak di Tangerang, Banten. Tapi orang-orang tetap menyebutnya Jakarta,” jelas Khalid. Pria yang bersama Khalid itu tersenyum lebar kini.


“Ayo, sekarang akan aku ajak kau menaiki salah satu tranportasi kebanggaan warga Medan. Becak Motor.”


Dan kini, kedua pria itu tengah duduk dan berguncang di atas becak khas itu. Menyusuri jalanan kota Medan yang begitu terik padahal matahari sudah sedikit bergeser dari puncaknya. Ya ... kota Medan memang sering terik seperti itu. Namun angin yang menerpa wajah Khalid dan rekannya dari atas becak motor, membuat rasa panas itu tidak terlalu menyengat dan sedikit menyegarkan.


Butuh waktu hampir satu jam, hingga Khalid berhasil membawa rekannya ke kediaman mereka.


Bu Alinah dan Nek Laila menyambut kedua pria itu dengan suka cita. Sedangkan Kairav dan Kalila belum kembali dari kegiatan mereka. Waktu saat itu menunjukkan tepat pukul 16:00 WIB.


***

__ADS_1


Sementara itu, di salah satu SMA Negeri favorit di kota Medan. Kalila terlupa akan sesuatu. Sepulang sekolah, gadis itu harus menghadiri rapat OSIS untuk acara kelulusan siswa kelas tiga di sekolahnya. Kalila sebagai ketua seksi acara, sekaligus di dapuk sebagai pembawa acara di acara tersebut, mau tidak mau harus menghadirinya. Hingga gadis itu harus pulang sedikit lebih lama.


Waktu Maghrib sudah hampir habis saat Kalila tiba di rumahnya. “Assalamualaikum,” ucap Kalila sebelum masuk ke rumah. Rumah itu terlihat sepi, karena penghuninya tengah beribadah di ruangan mereka masing-masing.


Saat melangkah menuju kamarnya, sayup-sayup Kalila menangkap suara pria yang tengah mengaji. Suara yang sangat merdu. Kalila mengayunkan langkah kakinya dengan cepat. Menuju asal suara.


Ada sebuah ruangan kecil di salah satu sudut rumah itu. Ruangan yang khusus dibuat untuk tamu beribadah. Kalila sudah berdiri di depan ruangan itu sekarang. Menatap takjub pada pria yang kini tengah duduk bersila sembari memegang kitab kecil di tangannya.


Tidak mampu bergerak, Kalila mematung. Jantung gadis itu berdetak tidak karuan. Mungkin bergemuruh. Tidak tau apa yang harus diperbuatnya. Gadis itu sepenuhnya jatuh. Bertekuk lutut. Hatinya tidak sanggup menolak pesona yang dihadirkan oleh pria pelantun ayat suci itu.


“Shadaqallahul ‘adzim.” Pria itu pun menutup kitab suci yang tadi dibacanya.


Hendak beranjak dari ruangan itu, dia melihat gadis yang dirindukannya. Gadis yang membuatnya harus memohon kepada sang kakek, untuk memberikan waktu berlibur selama satu Minggu, sebelum keberangkatannya mengambil program Pascasarjana sarjana ke negeri singa.


“Assalamualaikum, Kalila. Baru pulang sekolah?”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hayooo ... siapakah itu???


Baca next Episode, satu jam lagi ya 🤣


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....

__ADS_1


__ADS_2